Falling Crazy in Love #2 [Stereotype 2]

ohnajla || romance, schoollife, family, friendship || Teen || Chaptered 

Suga BTS aka Min Yoongi, Oh Sena (OC), V BTS aka Kim Taehyung, Lee Soomi (OC), Kihyun Monsta X aka Yoo Kihyun (cameo), Minhyuk Monsta X aka Min Minhyuk (cameo)

Stereotype

#1

 

Karena kejadian itu, untuk sementara Soomi dan adiknya dibiarkan tinggal di rumahku. Sementara kakaknya, karena sudah kuliah, bisa tinggal di asrama kampusnya. Sedangkan orangtuanya akan tinggal di Daegu sementara waktu, tinggal di rumah nenek Soomi sambil memperbaiki ekonomi keluarga.

Aku membantu Soomi mengeluarkan barang-barangnya dari koper. Tidak banyak yang bisa dibawanya dari rumah itu. Hanya seragam sekolah, buku-buku, beberapa baju dan dua sepatu. Bahkan laptopnya juga disita, aku tidak tahu kenapa. Soomi akan tinggal satu kamar denganku.

“AKH!”

Aku pun langsung menoleh. Astaga, kupikir ada apa. Dari ekspresinya sepertinya dia masih belum bisa menerima keadaan.

“Sudahlah, jangan pikirkan itu lagi. Untuk sekarang jalani saja.”

“Bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya? Lalu bagaimana aku harus hidup sekarang, huh?! Aku tidak punya apa-apa lagi selain semua ini! Tidak ada uang! Laptop! Mobil! Bahkan rumah pun aku tidak punya!!”

Aku terdiam.

“Kau pikir mudah menerima semua ini?! Gara-gara si pengkhiatan sialan itu semuanya hilang!! UNTUK APA AKU HIDUP LAGI?!!! LEBIH BAIK AKU MATI SAJA-”

PLAK!

Dadaku naik turun. Kupandangi Soomi lekat-lekat yang sekarang sedang menatapku nanar sambil memegangi pipi.

“Berhenti mengatakan hal-hal bodoh seperti itu, Soomi-a. Sadarlah, meskipun semua itu sudah tidak ada, tapi kau masih memiliki orang-orang yang menyayangimu. Kenapa kau bisa seenaknya bicara begitu, huh? Bagaimana kalau orangtuamu tahu? Kau tega melihat mereka makin menderita?”

Tak lama kemudian Soomi pun menangis keras. Aku pun memeluknya, mengusap-usap kepalanya dengan lembut seperti yang dilakukan Taehyung saat dia sedang menangis.

“Padahal aku itu lebih cengeng darimu tapi kenapa sekarang malah kau yang begitu? Sssh … Taehyung tidak ada di sini. Sudah ya, jangan menangis lagi.”

Tapi dia isakannya justru makin keras. Oh astaga … sepertinya aku harus memanggil Taehyung sekarang juga. Aku ini buruk sekali dalam hal menenangkan orang menangis ternyata.

Membereskan kamar menjadi kegiatanku hari ini sementara Taehyung mengajak Soomi bersepeda entah kemana. Padahal rumahku dengan rumahnya jauh sekali tapi dia nekat datang dengan sepeda. Tapi ya sudahlah, yang penting urusan Soomi sekarang ada padanya. Aku harus menyelesaikan beres-beresnya sebelum Soomi datang. Jadi dia hanya akan langsung tidur tanpa harus melakukan apa pun lagi.

Menjelang malam, beres-beres pun selesai dan Soomi pun datang. Wajahnya jauh lebih cerah dari beberapa jam lalu. Mungkin Taehyung berhasil membuatnya melupakan masalahnya untuk sementara waktu. Dia pun langsung membaringkan tubuhnya di ranjang dan terlelap begitu saja. Kuselimuti dia, lalu keluar untuk menemui eomma yang sedang menyiapkan makan malam.

“Sena, suruh Yoongi dan temannya datang ke sini ya. Hari ini makan di sini saja. Kemarin kau dan Soomi menginap di sana, pasti merepotkan.”

Aku hanya mengangguk, lantas mengirimi Yoongi pesan. Tidak perlu menunggu lama. Tahu-tahu seseorang menekan bel dan begitu kubuka ternyata itu Yoongi dan Kihyun. Mereka pun segera masuk ke dalam.

“Malam ini makan di sini saja ya. Kemarin Sena dan kakaknya pasti sudah sangat merepotkan kalian,” ujar ibuku begitu melihat mereka.

“Ah … itu bukan masalah besar, Eommeonim,” balas Yoongi dengan sopan. Dia melepas coat-nya, meletakkannya di sebuah gantungan baju lalu mendekat pada ibuku. “Biar aku saja yang memotong dagingnya.”

“Eh tidak usah. Duduk saja.”

Yoongi menggeleng. “Gwaenchana-yo, Eommeonim. Aku tidak akan merusak dagingnya, serius.”

Ibuku tersenyum geli dan akhirnya membiarkan Yoongi mengambil alih pekerjaannya. Sementara itu aku menyuruh Kihyun untuk menunggu di ruang tengah, bersama Daehun dan Soohyun –adik Soomi. Sebenarnya Kihyun juga ingin membantu ibuku tapi aku melarangnya. Sudah cukup dengan Yoongi, jangan tambah muatan lagi di dapur. Setelah kupastikan Kihyun berbaur dengan baik dengan dua anak itu, aku kembali ke dapur untuk membantu eomma menyiapkan peralatan makan.

Di rumahku, terdapat alat pemanggang daging seperti yang ada di warung-warung tenda tepi jalan. Setelah daging dipotong-potong, satu baskom penuh berisi daging itu diletakkan di meja makan, dan dipanggang di sana oleh Yoongi sendiri. Dia memanggang dengan baik. Setelah selesai menata alat-alat makan aku pun bergabung bersamanya untuk memanggang daging-daging itu.

“Soomi dan adiknya tinggal di sini?” tanyanya memulai pembicaraan. Aku hanya mengangguk.

“Barusan Taehyung datang ke rumahku. Dia bilang kalau Soomi mungkin tidak akan ikut karyawisata.”

“Dia bicara begitu?”

Yoongi mengangguk. “Ya, aku sih mengerti dengan kondisinya. Tidak mungkin juga dia pergi karyawisata dengan kondisi ekonomi yang seperti itu. Biayanya terlalu mahal.”

“Kalau Soomi tidak ikut aku juga tidak akan ikut.”

“Kalau begitu aku juga.”

Aku menatapnya heran. “Kenapa kau ikut-ikutan?”

“Kau tidak ikut, Soomi tidak ikut, Taehyung tidak ikut, lalu kenapa aku tidak boleh?”

“Memang apa alasanmu? Kau punya uang, Jimin juga pasti ikut.”

Dia menatapku lamat-lamat dengan tangan terangkat yang sedang memegang pencapit daging. “Lalu kau sendiri? Kau juga punya uang, tapi kau tidak ikut karena Soomi. Kenapa kau boleh seperti itu sedangkan aku tidak?”

Aku menatapnya tak percaya. Astaga anak ini. Dia itu terlalu pintar bicara sampai-sampai sanggup membuatku speechless. “Ah ya sudahlah, terserah kau saja.”

Ia pun membalik daging di panggangan. “Aku sempat terpikirkan sesuatu.”

Aku tidak bicara apa pun, hanya meliriknya sambil memanggang daging.

“Bagaimana kalau kita melakukan sesuatu untuk membuat Soomi ikut dalam karyawisata?”

Sebenarnya aku saaaangat tidak ingin bicara sekarang tapi rasa penasaranku sulit sekali untuk diajak kerja sama. “Melakukan apa?”

“Ayo kita lakukan kerja sampingan untuk mencari dana.”

“Kerja sampingan?”

Dia mengangguk. “Hari libur seperti ini biasanya banyak dibuka lowongan pekerjaan paruh waktu untuk pelajar. Mungkin hasilnya tidak terlalu besar tapi kalau kita berdua menggabungkan uangnya, kurasa akan cukup untuk membayar dana karyawisata Soomi. Jujur saja, kau pasti ingin Soomi ikut acara itu ‘kan? Itu acara yang hanya diadakan sekali saja di SMA, sia-sia sekali kalau kita melewatkannya.”

Aku masih tidak mengerti. Bukan, bukan karena tidak mengerti pada maksud kerja sampingan itu. Yang tidak kumengerti, kenapa Yoongi harus memikirkan sejauh ini? Kenapa dia yang dulu seolah tutup mata sekarang malah menjadi orang yang sangat peduli? Ada apa dengannya? Apakah kepalanya baru saja terbentur sesuatu?

“Hei, kau ini dengar tidak?”

Aku kelabakan sendiri saat Yoongi tiba-tiba menjejalkan daging berbalut daun salad ke mulutku. Mau tak mau kukunyah saja daging itu meskipun selera makanku menurun karena pembicaraan ini.

Aigoo … belum-belum kalian sudah suap-suapan.” Tiba-tiba Kihyun datang dan langsung duduk di sebelahku. “Aku juga, suapi aku Min Yoongi.”

Sedikit kesal Yoongi pun memasukkan seiris daging ke dalam mulut Kihyun yang terbuka lebar. “Makan sendiri setelah ini.”

Arasseo nae chingu-ya~~

Yoongi juga memasukkan seiris daging lengkap dengan salad ke dalam mulutnya. Tapi dia melakukannya dengan cara unik. Yaitu dengan meletakkan daun salad di depan mulutnya yang menganga, lalu memasukkannya bersama seiris daging. Tak sadar aku tersenyum tipis. Pipinya menggembung lucu saat mengunyah daging itu. Kalau saja Kihyun tidak ada di sini, mungkin aku akan menarik pipinya seperti aku menarik pipi Daehun seperti yang biasa kulakukan.

Makan malam baru dimulai begitu appa datang. Sekarang meja makan menjadi lebih ramai dari biasanya. Soohyun mengoceh dengan ceria seperti biasa, lalu ditambah dengan lelucon-lelucon aneh Kihyun dan ditutup dengan celetukan Yoongi yang asal nyablak tapi membuat tawa di meja ini. Selesai makan, Kihyun dan Yoongi ngotot ingin membantu eomma mencuci piring. Padahal biasanya aku yang mendapat tugas itu, tapi sekarang mereka berdualah yang mengurus. Mereka baru pulang setelah selesai mencuci piring. Akulah yang mengantar mereka sampai pintu gerbang.

“Masakan ibumu jauh lebih enak daripada koki di rumahku. Padahal menu sederhana, tapi … wah … sulit sekali mengungkapkannya dengan kata-kata,” oceh Kihyun sambil mengusap-usap perutnya yang bertambah gembung dari sebelumnya.

“Jadi aku lebih beruntung darimu eo? Itu makananku setiap hari,” balas Yoongi sambil nyengir bangga.

“Ah … kau beruntung sekali, Yoongi-a. Nanti aku akan pindah rumah di sini dan akan terus datang ke rumah Sena untuk makan.”

Andwae, kau tidak boleh pindah kemari. Sudah tidak ada lahan kosong untukmu membangun rumah.”

“Kalau begitu aku akan sering-sering menginap di rumahmu.”

Shireo. Kau hanya boleh menginap di rumahku sekali dalam setahun.”

“Aish.”

Yoongi tertawa menang sedangkan aku di tengah-tengah mereka hanya nyengir. Entah kenapa Yoongi mendadak seceria ini. Yoongi ceria, sedangkan Soomi murung. Sepertinya dunia sedang terbalik.

Sesampai di gerbang, Kihyun melambai dan berjalan duluan sementara Yoongi masih berdiri di depanku. Tahu-tahu dia mengacak rambutku, tersenyum. “Sampai bertemu besok, Nona. Jalja.”

Belum sempat aku menjawab dia sudah berlalu dari hadapanku. Orang itu. Tch, sangat tidak bertanggung jawab. Bagaimana bisa dia langsung pergi setelah memperlakukanku seperti itu dan membuat jantungku berdetak aneh?

“Yoongi-a!”

Dia berhenti dan menoleh. “Wae?

Sempat ragu untuk bicara, namun kata itu keluar begitu saja dari mulutku. “Jalja.”

Tanpa menunggu reaksinya aku pun segera menutup gerbang dan berlarian masuk ke dalam rumah. Argh, dingin sekali….

Nuna, kenapa wajahmu merah sekali?”

“Aish, diam saja kau,” balasku sambil mendorong adikku menjauh dan langsung masuk ke dalam kamar.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s