Freak Hwarang #20

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter

 

Yoongi menebas semua hal yang menutupi jalannya. Tanpa lelah dia terus memanggil nama Sena, Namjoon, Jungkook dan Seokjin yang sampai saat ini belum tahu di mana hidungnya. Ia tidak peduli dengan kakinya yang rasanya makin lama makin sulit saja dibuat berjalan. Karena yang terpenting sekarang baginya hanyalah keberadaan mereka.

Kerja kerasnya itu akhirnya membuahkan hasil.

Di saat tenggorokkannya sudah sangat kering, dengan kaki yang benar-benar kaku untuk digerakkan.

Akhirnya dia menemukan batang hidung Sena.

Hampir saja air matanya jatuh.

Tanpa peduli siapa yang memeluk gadis itu, dia langsung mengerahkan sisa tenaganya untuk menghampiri mereka.

Senyumnya langsung merekah lebar dengan mata berkaca-kaca. Sekali lagi dia tidak peduli dengan pria yang ada di samping Sena –yang sedang menatapnya takjub. Dia hanya peduli pada Sena yang sedang tertidur di bahu pria itu.

Tanpa banyak bicara lagi dia langsung duduk di depan mereka dan memeluk Sena dengan erat.

Air matanya lolos tanpa sadar saat dia berkedip.

Tubuh kecil itu menggeliat tak nyaman di pelukannya.

Kemudian sesuatu mendorongnya untuk bersitatap dengan gadis itu.

“Yoongi?” seru Sena dengan mata setengah terpejam. Dia pun meraba-raba wajah Yoongi untuk memastikan apakah benar kalau orang di depannya ini benar-benar orang yang disebut namanya barusan.

.

.

.

“YOONGI?!”

Yoongi mengangguk pelan. Dia menangkup wajah putih Sena dengan kedua tangannya yang besar, kemudian memajukan wajahnya untuk mengecup lama kening gadis itu.

Sena membelalak tak percaya dengan apa yang dilakukan Yoongi.

Pria itu menarik wajahnya lagi. Memberi senyum terbaiknya dan….

BRUK!

“YOONGI!!”

Pagi menjelang. Seokjin membuka matanya di hari itu setelah mendengar suara keluhan di sebelahnya. Dia mengucek matanya sebentar, lalu menoleh pada seseorang di sebelahnya. Itu Jeon Jungkook. Tapi ada yang aneh. Jungkook berbaring membelakanginya dengan posisi meringkuk dan terus mengeluarkan suara-suara seperti orang kesakitan. Ia pun buru-buru duduk, dan menarik bahu Jungkook untuk berbalik ke arahnya.

Bibirnya menganga lebar begitu dia melihat ruam-ruam di beberapa titik di tubuh Jungkook. Juga Jungkook yang tampak pucat pasi dengan bulir-bulir keringat di wajahnya. Bahkan pangeran bungsu itu menggigil.

“Jungkook-a … a-ada apa denganmu?”

Jungkook membuka matanya perlahan. Menatap Seokjin sebentar. Tiba-tiba meraih tangan Seokjin dan mencengkramnya kuat. “Hyung … hiks … sakit … sakit sekali….”

Seokjin secara otomatis menepis tangan Jungkook. Dia mulai takut. Tangan Jungkook dingin sekali, seperti tidak ada aliran darah di tubuhnya. Dia bergerak mundur saat pangeran termuda itu ingin meraihnya lagi.

Jungkook sendiri mulai menangis begitu melihat hyung-nya ketakutan. Dia menarik tangannya lagi. Kembali memeluk tubuhnya sendiri yang panas sekaligus dingin dalam waktu yang sama.

“Aku akan mati … aku akan mati….”

Seokjin pun mendapatkan kembali kesadarannya. Dia langsung menggeleng dan mendekati Jungkook lagi. Menangkup pipi Jungkook yang sangat panas. “Tidak, kau tidak akan mati, Jungkook-a. Kaja, kita kembali ke pondok sekarang.”

Jungkook menggeleng cepat saat Seokjin membantunya duduk. “Aku tidak bisa … sakit….”

“Kau pasti bisa.”

“SAKIT!”

Seokjin mematung begitu Jungkook membentaknya. “Jungkook-a….”

Tubuh Jungkook bergetar hebat. Dia meraih lengan Seokjin lagi dan mencengkramnya erat. “Ini sakit sekali Hyung … sakit….”

Tanpa meminta persetujuan Jungkook lagi, Seokjin pun langsung menggendong Jungkook di punggung. Bersama Herder yang sejak kemarin terus bersama mereka, ia pun berlarian menembus hutan menuju pondok. Dia tidak tahu, apakah jalan yang ditempuhnya benar atau sebaliknya. Yang dia prioritaskan sekarang, Jungkook harus selamat.

Dewi Fortuna sedang berpihak pada mereka. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mereka pun sampai di pondok Sena. Di sanalah sebuah mobil medis telah siap. Sepertinya memang sengaja menunggu mereka. Tanpa pikir panjang, Seokjin langsung menurunkan Jungkook di atas sebuah ranjang yang telah disiapkan. Dia membiarkan orang-orang medis yang tak dikenalnya memasukkan ranjang itu ke dalam mobil tersebut. Lalu pergi begitu saja.

Oppa!”

Merasa terpanggil, Seokjin pun menoleh. Bibirnya mengulum senyum lebar begitu melihat siluet Sena dan beberapa saudaranya yang berdiri di depan gerbang pondok. Dia merentangkan tangannya lebar, menyambut kedatangan Sena yang berlarian ke arahnya. Mereka pun berpelukan lama sekali sampai tak terasa baju Sena di bagian bahu menjadi basah karena ulah Seokjin.

“Syukurlah kau baik-baik saja,” ujar Sena sambil menghapus air mata di wajah Seokjin. Dia tersenyum geli saat Seokjin berusaha menutupi wajahnya.

“Kau juga baik-baik saja?”

“Hm. Aku baik. Lalu Jungkook?”

Seokjin menggeleng pelan. “Dia tidak baik-baik saja. Dia nyaris sekarat dan … semua ini salahku.”

Aniyo, itu bukan salahmu. Aku memang tidak tahu apa-apa tapi aku yakin kalau itu bukan salahmu, Oppa. Tidak hanya Jungkook saja yang hampir sekarat di sini. Taehyung … Yoongi….” Sena mendadak merona ketika dia menyebutkan nama Yoongi. Beruntung Seokjin tidak menyadari itu. “Mereka juga tidak baik-baik saja….”

Seokjin kembali memeluk gadis itu. Melepaskan rasa menyesalnya melalui airmata yang masih tersisa. Tak bisa melakukan banyak, Sena hanya mampu menenangkan pangeran tertua itu dengan usapan lembut di punggung.

Semuanya yang tidak dilarikan ke rumah sakit berkumpul di ruang tengah pondok tersebut. Suasana tampak begitu suram. Tidak ada yang berniat membuka pembicaraan. Semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

Seokjin meskipun sudah dihibur oleh Sena maupun semua adik-adiknya, tetap dia masih merasa sangat menyesal karena tidak bisa menjaga Jungkook dengan baik. Dan yang lebih membuatnya kesal dengan dirinya sendiri adalah sikapnya yang ketakutan saat Jungkook menyentuhnya. Serius, dia bukannya takut. Dia hanya terkejut dengan suhu tubuh Jungkook yang begitu dingin. Bahkan es batu saja masih kalah dingin dari dinginnya tubuh si pangeran termuda.

Apa yang ada di pikiran Hoseok tak jauh beda. Dia memikirkan Yoongi yang sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit. Hyung­-nya itu. Tsk. Susah sekali untuk diberitahu. Sudah tahu tubuhnya tidak mampu, masih saja memaksa mencari yang lain di hutan. Dialah yang membopong Yoongi kembali ke pondok setelah mereka menemukan Sena dan Namjoon.

Jimin pun masih memikirkan Taehyung. Apakah kawannya itu baik-baik saja? Dia takut memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi pada Taehyung. Meskipun sudah diberi pertolongan pertama oleh Ro, tetap saja dia tidak bisa untuk tidak mencemaskan Taehyung.

Namjoon … sejak tadi dia menatap Sena. Berusaha membaca apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Bayangan Sena dan Yoongi yang berpelukan kemarin terus mengganggu kepalanya. Dia tidak percaya. Bagaimana bisa, hyung-nya, Min Yoongi memeluk dan mencium Sena seperti itu? Di depannya pula. Dan ada suatu feel yang berbeda dengan apa yang dilihatnya kemarin. Seperti … entahlah, Namjoon tidak ingin mengambil kesimpulan sendiri.

Sementara Sena meskipun matanya menatap lurus pada lantai kayu rumahnya, pikirannya sebenarnya tidak di sana. Sama seperti Namjoon, dia memikirkan apa yang dilakukan Yoongi kemarin. Itu bukanlah hal yang wajar jika yang melakukannya adalah Yoongi. Yoongi yang dia kenal adalah pria misterius yang selalu bersikap dingin padanya. Lalu tiba-tiba memeluknya, dan menciumnya … apa-apaan maksudnya? Bahkan ciuman itu tidak se-passionate ciuman yang diberikan Namjoon. Tapi ciuman itu seolah mempunyai daya magis yang sanggup membelenggu pikiran Sena. Tak sadar pipinya merona.

KRUCUK.

Jimin mendesis lirih sambil menggaruk kepala belakangnya canggung. Dia memberanikan diri membalas tatapan yang lain yang spontan menoleh padanya. “Memangnya kalian tidak lapar? Ini sudah hampir seharian kita belum makan apa pun.”

Seokjin mendengus geli. Lalu diikuti Hoseok yang tersenyum tipis. Kemudian Sena yang menyeringai dan Namjoon yang tersenyum paling akhir.

“Siapa yang mau membantuku menyembelih ayam?”

TBC

Advertisements

2 Replies to “Freak Hwarang #20”

  1. Yoongiku, abangku…hebat sekali…meskipun orangnya misterius dan dingin hatinya hangat, semoga mereka cepat sembuh…sena sm yoongi aja thor, jgn sm yg lain…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s