Bangtan House [#5 Rumah No. 5]

ohnajla || family, friendship, bromance, romance, marriage life || Teen || Chaptered 

Main Cast: 

– BTS members

– OC

Prolog | Rumah No. 1 | Rumah No. 2 | Rumah No. 3

Rumah No. 4

 

“Namjoon!! Antar adikmu sekolah!”

Namjoon yang hari itu sedang bolos sekolah, berguling-guling malas di ranjangnya sambil mengerang pelan. Usianya sekarang 17 tahun.

“Malas, Ma!”

Yak! Berani ya sekarang! Cepat bangun dan antarkan adik-adikmu sekolah!”

“Arrgh!!! Aku sedang bolos, Ma!!!”

“Meskipun bolos kau tetap harus melakukan tanggung jawabmu!”

Sekali lagi Namjoon mengerang, namun tertahan karena dia menutupi wajahnya dengan bantal.

“Namjoon!!”

“Iya iya!”

Segera dia pun turun dari ranjang dan menyeret kakinya keluar dari kamar menuju kamar mandi. Adik-adiknya sedang duduk memenuhi meja makan. Nami dalam balutan seragam SMA, Jarim dalam balutan seragam SMP dan Misuk yang berseragam sekolah dasar. Tiga gadis itu menatapnya dengan mulut penuh. Anak-anak yang menyusahkan, pikirnya.

Selang beberapa menit kemudian, Namjoon pun sudah siap di ruang tamu menunggu adik-adiknya. Sudah jelas tidak mungkin mereka akan pergi dengan mobil. Dia masih terlalu muda untuk mendapat lisensi mengemudi. Yang ada dia mengantar mereka dengan taksi.

Yak! Cepatlah sedikit!” teriaknya setelah melirik arloji. Sudah nyaris pukul 8 tapi adik-adiknya tidak segera datang.

Setelah tiga gadis itu muncul, Namjoon yang awalnya duduk di sofa pun langsung beranjak keluar.

Eonni! Mataku kelilipan! Aaa!!” Itu suara Misuk. Dia menarik-narik ujung seragam Nami dengan mata terpejam.

“Buka matamu. Fuuuh! Sudah?”

“Hm. Sudah.”

BRUK!

“Aw!”

Namjoon yang berjalan paling depan pun reflek berhenti dan berbalik. Dia menggeleng pelan melihat Jarim yang kini terduduk sambil mengusap tempurung lututnya yang memar. “Makanya ikat dulu tali sepatumu itu.”

Jarim mengerucutkan bibirnya. Dia pun segera menyimpulkan tali sepatunya yang barusan membuatnya jatuh.

Sementara itu, tiba-tiba saja Nami melompat-lompat seperti menghindari sesuatu. “Kyaa! Minggir! Minggir! Hush!”

Misuk yang melihat apa yang menyebabkan kakaknya begitu pun ikut-ikutan heboh. Langsung saja dia berlarian memeluk Namjoon. “Ada lebaaaah!!”

“Aaa! Andwae! Jangan ke aku! Aku tidak manis!!! Kyaaa!!!” Jarim juga ketularan hebohnya.

Hanya Namjoon yang berdiri tercenung di sana, memperhatikan lebah kecil yang masih terbang di sekitar Nami sebelum akhirnya pergi entah ke mana. Oh astaga, mereka sudah menghabiskan lima menit waktu hanya untuk berjalan keluar dari gerbang.

Hanya perlu waktu tiga menit untuk berjalan ke halte bus. Di sana Namjoon memberhentikan taksi. Dia menyuruh tiga adiknya masuk ke kursi belakang, sementara dia duduk di samping supir.

“Ke SMP Dongguk dulu, Ahjussi.”

Sekolah yang paling dekat memang SMP Dongguk dulu, baru SD Cheonsung dan yang terakhir adalah SMA Daesang. Biasanya juga dengan urutan seperti itu. Tapi saat ini Nami sepertinya tidak bisa bersabar. Dia langsung panik tingkat tinggi usai membaca pesan dari temannya.

Pagi ini kita ulangan fisika dadakan.

Ahjussi!!! SMA Daesang dulu!”

“He?!” Yang berseru dan menoleh justru Namjoon. “Yak! Sekolahmu itu jauh. Adik-adikmu nanti bisa terlambat!”

“Tapi ini darurat, Kak.” Nami memohon. “Aku ada ulangan fisika jam pertama nanti.”

“Kalau kau sudah belajar itu tidak akan jadi masalah.”

“Tapi masalahnya aku tidak belajar semalam. Ini juga ulangan dadakan. Ayolah, Kak!! Sekolahku dulu ya? Ya?”

Namjoon mengerutkan dahi. Heran. “Ya meskipun ulangan dadakan. Kenapa sih terburu-buru begitu?”

“Aku mau membuat contekkan dulu.”

Dan Namjoon hanya bisa melongo tak percaya. Contekkan? Adik seorang Kim Namjoon si murid ber-IQ 145 yang juga menjadi salah satu siswa paling jenius di Korea Selatan membuat contekkan sebelum ulangan? Oh astaga.

Malas berpidato di sana, Namjoon pun meminta si ahjussi untuk membawa mereka ke SMA Daesang dulu, baru ke sekolah Misuk dan yang terakhir adalah sekolah Jarim. Yang benar saja, Jarim terlambat 20 menit karena harus mengantar Nami dulu. Namjoon sampai harus turun tangan sendiri untuk meminta izin pada guru kedisiplinan SMP Dongguk. Barulah setelah itu dia pulang ke rumah.

Di rumah, bukannya bersantai menikmati hari bolosnya, dia justru disuruh sang ibu untuk mengurus Yoohee. Mau tak mau dia menerima saja perintah itu.

Diberitakan bahwa seorang remaja berusia 17 tahun yang membolos sekolah tampak sedang berjalan-jalan di kompleks Bangtan sambil menggendong bayi berusia 1 tahun.

Dia tampak seperti ayah muda yang ditinggal kerja istrinya.

Teman-temannya sedang bersekolah semua, beruntunglah mereka tidak lihat pemandangan memalukan ini. Tapi toh teman-temannya juga sudah biasa melihatnya menjadi baby sitter Yoohee.

Yah, itulah sedikit kehidupan Namjoon di masa remajanya. Sebagai anak pertama di keluarga, laki-laki, dengan empat adik perempuan, belum lagi ayahnya selalu dinas di luar kota dan pulang seminggu sekali, membuatnya harus menanggung beban mengurus gadis-gadis itu. Tugas harian tetapnya adalah mengantar dan menjemput adik-adiknya, lalu mengurus Yoohee selama ibunya sibuk memasak. Kalau tugas seperti itu gampang saja untuknya. Tapi tugas tidak tetapnya banyak sekali. Yang terkadang membuatnya lelah jiwa raga.

Hari itu, Namjoon 19 tahun, Nami 17 tahun, Jarim 15 tahun, Misuk 9 tahun dan Yoohee 3 tahun. Yoohee dibawa oleh ibu mereka ke Ilsan, berkunjung ke rumah nenek. Sementara Namjoon ditinggal di rumah hanya berempat dengan tiga adiknya.

Cuaca tampak begitu baik di siang hari. Tapi tidak tahunya saat malam hari justru hujan deras. Dan listrik pun padam.

Kericuhan pun terjadi di rumah nomor 5 ini. Misuk yang memang suka heboh sendiri langsung berteriak keras memanggil nama kakak-kakaknya. Lalu Jarim juga tidak jauh beda, berteriak juga sambil berlarian –entah bagaimana dia bisa berlari dengan begitu baik di ruangan tanpa cahaya. Kemudian Nami yang jauh lebih tenang dari adik-adiknya langsung masuk ke kamar Namjoon, karena memang kamar mereka bersebelahan.

Nami dan Jarim sudah ada di kamarnya, tapi Misuk belum. Terpaksa Namjoon keluar dengan membawa senter. Konyolnya, Nami dan Jarim tidak berani dibiarkan berdua di kamarnya. Mereka ini takut pada suara petir yang terus bersahut-sahutan tanpa henti. Terpaksa juga Namjoon membawa serta mereka menuju kamar Misuk.

Oppa!!! Huwaaa!! Aku takut!!”

Gwaenchana, oppa sudah di sini.” Hanya itu yang bisa Namjoon katakan sambil mengusap rambut Misuk yang tengah memeluknya.

Mereka memilih untuk berada di kamar Misuk saja sampai listrik menyala kembali.

Nami, Jarim dan Misuk tidak sedikitpun melepaskan cekalan mereka dari baju Namjoon, juga tidak mau jauh-jauh dari kakak laki-laki mereka. Kesannya malah seperti semut yang sedang mengerubungi sekotak gula.

Namjoon jadi jengah sendiri. Punggungnya pegal karena terus-terusan duduk.

Hey girls, tidak bisakah kalian membiarkanku berbaring? Punggungku sakit begini terus.”

Tiga gadis itu serempak menggeleng.

“Aku juga capek hanya duduk,” sahut Nami yang duduk di belakangnya sambil memeluknya.

“Bukan cuma kakak saja ya. Aku juga. Kakiku sudah kesemutan nih,” sambar Jarim yang sejak tadi memijat kakinya sambil merangkul lengan Namjoon.

“Aku ngantuk,” seru Misuk sambil membaringkan kepalanya di atas paha Namjoon.

“Ya sudah ayo berbaring.”

“Tidak mau!” balas tiga gadis belia itu kompak.

Namjoon menyumpah dalam hati.

Mereka berempat hanya berdiam diri di sana sambil mendengarkan nyanyian hujan yang tidak lekas berhenti. Lalu entah bagaimana Misuk mulai mengoceh.

“Kak, menurut kakak Taehyung oppa itu bagaimana?”

Namjoon menunduk untuk melihat wajah adiknya. “Dia bodoh.”

Desisan terdengar dari gadis itu. “Jahat sekali sih ke teman sendiri.”

“Kenapa tanya-tanya Taehyung?” sambar Jarim yang kini asyik menyandarkan kepala di lengan Namjoon.

Misuk tersenyum misterius. “Kak Taehyung ganteng banget tahu.”

Namjoon diam-diam mencibir. “Masih tampan juga kakakmu ini, Suk-ie.”

“Ya ampun,”dengus Misuk dan Jarim bersamaan. Belum lagi ditambah dengan pukulan di punggungnya oleh Nami.

“Meskipun aku lebih suka Jimin daripada Taehyung, tapi Taehyung itu jauh lebih tampan darimu, Oppa.”

Pria itu mendengus. “Kalau begitu cari saja dia jangan aku. Lepaskan aku.”

“Eheeeey!!!”

Akhirnya tiga gadis itu harus bekerja keras untuk merayu kakaknya yang sedang merajuk.

Itu sih kalau mereka sedang ada maunya saja jadi mereka pun memperlakukan Namjoon dengan baik. Tapi … kalau sudah usilnya kumat, jangankan disayang.

Seperti biasa Namjoon mengantar adik-adiknya sekolah, tapi dengan naik mobil sendiri. Dia 20 tahun, Nami 18, Jarim 16, Misuk 10 tahun dan Yoohee 4 tahun. Sudah memanaskan mobil, dia menunggu adik-adiknya di ruang tamu.

Yak! Kalian ini mau berangkat sekolah atau pergi ke pesta, hah?! Cepat sedikit!!”

Nami, Jarim dan Misuk pun datang sambil berlarian ceria. Namjoon yang menunggu sambil berdiri menghadap pintu keluar langsung mendapat serangan dari tiga gadis itu. Misuk yang paling pendek tahu-tahu memukul pantatnya, dilanjutkan oleh Jarim yang menendang lipatan kakinya dan ditutup oleh Nami yang menendang punggungnya sampai dia jatuh telungkup di lantai. Bukannya minta maaf, tiga gadis itu malah tertawa senang sambil melakukan tos bersama.

“Kalian!!” Namjoon yang terlanjur geram pun langsung berdiri dan mengejar tiga anak itu. Heboh sudah rumah itu oleh teriakan tiga gadis tersebut. Makin diramaikan lagi oleh omelan ibunya, pekikan senang Yoohee dan suara barang-barang berjatuhan akibat ulah empat anak tersebut.

Destroyer Sibling, begitulah sebutan orang untuk lima bersaudara rumah ini.

Rumah yang begitu berisik itu mendadak sepi setelah tiga anak di urutan pertama menikah di usia muda. Namjoon bersama seorang teman sekolah dasarnya Han Sung Yoon, lalu Nami dengan Jimin dan Jarim dengan Jungkook. Tiga saudara ini memilih pindah ke rumah Bangtan, tapi untung tidak membuat banyak keributan lagi seperti tahun-tahun sebelumnya.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s