Freak Hwarang #21

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter 

 

Setelah hari itu, entah bagaimana rombongan kerajaan datang begitu saja. Ajudan Sejin, para pasukan, bahkan Raja Bang pun datang. Mereka membawa serta Jungkook, Taehyung dan Yoongi yang kondisinya tampak lebih baik dari sebelumnya.

Yoongi, begitu turun dari mobil langsung berlari menghampiri Sena. Memeluk, menciumnya seperti sudah berabad-abad tidak bertemu. Padahal mereka baru berpisah selama tiga hari.

Sena yang diperlakukan begitu jelas terkejut. Awalnya dia tidak melawan, tapi saat Yoongi mengejutkannya dengan ciuman di bibir, kontan ia pun mendorong pria itu hingga terlepas darinya, dan dia bersembunyi di balik punggung lebar Seokjin. Matanya memancarkan ketakutan luar biasa oleh sikap Yoongi barusan.

Yoongi sendiri memandangnya sendu. Kecewa.

“Yoongi terus saja merengek ingin kemari karena merindukanmu, Nona Oh,” ucap Raja Bang yang sejak tadi melihat adegan barusan. Ah tidak, sebenarnya semua yang disana juga menonton itu.

Entah kenapa ada sesuatu yang terbakar di dada Namjoon. Mata jeli sang raja sanggup menangkap kemarahan itu di wajah pangeran ke-4. Bibirnya mengulum senyum misterius.

“Taehyung-a, kau baik-baik saja?” Suara merdu Jimin seketika mencairkan suasana itu. Dia menghampiri kawannya yang tampak tertatih-tatih berjalan dibantu dengan kruk. Tanpa pikir panjang dia melingkarkan lengan Taehyung di lehernya, lalu membantunya untuk duduk di atas tumpukan bata.

Siapa bilang Jimin tidak melihat apa yang barusan terjadi? Tentu saja dia melihatnya, dengan sangat jelas bahkan. Hatinya mendadak bergemuruh. Namun dia tidak seperti Namjoon yang selalu gamblang memperlihatkan perasaan melalui ekspresi. Dia pintar menyembunyikan perasaannya.

Jungkook juga sudah tampak baik-baik saja. Begitu turun dari mobil dia langsung menghampiri Seokjin. Dipeluknya hyung-nya itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Jujur, dia sangat merasa bersalah telah membentak pria itu beberapa hari lalu. Dia ingin mengucapkan maaf, juga terima kasih karena sudah rela menggendongnya sejauh itu.

“Sudah lama ya kita tidak bertemu, Para Pangeran,” ucap sang Raja dengan lantang usai melihat semua adegan penuh kerinduan itu. “Apakah setelah bertemu denganku kalian masih ingin membalas dendam pada Sejin? Yah … kalian salah jika berpikiran bahwa yang selama ini membuang kalian ke sini adalah Sejin. Biar bagaimana pun, akulah yang mengirim kalian kemari.”

“Kenapa kau mengirim mereka padaku?” tanya Sena yang masih berdiri di dekat Seokjin. Yoongi sudah tidak ada di depannya lagi. Hoseok sudah menarik hyung-nya itu untuk berdiri di dekatnya, jauh dari Sena.

“Kau jauh lebih cantik dari bayanganku, Nona. Waktu ternyata berlalu sangat cepat.”

Cara bicara Raja yang cukup aneh itu sukses membuat ketujuh pangeran bingung juga penasaran. Sena juga begitu. Dia merasa seolah raja telah mengenalnya sejak lama.

“Aku sedang ingin mencari penggantiku. Mengingat usiaku yang makin lama makin tua, tentu saja aku tidak selamanya bisa duduk di kursi raja. Maka dari itu, kukirim para pangeran ke sini. Apakah mereka melakukan perintahmu dengan baik, Nona?”

Semuanya menatap pada satu titik, Sena, satu-satunya gadis yang ada di sana. Gadis itu juga membalas tatapan mereka. Tatapannya tampak berbeda saat bertemu dengan Yoongi. Pria itu memberinya senyum tipis, tapi dia langsung membuang pandangan seperti tidak melihat apa pun.

“Ya, mereka melakukan semua perintahku dengan baik.”

“Kalau begitu, inilah saatnya kalian kembali ke istana.”

Ketujuh pangeran terkesiap. Ekspresi yang paling kentara adalah milik Yoongi, Namjoon dan Jimin. Kembali ke istana? Secepat inikah mereka akan kembali?

“Benarkah kami akan kembali ke istana?” tanya Jungkook sedikit bergumam. Raja yang berdiri jauh di depannya masih bisa mendengar itu karena suasana sunyi yang tiba-tiba melingkupi mereka.

“Ya, kalian akan kembali ke istana.”

“Kapan?” tanya Taehyung ragu.

“Sekarang,” balas Sejin tegas.

“Sekarang?!” Yoongi berseru lantang. “Sekarang kau bilang?! Kenapa kalian bisa seenaknya begini, hah?! Tidak cukupkah kalian menculik dan mengirim kami kemari secara tiba-tiba?!”

“Jaga bicaramu—” Sejin nyaris saja mengerahkan tenaganya untuk memukul Yoongi kalau saja raja tidak menahannya.

“Apakah kau keberatan dengan keputusanku, Pangeran? Tugasmu di sini sudah selesai, sekarang waktunya kau kembali ke istana. Menunggu apa lagi?”

Yoongi mengepalkan kedua tangannya sampai kukunya memutih. “Jadi kau akan membiarkan gadis ini sendirian lagi di sini? Kenapa kau sekejam ini, Raja?! Dia hampir saja diperkosa si brengsek yang mengaku pengasuhnya! Lalu kau meminta kami untuk meninggalkannya di sini sendirian? Hah, lelucon macam apa ini.”

Raja tampak tersenyum miring. “Itu artinya kau memilih tetap tinggal di sini daripada menjadi penerus raja?”

“Sejak awal aku memang tidak berminat pada gelar itu.”

“Kau tidak ingin menempatkan ibumu sebagai ratu?”

Yoongi tersenyum kecut. “Eomma bahkan menyesal telah menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Untuk apa menjadikan eomma sebagai ratu kalau itu hanya akan membuatnya makin menyedihkan. Cih.”

“Baiklah, bagaimana dengan yang lain, apakah ada yang keberatan dengan keputusan ini?”

Seokjin tiba-tiba mengangkat tangannya, dengan gestur sopan selayaknya pangeran. “Maaf, Tuan Paduka Raja. Sama seperti Yoongi, saya keberatan jika harus meninggalkan Sena sendirian di sini. Dia telah saya anggap sebagai adik kandung saya sendiri. Maaf, saya benar-benar tidak tega meninggalkannya di sini sendirian.”

“Bagaimana dengan ibumu?”

Pangeran tertua itu terdiam untuk berpikir sejenak. “Saya akan kembali ke istana setelah saya memastikan bahwa Sena bisa hidup dengan aman di sini.”

Jawaban yang sungguh memuaskan hati raja. Pria bermarga Bang yang telah berusia 46 tahun itu mengangguk senang. “Baiklah, kalau itu maumu. Yang lain?”

Jungkook yang berdiri di samping Seokjin, sejak tadi hanya diam sambil memilin ujung pakaiannya. Dia adalah tipe orang yang terlanjur pemalu untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya pada orang lain. Di satu sisi dia senang mendengar bahwa mereka akan segera kembali ke istana, tapi di sisi lain dia merasa berat. Sama halnya seperti Seokjin dan Yoongi. Dia tidak tega membiarkan Sena sendirian di sini. Bagaimana kalau ada pria brengsek lain yang akan mencoba melecehkan gadis itu? Hal itu jauh lebih membuatnya cemas daripada kecemasannya tidak bisa bermain game lagi. Prioritasnya kini telah berubah.

Sama halnya dengan Taehyung yang hanya diam di tempat sambil memandangi Sena. Dia memang tidak bisa bersikap baik pada Sena seperti yang dilakukan saudaranya yang lain. Gengsinya terlalu tinggi. Kalau saja Sena sedikit lebih peka, mungkin Sena bisa menyadari bagaimana perhatiannya pada gadis itu. Dia suka Sena, tapi bukan dalam artian pria dan wanita. Dia kagum melihat kegigihan gadis itu dalam bertahan hidup di tempat terpencil seperti ini. Tidak sepertinya yang gampang mengeluh kalau kondisi tidak sesuai dengan apa maunya. Sama, Taehyung hanya tidak ingin Sena kenapa-kenapa lagi jika dibiarkan sendirian di sini.

Jimin dan Hoseok juga sepemikiran dengan yang lain. Hoseok memang sangat menyayangi ibunya, dia ingin menjadikan ibunya sebagai ratu karena hanya dengan jalan itulah dia akan membahagiakan wanita itu. Tapi begitu bertemu dengan Sena, pandangannya berubah. Dia tidak mau mengorbankan keselamatan gadis itu demi mewujudkan mimpinya. Dia ingin segera menjadi penerus raja, tapi di sisi lain dia tidak mau meninggalkan gadis itu. Jimin pun begitu. Dia juga sangat menyayangi ibunya melebihi dirinya sendiri. Membayangkan bagaimana ibunya menjadi ratu di masa depan, tak ayal sering membuatnya tersenyum sendiri. Setidaknya ibunya bahagia. Tapi keinginannya itu sering terpendam setelah dia mengingat saudara-saudaranya pun Sena. Dia tidak tega melihat Hoseok menderita, dia tidak tega melihat yang lain hanya menjadi pangeran selamanya dan ibu mereka hanya menjadi selir –karena peran permaisuri Raja Bang akan diambil oleh ratu masa depan. Dan setelah bertemu dengan Sena, dia juga tidak tega membiarkan gadis itu sendirian di sini. Jujur, Jimin sangat mencintai gadis itu meski sikapnya sering berbanding terbalik dengan perasaannya.

Sementara seorang yang paling menjulang di antara para pangeran, Kim Namjoon, mengangkat tangannya sebagaimana yang dilakukan Seokjin.

“Apa pun yang terjadi, saya tidak akan pergi dari sini.”

Jawaban itu entah mengapa membuat Raja tertawa lepas. Lucu, sangat lucu. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa keputusannya mengirim mereka kemari akan menjadi semenyenangkan ini.

“Kalau itu memang mau kalian, baiklah. Akan kuberi waktu. Tapi waktu ini tidak lama, para Pangeran. Kapan pun kalian harus siap untuk kembali.”

Setelah bicara begitu, Raja pun kembali masuk ke mobil. Tak lama kemudian rombongan kerajaan pergi meninggalkan pondok tersebut. Menyisakan Sena bersama ketujuh pangeran.

“Kenapa kalian bersikeras di sini?” Pertanyaan satu-satunya gadis di sana sontak menghancurkan suasana senyap di antara mereka.

Seokjin pun berbalik, menghadap Sena yang tengah menatapnya bingung. Dia mengusap lembut rambut gadis itu sambil tersenyum cerah. “Kau mau mendengar suatu cerita? Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum aku mulai ceritanya?”

Ketujuh pangeran kerajaan Savanah sebenarnya bukanlah anak kandung dari raja. Ayah para pangeran itu merupakan para prajurit kerajaan yang mati di medan peperangan. Mereka dengan sukarela menyerahkan istri dan anak mereka ke istana untuk diangkat sebagai keluarga kerajaan. Hal itu dimaksudkan agar kehidupan istri dan anak mereka tidak terlunta-lunta dan bisa hidup dengan baik dengan harta dari raja. Mereka pun tidak protes saat raja mengikat istri mereka sebagai selir. Karena raja memiliki seorang permaisuri yang tidak diketahui di mana lokasinya saat itu karena raja menyembunyikannya dari para pembunuh bayaran kerajaan musuh.

“Jadi itulah kenapa Raja terus menyebut ibu kalian?”

Seokjin mengangguk. “Kau tahu bagaimana kehidupan selir raja ‘kan? Tidak ada satu pun dari ibu kami yang menjadi permaisuri. Raja masih sangat mencintai permaisurinya meskipun permaisurinya telah tiada.”

Sena menatap satu persatu ketujuh pangeran yang mengelilinginya dengan prihatin. Dia tidak tahu, kalau istana memiliki cerita yang sekelam itu. Karena dia pikir kalau kehidupan kerajaan adalah kehidupan yang paling sempurna di dunia ini. Berspekulasi kalau pangeran beserta ibu pangeran hidup dengan bahagia di sana. Ternyata oh ternyata, ibu para pangeran hanya sebagai selir. Bukan istri pertama/permaisuri.

Matanya berhenti saat bertemu tatap dengan Yoongi. Mata kecil pria itu tampak yang paling sendu. Dia yang biasanya tampil dingin entah kenapa sekarang menjadi yang paling rapuh di sini. Es tidak akan mudah dihancurkan bila dipegang erat, tapi daun kering? Itulah perumpamaan Yoongi sekarang. Dia mulai mengerti kenapa Yoongi sangat pemberontak seperti hewan liar. Bisa jadi pria itu marah pada raja atas apa yang telah terjadi pada ibunya. Tapi, bukankah seharusnya Yoongi sekarang berusaha mati-matian untuk mendapatkan gelar penerus raja? Kalau Yoongi marah karena ibunya hanya menjadi selir, kenapa tidak mengusahakan ibunya menjadi permaisuri? Hal itu yang masih menjadi pikiran Sena sekarang.

Tapi mengingat apa yang telah dilakukan Yoongi padanya tadi, mendadak dia enggan menanyakan itu. Kembali dipandanginya Seokjin. Menyusun pertanyaan lain yang sekiranya bisa menjurus pada rasa penasarannya pada Yoongi.

Oppa, apakah diantara ibu kalian, ada seseorang yang raja suka? Kau bilang permaisuri sudah meninggal dunia. Kurasa, meskipun raja masih mencintai permaisuri, tidak aneh ‘kan kalau raja menyukai salah satu di antara ibu kalian?”

Seokjin mengangguk pelan. “Hm, tentu saja. Meskipun raja tidak pernah memberitahukannya secara umum, semua orang tahu kalau raja menyukai salah satu diantara ibu kami.”

Kedua mata indah Sena membelalak. “Benarkah? Siapa?”

Pria itu mengangkat kepalanya. Pandangannya tertuju lurus pada satu titik. “Min Yoongi eomma.”

Yoongi yang disebut namanya langsung menunduk. Tidak menyangkal, tidak juga menyetujui. Tapi semua orang menganggap Yoongi setuju karena kediamannya.

Satu persatu potongan puzzle mulai tampak penyelesaiannya.

Yoongi adalah pangeran yang paling suka memberontak.

Yoongi lebih memilih bermain-main dengan musik daripada berkutat dengan antek-antek kerajaan.

Yoongi yang marah karena ibunya menjadi selir.

Yoongi yang tidak ingin ibunya makin menderita karena statusnya.

Dan raja yang menaruh perasaan pada ibu Yoongi.

Sena bisa menyimpulkan, ibu Yoongi tidak mau lagi berurusan dengan raja.

Suasana makin mencekam usai Seokjin menyebut nama Yoongi. Sejak tadi tidak ada satu pun pangeran lain yang mau angkat bicara. Seolah mereka telah memasrahkannya pada Seokjin, membiarkan Seokjin berucap sesuka hati tentang kehidupan kerajaan yang jauh dari kata indah dan bahagia.

Memang benar raja sangat menyukai ibu Yoongi. Yoongi selalu melihat sendiri bagaimana raja yang selalu memberi perhatian lebih pada ibunya meskipun itu sangat tidak diperlukan. Padahal ibunya sering menolak, tapi raja selalu memaksa. Raja pun lebih sering mendatangi rumah ibunya ketimbang rumah ibu yang lain. Yoongi tidak suka itu. Setiap kali raja mendatangi ibunya, ibunya akan menjadi sangat pendiam keesokan harinya. Seperti sedang memberontak mungkin? Yah … Yoongi mewarisi sifat itu dari ibunya.

Sementara di sisi lain, Hoseok juga sama diamnya. Diam dalam arti lain. Mungkin Seokjin tidak mau membahas ini pada Sena, tapi semuanya tahu, ibu Hoseok tidak seberuntung ibu Yoongi. Dia sebenarnya sangat tidak mengerti dengan jalan pikir raja. Tiap kali raja dalam mood yang buruk, raja akan sering-sering datang ke rumah ibunya. Tidak dalam kondisi yang sebaliknya. Seolah-olah ibunya hanya dipakai sebagai teman berkeluh kesah saja, tidak lebih. Hoseok sebenarnya marah pada apa yang telah dilakukan raja. Tapi mau bagaimana lagi? Dia tidak punya kekuasaan untuk marah pada pria itu. Nasibnya tidak seberuntung Yoongi. Mau Yoongi memberontak seperti apa pun, raja akan tetap menolerirnya. Tapi kalau dia? Jangankan dihukum, Hoseok takut ibunya akan diusir juga dari kerajaan. Ibunya sangat mencintai raja, Hoseok tak mengerti itu. Bagaimana bisa ibunya mencintai pria yang jelas-jelas hanya menjadikannya sebagai wanita sampingan?

Mungkin itulah kenapa Hoseok dan Yoongi menjadi dekat. Mereka sama-sama tidak menyukai sikap raja pada ibu mereka dan menyesal tidak bisa melakukan apa pun.

TBC

Advertisements

2 Replies to “Freak Hwarang #21”

  1. Q curiga thor jangan2 anak raja sesungguhnya adalah oh sena.. .daebak mudah2an tebakan q benar…sm yoongi aja thor sena…q kira mereka memang anak raja sungguhan dr selirnya, ternyata cuma diangkat jadi selir para ibu pangeran.. Jangan lama2 ya thor postingnya..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s