Swag Couple Series [#20 Date]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

Intro Boy ver | Intro Girl ver | Want You More

Don’t Mess With Me | Oppa | Nobody Like You

Punishment | Bad But Sweet | Who Are You (1)

Pick Me (1) (2) (3)Who Are You (2) | Chatroom (1) (2) (3)

April Fools’ | Oppa (2)  | Park Jimin

 

Akhir pekan, tidak biasa-biasanya Yoonji mau diajak kencan. Terlebih itu sama Yoongi. Dia menjatuhkan pilihan pada outfit yang manis. Sweater kebesaran, rok pendek dan sebuah topi. Sementara kakaknya sendiri memakai celana jeans hitam panjang, kaos pendek yang dibalut dengan jaket baseball dan jangan lupakan topi hitamnya.

Mereka berpegangan tangan begitu keluar dari rumah, sama seperti pasangan kekasih.

“Kau ingin kita berkencan di mana?” tanya pria itu sambil meremas tangan mungil adiknya.

“Gelato. Bawa aku ke café yang ada gelato-nya.”

“Oke, untuk kesayanganku yang paling cantik semuanya oke,” balas Yoongi agak lebay sambil merangkul pinggang dan mencium pipi adiknya.

Yoonji mengerang risih. Dia lantas mencubit perut Yoongi yang otomatis membuat Yoongi berjingkat menjauhinya.

“Awas kalau kau berani curi-curi kesempatan.”

Yoongi terkekeh. Adiknya memang terbaik! Tahu saja kalau Yoongi memang sempat berpikiran begitu.

Mereka memilih naik bus untuk sampai di kedai gelato. Yoongi tahu tempat di mana ada gelato yang enak. Dan itu memakan waktu 20 menit untuk sampai di sana. Untungnya di dalam bus mereka dapat tempat duduk, jadi keduanya tidak perlu capek-capek berdiri.

Yoongi menyandarkan dagunya di bahu kecil Yoonji, ikut menatap kemana gadis itu menatap. “Akhirnya kita bisa berkencan juga, adik kecil.”

“Hm, itu karena Jimin juga sedang ada acara reuni di keluarganya. Kalau seandainya Jimin hari ini kosong, aku tidak akan pergi bersamamu.”

Yoongi tersenyum kecut. Lagi-lagi dia kalah tenar oleh Park Jimin. “Memang apa yang tidak ada padaku tapi ada padanya? Aku itu jauh lebih keren darinya.”

Yoonji mengerucutkan bibir, tidak setuju dengan pernyataan Yoongi. “Setidaknya Jimin bukan pria yang suka mengambil kesempatan.”

Yoongi memeluk pinggang adiknya erat. “Dia tidak melakukan apa pun saat di motel ‘kan?”

“Hm. Dia bahkan duduk di lantai saat menunggumu.”

Dipandanginya wajah cantik Yoonji sekilas. “Sebentar lagi aku akan lulus dari sekolah itu. Kuharap kau dan Jimin akan terus bersama-sama sampai nanti. Ah … setelah ini kau harus hidup dengan mandiri, adikku. Oppa tidak bisa selalu menjagamu. Nanti kalau kau lulus dari SMA, susul oppa di Amerika ya?”

Yoonji terdiam. Sebenarnya dia sangat menyayangkan keputusan Yoongi untuk bersekolah di luar negeri. Memang bagus sih, Yoongi meskipun berandal tapi punya otak yang jenius sampai-sampai mendapat surat rekomendasi dari sekolah untuk melanjutkan kuliah di Universitas Cornell, jurusan arsitektur pula. Tidak seperti dirinya yang otaknya pas-pasan meskipun sedikit jauh lebih pintar dari Park Jimin. Dia tidak suka jauh dari kakaknya. Apakah sebentar lagi kamar mereka akan menjadi kamar tunggalnya? Ruangan sebesar itu hanya untuk dia sendiri? Oh tidak. Bagaimana kalau dia mimpi buruk, bagaimana kalau dia sakit, siapa yang akan dipeluknya? Kumamon? Ah tidak enak, dia hanya mau kakaknya.

Tapi sayangnya, rasa gengsinya jauh lebih besar.

“Aku justru bahagia tanpamu.” Yoonji merutuki bibirnya sendiri.

“Benarkah? Kau tidak akan merindukan kakakmu ini?”

Gadis itu mengangguk, padahal dalam hatinya dia menggeleng keras.

“Kalau kau mimpi buruk bagaimana?”

“Aku akan menelepon Park Jimin.”

“Kalau kau sakit?”

“Aku akan meminta Park Jimin menemaniku.”

“Kalau perutmu nyeri karena datang bulan?”

“Park Jimin bisa kusuruh mencari obat.”

“Kalau kau butuh bantuan belajar?”

Yoonji terdiam sejenak. Park Jimin bukanlah orang yang tepat dalam bidang ini. Dia pun menelan ludah keringnya susah payah. “Masih ada eomma dan appa.”

“Kalau eomma dan appa tidak sedang di rumah, Jimin juga sedang ada acara lain, siapa yang akan menemanimu di rumah?”

Yoonji benar-benar bungkam kali ini. Sudah tidak ada lagi jawaban yang cocok. Dia tidak punya teman. Yang dia miliki selama ini hanya orangtua mereka, Yoongi dan Jimin. Sama sekali dia tidak punya satu pun teman wanita. Ingat, Yoonji selalu di­-bully sejak dulu.

Gadis itu pun menoleh. Nyaris saja wajah mereka saling bersentuhan. Yoongi masih menatapnya dengan sorot sendu.

“Siapa yang akan mengisi kulkas dengan snack lagi? Pada siapa kau akan curhat soal Park Jimin? Siapa yang akan membuatkan sup rumput laut untukmu?”

Pertahanan Yoonji nyaris runtuh melihat wajah kakaknya. Dia ingin menangis, tapi dia tidak mau membuat suasana kencan mereka hari ini menjadi suasana yang gloomy. Tidak akan Yoonji biarkan kencan mereka menjadi gloomy date. Dia pun segera membuang pandangan ke jendela bus lagi.

“Kalau memang tidak mau pergi ya tidak usah pergi. Aku akan membeli snack sendiri. Aku bisa curhat ke buku. Aku bisa beli sup rumput laut di restoran. Dan … aku tidak takut di rumah sendirian.”

Yoongi tersenyum tipis, mendekati getir. Ya, dia tahu adiknya pasti bisa melakukan semua hal tanpanya. Harusnya dia ingat kalau Yoonji bukan anak 5 tahun lagi, tapi seorang gadis berusia 17 tahun.

Ne, oppa tahu kau pasti bisa melakukan semuanya sendiri. Adikku itu gadis yang hebat.”

Mereka hanya saling diam setelah itu sampai bus berhenti di tempat yang mereka tuju.

Yoonji memilih rasa teh hijau. Yoongi memilih rasa espresso.

Mereka makan dalam diam sambil melihat orang-orang. Banyak juga yang ternyata kencan di sini. Dan kebanyakan dari mereka memang pasangan kekasih, bukan kakak adik seperti kedua anak ini.

Tidak betah dengan suasana hening di antara mereka, Yoongi pun berinisiatif membuka pembicaraan sambil menyodorkan sesendok gelatonya. “Mau coba?”

Yoonji menatap sekilas kakaknya sebelum berganti memandang gelato warna cokelat gelap itu. Dia tidak buta. Dia tahu apa maksud di balik tingkah kakaknya ini. Sama, dia juga tidak betah dengan suasana aneh di antara mereka. Tanpa perlu menjawab dia pun langsung mendorong tubuhnya ke depan dan meraup gelato itu dengan cepat.

Yoongi tersenyum puas. “Aku juga. Aku mau coba punyamu. Aaaa~~”

Yoonji segera menyiduk gelatonya dan menyuapi Yoongi. Pria itu membuat ekspresi puas yang berlebihan, yang itu sulit membuat Yoonji hanya menatapnya datar.

Es di antara mereka akhirnya mencair. Melumer menjadi manis tak tertahankan bak gelato.

Usai menghabiskan gelato mereka, keduanya pun lekas keluar dari kedai tersebut.

Mereka bergandengan tangan lagi.

“Enaknya kemana sekarang?” tanya Yoongi pada gadis manis di sampingnya.

“Belikan aku sepatu.”

Ye?” seru Yoongi sambil membelalak bingung. Demi apa tiba-tiba minta sepatu.

Yoonji mendadak berhenti, otomatis Yoongi juga. Gadis itu mengangkat satu kakinya berniat menunjukkan sepatu kets-nya.

“Aku ingin beli sepatu wanita. Seperti high heels atau flat shoes.”

Yoongi pun tersenyum tipis. “Kenapa tiba-tiba minta sepatu wanita? Bukannya kau sendiri yang bilang kalau kau tidak suka sepatu wanita? Karena siapa ini? Park Jimin?”

“Bisa tidak kau hanya langsung belikan tanpa tanya macam-macam?” keluh Yoonji sambil berjalan mendahului Yoongi.

Yoongi terkekeh melihat wajah merajuk adiknya. Dia pun segera menyusul gadis versi wanita darinya itu. Kembali menautkan kelima jari mereka.

Arasseo. Akan kubelikan. Kau mau berapa? Dua? Tiga? Lima? Seratus?”

Yoonji mencubit kecil pinggang Yoongi sampai pria itu menjerit. “Aku ingin sekali segera mengirimmu ke Amerika. Berhenti mengatakan hal yang tidak penting.”

“Galak sekali. Jangan-jangan sebentar lagi kau akan datang bulan.”

PLAK!

Untuk kedua kalinya Yoongi harus terima tubuhnya mendapat perlakuan buas adiknya. Kali ini pipinya mungkin memerah gara-gara tamparan adiknya itu.

“Kenapa kau menamparku?”

Yoonji menyentak tangan kakaknya dari tangannya, lantas berjalan duluan. Bibirnya mengerucut ke depan. Yoongi itu selalu saja tahu soal ini. Ya, Yoonji memperkirakan kalau dia akan datang bulan dalam beberapa hari ini. Karena sejak tadi dia terus merasa emosinya tidak terkontrol, belum lagi keringatnya yang terus mengucur deras.

Mereka masuk ke toko sepatu yang lokasinya cukup dekat dari café.

“Yoonji-a, coba pakai ini,” kata Yoongi sambil menyandurkan sebuah wedges berwarna hitam yang hak-nya tidak seberapa dan desainnya pun terkesan terbuka.

Tanpa pikir panjang –karena memang dia tidak tahu mana yang cocok untuknya, dia pun segera duduk di sebuah kursi dan membiarkan kakaknya memakaikan sepatu itu untuknya.

Dan begitu telah terpasang dengan baik, Yoongi langsung terpukau. “Woah … Kau jadi kelihatan seksi dengan ini, Sayang.”

Yoonji sendiri sibuk memandangi kakinya dari segala sudut. Dia menerima uluran tangan Yoongi yang mengajaknya untuk berdiri. Seperti anak yang baru belajar berjalan, dia mencoba mengambil langkah sambil berpegangan erat pada kakaknya.

“Bagaimana? Kau suka?” tanya Yoongi setelah dia membiarkan gadis itu berjalan-jalan kecil tanpa bantuannya.

“Hm. Bagus. Kuambil ini saja.”

“Kau tidak mau lihat-lihat yang lain dulu?”

Yoonji pun menggeleng. “Aku tidak tahu mana lagi yang bagus.”

Arasseo, aku akan membayarnya dulu.”

Yoongi pun meninggalkannya di sana. Yoonji memberikan wedges yang tadi dicobanya pada seorang pegawai toko. Sementara dia sendiri memakai sepatu kets-nya lagi sambil memandangi sang kakak yang sibuk membayar di kasir.

“Kalian serasi sekali. Sudah pacaran berapa lama?” Seorang pegawai toko lain menyapanya saat menata sepatu di rak yang berdiri di dekat Yoonji.

Yoonji mengerjap-ngerjap sebentar. “Kami kakak adik.”

Sontak si pegawai toko itu menjatuhkan sepasang high heels merah dari tangannya. Matanya membelalak dengan mulut sedikit terbuka.

Jagiya, kaja!

Yoonji membungkuk sopan pada si pegawai itu sebelum tangannya ditarik pergi oleh Yoongi.

Setelah mendapatkan sepatunya, mereka pun keluar dari toko tersebut. Lagi-lagi sambil berpegangan tangan.

Meskipun Yoonji tidak pernah mengatakan apa pun, sebenarnya dia sangat menyukai tangan besar Yoongi. Tangan kecilnya terasa seperti terlindungi. Tidak seperti tangan Jimin yang tidak sanggup melingkupi seluruh tangannya. Tangan kakaknya berbeda. Sangat melindungi dan hangat.

“Kau berkeringat, Sayang,” celetuk Yoongi tiba-tiba sambil menyeka peluh di dahi Yoonji dengan tisu. Dia menghadapkan Yoonji padanya, sementara tangannya sibuk menghapus jejak-jejak keringat di kepala adiknya.

Yoonji memperhatikan sang kakak lamat-lamat.

Kakaknya pun berkeringat.

Tapi tidak sememalukan dirinya yang sampai membasahi topi dan rambutnya.

Yoongi hanya tampak jauh lebih pucat dari sebelumnya.

Sama sekali tidak melunturkan ketampanannya.

Tak lama Yoongi bisa menyadari tatapan adiknya. Dia pun balas menatap gadis itu sambil mengangkat kedua alisnya. Dia tersentak saat tangan mungil nan halus milik Yoonji menyentuh wajahnya. Pelan di dahinya lalu bergerak turun ke pelipis dan berakhir di rahang. Setelah itu Yoonji menarik tangannya kembali.

“Kau juga berkeringat.”

Pria itu termenung sebentar akan apa yang barusan dilakukan adiknya. Sekarang Yoonji tampak gugup. Gadis itu terus berusaha menghindari tatapannya, bahkan mau bergerak saja enggan. Sementara dia sendiri terus menyorotkan obsidiannya pada Yoonji.

Diraihnya segera pinggang ramping gadis itu dengan satu tangan sementara tangannya yang lain melintang di punggung Yoonji. Bibirnya mendarat dengan mulus di dahi basah Yoonji, mengecupnya lembut dan lama.

Kemudian perlahan dia menjauhkan wajahnya, sedikit menunduk untuk menyejajarkan mata mereka.

“Mungkin kau tidak keberatan kalau aku pergi, tapi aku … aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian, Yoonji-a.”

Yoonji membasahi kerongkongannya yang mendadak kering seperti baru saja terjadi musim kemarau dadakan di sana. Dadanya sesak melihat raut wajah kakaknya. Yoongi benar-benar tidak mau meninggalkan Yoonji. Seandainya bisa mungkin Yoongi akan membawa serta Yoonji ke Amerika. Mereka sudah bersama-sama selama 17 tahun. Tidak mudah rasanya kalau harus berpisah dengan jarak yang begitu jauh.

Yoonji pun sama. Dia tidak mau berpisah dengan Yoongi. Semua aspek hidupnya seolah berporos pada pria itu. Apa jadinya jika planet kehilangan porosnya? Mungkin itulah yang akan terjadi pada Yoonji nanti.

Namun sekali lagi gadis itu tidak mau takluk pada emosinya. Sebelum pertahanannya runtuh, dia pun segera melepaskan kedua lengan Yoongi dari tubuhnya. Mundur selangkah agar kakaknya tidak lagi memeluknya.

Yoonji menelan ludah susah payah. Berusaha tegar dengan memasang wajah datar seperti biasa. “Kau membawaku keluar bukan untuk membahas ini, Oppa. Kalau memang kencan, kenapa tidak kencan saja? Bisakah kau berhenti membahas itu?”

Yoongi yang sudah menitikkan air mata, lantas menghapus air mata itu lalu mengangguk. “Hm. Maafkan, Oppa. Kaja, kita lanjutkan kencan kita.”

Yoonji memperhatikan sebentar tangan Yoongi yang terulur padanya. Kemudian dia meraih tangan itu. Membiarkan tangannya tenggelam oleh kungkungan tangan besar nan manly milik sang kakak.

TBC

*) Note: Swag Couple akan di-update tiap jum’at. Stay tune! ^_^ 

Advertisements

4 Replies to “Swag Couple Series [#20 Date]”

  1. njirrr horror juga ya punya kakak kaya yungi, maen peluk cium gitu. tapi kalo modelnya kaya gini sih daku bisa apa *eh 😀 . cogan di anggurin kan mubazir yee. btw, ko syedih ya mau di tinggal agus ke amrik. jangan dong gus ntar klo kmu ke amrik jgn2 ff ini ikutan end lagi. ntar klo aku kngen sama authornya gmna(?) muehehehe. yoonji yg aduhaay aduh manisnya jgn gengsi2 sama abang sndiri ntar klo di tinggal ke amrik gk ada yg bisa disuruh buat beli pembalut lagi. haha apa deh. oke tiap jum’at ye. gue tunggulah buat km apasih yg ngga. BH(?) juga jangan lupa ya oh oh yg FH juga ya. eh yg itu juga gue lupa satu lagi *sowry jgn lupa di lnjut ya. semangat nulis. moga gk kena webe. duhh perhatiannya akuuhh :-*

    Liked by 1 person

  2. yoongi itu kakaknya yoonji kan, tp mereka mesra sekali, yoongi mau ke amrik, yoonji tabahkan hatimu, kuatkan matamu(?) dan kuatkan imanmu (?) nextt baca udah ketinggalan jauh.

    Like

  3. yoongi itu kakaknya yoonji kan, tp mereka mesra sekali, yoongi mau ke amrik, yoonji tabahkan hatimu, kuatkan matamu(?) dan kuatkan imanmu (?) nextt baca udah ketinggalan jauh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s