Bangtan House [#6 Rumah No. 6]

ohnajla || family, friendship, bromance, romance, marriage life || Teen || Chaptered 

Main Cast: 

– BTS members

– OC

Prolog | Rumah No. 1 | Rumah No. 2 | Rumah No. 3

Rumah No. 4 | Rumah No.5

 

Rumah ini tidak jauh beda seperti rumah nomor 4. Sepi. Tidak ada kericuhan berarti seperti rumah nomor 5 atau rumah nomor 1. Sebenarnya yang menempati rumah ini bukan anak tunggal, tapi keluarga dengan 3 orang anak laki-laki. Namun saat ini hanya tersisa satu anak laki-laki, yang bungsu karena dua laki-laki lainnya sudah menikah dan merantau ke kota lain.

Dia adalah Kim Seokjin, satu-satunya anak keluarga Kim nomor 1 yang masih tinggal di rumah bersama orangtua.

Kesehariannya sangat biasa. Dia terbiasa bangun pagi. Setelah bangun langsung masuk kamar mandi. Jangan berpikiran yang tidak-tidak, dia ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka. Setelah itu ke dapur, memasak sarapan untuk dia dan kedua orangtuanya. Begini-begini dia itu pandai memasak. Karena ya memang sudah dibiasakan sejak kecil. Kedua orangtuanya sama-sama guru, yang harus berangkat pagi dan pulang malam. Sementara jarak usianya dengan kakak-kakaknya juga jauh. Dia yang terbiasa ditinggal sendirian di rumah harus siap memasak sendiri. Maka dari itu, sudah tidak aneh ‘kan kalau dia pandai memasak? Bahkan jauh lebih pandai dari nuna-nuna Min.

Kim Seokjin ini bisa dibilang adalah seorang anak teladan yang sangat disukai para orangtua dan menjadi panutan bagi anak-anak yang lain. Dia itu kalem, berpakaian rapi, suka kebersihan, sangat sopan, cerdas, tampan lagi. Ibu-ibu yang punya anak laki-laki pasti tidak pernah absen mengingatkan anak mereka untuk mencontoh Kim Seokjin.

“Rusak lagi, rusak lagi. Kau itu kapan bisa kalem seperti Seokjin?!  Sudah kubilang hati-hati!” Itu omelan khas ibu Namjoon tiap kali Namjoon merusakkan barang.

“Cuih, tahu begini lebih baik Seokjin saja yang menjadi adikku. Punya adik laki-laki tapi tidak ada gunanya,” tutur Yuri kalau Yoongi bandel tidak mau membelikannya pembalut.

“Ya ampun anak ini. Kapan kau akan pulang sekolah dengan sepatu bersih seperti Seokjin, huh?” Terkadang ibu Jimin mengomel begitu kalau Jimin pulang sekolah dalam keadaan sepatu penuh lumpur. Biasa, dia memang suka bermain sepak bola di lapangan bersama teman-temannya sebelum pulang ke rumah apalagi saat hari hujan.

Pokoknya bagi para ibu, Seokjin itu adalah contoh teladan untuk anak-anaknya.

Tapi bagi anak-anak seperti Namjoon, Yoongi, Jimin, Taehyung, Jungkook dan Hoseok, Seokjin itu tidak se-teladan itu. Ibu-ibu mereka hanya tidak tahu saja kalau Seokjin aslinya bagaimana.

Saat itu Seokjin berumur 10 tahun, Jungkook 5 tahun. Seokjin baru saja pulang dari sekolahnya, sambil membawa permen kapas. Biasalah, dia datang ke rumah Jungkook untuk bermain karena dia tidak punya teman bermain di rumah. Dan dia datang sambil membawa permen kapas itu.

“Kook-ie, kau sedang apa?” tanyanya sambil menghampiri Jungkook yang sedang asyik bermain di teras rumahnya.

“Main robot-robotan,” jawab Jungkook kecil tanpa sekalipun menoleh pada Seokjin.

“Aku juga mau main.”

Shireo. Aku tidak mau meminjamkan robotku ke hyung.”

Seokjin cemberut. Lalu tiba-tiba ide brilian muncul di kepalanya. Dia pun membuka bungkus permen kapasnya, lalu mulai memakannya dengan nikmat. “Ya sudah, kalau kau tidak mau meminjamkan robot, tidak akan kukasih permen kapas.”

Mendengar kata permen kapas, Jungkook kecil langsung melepaskan mainan robotnya. Mata bulatnya berbinar-binar ketika melihat permen kapas besar di tangan Seokjin. “Aku mau permen kapas.”

Tapi Seokjin menggeleng. “Aku tidak mau membagi permen kapasku denganmu.”

Jungkook kecil yang suka sekali dengan permen kapas, melakukan banyak cara untuk mendapatkan itu dari Seokjin. Dia pun menyingkirkan mainannya dan mendekat pada hyung-nya itu.

Hyung, aku mau.”

Seokjin menggeleng. “Tidak boleh.”

Hyung jahat. Tidak mau berbagi.”

“Kau juga tidak mau berbagi.”

Jungkook pun mengambil satu mainan robotnya, yang berwarna kuning. “Hyung boleh pakai ini.”

Shireo, aku maunya yang merah.”

“Yang merah itu punyaku.”

“Ya sudah kalau tidak boleh yang merah. Permennya kuhabiskan saja. Hmmm, nyam nyam.”

Jungkook tampak bimbang sebentar. Dia sangat ingin permen itu, tapi di sisi lain dia juga tidak mau melepaskan robot kesayangannya.

“Kalau tidak mau dipinjamkan, aku pulang saja.”

“Aaaah~~ ya sudah, Hyung pakai yang merah. Aku yang kuning.”

Seokjin berhenti mengunyah. “Benar?”

Jungkook kecil mengangguk-angguk yakin.

“Oke. Ini untukmu.”

Jungkook menerima permen kapas yang masih sisa setengah itu dengan wajah berbinar senang. Akhirnya dapat juga permennya. Seokjin pun tak kalah senang. Begitu Jungkook mendapatkan apa yang dia mau, Seokjin juga mendapat apa yang dia mau, yaitu bermain dengan robot warna merah.

Jadi sebenarnya, meskipun Seokjin ini teladan, dia itu tidak lebih dari anak-anak yang terjebak dalam tubuh pria dewasa. Dia tidak pernah mau kalah dari Jungkook, padahal Jungkook lima tahun lebih muda darinya. Dia juga suka marah-marah tidak jelas kalau ada sesuatu yang tidak sesuai dengan maunya. Biasanya kalau bagian ini yang sering kena marah adalah Taehyung dan Namjoon. Taehyung diminta beli garam, yang dibawa pulang justru gula. Namjoon diminta membantu membuat kliping, yang ada guntingnya rusak. Untung sayang, kalau tidak, sudah dia kubur hidup-hidup dua anak itu.

Sebenarnya Seokjin ada sedikit perasaan ke Yoonjin. Ya, sedikit. Tipenya adalah seorang nuna, dan nuna yang paling disukainya dari semua nuna Min hanyalah Yoonjin.

Baginya sifat galak Yoonjin adalah pesona Yoonjin. Ya meskipun Yoonjin hanya galak pada Yoongi, tapi dia suka. Dia bahkan sering main ke rumah Yoongi hanya untuk melihat Yoonjin. Iseng-iseng tanya pada Yoongi apa yang sedang dilakukan Yoonjin. Sampai-sampai Yoongi sadar kalau Seokjin punya sesuatu pada kakaknya itu.

“Kau ini bukan tipenya, Hyung,” kata Yoongi saat dia sedang minum Americano bersama Seokjin sepulang sekolah. Waktu itu Seokjin berusia 16 tahun, Yoongi 15.

Seokjin yang mendengar itu langsung batuk-batuk. “Kau ini bicara apa?”

“Yoonjin nuna tidak suka pada pria kalem sepertimu,” kata Yoongi tepat sasaran. Seokjin mendadak gugup saat mendengar nama pujaan hatinya disebut.

W-wae?

“Kau ‘kan tahu sendiri dia seperti apa. Yang ada kau akan mati muda kalau bersamanya. Dia itu sudah galak, tidak sabaran, pokoknya janganlah. Biarkan saja dia untuk yang lain.”

“Aku tidak peduli kalau dia galak.”

Yoongi menghela napas. “Tapi dia tidak galak padamu ‘kan? Itu artinya dia tidak suka denganmu.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena dia hanya bersikap begitu pada orang yang disukainya. Tsundere, kau tahu?”

“Tapi kan kau tidak tahu apa-apa. Bisa jadi justru kau yang salah menyimpulkan.”

Yoongi menggeleng yakin. “Aku tahu betul gimana seleranya, Hyung. Sudahlah, menyerah saja. Kau ini bukan tipenya.”

Seokjin murung seharian setelah mendengar itu.

Pupus sudah harapannya pada Yoonjin terlebih setelah dia melihat dengan mata kepala sendiri kalau Yoonjin berkencan dengan seorang pria yang jauh lebih tua dari Yoonjin. Pria berwajah tampan dengan rahang tegas dan tinggi di atas rata-rata, Lee Hongbin.

Alhasil dia menyusahkan teman-temannya karena kegalauannya pada kabar kencan Yoonjin.

Sampai entah bagaimana dia tiba-tiba melamar sahabatnya sendiri.

Jangan terkejut siapa.

Gadis beruntung yang mendapatkan pria setampan Seokjin adalah tetangganya sendiri.

Jung Jihyun.

Siapakah dia?

Yap, kakak perempuan Hoseok.

Kurasa aku belum menceritakan tentang ini.

Mereka adalah sahabat, dua orang yang usianya sepantaran di kompleks perumahan tersebut. Mereka berada di sekolah dasar yang sama, SMP yang sama juga SMA yang sama. Dan Jihyun tahu soal perasaan Seokjin ke Yoonjin.

Mereka sungguh hanya sahabat.

Lalu tiba-tiba mereka menikah begitu saja.

Sahabat tapi menikah. Kemudian bergabung dengan pasangan yang lain di rumah Bangtan.

TBC

Ganteng banget Seokjin di foto itu T^T 

Advertisements

2 Replies to “Bangtan House [#6 Rumah No. 6]”

  1. akhirnyaaa akhirnyaaaa…!! god gue blum baca tapi langsung komen. bodo amat ,seneng akutuh ih. stelah udah lama nagih akhirnya di publish jga. tresna km lh. oke otw baca. uhhh makasihh kesayangankuuu *sok kenal sumpah. oke bye..
    (mak jin km cakep elahh).

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s