Freak Hwarang #23

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter

 

Sena dan para pangeran yang sedang tidak di kamar memilih untuk bersantai di tepi sungai. Jungkook dan Seokjin membawa serta alat pancing yang mereka ambil dari gudang penyimpanan. Padahal mereka bisa menggunakan jala segitiga untuk menciduk ikan-ikan itu, tapi mereka ngotot ingin pakai alat pancing karena mereka ingin mencoba sensasi memancing.

Sementara Jungkook dan Seokjin asyik memancing, Sena, Hoseok dan Jimin memutuskan untuk duduk-duduk saja sambil menonton mereka.

“Sudah kuduga, pasti raja tidak akan begitu saja melepas kita di sini. Coba kalian pikirkan, dari mana mereka tahu kalau kita terluka saat masuk hutan waktu itu? Pasti dia mengirimkan mata-mata atau CCTV untuk merekam semua yang kita lakukan di sini,” oceh Hoseok sambil menghadapkan seluruh tubuhnya pada Sena dan Jimin yang sedari tadi duduk di sisi kanannya.

“Hm, mereka bahkan mengirimkan bantuan medis di waktu yang tepat,” tambah Sena sambil mengangguk-angguk.

“Nah ‘kan.” Hoseok menjentikkan jarinya setuju. “Ini benar-benar tidak masuk akal. Bagaimana bisa tepat waktu seperti itu?”

“Tunggu sebentar, lalu bagaimana dengan Ro?” Jimin tiba-tiba menyahut. Dia teringat Ro yang terus bersamanya dan Taehyung. Setelah kepergian Hoseok dan Yoongi waktu itu, mereka memutuskan untuk kembali duluan ke pondok. Dan di sanalah mereka bertemu dengan mobil medis dari kerajaan. Mobil itu tidak hanya membawa Taehyung, tapi Ro juga. Anehnya, Ro tidak ikut kembali kemari seperti tiga pangeran yang lain.

“Dia menjalani sidang,” pekik Jungkook yang tak sengaja mendengar pertanyaan Jimin. Jimin, Hoseok dan Sena lantas menoleh ke asal suara. “Raja tahu apa yang dilakukannya pada Sena jadi dia disidang. Setelah itu entah dia pergi kemana, aku tidak mendengar keberadaannya lagi di istana,” lanjut Jungkook seakan paham atas tatapan ketiga orang tersebut.

“Dia tidak dipenjara ‘kan?” Sena bertanya dengan nada khawatir. Meskipun pria itu telah membuatnya trauma berat, tapi tidak bisa dia pungkiri kalau dia masih menghawatirkan kondisi Ro.

Jungkook menggeleng. “Aku tidak tahu apa hukumannya tapi dia tidak dipenjara.”

Sena menghela napas lega. “Setidaknya itu sudah jauh lebih baik.”

Tanpa Sena sadari, sejak tadi Jimin terus memperhatikan. “Kau masih menghawatirkan orang sepertinya?”

“Apa aku tidak boleh menghawatirkannya?” Bukannya menjawab, Sena justru melempar pertanyaan. Dia yang memang duduk di antara Hoseok dan Jimin tidak perlu bergerak banyak untuk menatap Jimin. Cukup menolehkan kepalanya dan Jimin sudah tertangkap oleh retina matanya.

Jimin terdiam. Mata kecilnya bergerak-gerak pelan saat bersitatap dengan Sena. “Kau tidak ingat pada apa yang sudah dia lakukan padamu?”

“Aku masih ingat. Tapi apa aku harus membencinya? Dia sudah merawatku sejak kecil, tidak ada alasan bagiku untuk membencinya.”

Gadis yang terlalu baik, pikir Jimin detik itu juga. Ia pun menghela napas, mengaku kalah dari Sena.

Tiba-tiba Yoongi muncul dari pondok. Hoseok-lah yang pertama kali melihatnya. Pangeran berhidung mancung itu mengerutkan dahi melihat bekas pukulan di wajah hyung-nya.

“Kau habis berkelahi dengan siapa, Hyung?”

Sontak Sena dan Jimin yang mendengarnya pun menoleh. Jimin juga tampak terkejut melihat memar kemerahan di pipi putih Yoongi. “Tidak mungkin Taehyung yang memukulmu ‘kan?”

Yoongi sama sekali tak menggubris dua saudaranya. Mata sipitnya terus menatap lurus pada Sena yang tampak sama terkejutnya seperti yang lain. Dia kemari hanya ingin bertemu Sena.

“Bisakah kita bicara? Hanya berdua saja.”

Sena mengerjap-ngerjap sebentar lantas menoleh pada Hoseok dan Jimin secara bergantian, kemudian dia menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”

Yoongi mengangguk tegas. “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.”

Gadis itu menelan ludahnya susah payah. Ingatan saat Yoongi tiba-tiba memeluknya kembali terngiang di kepala. Jujur, dia jauh lebih takut pada Yoongi daripada Ro. Haruskah dia menerima ajakan pangeran satu ini?

Seakan bisa membaca pikiran Sena, Yoongi pun menyahut. “Aku hanya ingin bicara denganmu. Aku janji tidak akan melakukan apa pun.”

Sena kembali memandang kedua pangeran di kanan kirinya sebelum akhirnya mengangguk setuju.

Mereka sudah duduk-duduk di kebun anggur. Awalnya Yoongi ingin bicara di gudang penyimpanan, tapi Sena beralasan kalau dia sedang kegerahan sehingga tidak betah berada di dalam ruangan, jadi terpaksa Yoongi menyetujui ajakan Sena untuk bicara di kebun.

Padahal yang sebenarnya, Sena takut kalau apa yang dilakukan Ro akan diulangi oleh Yoongi. Kepercayaannya pada pangeran kedua ini telah sirna.

“Jadi … apa yang mau kau bicarakan?” cetus Sena langsung ke intinya setelah lama mereka hanya saling diam.

“Aku menyukaimu.”

“APA?!” Reflek Sena menoleh dengan mata melebar. “A-apa maksudmu?”

Yoongi yang sejak tadi menatap lurus ke depan pun ikut menoleh. “Aku menyukaimu. Jangan bilang kau tidak tahu apa maksud kalimat itu.”

Tatapan Yoongi yang dingin dan datar entah bagaimana mampu membangun kembali kepercayaannya pada Yoongi yang telah runtuh. Daripada Yoongi yang lembut, dia lebih suka Yoongi yang seperti ini. Tanpa sadar tangannya menggaruk kepala belakangnya yang gatal.

“A-ah … begitu.”

“Tapi kau menyukai Namjoon.”

YE?!” Sena mengerjap-ngerjap cepat. “Dari mana kau tahu?”

Hanya butuh waktu kurang dari sedetik Yoongi membuang pandangan. “Jadi benar. Kenapa kau menyukai si kolektor film dewasa sepertinya? Apa yang tidak ada padaku tapi ada padanya?”

Sena menatapnya lamat-lamat.

Yah … kalau boleh jujur sih, Yoongi itu memang setingkat lebih tampan dari Namjoon.

Meski badannya kecil, pendek, nyaris albino, dengan tingkah cuek-cuek perhatian, pintar memasak, dan sebagainya.

Tapi entah kenapa hatinya lebih memilih Namjoon.

Yah … jangan ditanya kenapa. Memangnya cinta itu dilihat dari tampan tidaknya seseorang?

Justru cinta dimulai dari kekurangan seseorang.

Kekesalannya pada kecerobohan Namjoon jauh lebih besar dari rasa kesalnya pada tingkah dingin Yoongi.

Semakin kesal dia, semakin cinta juga dia. Itulah kenapa posisi Namjoon di hatinya jauh lebih besar porsinya ketimbang Yoongi.

“Ah itu….”

“Apakah karena aku bukan kolektor film dewasa?” tanya Yoongi dengan polosnya sambil menunjuk dirinya sendiri.

Sena pun melotot tak terima. “Tentu saja tidak!”

“Kalau begitu apa? Katakan semuanya, aku ingin tahu apa yang sudah diperbuatnya sampai kau memilih dia.”

“Benar aku harus mengatakan semuanya?”

“Hm. Semuanya.”

Sena masih menggaruk kepala belakangnya yang terus gatal, mungkin efek tidak keramas berbulan-bulan yang mengakibatkan tumbuhnya ratu kutu.

“Aku menyukainya karena dia ceroboh, menghawatirkan, dan sangat tidak kompeten. Dia sangat pintar membuatku kesal, maka dari itu aku menyukainya.”

MWO?! Kau menyukai hal-hal seperti itu darinya?” Yoongi dengan cepat menoleh sambil melebarkan matanya.

Sena mengangguk takut-takut. “Y-ya. A-aku memang menyukai itu darinya.”

Yoongi menatapnya tak percaya. Yah … seharusnya dia menyadari itu sejak awal. Gadis seperti Sena, yang sejak kecilnya sudah bau hutan apa mungkin akan luluh begitu saja dengan tipe pria keren seperti Yoongi? Jujur, Yoongi pikir Sena menyukai sisi jenius dari Namjoon. Karena memang hanya sisi itulah bagian terbaik dari seorang Kim Namjoon. Tak tahunya … yah … hanya Sena yang seperti itu.

“Jadi begitu….” ucapnya akhirnya. Dia kembali membuang pandangan. “Kau memang gadis yang sangat unik, Oh Sena.”

“Lalu kau sendiri kenapa menyukaiku? Kupikir kau membenciku karena kau selalu bersikap dingin padaku dibanding yang lain.”

Yoongi mendengus geli. “Jadi menurutmu aku bersikap begitu karena aku membencimu? Oh astaga, bodohnya aku yang mengira kalau kau ini gadis yang sama seperti gadis-gadis di istana.”

“Memangnya mereka menganggap itu sebagai tanda kalau kau menyukai mereka?”

Pangeran berkulit paling putih itu mengangguk pelan. “Karena pria seperti itu lebih banyak disukai oleh wanita.”

“Ah begitu … aish … kenapa gatal sekali sih? Yaa! yaa! Bisakah kau lihat ini? Sebenarnya ada apa di sini sampai tidak habis-habis gatalnya?” Sena tahu-tahu sudah berpindah tempat di depan Yoongi dengan posisi memunggungi. Tidak tanggung-tanggung, rambutnya yang lebat bak pohon cemara itu sanggup mengungkung seluruh wajah Yoongi.

Yak!” Yoongi buru-buru menarik wajahnya menjauh, tak lupa menjepit hidungnya dengan ibu jari dan jari telunjuk. “Itu rambut manusia apa rambut domba, hah?! Bau sekali seperti kotoran sapi!”

Sena sontak menoleh dengan wajah garang. “Apa katamu? Rambut domba? Kotoran sapi? Kau … kau cari gara-gara denganku, hah?!”

“Ya! Aku sedang cari gara-gara denganmu! Wae?! Demi apa gadis berambut kotoran sapi sepertimu berani menolak cintaku!”

Si gadis melongo tak percaya. “Kau ini….”

Yoongi tahu-tahu bangkit, lantas menarik lengan Sena untuk mengikuti kemana dia pergi.

Yaa! Kau mau membawaku kemana?!”

“Bau rambutmu tidak bisa dibiarkan, tau! Beritahu aku di mana shamponya.”

“Aku tidak punya shampo.”

Ckiit!

Yoongi otomatis berhenti dan berbalik ketika Sena menabrak bahunya. Kedua alisnya sudah hampir menyatu di tengah. “Kau tidak punya shampo?”

Sena mengangguk cepat seperti anak kecil. “Shampoku yang lama sudah habis, dan pedagang Ro sudah tidak pernah kemari lagi. Jadi ya, aku tidak punya shampo.”

Bohong. Dia memang tidak pernah meminta shampo pada Ro. Seingatnya, terakhir kali dia keramas adalah setahun lalu, itu pun tanpa shampo karena sebenarnya dia tercebur ke sungai saat mengambil ikan.

“Kalau begitu sabun. Kau punya sabun ‘kan?”

“Sudah habis,” balas Sena dengan wajah polos.

“Habis juga?” seru Yoongi tak percaya. “Oke. Kalau deterjen?”

Sena membelalak takut. “Kau berniat mencuci rambut orang dengan deterjen?! Tega!”

Yoongi mendengus kesal. Tak lama kemudian, dia mengingat sesuatu. “Ah, maja. Kau tidak ingin keramas menggunakan deterjen ‘kan? Aku tahu shampo yang bagus untuk rambutmu. Kaja.”

Dengan penuh keyakinan Yoongi menyeretnya menuju kandang wolfdog. Sena hanya mengekor tanpa tahu apa pun. Dalam hati dia bertanya-tanya apa maksud Yoongi membawanya kemari, dan terjawab sudah saat Yoongi memperlihatkan sebotol shampo anjing di depan matanya.

Lelaki itu tersenyum sampai manisnya melumer. “Akhirnya aku menemukan shampo yang cocok untuk rambut tarzan sepertimu, Nona.”

Otomatis Sena menyentak cengkeraman Yoongi dan kabur dari pria itu detik itu juga.

Yaa! Kemana kau hah?! Berhenti di sana!”

Shireo!! Aku tidak mau cuci rambut!!! Tolong!!! Siapa pun tolong aku!!!”

Yak! Berhenti di sana atau kubunuh kau!!”

“Seokjin oppa!!! Namjoon oppa!!! Tolong aku!!!”

“Jangan panggil-panggil Namjoon!”

“Park Jimin!!! Kim Taehyung! Jeon Jungkook! Hoseok oppa!! Huwaaaa!!”

Yak!! Sebenci itukah kau padaku sampai-sampai kau tidak memanggilku?! Aku menyukaimu, Sena!!! Kau harus tahu kalau ini adalah bukti nyata cintaku padamu!!!”

“Aku tidak mau dengan makhluk porselen sepertimu!”

“Apa katamu?! Yak! Berhenti di sana!”

Shireo!!!!

“Ini demi kebaikanmu, bodoh!!”

“Aku tidak suka dengan pria yang menyebutku bodoh!”

“Jenius! Berhentilah dulu, yak!!

Yoongi terus mengotak atik akal cerdasnya untuk merayu gadis itu agar mau cuci rambut. Kedua tungkai kurusnya terus bergerak cepat menyusul Sena yang telah membawanya keluar dari area pondok. Dia harus bisa membuat gadis itu mau mencuci rambut. Sebut saja ini adalah bentuk nyata perasaannya pada si gadis. Meski sebenarnya dia tidak keberatan mau rambut Sena sebau tumpukan kotoran sapi atau menjadi sarang mafia kutu, alasan dia melakukan ini karena dia tidak mau Sena terkena masalah kepala. Sekilas tadi dia melihat ada pitak-pitak seukuran tutup botol yang menghiasi kepala Sena. Kalau itu dibiarkan, bisa-bisa Sena divonis botak di sisa hidupnya. Dan Yoongi tidak mau punya istri botak.

Eh?

Yah … begitulah fantasi seorang Min Yoongi yang jatuh cinta.

Sebaris ide tiba-tiba muncul di otak cerdasnya.

Yak! Namjoon itu paling tidak suka gadis yang punya rambut bau sepertimu!”

Pergerakan Sena melambat. “Bohong! Kau pasti sedang menjebakku!”

“Tidak peduli mau rambutmu bau atau tidak, aku akan tetap mencintaimu! Tapi sayangnya Namjoon tidak akan terima kalau gadis yang disukainya ternyata punya rambut yang bau seperti kotoran sapi!”

Berhasil, Sena akhirnya berhenti berlari. “Benarkah?”

Yoongi pun melambatkan larinya dan berhenti setelah berdiri di hadapan Sena. “Tentu saja,” katanya dengan napas terengah-engah. Dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya, sebuah kalung anjing yang biasa dipakai para wolfdog ketika diajak berburu. Cepat-cepat dia melingkarkan kalung itu di leher Sena. “Tentu saja aku bohong. Kalau tidak begitu kau tidak akan berhenti. Kaja.”

Sena melotot saat Yoongi dengan seenaknya menarik kalung itu sampai membuatnya tercekik beberapa detik. Kalung ini tidak bisa membuatnya kabur begitu saja, karena konsekuensinya bisa-bisa dia mati kehabisan napas karena tercekik. Memang Min Yoongi si jenius. Dia tahu kalau borgol akan percuma jadi dia dengan kerennya membawa benda seperti ini.

Langkah Sena yang terlalu lambat membuat Yoongi jadi tak sabaran. Dia menarik gadis itu agar berjalan tepat di sampingnya, lalu menyampirkan lengannya di sepanjang bahu Sena. Sebelum itu, dia menyingkirkan rambut Sena agar jauh-jauh dari penciumannya.

“Kau itu cantik asal rambutmu sewangi daun pandan.”

Sena memanyunkan bibirnya. “Hatiku tetap milik Namjoon.”

“Aku tak peduli,” balas Yoongi dengan kerennya yang langsung mengakhiri sesi obrolan mereka.

Dalam perjalanan kembali ke pondok, diam-diam Sena curi pandang pada pangeran yang satu itu.

Benar, hatinya memang milik Namjoon. Tapi semua rasa nyaman itu tumbuh saat bersama lelaki ini. Kira-kira, bisakah mereka mempertahankan hubungan semanis ini?

Ah … entahlah.

TBC

Ku lagi galau, mungkin kangen seseorang :”3  

Advertisements

2 Replies to “Freak Hwarang #23”

  1. Hahahahahha, ternyata yoongi punya sisu yg unik, seru thor, sena jgn sm namjoon sm yoongi aja,, ngak nyangka ternyata sena ngak pernah keramas satu tahun, ya ampun ngak bs bayangin g mana model rambut sena…q kira rambutnya lurus dan dia cinta kebersihan..thor g mana prasaan jimin sm sena, dia msh suka ngak sm sena!! ! Klo d perhatikan kasian jg jimin..smngat thor

    Like

  2. oke, sebelumnya lahir batin nggeh mbak e. gue ngakak sekebon. seneng aku sama chapter ini moment sena x yoongi nya bnyak kocak lagi. yoongi juga disini suweg suweg sengklek gitu. iyakali gus lu jadi kolektor film dewasa trus sena bakal lngsung jtuh cinta. kan lucu. dan dan sena punya pitak segede tutup botol. itu kutunya segede apa coba. gitu yah emang gombal ala yungi mah ada misuh misuhnya. kamu emang beda gus lanjutkan. makin cinta akuh.mas agus patutan Q .dan sena kita sama aku juga jatuh cinta sama namjoon selain karna lesung pipinya juga karena sikap nya yg ceroboh. lindungable(?) masa. komen gue kpanjangan. bye.
    oh ya suga perjungkan cintamu nak. jenius min jjang jjang man bbong bbong.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s