Swag Couple Series [#22 I Need U]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

Intro Boy ver | Intro Girl ver | Want You More

Don’t Mess With Me | Oppa | Nobody Like You

Punishment | Bad But Sweet | Who Are You (1)

Pick Me (1) (2) (3)Who Are You (2) | Chatroom (1) (2) (3)

April Fools’ | Oppa (2)  | Park Jimin  | Date

Dream

 

 

Hari yang sangat dihindari oleh Yoonji akhirnya datang juga.

Hari kelulusan Yoongi.

Ia bersama kedua orangtuanya datang ke acara tersebut. Mereka memang diundang untuk melihat Yoongi mendapat diploma secara langsung.

Semua orang yang datang terlihat sangat bersuka cita. Mereka sudah tak sabar melihat anak dan kerabat mereka melepas status siswa SMA.

Beda sekali dengan Yoonji yang ingin menghentikan waktu saat ini juga.

Semakin cepat acara itu berlangsung, semakin cepat juga Yoongi meninggalkannya.

Dan Yoonji tidak mau itu terjadi.

20 menit berada di dalam aula dia sudah sangat tidak betah. Rasa-rasanya udara di sana sangat pengap sampai dia ingin mati. Ia pun segera beranjak keluar. Ketukan wedges hitamnya menggema cukup keras di koridor sepi yang sedang dia lalui. Yoonji hanya ingin pergi dari tempat itu sejauh-jauhnya. Dia tidak ingin mendengar suara tepuk tangan riuh orang-orang yang terpukau dengan predikat lulusan terbaik yang disandang kakaknya. Dia juga tidak ingin mendengar kepala sekolah mengumumkan bahwa lulusan terbaik mereka barusaja diterima di Universitas bergengsi di Amerika. Semua yang berbau Min Yoongi, dia tidak mau dengar.

Ia menyeka wajahnya yang basah campuran dari keringat dan air mata saat akan berbelok di persimpangan. Tidak tahunya ada orang lain yang berjalan berlawanan darinya dan tabrakan pun terjadi.

Yoonji terpental dan terduduk di lantai, akibat tubuhnya yang kecil dan keseimbangannya yang tak cukup baik karena pikiran yang kacau. Sementara seseorang yang bertabrakan dengannya tampak baik-baik saja, ia bahkan mendekat pada Yoonji sambil mengulurkan tangan.

“Maaf.”

Mendengar suara yang cukup familiar, ia pun mendongak.

Buru-buru dia menunduk kembali dan menyembunyikan wajahnya di balik rambut yang kini memanjang sedikit dari garis bahunya.

“Min Yoonji?” Lelaki itu bergumam sendiri sambil berjongkok dan berusaha melihat rupa yang tengah ditutupi Yoonji. Dia mengulurkan tangannya untuk menyibak rambut Yoonji tapi gadis itu sudah duluan menepis tangannya.

“Aku baik-baik saja, Jungkook-a.”

Jungkook yang barusan tak sengaja bertabrakan dengan Yoonji pun menghela napas. Dia membantu Yoonji untuk berdiri kemudian mengulurkan selembar tisu.

Gomawo.” Yoonji menggunakan tisu itu untuk membersihkan wajahnya. Dia tidak begitu khawatir ketika tangannya tak sengaja menekan tisu terlalu kuat ke wajahnya, toh dia hanya memakai make up tipis.

Ketika Yoonji sibuk dengan urusannya sendiri, Jungkook tampak sedang mengamati Yoonji dari atas ke bawah. Ia merasa sedikit aneh dengan penampilan Yoonji sekarang.

Bukan Min Yoonji yang dikenalnya selama ini.

Yoonji tidak pernah memakai sepatu wanita macam wedges. Yoonji juga tidak pernah memakai dress yang jauh di atas lututnya. Yoonji yang dikenalnya tidak se-feminim yang dilihatnya sekarang.

Benarkah ini Min Yoonji-nya Park Jimin?

Jungkook berdehem begitu Yoonji mendongak menatapnya.

“Kenapa kau menangis di hari kelulusan kakakmu?”

“Kau sendiri kenapa berkeliaran di sekolah?”

Jungkook menggaruk tengkuknya canggung. “Memangnya tidak boleh berkeliaran di sekolah sendiri?”

Yoonji hanya memutar bola matanya, terlalu malas menjawab karena itu memang bukan gayanya.

“Kau menangis karena Jimin lebih memilih datang ke acara kelulusan Jihyun daripada menemanimu sekarang?”

Mendengar nama Jimin entah bagaimana muncul senyum tipis di wajah sedih Yoonji. Sedikit, ya, hanya sedikit beban di pikirannya terangkat. Ah … bagaimana dia bisa melupakan mochi-nya? Hari ini karena terlalu menghawatirkan nasibnya jika Yoongi pergi, dia sampai lupa pada Park Jimin. Benar juga, sejak kemarin malam dia sama sekali tidak memikirkan Jimin. Sedetik pun tidak.

Dari ekspresi yang ditampilkan Yoonji, Jungkook sudah tahu apa jawabannya. Dia menggeleng pelan sambil memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. “Kurasa sekarang kau merindukan si pendek itu. Ya sudahlah, cepat telepon dia sebelum kau jadi gila.”

Sebelum Yoonji menyahut, Jungkook sudah melenggang pergi lebih dulu. Membiarkannya seorang diri di koridor sepi itu.

Benar, Yoonji rasanya hampir gila karena merindukan mochi-nya. Entahlah, dia hanya ingin menjauhkan bayang-bayang Yoongi dari pikirannya barang sebentar. Segera dia merogoh tas tangannya, mengambil ponsel, mencari nama kekasihnya di daftar kontak, lalu meneleponnya.

Sembari menunggu telepon diangkat, ia mengayunkan kaki langsingnya mendekati sebuah bangku panjang yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri tadi.

Begitu ia menghempaskan pantatnya di bangku kayu itu, suara indah Park Jimin menyapa gendang telinganya.

Yeoboseyo.”

Yoonji tidak bisa menipu dirinya bahwa dia sangat menyukai suara ini. Bibirnya yang dipoles lipstick kemerahan pun mengembang. “Hai. Ini aku, Min Yoonji.”

“Ah … Yoonji. Kenapa suaramu serak begini? Kau baru saja menangis?”

Jimin sangat memahaminya. Tidak perlu lagi dia menutupi itu. “Hm. Tapi sekarang sudah tidak.”

Wae? Kau merindukanku?”

Yoonji bisa menebak kalau di seberang sana Jimin sedang tersenyum-senyum jahil. Mungkin senyuman itu akan hilang sebentar lagi setelah dia membuka mulut.

“Hm. Bogosipda.”

Hening. Dugaan Yoonji benar, senyum jahil di wajah Jimin seketika sirna. Ia yang juga sedang duduk-duduk di taman sekolah adiknya –yang sebenarnya adalah sekolah Yoonji dulu, terpaku ditempat dan sudah menyamai patung pancuran yang ada tak jauh darinya.

“Kau Min Yoonji ‘kan? Bukan Yoongi hyung ‘kan? Kuperingatkan, ini bukan bulan April, sekarang bulan Januari.”

Yoonji terpingkal. Sekali lagi dia tega membuat Jimin berubah menjadi patung. Yoonji-nya tertawa. Yoonji-nya Park Jimin tertawa!

“Yoonji-a … Min Yoonji….”

“Hm? Aku masih di sini, Jimin-a….”

Jantung Jimin rasanya ingin meledak. Tiba-tiba saja dia berdiri dari duduknya. “Tunggu di sana.”

“Kenapa? Eh? Park Jimin? Jimin-a?”

Yoonji menjauhkan ponselnya dari telinga dengan dahi berkerut bingung. Panggilannya secara otomatis diputus sepihak oleh Jimin. Dia sangat tidak mengerti kenapa lelaki itu memutuskan sambungan dengan seenak hati, padahal dirinya tengah dirundung rindu yang sangat.

Ia pun menghela napas. Terserahlah. Nanti kalau Jimin merindukannya, pasti lelaki itu akan meneleponnya balik.

Yoonji tetap duduk di sana sambil menunggu panggilan masuk dari Park Jimin.

1 menit. Tidak ada.

2 menit. Tetap tidak ada.

3 menit. Masih belum ada.

Sampai menit ke 10, tetap masih tidak ada tanda-tanda Jimin akan menghubunginya.

Yoonji menggigit bibir. Ibu jarinya tampak sedang bergerak-gerak gelisah di layar ponselnya. Bimbang antara menelepon duluan atau menunggu lebih lama.

Dia sangat ingin mendengar suara Jimin sekarang, karena entah kenapa mimpi buruk beberapa bulan lalu kembali membayanginya. Tapi di satu sisi dia juga ingin Jimin duluan yang meneleponnya. Ia butuh bukti, apakah dirinya ini penting bagi Jimin, atau justru sebaliknya.

Indera perasanya sanggup mencecap rasa strawberry dari lipstick yang dipakainya. Yoonji tanpa sadar menjilat bibir bagian bawahnya sebelum jemarinya memencet tombol hijau di layar ponsel.

Amugeotdo saenggakhaji ma

neon amu maldo kkeonaejido ma

geunyang naege useojwo

Nan ajikdo mitgijiga anha

i modeun ge da kkumin geot gata

sarajiryeo hajima

 

Is it true? Is it true?

You You

Neomu areumdawo duryeowo

Untrue Untrue

You You You

 

[Don’t think of anything

Don’t say anything, not even a word

Just give me a smile

I still can’t believe it

All of this seems like a dream

Don’t try to disappear

 

Is it true Is it true

You You

You’re so beautiful, that I’m scared

Untrue Untrue

You You You]

 

Yoonji lantas menoleh ke asal suara. Segera dia bangkit dari duduknya begitu melihat siluet Jimin yang tengah berlarian menyusuri koridor menghampirinya. Kedua lengannya terentang begitu saja setelah dia menyadari senyum di wajah Jimin.

Gyeote meomulleojullae

naege yaksokhaejullae

son daemyeon naragalkka buseojilkka

geobna geobna geobna

 

Siganeul meomchullae

i sungani jinamyeon

eobseotdeon iri doelkka neol irheulkka

geobna geobna geobna

 

[Will you stay by my side

Will you promise me

If I let go of your hand, you’ll fly away and break

I’m scared scared scared of that

 

Will you stop time

If this moment passes

As though it hadn’t happened

I’m scared scared scared I’ll lose you]

Mereka berpelukan cukup lama, berbagi suhu hangat pada satu sama lain. Dada Jimin naik turun. Sementara di dalam kungkungannya, Yoonji tiba-tiba terisak cukup hebat. Ia tak peduli meskipun Jimin sedang banjir peluh sampai melekat seluruhnya pada sweater-nya, yang pasti dia sangat membutuhkan pelukan ini.

Butterfly, like a Butterfly

machi Butterfly, but butterfly cheoreom

Butterfly, like a butterfly

machi Butterfly, but butterfly cheoreom

[Butterfly like a Butterfly

Just like a Butterfly but butterfly

Butterfly like a butterfly

Just like a Butterfly but butterfly]

Menyadari bahwa ponselnya terus berbunyi, Jimin segera menolak panggilan Yoonji lalu mendudukkan mereka berdua di bangku.

Yoonji tetap menangis dalam pelukannya. Jimin mengatur napas sambil mengelus puncak kepala gadisnya.

Siapa bilang Jimin tidak tahu apa pun. Dia tahu, ini adalah hari kelulusan Yoongi. Dia juga tahu, Yoongi akan melanjutkan kuliah di Amerika dan akan berangkat lusa nanti. Alasan kenapa Yoonji menangis dia juga tahu.

Yoongi-lah yang memberitahunya kalau sebentar lagi lelaki itu akan meninggalkan Yoonji sendirian di sini.

.

.

“Tolong jaga adikku baik-baik.”

Itu adalah pertama kalinya aku mendengar Yoongi hyung memohon padaku. Kali ini ekspresinya tampak serius, tidak menyebalkan seperti sebelum-sebelumnya.

“Aku akan melanjutkan kuliah ke Amerika, jadi kumohon, gantikan aku sebagai penjaganya.”

Arasseo.”

Yoongi hyung tersenyum. “Maaf merepotkanmu. Aku tidak tahu harus pada siapa lagi aku memohon. Yoonji … ah … anak itu. Dia gengsian, kau tahu? Aku yakin dia tidak akan berani meminta apa pun darimu. Dia mungkin akan terlihat baik-baik saja, tapi sebenarnya dia tidak begitu. Terkadang dia juga tidak mengatakan apa yang sebenarnya dia mau. Kuharap kau bisa sedikit mengerti sifat anak itu.”

Aku mengangguk. Sebenarnya aku juga sudah tahu hal itu.

“Kalau dia menolak perhatian, itu artinya dia sedang membutuhkan perhatian. Kalau sikapnya tiba-tiba berubah menjadi tidak biasa, itu artinya dia sedang ingin dimanja. Tolong jangan pernah bertengkar, sekalipun jangan. Aku memercayakan Yoonji padamu, Park Jimin. Tolong jaga dia dengan baik.”

.

.

Jimin segera melepas coat hitam yang dipakainya lalu dipasangkan ke tubuh mungil Yoonji. Hari ini musim dingin, tapi Yoonji memakai pakaian serba pendek. Gadis itu kedinginan, tapi seperti biasa, dia tidak akan mengucapkan apa pun. Dia menerima dengan baik coat yang diberikan padanya. Bergumam pelan mengucapkan terima kasih, dan tidak protes saat Jimin memeluknya.

“Bagaimana adikmu?”

Jimin melirik sekilas puncak kepala Yoonji. “Ah … Jihyun. Ada eomma di sana, tidak apa-apa.”

“Tapi ini hari kelulusannya ‘kan?”

“Kau sendiri juga menangis di hari kelulusan Yoongi hyung.”

Yoonji berdecak. “Tolong jangan singgung namanya dulu.”

Jimin tersenyum tipis. “Wae? Kau ingin membahas kita?”

Gadis yang kini rambutnya sudah melebihi dari garis pundaknya lebih memilih untuk tidak menjawab. Dia hanya ingin di sini lebih lama bersama Jimin. Dan yang pasti tanpa membahas Yoongi.

“Ngomong-ngomong, hari ini kau cantik sekali. Aku suka sepatumu.”

Yoonji secara otomatis melirik sepatunya sebelum mendongak pada pemilik rahang tajam di sampingnya. “Oppa yang memilihkannya.”

“Ah … selera hyung boleh juga.” Senyum terkembang di wajah imut Jimin sampai menenggelamkan matanya. Ia menyelipkan rambut Yoonji di belakang telinga sebelum berbisik. “Cocok untuk gadis cantik sepertimu.”

Tak bisa dipungkiri, Yoonji merona setelah mendengar ungkapan itu. Ia tersenyum sangat tipis sampai tidak tampak seperti senyum lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada Jimin. Mendengar suara detak jantung Jimin mungkin akan menjadi candunya mulai hari ini. Perlahan namun pasti dia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Jimin. Merapatkan diri meminta lebih kehangatan dari lelaki yang telah mengisi hatinya setahun ini.

TBC

Advertisements

7 Replies to “Swag Couple Series [#22 I Need U]”

  1. Ya Tuhan mau yang sweet nya kaya Jimin satu. Maniiiiissss banget Eonniii cerita nya 😘
    Btw salam kenal. Aku ga sengaja mampir kesini dan tertarik baca ff jimin ini.

    Like

  2. Q aja yg d peluk sama jimin xixxii#ketawasetan..sedih jg yoonji ditinggal yoongi, tp q mendukung yoongi lanjutin kuliahnya, yah pasti ada yg berubah dlm hdup, ngk mngkn jg siabang yoongi terusan yg jg yoonji.. .si abang baru kali ia mnta jimin jagain yoonji, biarpun class pet ttp si abang percaya sm jimin, biarpun mochi.. .hihihi

    Like

  3. Beruntungnya yoonji pnya pacar kyk jimin, setdknya jimin bisa jd pengganti sementara yoongi walaupun jimin gak swag kyk yoongi sm sekali heheh *apaini
    ditunggu lanjutannya eonni

    Like

  4. pengen dong di peluk jimin #YoonjiNgamuk
    yoonji yg sabar ya, ada jimin yg gantiin yoongi, walaupun sebenarnya yoongi tak tergantikan *yaiyalah yoongi kakaknya masa jimin yg gantiin jadi kakaknya, gak mungkin jimin itu pacarnya de, #NgomongSendiri #JawabSendiri,jimin laki-laki pengertian jadi pengen pesan satu hehe…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s