Swag Couple Series [#23 When You’re Gone]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

Intro Boy ver | Intro Girl ver | Want You More

Don’t Mess With Me | Oppa | Nobody Like You

Punishment | Bad But Sweet | Who Are You (1)

Pick Me (1) (2) (3)Who Are You (2) | Chatroom (1) (2) (3)

April Fools’ | Oppa (2)  | Park Jimin  | Date

Dream I Need U

Yoonji hanya menonton saat Yoongi sibuk ke sana kemari menyiapkan barang-barangnya untuk dibawa besok ke Amerika. Sudah ada dua kardus yang telah siap di sudut ruangan, dan sepertinya masih ada banyak kardus lain yang harus dibawa. Buktinya sekarang saja Yoongi mengambil semua bajunya dari dalam lemari dan membawanya ke tempat tidur untuk dilipat lalu dimasukkan ke dalam koper besar. Padahal sepatu-sepatunya masih ada yang belum dimasukkan dalam kardus. Terlalu sibuk dengan banyak persiapan, Yoongi sendiri tampak berantakan. Rambut acak-acakan, wajah kusam, ekspresi penat luar biasa.

Yoonji sama sekali tidak membantunya.

Mungkin itulah kenapa Yoongi menjadi sangat berantakan. Dia terlalu menghawatirkan banyak hal sehingga banyak juga yang terbengkalai.

Yoonji menghela napas lelah saat melihat Yoongi beranjak mengambil ransel dan memasukkan barang-barang lainnya. Ingin sekali dia mengumpat pada kakaknya satu itu.

Belum selesai satu, sudah beranjak mengurusi yang lain.

Brak!

Yoongi mendesis gusar begitu kamera kesayangannya jatuh secara tidak anggun ke lantai dengan bagian lensanya yang pertama mencium lantai. Ia buru-buru berjongkok untuk mengambil benda itu dan tidak memperhatikan meja yang ada di depannya sehingga tak bisa disangkal, dahinya pun terantuk keras pada meja tersebut.

“Akh!”

Yoonji yang sejak tadi membaca novel pun segera menutup kasar novelnya lalu menyimpannya ke dalam laci sebelum beranjak mendekati kakaknya.

“Kau ini sama sekali tidak becus,” ujarnya sebelum membantu kakaknya berdiri dan mendudukannya di tepi ranjang. Dia merebut ransel dari tangan Yoongi, lalu memungut kamera dari lantai dan langsung memasukkan ke dalam ransel setelah yakin tidak ada yang bermasalah dengan kamera itu. Kemudian dia menyimpan ransel itu di kaki meja dan bergantian mengurusi baju-baju Yoongi. Yoonji sangat telaten melipat baju-baju itu dan memasukkannya ke dalam koper. Hanya butuh 10 menit sampai koper itu telah terisi penuh dan tertutup rapat. Lalu beralih pada sepatu-sepatu Yoongi yang sudah seperti tumpukan sampah. Dia menggabungkan sepasang sepatu menjadi satu sebelum menatanya di dalam kardus. Juga tidak lama, akhirnya pekerjaan yang dihabiskan dengan waktu lama oleh Yoongi, selesai dengan cepat oleh Yoonji. Ia pun menghampiri kakaknya setelah itu.

“Wah … kau keren sekali, sayang.”

Yoonji hanya berdecak sambil menarik kepala Yoongi agar makin dekat dengannya. Terdapat memar kecil di dahi Yoongi, tepat di tengah. Ia menghela napas. Pasti besok akan berubah warna menjadi ungu. Ia pun mengelus memar itu sebelum mengecupnya lama.

Yoongi sendiri terpaku di tempat.

“Dasar ceroboh,” gumam gadis itu yang sempurna menyadarkan Yoongi. “Lihat hasil kelakuanmu ini. Kau sudah seperti wanita-wanita India yang baru saja menikah. Hanya tinggal diberi rambut palsu dan gaun, kau sudah seperti wanita India sungguhan. Kau tidak memikirkan bagaimana malunya aku punya oppa cantik sepertimu?”

Yoongi menyeringai, lalu tertawa garing. Dia mencubit pipi tembem adiknya. “Bilang saja kalau kau menghawatirkan kakakmu, adik kecil.”

“Kuharap kekasihmu nanti tidak seceroboh dirimu.”

“Kau berharap aku segera punya kekasih? Kau tidak akan cemburu jika nanti kau harus berbagi diriku bersama gadis lain?”

“Aku bukan pasien brother complex sepertimu,” balas Yoonji sambil mendorong dada Yoongi agar menjauh sedikit darinya. Tapi Yoongi malah makin mendekatkan wajahnya.

“Kau mencintaiku?”

Yoonji menatap Yoongi tak mengerti. “Kau ini bicara apa? Tentu saja aku mencintaimu. Kau ini kakakku.”

“Seberapa besar dibanding cintamu pada Jimin?”

Yoonji masih tak mengerti. Dia yang biasanya bisa membaca maksud tatapan Yoongi, sekarang gagal total. “Kau ini kenapa? Yaa, sudah kubilang aku tidak mau punya kakak siscon.”

Yoongi tiba-tiba saja menjatuhkannya ke ranjang dalam posisi ia ada di bawah. Desisan meluncur indah dari bibir tipisnya. Punggungnya membentur permukaan tempat tidur dengan keras, sementara kakaknya seolah tak peduli justru menindihnya dan mengekangnya agar tidak kemana-mana. Ia memberikan tatapan tertajamnya pada lelaki itu, tapi Yoongi sama sekali tak gentar.

Oppa, ini sudah kelewatan, kau tahu?”

Saranghae … Yoonji-a….”

Oppa, kau—”

Ucapan Yoonji terputus saat Yoongi tiba-tiba menempelkan bibir di bibirnya. Tidak ada pergerakan di sana, hanya menempel sebentar.

“Cintaku padamu jauh lebih besar dari cintanya padamu, Yoonji-a. Mianhae … aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk berkencan dengan gadis lain. Kau benar, oppa-mu ini, lelaki yang lahir dari rahim yang sama denganmu ini … hanya mencintaimu. Tidak dengan gadis manapun.”

Yoonji sempurna terkejut. Jadi apa yang ia takutkan selama ini terjadi. Yoongi benar-benar mengidap sister complex. “Oppa….”

Yoongi tersenyum getir sambil mengecup dahinya. “Please forgive me, baby.”

Jimin ikut bersama keluarga Min untuk mengantar kepergian Yoongi. Mobil itu diisi oleh lima orang, orangtua Min di depan sementara duo sibling dan Jimin di belakang. Sebenarnya Yoonji tidak mau berada di tengah, tapi karena paksaan dua belah pihak, akhirnya dia setuju untuk duduk di antara dua lelaki yang mengasihinya itu. Agak risih sebenarnya. Ia rasa dua orang ini sedang berkompetisi memperebutkannya.

“Badanmu panas. Lepaskan aku.” Yoonji berusaha melepaskan rangkulan Yoongi dari pinggangnya. Sungguh, dia paling tidak mau dipeluk sekarang apalagi oleh Yoongi. Hari ini adalah hari perpisahan dengan kakaknya itu dan dia tidak mau terlalu terbawa suasana.

Yoongi sendiri menggeleng manja. Dia malah mengeratkan pelukannya meski Yoonji terus mendorong tubuhnya. “Ini yang terakhir kalinya. Biarkan aku sekali ini saja, hm?”

Yoonji akhirnya menghela napas. Dia membiarkan Yoongi tetap memeluk tubuhnya sementara tangan kirinya tengah menggapai tangan imut Jimin. Kekasihnya itu sejak tadi hanya diam di tempat. Tidak mengucapkan apa-apa, jarang berkutik dan yang menunjukkan bahwa dia masih hidup hanya deru napasnya saja.

Keduanya hanya bisa berkomunikasi dari tatapan mata saja. Jimin mengangguk kecil sebelum berpaling keluar jendela, sementara tangan imutnya membalas genggaman Yoonji.

Hingga sampailah mereka di bandara. Sudah tidak ada waktu untuk menunggu lagi. Pesawat yang akan dinaiki Yoongi akan segera berangkat dalam waktu dekat. Lelaki berkulit pucat itu menerima pelukan hangat dari kedua orangtua. Nyonya Min bahkan sampai mengusap kedua matanya yang sudah basah. Sekarang, hanya tinggal Yoonji saja yang belum memberikan salam perpisahan.

Tanpa perlu menunggu, Yoongi langsung merangsek mendekati Yoonji dan mengungkung Yoonji dalam rangkulan lengannya. Ia bahkan mencium seluruh wajah adiknya itu tanpa sungkan meski kedua orangtua mereka menonton. Ingat, Yoongi sangat mencintai adiknya. Jauh lebih luas dari hubungan saudara. Orang-orang yang jeli akan menyadari itu dari bagaimana Yoongi menatap adiknya.

“Baik-baik di sini, sayangku. Maaf tidak bisa berada di sampingmu lagi.”

Yoonji segera mendorong tubuh Yoongi hingga rangkulan kakaknya terlepas dari tubuhnya. “Hm, aku tahu, aku bisa jaga diri di sini.”

Yoongi tersenyum getir sebelum mengangguk pelan. “Arasseo. Aku pergi sekarang.”

Yoongi melambai, yang dibalas dengan perlakuan serupa oleh kedua orangtuanya dan Yoonji. Hingga tak lama kemudian bayangan lelaki itu pun hilang. Mereka yang berada di sana segera kembali ke mobil untuk melakukan perjalanan pulang ke Seoul.

Sudah tidak ada Yoongi lagi di kursi belakang, tapi dua insan itu sama sekali tidak saling bicara. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing meskipun kedua tangan mereka saling bertautan. Suasana di kursi depan juga sama heningnya. Biasanya Yoongi akan meramaikan suasana seperti ini dengan bayolan menyebalkannya, tapi sekarang sosok itu sudah tidak ada.

Yoonji menyandarkan kepalanya di bahu Jimin saat dia merasa mengantuk. Jimin yang merasakan bahwa bahunya bertambah berat, reflek menoleh.

.

.

Melihat Yoonji murung membuatku sedih. Mungkin memang benar Yoonji mencintaiku, tapi rasa cintanya pada Yoongi hyung jauh lebih besar. Sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Yoonji yang seperti ini membuatku bingung juga.

“Jimin-a.”

Mendengar suara serak ibu Yoonji, aku pun segera menoleh. “Ne?

“Tolong jaga Yoonji selama di sekolah ya? Imo mohon.”

“Ah … ne. Aku akan menjaganya dengan baik.”

Kulihat imo yang tampak sama cantiknya dengan Yoonji tersenyum tipis melalui spion dasbor. “Maaf kalau kami telah merepotkanmu selama ini, Jimin-a.”

Merepotkan apanya? Justru aku yang sudah berhutang banyak budi pada keluarga ini, khususnya gadis manis di sampingku. “Itu bukan apa-apa, Imo. Tidak perlu meminta maaf, hehe.”

.

.

Sampai juga mobil itu di kediaman keluarga Min. Baru sampai, tahu-tahu ayah ibu Yoonji sudah bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Katanya ada seorang kenalan mereka yang meninggal dunia. Terpaksa Jimin pun mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah. Ibu Yoonji memintanya untuk menemani Yoonji sampai mereka kembali.

Yah … tentu saja Jimin tidak keberatan.

“Hati-hati, Imo, Samchon,” ujar Jimin sambil membungkuk 90 derajat penuh saat mengantar kepergiaan pasangan itu.

Ia dan Yoonji sama-sama melambaikan tangan ketika mobil itu melaju sedang meninggalkan rumah ini. Setelah bayangan mobil itu tak tampak di sejauh mata memandang, Jimin pun menoleh pada gadis di sampingnya.

“Yoonji-a.”

Dalam sekali panggil, Yoonji pun menoleh. Jimin tersenyum geli melihat mata membola gadisnya.

“Kau tidak bicara apa pun padaku seharian ini, aku merindukanmu,” ujarnya sambil menarik Yoonji dalam rengkuhannya. Kepalanya sedikit menunduk untuk menyejajarkan level obsidian mereka. Dari sudut inilah dia bisa menyelami mata kecil kekasihnya. Sungguh, Jimin sangat merindukan gadis manis ini.

“Kau tidak lelah?”

“Tentu saja aku lelah,” balas Jimin dengan suara dibuat manja.

Tahu-tahu Yoonji melepas paksa rangkulan Jimin di pinggangnya. “Kalau begitu pulanglah. Terima kasih sudah menemaniku seharian ini.”

Senyum di wajah Jimin seketika hilang. Dahinya yang tertutup poni sebenarnya menyembunyikan kerutan tipis di sana. Ia meraih tangan Yoonji yang akan beranjak meninggalkannya.

“Apa maksudmu, Yoonji-a? Ibumu menyuruhku untuk di sini sampai orangtuamu pulang.”

“Katamu kau lelah? Kalau kau memang lelah, pulang saja.”

Jimin menghela napas lalu menarik Yoonji ke dalam rengkuhannya lagi. “Aku memang lelah, tapi bukan itu maksudku.”

“Lalu apa maksudmu?”

Lelaki itu mengulum sebuah kurva di wajahnya. “Aku ingin dimanja.”

Yoonji mendengus sambil melepaskan rangkulan Jimin. “Terserahlah. Ayo masuk, di sini dingin.”

“Dimanja ya? Ya?!”

Jimin pun berlarian dengan ceria mengekori Yoonji. Yoonji sendiri hanya mengangguk-angguk malas menanggapinya.

TBC

Maaf ya telat. Soalnya lagi mudik wkwkwk 

Advertisements

3 Replies to “Swag Couple Series [#23 When You’re Gone]”

  1. Astaga si abang yoongi emang siscon, mdhn dia berubah setelah di amerika kkekeke.. Si mochi minta dimanja, apa yoonji mau????, jgn2 jimin disuruh bersih2 rumah lagi…semangat mochi..

    Liked by 1 person

  2. yoongi beneran siscon ,tak boleh yoongi sadarlah masih ada aku yg menunggumu #Plakkk menunggu di depan rumahmu ini (seperti lagu aja) #Abaikan
    jimin pengen di manja, gimana cara manjain jimin ala yoonji pasti anti mainsteam hehe itu juga kalau yoonji niat wkwk….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s