Freak Hwarang #25

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

Raja kerajaan Savanah ingin memberikan tahta kerajaan pada salah satu pangerannya. Tapi, pemberian tahta itu tidak semudah itu. Karena Raja Savanah ingin kerajaan jatuh pada orang yang tepat. Maka dari itu, misi aneh pun keluar sebagai penentu kualifikasi.


previous chapter

 

Hal yang disyukuri Sena saat membuka mata keesokan harinya adalah dia masih bisa melihat rupa ketujuh pangeran. Semenjak kedatangan rombongan istana ke pondoknya, dia takut jika tak bisa melihat ketujuh pangeran –yang menyusahkan tapi sangat disayanginya itu lagi. Dia sangat takut jika seandainya ajudan kerajaan membawa ketujuh pangeran pergi saat dia tidur.

Begitu dia keluar dari kamarnya, masih dalam keadaan rambut berantakan dan wajah kusam, dia langsung memeluk satu persatu pangeran di pagi itu. Seokjin menerima pelukannya dengan senang hati, bahkan pria itu memeluk balik. Yoongi? Oh kalau dia jangan ditanya, sudah pasti dia overacting sampai-sampai tak membiarkan Sena lepas dari pelukannya –seandainya Sena tidak menggigit bahunya sampai merah. Hoseok yang tidak pernah dipeluk jelas terkejut begitu dapat pelukan. Dia cepat-cepat mendorong Sena menjauh lantas menyilangkan tangan di depan dada, menatap Sena curiga. Namjoon menerima pelukan dengan senyum hangat dan tak lupa kecupan singkat di dahi Sena, tanda cinta yang sukses membuat Sena merona di pagi itu.

Lalu Jimin, meskipun dia sudah pernah dipeluk oleh Sena, tapi ini adalah pelukan pertama mereka secara individu –karena sebelumnya dia dipeluk Sena bersama dengan Taehyung. Tanpa sepengetahuan si gadis, dia membalas pelukan sambil diam-diam meresapi aroma kasur yang masih menempel dalam tubuh Sena. Bibirnya mengucapkan sesuatu, namun tak ada suara yang keluar dan tak ada yang tahu karena setengah wajahnya tertutup oleh rambut Sena.

Saranghae.”

Seandainya Sena bisa mendengarnya, mungkin Sena akan dibuat merona untuk kedua kalinya di pagi ini.

Taehyung sendiri menerima pelukan dengan seadanya. Dia hanya melingkarkan satu lengannya di pinggang Sena dan menepuk punggung gadis itu sebagai tanda bahwa dia menerima pelukan tersebut. Dan saat Sena tersenyum padanya, dia hanya mengangguk singkat.

Dan terakhir adalah Jungkook. Sama halnya seperti Hoseok. Dia tidak pernah dipeluk oleh Sena dan ini adalah pertama kalinya. Kedua matanya yang lebar makin melebar begitu Sena berhasil menjangkau lehernya dan memeluknya erat. Buru-buru dia melepaskan pelukan Sena ketika dilihatnya Namjoon yang tiba-tiba muncul.

Hyung! Itu bukan aku yang mulai. Sungguh! Ini tidak seperti yang kau pikirkan. Dia yang memelukku duluan, bukan aku. Serius!”

Namjoon yang tahu apa maksud Jungkook pun tergelak. Dia sangat sangat menikmati wajah ketakutan bercampur innocent dari si maknae. Begitu pula dengan Sena yang tertawa karena kelucuan yang dibuat Jungkook.

Sebenarnya kemunculan Namjoon tiba-tiba bukan untuk menangkap basah Sena yang sedang memeluk Jungkook. Ada sesuatu yang ingin dia lakukan, dan itu bersama Sena. Begitu Jungkook sudah tidak bersama mereka, ia pun mendekati Sena dan membawa Sena ke dalam pelukan.

Mwohaseyo?” tanya Sena sambil melingkarkan kedua lengannya di lingkar pinggang Namjoon.

“Aku ingin pelukan lagi.”

“Bagaimana kalau yang lain lihat?”

“Apa peduliku?”

Sena terkekeh sembari menenggelamkan wajahnya di dada bidang Namjoon. Pagi yang dingin akan lebih enak jika berada di rengkuhan seorang Kim Namjoon, hangat.

“Senang masih bisa melihatmu lagi, Oh Sena.”

“Aku juga, Orabeoni.”

Namjoon mengangkat kedua alisnya bingung. “Apakah itu panggilan kesayangan untukku?”

“Hm. Uri orabeoni hanya Kim Namjoon.”

Namjoon tersenyum sampai lesung pipinya mencuat. Ia pun mencium puncak kepala Sena. Inginnya sekilas, tapi tidak jadi karena bau rambut Sena sangat wangi. Andaikata Namjoon tahu kalau itu adalah aroma dari shampoo anjing, mungkin dia akan mencincang Yoongi saat itu juga.

“Wangi rambutmu membuatku ingin memilikimu untuk selamanya, Sena.”

Pemantik api seolah baru saja dilempar ke pipi Sena. Gadis itu merona hebat. “Orabeoni….”

“Sayangnya kenapa harus Yoongi yang melakukannya untukmu? Kau tahu bagaimana perasaanku? Aku sudah kalah telak.”

Ani, itu tidak benar.” Sena mengangkat kepalanya untuk bersitatap dengan si pria. “Di hatiku tidak ada nama Yoongi, yang ada hanya namamu, Orabeoni.”

Namjoon tersenyum simpul sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Sena. Kemudian dia menempelkan bibirnya di dahi si gadis. Bibirnya kembali membentuk kurva sempurna, bonus kawah kecil di pipi kirinya.

Saranghae.”

Nado saranghae, Orabeoni.”

Dan saat Sena memejamkan mata, sementara Namjoon mendekatkan wajahnya, di situlah muncul para pengganggu.

“Syalalalala~” siul Seokjin dengan suara yang sengaja dikeraskan.

“Syalala lalalala~” balas Jungkook dengan nada seriosa dibuat-buat.

“Wah … ternyata di tengah hutan juga ada ya teater Romeo dan Juliet,” sahut Hoseok dengan mulut penuh pisang.

Tanpa aba-aba kedua sejoli itu reflek menoleh ke asal suara. Mereka tercengang begitu mendapati enam pangeran yang ternyata sedang menonton mereka. Taehyung duduk di atas kursi, sementara lima lainnya duduk bersila di permukaan tanah.

Taehyung melipat kedua lengannya sambil pasang wajah serius, benar-benar terlihat seperti seorang CEO yang tengah menangkap basah dua karyawannya yang tengah bercinta. Jimin di sebelahnya tahu-tahu bertepuk tangan dengan bersiul usil, padahal dalam hati dia tengah menangis. Dan di sebelahnya Jimin ada Yoongi yang sedang makan pisang sambil serius memperhatikan.

Kehadiran mereka sukses menghancurkan momen kebersamaan Sena dan Namjoon. Keduanya reflek menjauh satu sama lain.

Yoongi mengerutkan dahi tidak suka. “Kenapa tidak jadi ciuman? Ayo lanjutkan. Aku ingin tahu bagaimana gaya berciuman pangeran pengoleksi film dewasa dengan gadis tarzan yang keramas pakai shampoo anjing.”

Giliran Namjoon yang mengerutkan dahi. “Shampoo anjing?”

Pangeran nomor dua itu mengangguk santai. “Hm. Wangi rambut yang katamu membuatmu ingin memilikinya selamanya itu sebenarnya adalah dari shampoo anjing. Kau tidak tahu? Aigoo, aku turut berduka ci—”

BUG! BRAK!

Hal itu terjadi dengan cepat. Bagaimana Namjoon meraih kerah baju Yoongi dan memukul Yoongi tepat di pipi sampai Yoongi jatuh terbanting ke tanah. Pangeran lain kecuali Taehyung langsung melerai. Seokjin dan Jimin menahan Namjoon, sementara Hoseok dan Jungkook membantu Yoongi berdiri.

“Bangsat! Apa maksudmu memberinya shampoo anjing, huh?! Kau sudah gila?!”

Hyung, tenanglah,” ujar Jimin saat Namjoon ingin kembali menyerang Yoongi. Urat-urat di lengannya sampai mencuat demi menahan Namjoon yang terus ingin menyerang Yoongi. Kekuatan Namjoon tidak main-main.

“Aku? Gila? Kau pikir kenapa aku melakukannya, huh?!” Yoongi pun menghampiri Namjoon namun langkahnya tertahan oleh Hoseok dan Jungkook.

“Apa matamu sudah rabun? Atau malah katarak? Apa maksudmu memberinya shampoo anjing?! Dia itu seorang perempuan! Manusia! Kau pikir apa yang telah kau perbuat?!”

“Apa menurutmu aku sengaja? Tanya sendiri pada gadis yang sama sekali tidak menyimpan namaku di hatinya itu, Kim Namjoon! Beraninya kau mengumpat padaku!”

Yaa! Hentikan! Kita bisa bicarakan ini baik-baik!” pekik Seokjin yang masih tidak berniat melepaskan cekalannya dari lengan Namjoon.

“Jangan hanya karena dia juga menyukaimu aku akan diam saja, Kim Namjoon.” Tak mengindahkan kata-kata Seokjin, Yoongi malah kembali menantang Namjoon, memantik api yang lebih besar di dada pangeran bertubuh paling tinggi itu.

“Tak akan kubiarkan kau menyentuhnya lagi, bangsat!”

“Brengsek!”

Sementara di sisi lain, Sena hanya berdiri dengan raut cemas dan kalut, sedangkan Taehyung memperhatikannya lamat sebelum menghela napas.

“Kenapa malah menangis? Bodoh,” gumamnya sebelum bangkit dengan susah payah, beranjak menghampiri saudara-saudaranya lalu menggunakan kruk di tangannya untuk memukul perut Yoongi dan Namjoon secara bergantian.

Yaa!

Ma!

Bukannya gentar, Taehyung justru menggerakkan dagunya menuju satu-satunya gadis di antara mereka. “Sepertinya kalian lupa pada tokoh utama yang sedang kalian perebutkan.”

Namjoon dan Yoongi lantas menoleh pada subjek yang ditunjuk Taehyung, saat itu jugalah amarah serta kekesalan dalam diri mereka mereda perlahan. Yoongi menepis Hoseok dan Jungkook yang masih memeganginya demi menghampiri Sena. Namun langkahnya sudah didului oleh Namjoon.

“Sena….” panggil Namjoon.

“Berhenti di sana!” seru Sena tiba-tiba yang sukses membuat Namjoon berhenti saat itu juga.

“Sena….”

“Tolong….” Sena menjeda kalimatnya sebentar karena dahak di tenggorokan. “Biarkan aku sendiri.” Dalam hitungan detik dia sudah berlari masuk ke pondok, lebih tepatnya pergi menuju kamarnya.

“Sena!” Yoongi berniat untuk mengejarnya, namun lagi-lagi dia ditahan. Dan orang itu adalah Jimin.

“Biar aku yang bicara dengannya, Hyung. Kurasa dia sedang tidak ingin bertemu dengan salah satu dari kalian sekarang,” ujarnya dengan raut meyakinkan sebelum bergegas mengekori kepergian Sena.

Taehyung menghembuskan napas berat. “Si bodoh bertambah satu,” batinnya.

Sementara itu Seokjin langsung meraih lengan Yoongi dan Namjoon. “Kita harus bicara,” ujarnya sebelum menggiring mereka menuju tepi sungai. Dua pangeran itu hanya bisa mengekor dengan patuh.

Begitu masuk ke dalam pondok, Jimin bisa mendengar dengan jelas suara isakan perempuan. Isakan itu berasal dari kamar Sena. Dia pun berhenti di depan pintu. Salah satu tangannya terangkat, berniat mengetuk benda berbentuk persegi yang dibuat dari kayu yang memisahkan ruang tengah dengan kamar tersebut. Namun dia urung melakukannya. Sena mungkin sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk di sana, menyandarkan punggungnya pada daun pintu.

Selama 22 tahun hidupnya, baru kali ini dia mendengar suara perempuan menangis selain ibunya. Meskipun bersekolah di sekolah yang isinya laki-laki dan perempuan, dia sama sekali tidak punya minat untuk dekat dengan wanita. Ibunya selalu mengingatkannya untuk tidak bermain-main dengan perasaan wanita. Dulu Jimin kecil tidak tahu apa maksud sang ibu, tapi semakin dia dewasa, dia akhirnya paham. Ibunya hanya tidak ingin dia seperti Raja Bang.

Oke, kembali ke topik.

Suara isakan Sena masih terdengar di telinganya. Setiap isakan yang terdengar akan sama dengan banyaknya pisau tak kasat mata yang berhasil menancap di dada Jimin. Sakit. Jimin ingin memeluknya, menenangkannya, tapi apa yang dilakukannya sekarang? Tidak ada.

Jimin jatuh cinta pada Sena. Sangat. Dia sendiri tak bisa mendeskripsikan bagaimana besarnya, dalamnya, banyaknya cinta yang ia miliki pada gadis tarzan itu. Ia tak tahu apakah rasa yang ia miliki jauh lebih besar, sama atau jauh lebih kecil dari perasaan Namjoon dan Yoongi. Yang pasti, Jimin mencintainya.

Tidak seperti Yoongi yang terus terang atau Namjoon yang selalu dianugerahi kesempatan emas, Jimin berbeda, dia lebih baik menahan apa yang dia mau demi kedamaian bersama. Tak apa jika rasa sakitnya bisa menjadi kebahagiaan yang lain, dia rela memendam rasa ini sendirian, bahkan tanpa memberitahu si pemilik hati ini.

Ia pun menyandarkan kepalanya pada kusen pintu. Isakan di seberang sana mulai mereda, namun masih bisa tertangkap oleh gendang telinganya. Apakah saat ini Jimin boleh memberitahu keberadaan dirinya?

“Ekhem.” Ia pun berdehem sambil meluruskan kedua kaki. “Yaa, ini aku, Jimin.”

Tak ada suara di dalam sana. Bahkan isakan yang tadi masih patah-patah pun sudah lenyap. Mungkin Sena sadar kalau dia telah menangis terlalu keras.

“Aku tidak akan menanyakan alasan kenapa kau menangis,” pungkas Jimin sebelum Sena angkat bicara. “Kalau kau sudah puas menangis, keluarlah. Ini masih pagi, waktunya bekerja, bukan untuk berdiam diri di kamar.”

Masih tak ada balasan dari dalam. Jimin menghela napas.

“Mau kuberitahu satu rahasia? Rahasia ini hanya diketahui oleh para pangeran, tidak dengan raja, tidak dengan ibuku, tidak juga orang lain. Sebenarnya … aku lebih suka menyanyi daripada berkutat dengan buku-buku politik.”

Ketiga kalinya Sena tak menyahut juga. Jimin mengambil napas dalam sebelum menghembuskannya pelan.

“Sebelum kemari, aku sedang menyukai sebuah lagu. Aku tidak tahu juga kenapa menyukai lagu ini. Tapi kurasa sekarang aku tahu apa alasannya. Kau mau dengar?”

Meskipun Sena sama sekali tidak menyahut atau bisa jadi Sena bahkan tidak peduli, Jimin tetap memanaskan tenggorokkannya untuk mulai menyanyi.

amugeotdo saenggakhaji ma

neon amu maldo kkeonaejido ma

geunyang naege useojwo

 

nan ajikdo mitgijiga anha

i modeun ge dakkumin geot gata

sarajiryeo hajima

 

Is it true? Is it true?

You You

neomu areumdawo duryeowo

Untrue Untrue

You You You

 

gyeote meomulleojullae

naege yaksokhaejullae

son daemyeon naragalkka buseojilkka

geobna geobna geobna

 

siganeul meomchullae

i sungani jinamyeon

eobseotdeon iridoelkka neol irheulkka

geobna geobna geobna

 

Butterfly, like a Butterfly

machi Butterfly, bu butterfly cheoreom

Butterfly, like a butterfly

machi Butterfly, bu butterfly cheoreom

 

[Don’t think of anything

Don’t say anything, not even a word

Just give me a smile

 

I still can’t believe it

All of this seems like a dream

Don’t try to disappear

 

Is it true Is it true

You You

You’re so beautiful, that I’m scared

Untrue Untrue

You You You

 

Will you stay by my side

Will you promise me

If I let go of your hand, you’ll fly away and break

I’m scared scared scared of that

 

Will you stop time

If this moment passes

As though it hadn’t happened

I’m scared scared scared I’ll lose you

 

Butterfly like a Butterfly

Just like a Butterfly bu butterfly

Butterfly like a butterfly

Just like a Butterfly bu butterfly]

 

Jimin pun menghela napas panjang begitu menyelesaikan lagunya. Dia menolehkan kepalanya ke samping, sekilas memperhatikan pintu yang tetap tertutup rapat.

Yah … mungkin Sena sedang tidak ingin bertemu dengannya juga. Bisa jadi gadis itu malah memutuskan tidur daripada bekerja seperti yang dia bilang. Ya mau bagaimana lagi? Jimin tidak punya hak untuk memaksanya. Toh ini rumah milik Sena, mau Sena tidur lagi juga tidak masalah. Sena berhak melakukan apa pun di sini, dan dia tidak punya hak atas apa pun.

Ia pun bangkit dari duduknya, menepuk bagian belakang celananya, lalu beranjak usai melirik pintu tersebut untuk terakhir kalinya. Begitu siluetnya tidak lagi berada di dalam pondok ini, pintu kamar Sena terbuka. Kepala seorang gadis yang tak lain adalah Sena, menyembul sedikit. Matanya bergerak ke kanan kiri melihat situasi, kemudian ia pun menghela napas.

“Syukurlah dia sudah pergi,” gumamnya. Ia pun kembali menutup pintu dan duduk bersandar pada daun pintu. Wajahnya bengkak, matanya tampak memerah, hidungnya sudah jangan ditanya lagi, ingus mengalir di mana-mana. Dengan tidak anggunnya dia menyeka ingus di wajahnya menggunakan ujung kaosnya. Sementara pikirannya kembali memutar suara Jimin yang menyanyi barusan. Ujung bibirnya pun terangkat.

“Suaranya bagus.” Detik berikutnya ekspresinya berubah. “Tapi … apa itu butterfly?

TBC

*Maaf telat dua hari wkwkwk. Kemarin sebenernya mau update, tapi wordpress-nya lagi susah dibuka :”) error mulu. Dan baru hari ini bisa update.*

*Kenapa aku mesti pake lagu Butterfly entah di Swag Couple/FH khususnya kalau tokohnya Jimin? Hm … entahlah, menurutku cocok aja lagu itu sama kepribadian Jimin :”) Jimin is so soft, dan aku paling suka Butterfly versi Jimin :”) Gimana ya, lembut-lembut sedih gtu T^T Kusuka lagu Butterfly*

Advertisements

3 Replies to “Freak Hwarang #25”

  1. Q sdh nunggu dr hari selas kemaren hehehe.. Maaf ya thor q slalu koment, bukannya apa tp q sangat senang klo fh sm swag couple slalu d update, q slalu nungguin.. Namjoon sm yoongi mau perang dunia ya, waduh jgn sampe.. Entah knp semakin kesini q semakin tersentuh sm jimin, q mrasa pangeran paling tulus mencintai sena…di FH 25 ini, Malahan q pengen sena sm jimin…mdhn slalu cepat d update

    Liked by 1 person

  2. Klo melihat ketulusannya q milih jimin heheh, dl pengennya yoongi to sekarang malaan jimin.. .tulus banget ya jimin, malah diam aja,ngak pandau ngungkapin klo dia suka.. Mngkn cm taehyung yg nyadar klo dia suka sm yg sena..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s