Swag Couple Series [#24 War of Hormones]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

Intro Boy ver | Intro Girl ver | Want You More

Don’t Mess With Me | Oppa | Nobody Like You

Punishment | Bad But Sweet | Who Are You (1)

Pick Me (1) (2) (3)Who Are You (2) | Chatroom (1) (2) (3)

April Fools’ | Oppa (2)  | Park Jimin  | Date

Dream I Need U  | When You’re Gone

 

Sepeninggal angkatan Yoongi, angkatan Yoonji pun resmi menjejak kelas senior di sekolah tersebut. Sebagaimana kelas senior, fokus para siswanya sudah tidak lagi untuk bermain-main, tapi untuk ujian akhir dan ujian masuk universitas. Ya, itulah yang terjadi di kelas 3-10.

Wali kelas 3-10 membagi murid-muridnya dalam lima kelompok belajar. Kelompok belajar ini akan berlangsung sampai setahun ke depan, dengan tujuan agar para siswa dalam satu kelompok itu bisa saling bekerja sama. Para murid tidak diperbolehkan memilih, dan disitulah letak menyebalkannya.

Ketua tiap kelompok telah dipilih. Kelompok 1 diketuai oleh Jungkook, kelompok 2 oleh Jooheon, kelompok 3 oleh Changkyun, kelompok 4 oleh Sanghyuk dan kelompok 5 oleh Sungjae. Kalau boleh jujur, ketua kelompok yang paling kompeten diantara lima orang itu hanya Jungkook, karena 4 lainnya adalah para siswa yang menempati empat rangking terakhir di kelas tersebut.

Para siswa yang tidak dicalonkan sebagai ketua kelompok tampak harap-harap cemas saat Kang Haneul, wali kelas mereka mengumumkan anggota tiap kelompok. Mereka berharap terpilih ke kelompok 1.

“Baiklah, untuk kelompok satu, anggota pertama adalah Lee Koeun….”

Gadis seksi yang disebut namanya itu menghela napas lega. Dia terkekeh mendapati ekspresi iri teman-temannya.

“Anggota kedua, Kim Taehyung.”

Lelaki berhidung mancung itu bertepuk tangan bahagia, lantas menepuk keras dadanya. Tingkahnya itu hanya bisa direspon dengan gelengan pelan kawan-kawannya.

“Anggota ketiga, Park Jimin.”

Si imut yang masih menjabat sebagai ketua kelas sampai sekarang itu lantas melakukan tos dengan kawan sebangkunya yang tak lain adalah ketua kelompok 1. Namun kebahagiaannya hanya bertahan sampai di situ karena anggota terakhir masih belum diumumkan, lebih tepatnya, nama Yoonji belum terdengar di gendang telinganya.

“Dan anggota terakhir….” Semuanya serempak menahan napas. Haneul seonsaengnim mengedarkan pandangannya sekilas sebelum bibirnya bergerak menyebut sebuah nama. “… Min Yoonji.”

Assa!!” pekik Jimin penuh semangat.

Sontak semua menoleh ke asal suara. Termasuk diantaranya Kang Haneul seonsaengnim.

“Aku bukan menyebut namamu, Park Jimin.”

Jimin yang menyadari kebodohannya pun tersenyum malu sebelum meminta maaf dan duduk lagi. Jungkook di sebelahnya hanya bisa menahan tawa.

Sementara si pemilik hati Park mochi itu hanya menggeleng pelan.

Dasar kekanakkan.

Di kelompok 1, hanya Jungkook dan Yoonji saja yang menempati rangking 15 besar di kelas. Jungkook langganan rangking 8, sedangkan Yoonji langganan rangking 12, dan itu dari 25 siswa. Yah … lumayan juga. Daripada Koeun yang selalu berada di rangking 19, Jimin di rangking 20 dan Taehyung di rangking 21. Setidaknya kelompok ini masih beruntung memiliki dua otak cemerlang.

Sepulang sekolah, Jungkook mengajak seluruh anggota kelompoknya untuk berkumpul di perpustakaan. Guru matematika mereka memberikan tugas mengerjakan 20 soal matematika yang harus dikumpulkan besok. Sebenarnya itu bukan tugas rumah, tapi karena belum rampung, akhirnya dinobatkan menjadi tugas rumah.

Mau tak mau Koeun, Taehyung, Jimin dan Yoonji mengikuti kemana Jungkook pergi untuk segera menyelesaikan tugas tersebut.

Mereka memilih berkumpul di perpustakaan. Yah, meskipun sudah jam pulang sekolah, tapi perpustakaan tidak sesepi kelihatannya. Banyak siswa senior lain yang berkutat di sana untuk belajar kelompok. Dan sekarang ditambah dengan mereka.

“Oke, sekarang kita lakukan pembagian tugas. Hm … Taehyung, kau kerjakan nomor sebelas dan tigabelas, Koeun kau selesaikan nomor tujuhbelas dan duapuluh. Jimin … kau nomor tiga sampai lima. Yoonji enam sampai sepuluh, sisanya biar aku.”

Taehyung menguap lebar. “Aku tidak tahu apa pun soal limit. Otakku sudah penuh dengan masalah saham.”

Koeun yang tampak sedang mengemut lollipop juga mengajukan protes pada ketua kelompok. “Akan kupastikan nilai kelompok kita akan jatuh kalau kau memberi soal Trigonometri padaku. Lebih baik kau suruh aku menghafal triplet Song daripada sin cos tan.”

Jungkook menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal sambil menelan ludah pahit. “Tapi soal yang lain juga sama sulitnya. Begini, kalian coba kerjakan dulu, nanti kubantu setelah aku selesai mengerjakan punyaku. Bagaimana?”

Sepasang remaja itu tampak sedang berpikir-pikir sebentar sebelum Taehyung mengambil ponselnya dari saku celana. Tahu-tahu dia bangkit sekalian mencangklong ranselnya. “Mian, baru saja ayahku menyuruhku pulang cepat. Jimin-a, kau kerjakan bagianku, eo? Aku pergi dulu. Annyeong.”

Dengan kerennya lelaki tampan itu bergegas pergi dari perpustakaan. Sepeninggalnya, Koeun juga tahu-tahu bangkit sambil mencangklong tasnya. “Aku baru ingat kalau hari ini adalah peringatan kematian nenekku. Mian, bagianku biar urusan Jimin saja. Annyeong.”

Dan tersisalah tiga anggota di sana yang hanya bisa melongo di tempat.

Khususnya Jimin yang kedapatan dua amanah sekaligus.

Lelaki berjari imut itu menghela napas.

Yoonji otomatis menoleh begitu mendengar hembusan napas kekasihnya.

Oke, Yoonji marah pada dua orang itu.

Siapa mereka sampai tega melakukan ini pada Jimin?

Orang yang seharusnya memberatkan Jimin adalah dia, bukan mereka.

Tanpa sadar dia telah berhasil mematahkan pensilnya menjadi dua.

Suara patahan pensilnya sontak menarik atensi dua lelaki di kanan kirinya. Dia sendiri menatap takjub pensil kayunya yang telah patah menjadi dua bagian.

“Wah … kau baru saja mematahkan itu? Daebak.” Jungkook bertepuk tangan dengan dramatis, sambil menggeleng tak percaya.

Jimin juga sama tak percayanya seperti Jungkook. Lantas ia pun mengamati rupa gadisnya.

Yoonji melirik Jimin sekilas dan kelabakan begitu bertemu tatap dengan lelaki itu. Cepat-cepat dia memasukkan pensilnya ke dalam kotak pensilnya lalu menggantinya dengan bolpoin.

“Dia memang sudah hampir patah, aku tidak sengaja melakukannya.”

Air muka Yoonji yang panik bercampur malu itu bisa ditangkap dengan baik oleh Jimin. Lelaki itu tersenyum hingga bola matanya tenggelam di antara kelopak matanya yang kecil. Dia tidak kenal Yoonji sehari dua hari, tapi sudah setahun. Dan setahun itu cukup untuk Jimin mengenal baik tingkah laku kekasihnya.

Tiriring~ tiriring~

Bunyi ponsel sukses membuat Jimin memalingkan pandangannya ke asal suara. Dahinya berkerut melihat Jungkook yang tampak terburu-buru menerima telepon.

Ne? Mwo?! Eodiga?! Aku akan kesana sekarang.” Masih dengan telepon menyala, Jungkook tampak sibuk membereskan alat-alat tulisnya di atas meja. Selesai dengan teleponnya, dia pun berbicara dengan sepasang kekasih yang sejak tadi menunggu penjelasan darinya.

“Ah mian, sepertinya aku harus pulang sekarang. Bisakah kalian kerjakan bagianku juga? Aku benar-benar minta maaf, ini masalah mendadak. Ya ya ya?”

Jimin, satu-satunya yang mengerti tentang apa yang dimaksud masalah mendadak itu mengangguk. “Eum. Itu biar urusan kami.”

Jungkook tersenyum lebar sampai gigi kelincinya terekspos. “Gomawo. Aku akan mentraktir kalian nanti. Aku duluan ya? Daah~”

Secepat mungkin Jungkook mengenyahkan diri dari sana. Sepertinya memang dia sedang diburu masalah mendadak. Sepeninggalnya, Yoonji menghela napas, lantas menoleh pada Jimin. Jimin pun menggulirkan mata untuk menatapnya juga.

Yaa, kau itu terlalu baik. Kenapa kau harus sebaik ini, hm?” ujar Yoonji sambil menepuk pelan paha atas Jimin. Matanya yang kecil tajam itu tampak melembut sekarang. “Kalau kau terus seperti ini, selamanya kau akan seperti ini, Park Jimin.”

Sekali lagi Jimin tersenyum. Dia bisa merasakan kekhawatiran dan kekecewaan dari gadisnya, itulah alasan dia tersenyum seperti ini. Diraihnya tangan Yoonji lantas menggenggamnya erat.

Nan gwaenchana. Selama ada dirimu aku baik-baik saja.”

Obsidian Yoonji bergerak-gerak kecil saat menatap sang kekasih. Dia sangat menyayangkan sifat terlalu baik seorang Park Jimin, tapi tidak bisa dia pungkiri kalau dia awalnya jatuh hati karena sifat itu juga. Orang-orang mungkin hanya menganggap Jimin sebagai sebutir debu, tapi baginya Jimin adalah mochi yang begitu dia gilai. Dia tidak terima jika mochi-nya dirusak orang lain. Jujur, Yoonji ingin sekali membuat Jimin tidak menjadi lelaki yang mudah diperdaya lagi oleh orang-orang.

Ia pun mengangguk. “Arasseo. Mau kubantu?”

Senyum Jimin makin tampak imut. “Mau!”

Ia menyeringai tipis melihat tingkah laku sang kekasih yang membuatnya ingin memeluk sekarang. Sayang, ini di sekolah.

“Yoonji-a, rencananya nanti kau akan masuk universitas mana?”

Saat ini kami sedang duduk-duduk di tepian sungai Han. Bukan pagi, bukan siang, apalagi sore. Tapi malam, tengah malam tepatnya. Kami keluar dari perpustakaan pukul 11:50, dan sekarang sudah pukul 12:00. Dialah yang mengajakku kemari sebelum pulang.

“Universitas yang tidak ada Yoongi-nya,” balasku cepat sambil merapatkan jaketnya di tubuhku. Dia sendiri yang memberikan jaketnya padaku. Padahal aku sudah memakai jaketku sendiri tapi dia memaksaku memakai jaketnya juga. Katanya sekarang dingin, tapi saat kutanya apakah dia merasa kedinginan atau tidak, dia malah menjawab kalau dia kepanasan. Dasar pembohong.

“Bagaimana kalau masuk universitas yang ada Park Jimin-nya?”

Sebenarnya dia tidak perlu menanyakan itu. Asalkan tanpa Min Yoongi, aku akan senang hati masuk ke kampus yang sama dengan mochi.

“Akan kupikir-pikir dulu.”

Bibirnya mengerucut seperti anak kecil yang sedang ngambek. Dan kalian harus tahu kalau jiwaku sekarang sedang menjerit histeris. Bagaimana bisa seorang lelaki berusia 17 tahun terlihat seperti anak tiga tahun hanya gara-gara wajah merengutnya? Kuingin segera menikahi dia dan memproduksi 100 anak laki-laki yang sama imutnya seperti dia.

“Aaaa Min Yoonji tidak seru ah.”

Aku pun mengamatinya dari bawah ke atas. “Kau benar tidak kedinginan?”

Dia yang sejak tadi duduk di sampingku sambil melipat kedua lengannya di perut, menjawab dengan wajah cemberutnya. “Tentu saja kedinginan. Memangnya siapa yang betah dengan suhu duapuluh derajat celsi? Ugh … kenapa kekasihku ini tidak ada peka-pekanya sih.”

Kalimat-kalimat menyebalkan yang keluar dari mulutnya sukses membuatku ikut cemberut. “Tadi kau bilang kau kepanasan.”

“Itu kan tadi. Sekarang sudah beda.”

Ternyata kalau dia sedang merajuk tingkahnya jauh lebih menyebalkan dari tingkah seorang Min Yoongi. Segera kulepas jaket biru di tubuhku dan memberikan padanya. “Pakai ini.”

Dia melirik sekilas jaketnya. “Shireo.”

Wae? Kalau kau kedinginan ya pakai ini.” Tanpa sadar nada suaraku bertambah satu tingkat. Seharian ini aku sudah lelah dengan banyaknya materi untuk dihafal, belum dengan tugas matematika tadi di mana aku harus mengajari Jimin dengan super sabar dan telaten, ditambah beban pikiran mengingat tingkah Koeun dan Taehyung yang seenak mereka sendiri. Dan sekarang dia menambah kadar kelelahanku dengan tingkah kekanakkannya. Oh plis, biarkan aku bahagia untuk semenit ini saja, Park Jimin.

“Jaket tidak akan membuatku hangat.”

“Lalu apa maumu?! Yaa, hari ini aku sudah sangat lelah, arro? Rasanya aku ingin menendang pantat besar Koeun dan menyate hidung Kim Taehyung saat mereka berlaku seenaknya padamu! Aish, cepat terima ini dan kita pulang. Kenapa kau menyimpan sepedamu di rumahku segala, huh? Menyusahkan saja.”

Aku ingin segera pulang dan tidur. Tapi sebelum itu aku harus memastikan Jimin sampai di rumah dengan selamat. Dia itu … argh … kenapa bersikeras sekali menyimpan sepedanya di rumahku sedangkan dia menemaniku berangkat menggunakan taksi. Dasar bodoh. Dia ini sebenarnya mengerti kata ‘efisien’ atau tidak sih?

Di saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, tiba-tiba saja dia membungkus tubuhku kembali dengan jaket biru itu. Tidak hanya sekadar itu, dia juga mencuri kesempatan dengan memelukku erat. Dagu lancipnya bersandar di bahuku, sementara hidungnya tenggelam diantara surai rambutku. Aku bisa mendengar deru napasnya dengan jelas. Karbondioksida yang dihasilkannya menerpa telingaku yang nyaris membeku karena suhu saat ini.

“Terima kasih sudah menghawatirkanku, Yoonji-a. Mian, kau pasti malu sekali memiliki kekasih yang bodoh dan tidak berguna sepertiku. Mau dipikir-pikir seperti apa pun aku juga tidak akan pantas bersanding dengan gadis keren sepertimu. Gadis keren harus bersama pria keren, pria bodoh harus bersama gadis bodoh. Bahkan Jihyun saja tidak percaya kalau kakaknya ini bisa mendapatkan gadis sekeren dirimu.”

Oke, aku tahu dia sedang bicara padaku, tepat di telinga pula. Tapi kenapa aku tidak bisa mencerna satu pun kalimat dari bibirnya?

Jantungku terlalu keras berbunyi mungkin.

Atau karena telingaku yang terbakar akibat deru napasnya?

Ah molla. Yang pasti aku….

“Kekasihku hanya Park Jimin dan selamanya hanya Park Jimin.”

.

.

.

Perlahan kujauhkan wajahku darinya. Kupandangi seluruh rupanya yang tengah menghadap padaku.

Ucapannya barusan berhasil membuat napasku terhenti sesaat.

Benarkah dia bicara begitu? Benarkah ini Min Yoonji? Sungguhan ini kekasihku?

Hanya itu pertanyaan yang ada di pikiranku saat menyelami matanya.

Namun entah bagaimana yang keluar dari bibirku justru berbeda.

“Bisakah kau ulangi?”

Dia sama sekali bergeming. Saat ini seperti layaknya di drama-drama, akan sangat bagus kalau tiba-tiba ponselku berbunyi dan melantunkan sebuah lagu ballad dengan lirik yang mendayu-dayu. Sayang sekali, siapa juga yang mau meneleponku? Mungkin eomma atau appa, tapi mereka tidak pernah meneleponku hanya karena terlambat pulang kecuali aku tidak ada kabar selama berhari-hari. Satu-satunya orang yang mungkin meneleponku adalah kekasihku ini. Dan sekarang dia duduk di sampingku, hanya berjarak 10 senti dariku. Jadi tak ada harapan untuk lagu ost.

Sudah nyaris 1 menit tapi dia tak kunjung menjawab. Apakah suaraku tidak terdengar?

“Yoonji-a, bisakah kau ulang—”

Sesuatu dengan tiba-tiba menempel di pipiku. Memberikan sedikit tekanan hingga rasanya dinding mulutku sanggup menekan deretan gigiku. Dan itu tidak berlangsung lama. Diriku yang semula terpaku, akhirnya kembali mendapatkan kesadaran.

“—i..” Kata yang tercekat di tenggorokkan akhirnya terselesaikan sudah. Kini aku kembali menyelami mata jernihnya.

“Jangan suruh aku mengulanginya lagi,” ujarnya sambil berusaha menghindari tatapanku. Ia tampak gugup, terbukti dari lakunya yang tampak tidak nyaman dengan posisinya sekarang.

Sementara di sini aku tersenyum sambil meraih tengkuknya dan mengadu bibir kami. Tidak cukup dengan itu, aku pun meraih pinggangnya dengan tanganku yang lain dan membuat kami benar-benar tak terpisahkan sekarang.

Ini bukanlah ciuman pertama kami. Tapi bagiku dan mungkin juga baginya, ini adalah ciuman kami yang paling menggairahkan. Dia yang biasanya tak begitu suka merespon, sekarang tengah melilit leherku dengan kedua lengannya. Suhu di sini makin dingin, tapi kami semakin panas. Rasanya hormon yang ada di tubuhku sedang meledak-ledak penuh kegembiraan. Mungkin begitu juga dengan yang terjadi pada dirinya.

Detik demi detik kami lalui, dan seiring waktu berjalan diriku telah mencapai puncak.

Sial.

Aku ingin yang lebih dari ini.

Tanganku yang semula berada di punggungnya kini telah berpindah di bahunya. Mencengkramnya lembut.

“Yoonji-a … bolehkah….”

Tak ada jawaban darinya. Dia masih sibuk melumat bibirku dan mengacak rambutku dengan mata yang tertutup rapat.

Aku tak bisa menahan diri. Jadi kuanggap dia memperbolehkanku.

Perlahan namun pasti tanganku bergerak menuju resleting jaketnya, dengan cepat kutarik resleting itu ke bawah, kemudian tanganku menyelinap masuk setelah membuka beberapa kancing seragamnya. Dan disanalah kudapati sesuatu yang kuinginkan. Pelan kuremas dia dengan lembut. Mataku kembali terpejam seiring dengan datangnya kenikmatan itu dalam diriku. Namun saat diriku akan fokus kembali untuk memperdalam ciuman kami tiba-tiba saja sesuatu menghantam pipiku dengan cepat dan keras.

Reflek kubuka kembali netraku.

“SINGKIRKAN TANGANMU DARI TUBUHKU, BYUNTAE!

Semuanya terjadi dengan sangat cepat dan aku baru sadar ketika punggungku terbentur keras pada tanah yang berbatu. Pipiku, dadaku, punggungku, semua itu hanya sakit yang bisa kurasakan. Namun sakit itu tak seberapa dibanding saat kulihat dia bersungut-sungut marah dengan mata basah, mengancingi kembali seragamnya dan meresleting jaketnya. Jaketku yang tersampir di bahunya lantas ia lempar hingga memukul keras wajahku.

“Kupikir kau berbeda, ternyata … tch, kau sama saja seperti para brengsek di luar sana, Park Jimin!”

Mataku membola lebar begitu melihatnya beranjak pergi. “Yoonji-a!”

.

.

.

Air mata sialan ini kenapa terus mendesak keluar sih?!

Kenapa juga dia melakukan ini padaku?!

Dada kiriku kini rasanya berbeda. Bekas sentuhannya masih terasa dan itu membuat diriku makin menjijikkan!

Kenapa semua pria di dunia ini selalu seenaknya menyentuh milik wanita yang bukan istrinya?!

Sialan. Park Jimin sialan!

Kenapa dia melakukan ini?!

KENAPA HARUS DIA?!

“Yoonji-a!!”

Aku mencintainya. Aku menyayanginya. Aku percaya padanya. Tapi kenapa….

Sialan! Kenapa hidupku harus sangat melodrama seperti ini?!

Tidak Jooheon, tidak Yoongi, tidak Jimin. Kenapa….

“Min Yoonji awas!!!”

TIIIIN!

Seseorang menarik tubuhku dengan cepat, lantas mengungkungku dalam rengkuhan hangat. Diriku mampu merasakan kuatnya otot-otot lengan yang tengah merengkuhku ini. Dan wajahku yang banjir air mata sepenuhnya telah tenggelam dalam sesuatu yang bidang.

Ini bukan Park Jimin. Aromanya berbeda.

Perlahan namun pasti kuangkat daguku untuk melihat siapa dia.

Segurat kekhawatiran terpancar tulus darinya, sesuatu yang tak pernah benar-benar kulihat dari sosok ini.

Gwaenchana?”

Rasa-rasanya air mataku yang barusan berhenti sesaat ingin sekali meledak lagi. Aku pun menjawab tepat sebelum Jimin memanggilku. “An-gwaenchana … Jungkook-a.

Rengkuhannya terlepas begitu Jimin menarikku ke dalam pelukannya. Rasa sakit itu mencuat kembali. Aku masih suka aroma Jimin, pelukannya, deru napasnya, semuanya.

Tapi itu menyakitkan.

TBC 

Advertisements

2 Replies to “Swag Couple Series [#24 War of Hormones]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s