Swag Couple Series [#25 Min Yoonji]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

Intro Boy ver | Intro Girl ver | Want You More

Don’t Mess With Me | Oppa | Nobody Like You

Punishment | Bad But Sweet | Who Are You (1)

Pick Me (1) (2) (3)Who Are You (2) | Chatroom (1) (2) (3)

April Fools’ | Oppa (2)  | Park Jimin  | Date

Dream I Need U  | When You’re Gone

War of Hormones

*aku engga ngerti kenapa aku bisa nyimpen foto Jikook yang itu ._.*

Terpaksa aku harus pulang bersama Jimin karena sepedanya dia tinggal di rumah. Di dalam taksi ini, hanya aku satu-satunya wanita di sini, dan itu membuatku takut. Aku tak bisa memercayai Jimin lagi. Dia telah merenggut kepercayaanku padanya dengan cara yang … ugh, aku benar-benar merasa menjijikkan sekarang.

“Yoonji-a.”

Tak perlu menoleh, aku tahu ini suara siapa. Jangan harap aku akan membalasnya karena saat ini aku sedang tidak mau berbicara dengannya.

“Yoonji-a, mian. Aku tidak bermaksud melakukan itu.”

Hah? Tidak bermaksud katanya? Dia saja yang tidak tahu bagaimana rasanya tubuhku karena sentuhannya. Ini menjijikkan, sungguh. Aku jadi tak ada bedanya dengan gadis-gadis Jepang yang membiarkan dadanya disentuh oleh orang lain. Rasanya aku ingin menguap sekarang juga, mengikuti alur angin untuk pergi dari dunia laknat ini.

Sesuatu menyentuh tanganku. Hangat. Tangan mungil Park Jimin yang sangat kukagumi sejak lama. Namun kehangatan itu membuatku teringat pada dada kiriku yang kini berdenyut sakit. Aku kecewa padanya, kenapa harus tangan mungilnya? Jimin-a … kenapa kau melakukan ini?

Segera kutepis tangannya dan memeluk erat tasku. Aku takut, takut jika dia mengulangi perbuatannya lagi.

“Aku akan mempertanggungjawabkan sikapku, Min Yoonji. Aku akan menerima semua hukuman yang akan kau berikan padaku. Jadi tolong, maafkan aku. Jeongmal mianhae.”

Kali ini aku meyakinkan diriku untuk menoleh padanya. Dia duduk tepat di sampingku, tapi tidak sedekat saat di sungai Han tadi. Hal yang kukhawatirkan sekarang adalah, dia duduk menyila sambil menghadapkan seluruh tubuhnya padaku. Itu bahaya. Bagaimana kalau dia kenapa-napa saat taksi ini berhenti mendadak? Kenapa dia begitu bodoh?

Ckiiit!!

Hal yang kutakutkan pun terjadi. Segera kuraih tubuhnya dan merengkuhnya erat sampai goncangan di mobil ini berakhir. Syukurlah, aku tidak terlambat.

Aigoo, berbahaya sekali anjing berkeliaran di jalan malam-malam.”

Perlahan kulepaskan rangkulanku darinya. Ia menatapku dengan mata kecilnya yang melebar. Aku tahu dia pasti terkejut.

“Duduklah yang benar.” Hanya itu yang bisa keluar dari bibirku sebelum diriku benar-benar mengacuhkannya.

Sesampai di depan rumah, aku segera turun usai membayar dan membuka gerbang dengan cepat. Dia sudah pasti mengikutiku dari belakang karena sepedanya ada di pekarangan rumahku. Setelah gerbang berhasil kubuka, aku pun segera masuk untuk mengambil sepedanya dan membawanya keluar tanpa mengizinkan dia masuk dulu.

“Hati-hati di jalan,” ucapku sebelum mengunci gerbang kembali.

Sebenarnya hatiku ingin melihat wajahnya sebelum dia benar-benar pergi dari sini. Tapi ragaku seolah menolak. Tungkaiku dengan begitu saja membawaku masuk ke dalam rumah. Meninggalkan gerbang yang entah apakah dia sudah beranjak pulang atau belum.

Ayah dan ibu belum pulang. Mobil tidak ada di tempat biasa dan saat aku masuk, rumah masih dalam keadaan gelap. Kunyalakan semua lampu di rumah ini, kemudian bergegas ke kamar untuk mengganti pakaian.

Diriku tampak sangat mengenaskan di depan cermin. Mata bengkak, pipi dan hidung merah, wajah kusut, benar-benar seperti bukan diriku. Namun arah penglihatanku tidak ke wajahku yang buruk, melainkan pada dada kiriku yang kini hanya tertutup bra.

Oppa benar, dadaku kecil.

Tapi disitu kelihatan sekali tonjolannya, dan entah bagaimana pikiranku melalang buana pada bagaimana Jimin menyentuhnya.

“Sialan!” Kulemparkan seragam yang masih kupegang pada cermin yang tengah mempertontonkan refleksi diriku.

Kuraba dada kiriku yang masih menyisakan sensasi sentuhan tangan mungilnya.

Sekarang diriku semakin menjijikkan.

Aku tidak tahu sudah seberapa banyak lelaki yang mencoba menyentuh dadaku. Dan aku memang tidak pernah mau menghitungnya!

Bahkan kakak saja pernah menyentuhnya. Ah … mungkin tidak dalam arti sentuhan seperti Jimin, tapi dia selalu iseng menyikutnya dan itu sangat-sangat menjatuhkan harga diriku sebagai perempuan.

Pertahananku kembali hancur. Kenapa air mata ini tidak ada habisnya?

Dan kenapa aku harus menangis?

Sebenarnya aku ini menangisi apa?

Menangisi sikap Jimin ataukah menangisi takdirku yang sejak kecil selalu dilecehkan pria?

Apa salahku?

Kenapa mereka selalu mengartikan kalau aku sedang memberi mereka izin menyentuh tubuhku hanya karena aku bersikap sedikit baik pada mereka?

Sebenarnya apa yang ada di pikiran kaum lelaki?

Tidak bisakah mereka mencintai dengan tulus tanpa berkontak fisik terlalu jauh?

Kriiing! Kriiing!

Bunyi dari ponselku sedikit menyentakku karena volume-nya yang maksimal. Sebelum kuangkat panggilan itu, kuputuskan untuk memakai baju dulu karena suhu yang cukup dingin di sini. Setelah itu kuambil benda yang masih berisik itu di atas meja.

Jeon Jungkook.

Aku baru menyimpan nomornya hari ini karena tuntutan kelompok belajar. Apakah mungkin dia menelepon karena ingin menanyakan tugas matematika?

Jam dinding menunjuk hampir pukul 2 pagi, jam segini dia belum tidur?

Aku pun mengangkat panggilannya begitu kuhempaskan pantatku di atas ranjang.

“Ya?”

Gwaenchana?

Menyadari suaraku yang serak aku pun segera berdehem. “Hm, aku baik-baik saja.”

Di seberang sana dia menghela napas.

“Kau sudah sampai di rumah?”

“Ya, aku di rumah.”

Arasseo. Tidurlah, ini sudah malam.”

Aku hanya mengangguk. Bodohnya, mana mungkin dia tahu. Tapi aku tak peduli. Aku hanya, tidak menyangka kami akan terlibat pembicaraan seperti ini, terlebih di telepon. Aku selalu melihatnya setiap hari di sekolah, karena dia duduk sebangku dengan Jimin. Hanya melihat, tidak berinteraksi. Dia tidak seberisik Jooheon dkk yang suka menggangguku, atau Jimin yang gampang diperalat siswa lain. Jungkook terlalu biasa di kelas, tapi dia sangat populer di antara adik-adik kelas. Aku tidak tahu kalau dia punya sisi yang seperti ini.

Tanpa sadar aku melamun tanpa memutuskan sambungan. Saat kulihat layar ponselku, ternyata Jungkook juga tidak memutuskan sambungan. Detik demi detik terus bertambah di riwayat obrolan kami.

Kembali kutempelkan layar ponsel ke telinga.

“Kau masih di sana?”

“Hm. Aku menunggumu memutus sambungan.”

“Kenapa aku?”

“Karena aku ingin memastikan kalau kau sungguhan tidur.”

Bibirku mendadak kelu untuk berucap.

Jujur, kalimatnya terdengar begitu manis. Meski aku tahu kalau nada suaranya biasa-biasa saja, tapi … mungkin inilah yang membuatnya populer di kalangan adik kelas.

Kembali terlintas di ingatan kejadian beberapa jam lalu. Saat aku tak tahu kalau ada mobil yang menghampiriku … dia tiba-tiba datang entah dari mana dan menyelamatkanku begitu saja.

Vanilla, itulah yang tercium di hidungku saat berada di rengkuhannya. Aroma yang begitu lembut namun sangat kuat di indera penciumanku.

Bahkan rengkuhannya terasa lembut dan mendamaikan.

Sekarang aku mengerti kenapa dia mampu menyihir para gadis. Bahkan untuk ukuran Koeun yang sepertinya hanya suka pria-pria seperti aktor film Hollywood.

Dari segi mana pun dia sangat menggoda iman para gadis.

Sekali lagi diriku secara tak sadar mengabaikan teleponnya.

“Kau tidak ingin menanyakan apa pun?”

“Kurasa itu adalah urusan kalian. Aku tidak akan ikut campur, tapi kalau kau ingin teman bercerita, kau bisa cerita padaku.”

“Bisakah aku mempercayaimu?”

“Hm, kau bisa percaya padaku.”

Kuharap dia memang benar-benar bisa dipercaya. Setidaknya dia tidak menghawatirkan seperti Jooheon.

Arasseo, tapi maaf, aku tidak bisa sekarang.”

“Gampang, kau bisa cerita kapan pun sampai kau siap.”

Ne.

Uljima. Kau jelek sekali kalau menangis, nyaris saja aku tidak mengenalimu tadi.”

Reflek tanganku bergerak menyeka wajahku. “Hm.”

Jalja, besok jangan lupa masuk sekolah.”

“Hm.”

Lantas sambungan pun terputus. Aku yang melakukannya.

Setelah obrolan itu berakhir, diriku di sini rasanya hampa. Jemariku gatal ingin memencet nama Jimin di daftar kontak.

Aku ingin mendengar suaranya.

Sudah sampai di mana dia sekarang?

Apakah dia baik-baik saja?

Kalau dia sudah sampai di rumah, apakah dia sudah makan?

Aku ingin menanyakan semua itu.

Tapi mengingat apa yang sudah diperbuatnya tadi….

Aku ragu.

Diriku tak bisa memaafkannya semudah itu. Dia harus tahu kalau apa yang diperbuatnya itu salah. Dan dia juga harus tahu kalau aku tidak mau dia mengulangi perbuatan itu lagi.

Satu-satunya cara hanyalah dengan menonaktifkan ponsel lalu menyimpannya di laci dan tidur.

TBC

Advertisements

2 Replies to “Swag Couple Series [#25 Min Yoonji]”

  1. jimin jimin ckck. yoonji udah percaya padamu tp kau malah menghancurkan kepercayaannya, jungkook perhatian sekali sama yoonji,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s