Falling Crazy in Love #3 [Stereotype 2]

ohnajla || romance, schoollife, family, friendship || Teen || Chaptered 

Suga BTS aka Min Yoongi, Oh Sena (OC), V BTS aka Kim Taehyung, Lee Soomi (OC), Kihyun Monsta X aka Yoo Kihyun (cameo), Minhyuk Monsta X aka Min Minhyuk (cameo)

Stereotype

#1 #2

 

Hari libur aku bangun lebih siang dari biasanya. Yang benar saja, sudah lewat waktu sarapan. Kulihat Soomi sudah tidak ada di sampingku, mungkin dia sedang mandi, makan atau melakukan apalah. Aku pun menarik selimut untuk kembali tidur. Belum sampai lima menit suara pintu dibuka langsung membangunkanku. Soomi berjalan masuk dengan handuk di rambutnya. Dia tampak lebih segar. Aku memutuskan untuk tidak tidur lagi dan duduk sambil memandanginya.

“Aku membangunkanmu?” tanyanya.

Aku menggeleng sambil menggaruk kepala. “Tumben pagi-pagi sudah cuci rambut.”

“Hari ini aku ada janji dengan Taehyung.”

“Kemana?”

Dia menyampirkan handuk basah itu di kursi lalu mengambil hair dryer milikku. “Mencari kerja. Aku tidak bisa kalau hanya berdiam diri saja di sini tanpa melakukan apa pun. Sebentar lagi karyawisata. Aku harus segera mendapatkan uang untuk ikut acara itu.”

Mataku yang semula hanya terbuka sedikit sekarang sudah terbuka seluruhnya. “Kau ikut karyawisata?”

“Hm. Awalnya aku tidak mau ikut. Tapi Taehyung memaksa, jadi aku ikut saja.”

Ah, Taehyung. Ya, siapa lagi yang bisa meyakinkan Soomi selain Taehyung? Bahkan aku saja tidak mampu melakukan itu. Aku harus segera memberitahu Yoongi.

“Hei, kau mau kemana?”

Aku menoleh saat kenop pintu kamar nyaris kuputar. “Mandi. Aku ikut kalian cari kerja.”

“Apa? Apa maksudmu? Yaa! Oh Sena!”

Karena Taehyung hanya membawa satu sepeda, dia pergi duluan bersama Soomi. Sementara aku harus datang ke rumah Yoongi dulu untuk mengantarkan sarapan sekaligus memberitahunya soal Soomi.

Aku hanya melihat Kihyun di ruang tengah.

“Mana Yoongi?”

“Di kamar hyung-nya. Wae?”

“Ini sarapan untuk kalian,” jawabku sambil menyerahkan rantang makanan ke tangan Kihyun lalu berlarian menuju kamar Minhyuk. Pintu tidak dikunci seperti biasa. Kulihat kepala seorang Yoongi muncul di balik selimut yang menggunung.

“Hei pemalas! Ireona!”

Matanya langsung terbuka dalam sekali teriakan. Dia menatapku heran. “Kenapa kau bisa ada di sini?”

Langsung kutarik selimutnya dan melipatnya dengan cepat. “Cepan bangun. Hari ini Soomi akan mencari pekerjaan bersama Taehyung. Mereka sudah berangkat duluan. Kaja!! Aku tidak mau ketinggalan mereka.”

“Maksudmu?”

Aish anak ini. “Soomi bertekad mencari kerja untuk membayar karyawisatanya. Bukankah kemarin kau mengajakku mencari kerja untuk membantu dia?”

“Ah … ya, karyawisata. Serius?”

Aku mengangguk semangat. “Sekarang cepat bangun. Mandilah setelah itu sarapan. Kita akan berangkat setelah itu.”

Tidak butuh waktu lama bagiku untuk menunggu Yoongi mandi dan sarapan. Tiga puluh menit kemudian aku dan dia sudah dalam perjalanan menyusul Soomi dan Taehyung. Kami menaiki sepeda juga. Sementara Kihyun, dia tidak ikut karena harus pulang ke rumah.

Mencari keberadaan Soomi dan Taehyung tidaklah sulit. Mereka ternyata sudah menunggu di sana sambil menghabiskan minuman kaleng dingin dan sebungkus Bungeoppang. Aku baru sadar kalau tempat ini adalah café. Di café inilah terdapat pengumuman lowongan pekerjaan paruh waktu untuk siswa SMA.

“Kau sudah dapat pekerjaannya?” tanyaku sambil duduk di samping Soomi.

Dia menggeleng. “Aku tidak masuk kriteria mereka.”

“Apa?! Tapi kenapa? Memang seperti apa kriteria mereka?”

“Tinggi 160 ke atas, pintar matematika dan bisa mengoperasikan komputer dengan baik,” jawab Taehyung.

“Itu tipemu sekali,” sahut Yoongi sambil menyikut lenganku.

“Um. Kau juga sedang cari pekerjaan ‘kan? Ambil saja,” tambah Soomi enteng.

“Apa pekerjaan yang mereka butuhkan?” tanyaku.

“Kasir. Hanya kasir tapi tinggi badan juga dipermasalahkan,” balas Taehyung dengan nada kesal. “Oh ya, tapi kenapa kau juga ikut-ikutan cari kerja?”

Aku dan Yoongi pun saling lirik. Kemudian berdehem. “Ah itu … kudengar akhir-akhir ini kerja sampingan jadi tren. Aku penasaran bagaimana kerja sampingan itu jadi aku ikut kalian.”

“Lalu kau?” tanya Soomi pada Yoongi.

“Aku?” Yoongi pun melirikku. “Aku sudah janjian dengan nona ini untuk mengantarnya cari kerja.”

Soomi dan Taehyung menatapku dan Yoongi secara bergiliran. Lalu…

“Woooo … ada apa ini? Jangan-jangan kalian….” Taehyung memandang kami sambil menyeringai jahil. Persis seperti ekspresi Kihyun kemarin.

“Sudah kuduga pasti ada sesuatu di antara kalian. Mengaku saja!” Ditambah dengan Soomi. Hari ini sepertinya kakakku sangat bahagia.

Aniya … kalian ini bicara apa sih.”

Bukannya berhenti, pasangan itu justru makin gencar menggoda kami. Aku pun menghentikan mereka dengan langsung masuk ke café untuk menanyakan soal lowongan pekerjaan. Kemudian aku keluar sambil membawa dua cup minuman dingin dan sebuah totebag berisi seragam kerja.

“Untukmu.” Kuberikan satu cup berisi Americano pada Yoongi.

“Apa itu? Kau sudah dapat pekerjaannya?” tanya Soomi sambil merebut totebag bergambar logo café ini. Dia mengambil dua seragam di dalamnya, menganga lebar begitu juga Taehyung.

“Wah … mereka benar-benar menerimamu,” ujar Taehyung sambil mengusap kain bagian kerahnya.

Chukkae,” seru Soomi seraya mengembalikan tas itu padaku. Dia tersenyum tulus. “Kau memang cocok dengan pekerjaan ini.”

“Kalau sudah ayo lanjut.” Yoongi tiba-tiba bangkit. “Aku juga ingin mencoba cari kerja sampingan.”

Eo? Kau juga?” Taehyung pun ikut bangkit. “Oke, ayo kita cari pekerjaan untuk namja! Soomi-a, kaja.”

Setelah menghabiskan minumanku, aku pun mengikuti yang lain menuju lahan parkir untuk mengambil sepeda. Hari itu kami berputar-putar kota Seoul untuk mencari kerja. Tahu-tahu hari sudah sore dan kami pun berhenti di sebuah warung tenda untuk makan siang. Sudah tidak bisa disebut makan siang lagi sebenarnya, tapi ya sudahlah.

“Biar aku yang traktir,” ujar Yoongi setelah kami selesai makan. Dia pun mengeluarkan dompetnya lalu pergi menemui ahjumma pemilik warung.

“Sebenarnya aku tidak yakin apakah aku bisa mendapat uang sebanyak itu dalam sebulan,” ujar Soomi tiba-tiba. Aku dan Taehyung reflek menoleh.

“Aku yakin kau pasti bisa,” jawab Taehyung mantap. “Kudengar anak-anak yang bekerja di butik selalu mendapat gaji yang lebih. Optimislah. Nanti kalau kurang akan kubantu dengan gajiku.”

Soomi mendapat pekerjaan sebagai karyawan sebuah butik, dan itu bukan pekerjaan paruh waktu, tapi fulltime selama 16 jam penuh. Butik yang akan menjadi tempat kerjanya adalah butik milik seorang desainer terkenal. Dengar-dengar banyak idol yang datang ke sana untuk berbelanja. Dan karena hari libur, biasanya jumlah konsumen akan membludak drastis dan itulah alasan kenapa butik itu membuka lowongan pekerjaan khusus siswa selama hari libur berlangsung.

Sementara Taehyung, dia mendapat job di pusat cuci mobil dan tugasnya adalah mencuci mobil itu sendiri. Jam kerjanya adalah 10 jam perhari. Aku yakin gajinya juga akan tinggi karena pusat cuci mobil itu adalah yang terbesar di Seoul.

Dan untuk Yoongi sendiri, berdasarkan kualifikasinya dia lolos sebagai tutor piano bagi seorang anak sekolah dasar. Mungkin aku belum memberitahu kalian, Yoongi itu, dia bukan hanya pemalas seperti kelihatannya, dia adalah pemain piano sejak kecil. Aku pernah tak sengaja melihatnya bermain piano sendirian di studio musik sekolah. Dia hanya bermain piano saat tidak ada seorang pun di dekatnya.

“Kau tidak perlu melakukan itu.” Ucapan kakakku membuatku mendongak. “Kau bahkan belum menjadi suamiku.”

Taehyung mengangkat kedua alisnya, lalu tersenyum lebar. Ia pun mengacak rambut Soomi lalu mencium pipinya sekilas. “Kalau begitu ayo menikah.”

Wajah Soomi langsung memerah dan ia pun memukuli Taehyung tanpa ampun. “Bercandamu tidak lucu.”

“Kalian sedang apa?” Yoongi tiba-tiba datang dan menginterupsi tingkah mereka berdua. Taehyung yang bukannya kesakitan –tapi tertawa, langsung merangkul bahu Soomi sambil mewartakan sesuatu pada Yoongi. “Ini calon Nyonya Kim masa depan, awas kalau kau berani mengambilnya dariku.”

“Taehyung!”

Ne, yeobo~~”

Yaa!! Geumanhae!!”

Aku dan Yoongi pun saling lirik. Kami tersenyum sambil menggeleng pelan.

“Ayo pulang,” ajak Yoongi akhirnya. Mereka berdua pun menyudahi kegiatan mereka dan mengikuti kemana Yoongi pergi.

“Taehyung-a, aku akan pulang bersama Sena saja,” ucap Soomi sesampai kami di lahan parkir.

Wae?” tanya pria itu sambil menaiki sepedanya.

“Arah rumahmu ‘kan tidak searah. Kau juga sudah datang ke rumah Sena tadi pagi, berkeliling sambil memboncengku, jadi kau pasti lelah.”

Taehyung menarik lengan Soomi untuk memeluknya. “Perhatian sekali gadisku. Arasseo. Sampai di rumah nanti kau langsung tidur, eo? Aigoo! Rambutmu bau.”

Yaa!

“Bercanda! Rambutmu wangi sekali.”

Soomi memukul Taehyung pelan. “Ya sudah, cepat pulang sana. Cuci rambutmu, rambutmu itu bau.”

Ne. Sena, jaga Soomi dengan baik eo? Besok pagi aku akan datang ke rumahmu untuk menjemput nyonya. Sampai jumpa, chingu-deul.”

“Hati-hati!!” pekik Soomi sambil melambai. Taehyung balas melambai tanpa menoleh ke belakang.

“Ceria sekali kau hari ini, Lee Soomi,” sahut Yoongi yang dibalas dengan cengiran lebar Soomi.

“Aku tidak menyesal mengencani si Hidung Besar itu,” ujarnya dengan pipi merona sambil membantuku memundurkan sepeda.

“Kalian itu sama-sama hidung besar,” balas Yoongi yang membuat Soomi melotot.

“Apa katamu?!”

Ani. Kaja.”

Yoongi pun pergi duluan. Sambil membonceng Soomi, aku mengikuti di belakangnya. Udara malam ini cukup dingin. Beruntung aku membawa coat. Beruntung juga aku sudah mengingatkan Yoongi tadi pagi untuk membawa jaketnya. Soomi memeluk pinggangku, mungkin dia kedinginan.

Hari ini … aku cukup bahagia.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s