Freak Hwarang #27

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

“Jangan berpura-pura kuat. Kalau sakit bilang saja. Aku tidak akan memukulmu meskipun kau menangis juga.” –Kim Namjoon

“Aku menyukaimu.” — Min Yoongi

“Bantu aku … untuk mencintaimu.” — Oh Sena


previous chapter

 

Hari yang tak terduga pun akhirnya tiba.

Sena diculik.

Para pangeran tak bisa menemukan gadis hutan itu di seluruh pelosok pondok. Sena tidak ada di kamarnya, tidak ada juga di dapur, di gudang penyimpanan, kandang hewan, kebun sayuran bahkan sungai depan rumah.

Mereka bahkan mengecek di hutan sekitar pondok, namun siluet gadis itu tak kunjung ditemukan.

Satu-satunya hal yang bisa mereka simpulkan adalah Sena diculik. Siapa penculiknya itulah yang sedang mereka bicarakan sekarang.

“Sena tidak kaya,” sahut Jungkook tiba-tiba.

“Dia juga tidak punya barang berharga,” timpal Seokjin.

“Tidak ada tanda-tanda orang jahat di sekitar sini, semuanya hutan dan hewan,” tambah Hoseok.

“Tidak mungkin jika Ro,” sela Taehyung.

“Siapa juga yang mau dengan gadis bau hutan sepertinya,” ketus Yoongi sambil menopang dagu.

“Buktinya kau mau mencuci rambutnya, Hyung,” ujar Hoseok sedikit kesal.

“Maksudnya selain aku,” koreksi Yoongi dengan ekspresi andalannya, datar menyebalkan.

“Sena bukan gadis yang gampang percaya pada seorang pria,” celetuk Jimin dengan nada rendah.

“Gadisku terlalu kekar untuk diculik,” desah Namjoon.

Yoongi mendadak panas mendengar kata ‘gadisku’ yang meluncur mulus dari mulut pangeran yang setahun lebih muda darinya itu. Tidak tahu diri, batinnya. Tapi dia tidak mengatakan apa pun. Rasional saja, Sena sedang diculik dan dia tidak mau membuang waktu hanya karena bertengkar dengan Namjoon. Urusan itu, bisa dilakukan nanti.

“Jadi kemungkinan besar orang yang menculik Sena bukan orang sekitar sini. Hoseok benar, yang ada di sini hanya hewan dan hutan, tidak mungkin mereka tiba-tiba menjelma menjadi manusia dan menculik Sena dari rumah ini.” Kalimat Seokjin pun mampu membuat Yoongi kembali mencurahkan atensinya pada topik utama. Dia mengangguk pelan, setuju dengan pendapat satu-satunya pangeran yang lebih tua darinya itu.

“Ro juga pasti tidak mungkin melakukannya. Dia sudah pernah berhadapan dengan raja dan mendapat hukuman atas tindakannya pada Sena. Kurasa dia tidak punya alasan untuk menculik Sena.” Kali ini Jungkook yang berbicara. Meski waktu itu yang dibawa ke istana bukan hanya dia saja, namun hanya dia satu-satunya yang tahu tentang apa yang terjadi pada Ro. Dia tak sengaja melihat Ro keluar dari ruang sidang kerajaan ditemani Ajudan Sejin dengan borgol di kedua tangannya. Dan dia pun memberanikan diri bertanya pada hakim kerajaan sehingga dari situlah dia tahu apa yang sedang terjadi. Jadi dia sangat yakin jika Ro tidak akan menculik Sena di saat seperti ini.

Hoseok tiba-tiba saja menjentikkan jarinya. “Aku tahu siapa yang melakukan ini.”

Semuanya langsung menatap Hoseok antusias. Khususnya Namjoon yang ingin segera pergi dari sana untuk menangkap si penculik.

“Jadi siapa yang melakukannya?” tanya Jimin tak sabaran.

Hoseok menghela napas. “Siapa lagi kalau bukan pihak kerajaan? Bukankah mereka yang membuang kita ke sini? Bukankah mereka juga yang menyiapkan ambulans untuk kita? Kurasa inilah inti dari misi aneh yang mereka berikan. Sudah kuduga, semua ini pasti berhubungan dengan Sena.”

Semuanya yang di sana termenung di tempat. Tiba-tiba saja suasana dikacaukan oleh Taehyung yang seperti baru menepuk sesuatu. Anehnya pria itu meringis, lalu memperlihatkan apa yang berada di telapak tangannya.

“Ini bukannya nano drone?” gumamnya yang reflek menarik semua atensi. Ia bahkan mengamati saudara-saudaranya satu persatu. “Bukankah ini benda yang kita buat dulu?”

Namjoon, si pangeran paling jenius di sana menahan napas. Taehyung benar, ia tahu betul benda apa itu dan siapa yang merancangnya.

Perancang nano drone, Kim Namjoon.

Sementara Yoongi dan Jungkook juga saling pandang.

Pencetus ide nano drone, Min Yoongi.

Teknisi nano drone, Jeon Jungkook.

Tahu-tahu Jimin bangkit. “Kita harus segera bergerak. Ini adalah tanda untuk kita segera kembali ke istana.”

Dan para pangeran yang lain pun bergegas bersiap untuk pergi ke istana.

Yoongi dan Jungkook hafal betul dengan rute perjalanan menuju istana. Rupanya, tempat tinggal Sena tidak begitu jauh dari lokasi istana. Perjalanan menggunakan mobil hanya memakan waktu 4 jam, namun berbeda jika menunggangi kuda.

Ya, para pangeran sepakat menggunakan kuda-kuda milik Sena sebagai alat transportasi mereka menuju istana. Sebenarnya jumlah kuda peliharaan Sena cukup banyak, namun hanya ada 4 saja yang tampak kuat dan dewasa. Terpaksa mereka pun menggunakan empat kuda dewasa itu sebagai transportasi.

Jimin bersama Taehyung.

Seokjin bersama Namjoon.

Jungkook bersama Hoseok.

Yoongi sendirian.

Jimin tidak bisa membiarkan Taehyung yang kakinya belum pulih seluruhnya menunggangi kuda sendiri. Seokjin tidak mau ambil resiko membiarkan Namjoon sendirian karena pangeran jenius satu itu sangat ceroboh. Dan Hoseok terlalu takut menunggangi kuda sendiri sehingga membiarkan Jungkook bersamanya.

Yoongi? Meski badannya paling kecil dan terlihat sangat lemah dibanding yang lain, nyalinya itu besar. Dia sendiri yang menawarkan diri untuk menjadi leader.

Semakin dekat dari istana, semakin mencolok saja mereka.

Ini adalah jaman modern. Sudah tidak jaman memakai kuda lagi karena sudah ada kuda mesin (read: mobil). Namun tak ada satu pun dari orang-orang itu yang berani untuk menghalangi jalan mereka. Karena orang-orang itu tahu jika mereka adalah pangeran dari kerajaan penguasa negara. Memangnya siapa yang tidak kenal dengan Hwarang?

Akhirnya Hwarang pun sampai di istana dengan selamat. Mereka disambut dengan baik oleh para penjaga istana dan para prajurit. Semuanya yang ada di sana memberi hormat. Dan seolah tahu jika mereka akan datang, Ajudan Sejin tampak berdiri beberapa meter dari pintu gerbang masuk dengan seringaian yang sulit diartikan.

Yoongi yang berjalan paling depan pun mengomando yang lain untuk berhenti sesampainya di hadapan Sejin. Mereka turun dari tunggangan masing-masing. Raut-raut lelah tak bisa ditutupi dari wajah mereka, namun itu semua terkalahkan dengan semangat mereka.

“Selamat datang kembali di istana, para Pangeran,” sapa Ajudan Sejin sambil berlutut ala prajurit bersama pasukannya yang lain.

Tapi raut muka Yoongi tampak tak bersahabat. “Di mana Sena?”

Ajudan Sejin pun kembali bangkit. Tersenyum. “Bukankah sekarang Anda semua sedang kelelahan karena perjalanan yang jauh? Bagaimana dengan sambutan selamat datang dulu? Ibunda dari Anda sekalian sudah bersusah payah membuatkan makanan kesukaan kalian.”

Yoongi mendengus. Sejin terlalu tahu bahwa mereka, para pangeran, paling tidak bisa menolak makanan buatan ibu masing-masing. Terlebih kali ini bukan karena makanannya, melainkan karena kerinduan mereka pada ibu masing-masing.

Akhirnya mau tak mau mereka pun mengikuti kemana Sejin pergi.

Mereka digiring ke ruang makan kerajaan.

Di sanalah adegan mengharukan pun dimulai.

Ketujuh pangeran serentak berhenti di tempat begitu mendapati siluet tujuh wanita paruh baya yang sangat mereka rindukan selama pengasingan di rumah Sena.

Khususnya Yoongi yang tersayat hatinya kala mendapati air mata yang menggenang di pelupuk mata sang ibu. Mata yang penuh kasih sayang padanya, namun sarat akan kesedihan.

“Yoongi-a….” panggil ibunya dengan nada lemah, nyaris tidak bersuara.

Detik itu juga Yoongi mengambil langkah cepat menghampiri wanita itu dan menjatuhkan diri dalam pelukan hangatnya. Mungkin dia akan menyesali ini, tapi apakah salah jika laki-laki menangis karena ibunya? Ibunya makin kurus. Cantik namun menyedihkan. Ingin sekali dia menggantikan posisi ibunya, tapi tak ada yang bisa dia lakukan.

Bogoshippeo,” bisik wanita itu tepat di telinga Yoongi sebelum mencium pelipisnya.

“Aku jauh lebih merindukanmu,” balas Yoongi serak sambil menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Yoonbin.

Sekarang Yoongi tidak lagi terlihat seperti pemimpin kelompok Hwarang dalam perjalanan menuju istana, melainkan anak laki-laki cengeng yang takut kehilangan sang ibu.

Yoongi pun menarik tubuhnya. Dengan tingginya yang sudah melampaui tinggi ibunya, dia bisa dengan leluasa memperhatikan wajah cantik wanita tersebut.

Eomma baik-baik saja? Kenapa kau makin kurus?”

Yoonbin tersenyum menenangkan. “Eomma baik-baik saja, sayang. Harusnya eomma yang bertanya begitu padamu. Kakimu sudah sembuh?”

Yoongi mengangguk sambil menunjukkan senyumnya juga. Senyum manis yang diwariskan oleh wanita di hadapannya sekarang. “Aku sudah lebih dari sembuh, Eomma. Aku bahkan kemari dengan kuda.”

Wanita paruh baya yang memiliki kulit paling bersih dari ibu yang lain pun menangkup pipi Yoongi dan mengecup bibirnya lembut. Lantas berujar dengan suara rendah. “Kau semakin mirip ayahmu.”

Entah kenapa setiap ibunya menyebut dia mirip ayahnya, dia selalu tersipu. Dipeluknya lagi wanita itu, makin erat seolah tak akan melepaskannya seumur hidup.

Sementara di sisi lain adegan yang tak kalah mengharukan pun terjadi pada 6 pangeran lainnya.

“Kenapa hanya wajahmu saja yang basah, Jung Hoseok? Kau ini masih saja cengeng seperti dulu,” omel Heebin, ibu Jung Hoseok sambil meraih tubuh anaknya untuk lebih dekat dengannya. Sebenarnya meski dia bicara begitu, dia juga sudah berurai air mata. Dia sangat bersyukur putra satu-satunya kembali ke istana dengan selamat dan sehat. Baginya tidak ada yang lebih pantas disyukuri selain kembalinya si putra dalam pelukannya. Jung Hoseok itu terlalu cengeng untuk dilepas sendiri, sehingga kekhawatirannya dulu pun mereda begitu mendapati wajah anak cengengnya kembali.

Eomma … bogosippeo-seo … hiks. Eomma baik-baik saja ‘kan? Raja memperlakukanmu dengan baik ‘kan? Maaf sudah pergi tiba-tiba tanpa izin, hiks. Hob-ie tidak akan mengulanginya lagi. Hob-ie janji.”

Heebin nyengir. Hoseok masih juga belum berubah, padahal sebentar lagi akan menginjak usia 24 tahun. Putranya ini memang sangat butuh perlindungan ibunya.

Gwaenchanha. Eomma baik-baik saja di sini. Harusnya eomma yang menanyakan kabarmu. Kenapa fisikmu begini-begini saja, um? Kau hanya makin tampan, Putraku.”

“Di sana mengerikan. Hiks. Banyak serangga.”

Heebin tertawa keras. Lantas ia pun mengeratkan pelukan sambil menciumi pipi Hoseok.

Eommeoni….” panggil Jimin dengan lembut sambil menghampiri ibunya. Tidak seperti dua pangeran sebelumnya. Dia tidak menangis, lebih tepatnya berusaha keras menahan tangis dengan tersenyum. Justru yang menangis adalah ibunya. Wanita itu sibuk sendiri menghapus air mata sampai-sampai dia tidak tahu kalau Jimin sudah berdiri di hadapannya, tersenyum angelic menunggunya selesai menangis.

“Jimin….”

Ne?” balas Jimin lembut sambil menyejajarkan wajahnya dengan wajah sang ibu.

Jiyeon, ibu Park Jimin, wanita yang memiliki badan paling mungil dan suara paling lirih diantara ibu yang lain, menatap Jimin dengan kedua matanya yang merah. Satu tangannya digunakan untuk menutupi hidung dan bibir, sementara tangan lainnya melambai canggung meminta Jimin memeluknya.

Jimin dengan senang hati menuruti perintah wanita itu. Dia merengkuh tubuh Jiyeon dengan lembut namun erat. Membiarkan ibunya menguras air mata di dadanya. Sementara dia sendiri memberikan ketenangan berupa tepukan pelan di punggung.

Saking mungilnya tubuh Jiyeon, saat berpelukan mereka terlihat seperti pasangan kekasih. Tinggi Jiyeon hanya mencapai dada Jimin. Ia tenggelam dalam rengkuhan putranya.

Jimin sendiri tersenyum tanpa henti untuk menekan emosinya yang ingin sekali meledak detik ini juga.

“Jimin….” Sekali lagi Jiyeon memanggil.

Ne, Eommeoni.”

“Jimin….”

Kedua mata Jimin mulai berkaca-kaca, akan tetapi senyumnya masih tetap ada. “Ne.”

“Park Jimin-ku….”

Eommeoni….” balas Jimin dengan suara bergetar.

Jiyeon pun mengangkat kepalanya, bersitatap dengan Jimin, dan mengusap rambut Jimin lembut. “Tidak perlu berusaha terlalu keras, Sayang. Di dunia ini aku hanya mencintaimu. Tidak dengan yang lain.”

Benteng pertahanan Jimin pun runtuh. Air mata langsung merembes turun membasahi wajah, sementara bibirnya tetap menyunggingkan senyum. Ia menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata di wajah Jiyeon.

“Aku juga, Eommeoni. Uljima-yo.”

“Seokjin-a!!”

Eomma!!

Di sisi lain, pangeran tertua dan ibunya pun berpelukan. Sama seperti Hoseok, Seokjin tak bisa menahan diri untuk langsung menangis begitu melihat siluet ibunya. Wanita paling cantik di antara wanita yang lain. Dia bahkan mampu mengangkat ibunya saking rindunya pada wanita itu.

Yaa! Turunkan aku!”

Eomma bogosippeo!!”

Arro! Tapi turunkan aku dulu.”

Akhirnya Seokjin pun menurunkan ibunya, namun tetap ia tidak melepaskan pelukannya.

Eomma … aku merindukanmu.”

“Merindukanku atau masakan buatanku?”

“Dua-duanya.”

“Dasar kau ini.”

“Tapi aku jauh lebih merindukanmu, Eomma.”

Sujin, ibu Kim Seokjin, tersenyum simpul sambil mengusap-usap cepat punggung putranya. “Aku juga, Sayang. Aku sangat merindukan babi kecilku.”

Eomma~” rengek Seokjin. Tapi bukannya dapat elusan, dia malah dapat jitakan. Salah sendiri tidak sadar usia.

Taehyung sama seperti Jimin. Dia tidak ikut menangis seperti yang lain. Wajahnya kelewat ceria padahal jalannya masih sedikit pincang meski sudah tidak memakai kruk lagi. Dia merentangkan tangannya lebar lalu merengkuh ibunya dalam pelukan.

Eomma, aku pulang.”

Taerin, ibu Taehyung, tidak bisa berkata apa pun karena tenggorokkannya tersumbat dahak. Ia hanya bisa terisak sambil memeluk posesif putranya.

Taehyung sendiri tersenyum lebar. Padahal beberapa waktu lalu mereka sudah bertemu saat dia terluka, tapi ibunya masih saja sangat emosional sampai detik ini. Taerin melarang Taehyung untuk kembali ke pondok Sena tapi Taehyung menolak. Mungkin itulah salah satu alasannya.

Sementara Jungkook sudah menangis keras seperti anak-anak di pelukan Junghye, ibunya. Dia meracaukan banyak hal yang sulit dipahami, karena setiap kali dia menangis dia pasti akan secara tidak sadar melakukan rap. Junghye sendiri yang tidak menangis hanya terkekeh geli dengan tingkah putranya.

Terakhir, Kim Namjoon, berlutut tepat di depan ibunya dengan kepala tertunduk dalam. Pemandangan ini sungguh berbeda dari yang lain. Namsun sendiri yang tak lain adalah ibunya, seorang kepala Gisaeng di Savanah, hanya bisa menangis dalam diam melihat sikap putranya kini. Namjoon tengah meminta maaf darinya. Maaf dalam diam.

Ketujuh pangeran itu tidak menyadari bahwa seseorang tengah mengamatinya dari sudut lain dengan senyum getir.

TBC

Advertisements

One Reply to “Freak Hwarang #27”

  1. Sena diculik, beneran ngak d duga.. Aneh jg ya, sdh q duga d bawa ke istana, itu memang sewajarnya dua disana, dia kan putri raja sesungguhnya, sena emang pantas jd putri raja, salut sm semua pangeran, kalo beloh tau thor, gmna ceritax sena bs d hutan, semoga ada flash back kehidupan sena sebelumny

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s