Falling Crazy in Love #4 [Stereotype 2]

ohnajla || romance, schoollife, family, friendship || Teen || Chaptered 

Suga BTS aka Min Yoongi, Oh Sena (OC), V BTS aka Kim Taehyung, Lee Soomi (OC), Kihyun Monsta X aka Yoo Kihyun (cameo), Minhyuk Monsta X aka Min Minhyuk (cameo)

Stereotype

#1 #2 #3

Paginya Taehyung benar-benar datang ke rumah. Dia memakai sebuah sweater berwarna krem ditambah dengan celana panjang longgar berwarna hitam dan membawa sebuah ransel. Sementara itu Soomi juga memakai jenis baju yang sama dengan warna yang sama pula. Taehyung terkejut, tapi setelah itu dia tertawa. Mereka pergi duluan.

Sementara aku harus menunggu Yoongi. Ya, kafe itu searah dengan rumah si anak sekolah dasar yang akan diajari Yoongi bermain piano hari ini. Jadwal lesnya sore, pukul tiga bertepatan dengan jadwal pulangku, tapi Yoongi bilang dia ingin mengantarku sambil menemaniku bekerja sebelum ke sana.

Dia pun datang beberapa menit kemudian dengan sebuah jaket hitam tebal serta topi dan masker hitam. Dandanannya ini mengingatkanku pada Hyungwon. Tapi, dia tidak seperti seorang penculik. Badannya sangat kecil sampai-sampai jaket hitam panjang itu nyaris menelan tubuhnya.

“Kau akan bawa sepeda sendiri?” tanyanya saat aku menghampirinya sambil menuntun sepeda.

“Hm. Memangnya ini kelihatan seperti pesawat buatmu?”

Ia menyeringai. “Idiotnya. Yaa! Kau pikir kenapa aku mau mengantarmu kerja meskipun jam kerjaku masih nanti? Kembalikan sepedamu ke dalam.”

“Lalu bagaimana aku pergi kerja?” Tch, orang ini sebenarnya kenapa sih?

Dia pun menepuk dudukan di belakangnya. “Kalau kau pergi sendiri, lalu apa gunanya benda ini kalau tidak dipakai?”

Dahiku mengernyit. Serius, aku masih tidak mengerti.

“Bodoh, cepat kembalikan sepedamu ke dalam.”

Aku pun menuruti perintahnya.

“Sekarang duduk di belakangku.”

“Bagaimana caranya?”

“Terserah mau menyamping atau menghadap depan. Itu, kau sebenarnya pakai celana ‘kan?”

Aku menunduk untuk melihat bawahanku. Yah … aku beli rok celana pendek ini beberapa minggu lalu. Ini adalah model terbaru, dari belakang terlihat seperti rok pendek tapi kalau dilihat dari depan bagian celananya akan tampak karena roknya hanya menutupi satu kaki saja.

“Yah … bisa dibilang ini celana.”

“Oke, hadap depan saja,” ujarnya sambil memegang erat kemudi.

Aku pun memindah tas ke depan, lantas naik di belakangnya seperti yang dia suruh. Tapi…

Yaa! Tasmu pindah ke depan!”

Tanpa banyak bicara dia langsung mengganti posisi tasnya di depan. “Sudah?”

“Oke.”

“Pegangan yang erat.”

Kuraih tepi mantelnya.

“Sudah?” tanyanya memastikan.

“Ya.”

Dia melirik tanganku. “Kau yakin hanya memegang jaketku?”

“Lalu aku harus pegang yang mana?! Ah sudahlah! Cepat jalan saja! Aku sudah hampir terlambat!”

“Oke, jangan salahkan aku kalau jatuh. Kaja!!”

“KYAA!”

Otomatis badanku terdorong ke depan dan memeluk perutnya erat-erat. Ah sial, sepertinya dia sengaja membuatku seperti ini. Tapi ya sudahlah, toh dia memakai jaket tebal dan di antara kami terpisah oleh tasku. Dia tidak mungkin tahu kalau jantungku sedang berdetak kencang sekarang.

Pukul 9, jam kerjaku dimulai. Aku sudah mengganti pakaianku dengan seragam café. Atasan panjang berwarna abu-abu gelap garis-garis, bawahan berupa rok selutut cokelat dengan celana kain panjang berwarna hitam dipadukan dasi kupu-kupu biru polkadot. Tugasku hanya berdiri di belakang mesin kasir untuk menerima pembayaran para pengunjung. Pekerjaan yang tidak susah-susah amat, dan menurutku ini pekerjaan yang jauh lebih gampang dari yang didapat Soomi, Taehyung bahkan Yoongi.

Pukul 12, café ditutup sementara untuk istirahat makan siang. Aku mendapat dua buah sandwich ditambah dengan segelas soda. Waktu makan siang hanya 30 menit. Aku pun menghampiri Yoongi yang kini sedang duduk di teras café.

“Mau?” tawarku sambil mengulurkan satu sandwich padanya.

Dia menerimanya tanpa banyak bicara.

“Kau tidak lelah hanya duduk saja di situ?” Aku bertanya sambil mengunyah gigitan pertama. Sejak tadi dia memang duduk di meja ini setelah memesan sepotong Tiramisu ditambah dengan segelas latte.

Dia menggeleng.

“Jangan lupa nanti bayar pesananmu.”

Dia mengangguk.

Karena latte-nya habis. Aku membagi soda yang kudapat bersamanya. Begitu jam istirahat habis, aku pun segera kembali ke belakang kasir.

Pukul 3.

Sunbae, aku pulang dulu ya?” seruku pada Jieun eonni, seorang karyawan tetap yang menyambutku pagi tadi.

Eo. Hati-hati di jalan ya!”

Ne. Annyeong.”

Aku pun menghampiri Yoongi yang sudah siap dengan sepedanya. “Jadi, maksudmu aku harus ikut ke rumah anak itu?”

Dia mengangguk. “Terlalu jauh kalau harus mengantarmu pulang dulu. Les-nya tidak lama. Hanya sampai pukul enam. Kaja.”

Sebenarnya aku malas sekali ikut dia ke rumah anak didiknya itu. Tapi mau bagaimana lagi, daripada menghabiskan uang untuk naik bus atau taksi, lebih baik aku ikut dia saja.

“Kau lelah?!”

“Apa?!”

“Kau lelah?!!”

“Ah … ani! Wae?!

“Kalau kau lelah aku akan menghentikan taksi untukmu!!”

“Kau tidak perlu lakukan itu! Aku sama sekali tidak lelah!”

“Oke! Pegangan yang erat!”

Seperti tadi pagi, aku kembali memeluk perutnya. Kenapa dia punya punggung yang senyaman ini? Ini pertama kalinya aku memeluk seorang pria. Yang benar saja, aku ini bukan tipe gadis yang tanpa punya malu memeluk seorang pria. Bahkan, mantan-mantan kekasihku tidak ada satu pun yang pernah menyentuhku. Itu karena hubungan yang kubangun bersama mereka hanyalah hubungan melalui dunia maya, pacar dunia maya. Jadi, aku serius soal tidak pernah memeluk seorang pria.

Kami sampai di sebuah apartemen mewah. Yoongi memarkir sepedanya di lantai dasar, lalu kami berdua naik ke lantai delapan menggunakan lift. Lift dalam keadaan kosong, lalu diisi oleh kami berdua saja. Begitu lift mulai bergerak naik, entah kenapa jantungku kembali berdetak cepat. Mendadak aku teringat adegan-adegan dalam drama. Di mana, sepasang remaja sedang ada di lift dan tiba-tiba si pria menyerang si wanita dan … Aish! Mwoya?! Itu sih memaksa sekali. Aku benci kisseu, kenapa di dunia ini yang namanya romantis harus dengan kisseu? Memangnya kalau tidak pernah kisseu berarti hubungan itu tidak romantis? Teori dari mana itu? Cih.

Yaa, aku mau tanya.”

Otomatis aku pun menoleh. “Tanya apa?”

“Kau ini … diam-diam sering berkirim pesan dengan ibuku ‘kan?”

Tatapannya yang datar namun tajam itu entah kenapa membuatku makin grogi. “Y-ya, imo yang duluan meminta nomorku.”

Wae?”

Tidak kuat dengan tatapannya, aku pun langsung membuang pandangan. “Yah … imo hanya ingin tahu kabarmu dariku. Imo juga sering menghubungiku tiap kali kau tidak masuk sekolah.”

“Dan kau memberitahunya?”

“Tentu saja. Dia itu ibumu, jadi kuberitahu saja semuanya.”

“Bodoh.”

Reflek aku pun menoleh. “Maksudmu?”

“Aku mencoba menghindari mereka tapi aku selalu gagal. Aku penasaran kenapa, ternyata semua ini karena ulahmu. Jadi selama ini kau mendekatiku hanya karena mereka? Hanya untuk mencari bahan untuk laporanmu pada mereka?”

TING!

Aku masih menatapnya. “Itu tidak benar, Yoongi-a.”

Ia pun melangkah keluar, aku mengikutinya dari belakang. “Lalu bagaimana yang benar?”

“Aku dekat denganmu, datang ke rumahmu mengantar sarapan dan makan malam, semua itu bukan karena orangtuamu. Ya, awalnya semua itu memang karena mereka, tapi sekarang tidak seperti itu.”

Yoongi tiba-tiba berhenti di depan sebuah pintu. Aku pun ikut berhenti. Dia berbalik, menatapku dengan tatapan datar khasnya yang sangat kusuka namun di waktu yang sama terkadang aku membencinya.

“Lalu seperti apa? Apa … kau juga mengurusku saat aku sakit karena mereka?”

Ani! Kubilang bukan begitu!” Aku mengusap wajahku frustasi. “Aku berteman denganmu, datang ke rumahmu setiap hari, mengurusmu saat sakit … itu semua bukan hanya karena mereka. Tapi karena kau juga, Min Yoongi!” Dadaku naik turun. “Aku peduli padamu, aku datang karena keinginanku sendiri, bukan keinginan orang lain.”

Aku berusaha mengatur napasku yang mulai tak beraturan. Ingin sekali aku menangis sekarang karena dadaku yang tiba-tiba sakit, tapi … aku sadar kalau aku datang kemari untuk menemani Yoongi. Jadi aku menahan tangisku dan efeknya pikiranku pun mendadak kacau.

“Kita sudah menghabiskan banyak waktu.” Suara berat Yoongi pun masuk ke pendengaranku bersamaan dengan tangannya yang meraih tanganku. Dia menarikku untuk berdiri di sampingnya. Menekan bel pintu itu, tak lama kemudian pintu terbuka. Kami disambut dengan ramah oleh si pemilik rumah, juga anak laki-lakinya yang sangat ceria –berbanding terbalik dengan Yoongi. Berbasa-basi sejenak, mereka pun memulai sesi pembelajaran hari pertama. Sementara aku hanya duduk tak jauh dari mereka sebagai penonton.

Selama perjalanan pulang, tidak ada satu pun dari kami yang memulai pembicaraan. Sempurna diam. Aku memeluk perutnya seperti yang kulakukan pagi tadi. Sedikit menyesal sebenarnya memakai bawahan pendek. Kakiku kedinginan. Mungkin sekarang dia sudah beku karena terlalu lama terkena udara dingin. Berharap cepat sampai, tapi Yoongi tiba-tiba saja memberhentikan sepedanya di depan sebuah mini market. Karena sepedanya berhenti aku pun terpaksa turun.

“Akan kutraktir ramen,” ujarnya sambil menggandengku memasuki mini market.

Genggamannya terlepas begitu kami di dalam, digantikan oleh dua kaleng soda yang ia serahkan ke tanganku. Sementara dia membawa dua cup ramen yang diberinya air panas, lalu mengajakku duduk di luar. Dia kembali lagi ke dalam untuk membayar.

“Hei, kakimu apa tidak kedinginan?” tanyanya begitu duduk lagi dihadapanku.

Sebenarnya aku ingin sekali bilang ‘iya’ tapi aku tidak mau membuat kesan manja padanya. Akhirnya aku pun bilang, “Tidak.”

“Wah … ternyata wanita memang sangat kuat dingin ya.” Dia mengaduk-aduk ramennya. “Besok pakailah bawahan yang lebih panjang.”

Aku hanya mengangguk.

Kami pun makan dengan tenang.

Selesai, kami langsung pulang. Dalam perjalanan, ada saja orang-orang yang menatap kami dengan aneh. Sepertinya mereka sudah tidak pernah melihat sepasang remaja bersepedah lagi. Aku menenggelamkan wajah di jaketnya yang tebal. Aku benci tatapan orang-orang. Mereka selalu mengintimidasi, aku benci itu. Dan menjadi sesak napas karena terlalu lama menyembunyikan wajah di jaket Yoongi dua kali jauh lebih baik dari tatapan mereka.

Sesampai di depan rumahku.

“Aku minta maaf.”

Aku pun menoleh. “Untuk apa?”

Dia tampak gugup. “Yang tadi sore, di apartemen itu.”

“Ah itu … ya, aku juga.”

Kami terdiam lagi.

“Ya sudah, masuklah. Bilang pada eommeonim kalau aku sudah makan. Tidak perlu mengantarkan makanan lagi.”

Eo.”

Lagi-lagi kami terdiam. Kenapa dia tidak segera enyah dari pandanganku?

Keurae. Aku pergi sekarang. Annyeong.”

Aku hanya terdiam sampai punggungnya menghilang. Tsk, perasaan apa ini. Entah aku sedang kerasukan apa. Tahu-tahu kakiku melangkah menjauh dari rumahku sendiri.

TBC

Advertisements

One Reply to “Falling Crazy in Love #4 [Stereotype 2]”

  1. Cinta bersemi dimusim dingin hihihi.. Sena polos banget ya, ngak sadar apa dia naksir yoongi, ,,yoongi, ungkapin perasaan dong sm sena!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s