Falling Crazy in Love #5 [Stereotype 2]

ohnajla || romance, schoollife, family, friendship || Teen || Chaptered 

Suga BTS aka Min Yoongi, Oh Sena (OC), V BTS aka Kim Taehyung, Lee Soomi (OC), Kihyun Monsta X aka Yoo Kihyun (cameo), Minhyuk Monsta X aka Min Minhyuk (cameo)

Stereotype

#1 #2 #3 #4

 

Author POV

Sena menekan bel rumah Yoongi dengan tak sabaran. Mungkin kalau dia tidak menahan diri, bel rumah Yoongi pasti sudah dia pukul sampai rusak. Tidak sampai satu menit pintu terbuka. Melihat wajah Yoongi –yang sedang terengah-engah-, Sena langsung memeluknya.

Yoongi tersentak. Dia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Dadanya naik turun karena berlarian dari kamar keluar demi melihat siapa yang menekan bel secara tak sabaran. Dia tidak sempat berpikir kalau orang itu adalah Sena. Terlebih, gadis itu secara mendadak memeluknya seperti ini.

Wae?” tanyanya setelah mereka hanya terdiam selama beberapa menit.

Sena masih betah memeluknya. “Kakiku kedinginan. Sangat dingin. Sampai-sampai aku merasa kalau kakiku mau putus saat aku berlari kemari.”

Mendengar itu Yoongi tersenyum tipis. Balas memeluk Sena. “Dasar pembohong.”

Sena juga tersenyum. Senyum yang sangat lebar. “Mulai saat ini jangan pernah memercayai kata-kataku begitu saja.”

Arasseo. Kau mau masuk? Kihyun sedang tidak bisa menginap hari ini.”

“Aku belum meminta izin eomma dan appa.”

“Aku yang akan mintakan izinnya.”

Sena mendorong pelan bahu Yoongi sampai wajah mereka bisa saling berhadapan. “Aku ingin mencoba latte.”

Latte? Kau mau aku yang membuatnya?”

Gadis itu mengangguk sambil memindahkan tangannya ke kedua pipi Yoongi. “Dan ajari aku bermain piano.”

“Oke, gampang. Kapan kita mulai?”

Now.”

Malam itu Sena benar-benar menghabiskan waktunya di rumah Yoongi. Serius tidak pulang. Menginap di sana sampai pagi. Karena dia belum mandi seharian ini, dia pun mandi di sana. Yoongi dengan enteng memberinya pinjaman baju. Dengan rambut basah, gadis itu keluar dari kamar mandi sudah dengan sweater kebesaran Yoongi di tubuhnya. Yoongi yang sejak tadi duduk di sofa depan televisi menonton drama sambil makan snack pun tersenyum tipis melihat gadis itu tenggelam di bajunya.

“Baju itu cocok sekali untukmu,” katanya sambil melambai menyuruh gadis itu mendekat.

“Ini sangat kebesaran untukku, kupikir ukuran bajumu tidak jauh beda denganku,” balas Sena sembari duduk di depan Yoongi.

Gwaenchana, kau lucu memakai itu.”

Sena tersenyum lebar dengan pipi merona. Yoongi pun meraih handuk di kepala Sena, menyuruh gadis itu untuk membelakanginya.

“Mau kuambilkan hair dryer?”

Gadis itu menggeleng. “Aku lebih suka begini.”

“Rambutmu bagus, berombak alami.”

Gomawo.”

Sena meraih bungkus snack milik Yoongi, menghabiskannya sambil menonton drama Who Are You School 2015. Dia memekik ketika idol favoritnya yaitu Sungjae terpampang di layar tersebut.

“Kau suka dia?” tanya Yoongi begitu menyadari perhatian Sena. Gadis itu mengangguk semangat.

“Sungjae oppa keren sekali. Apalagi sekarang warna rambutnya hitam.”

Yoongi tersenyum tipis. “Bagaimana kalau dia mewarnai rambutnya dengan warna mint?”

Tanpa pikir panjang Sena langsung menjawab, “mau dia pakai warna apa pun aku akan tetap suka. Dia ‘kan … ah tidak. Maksudku, itu tergantung dari warna kulitnya. Kurasa dia hanya cocok dengan warna hitam.”

Yoongi hanya terkekeh. Setelah rambut Sena sudah sedikit kering, ia pun menyampirkan handuk itu di lengan sofa. Karena tidak ada sisir, dia menggunakan jarinya untuk merapikan rambut si gadis.

“Kau yakin ingin belajar piano hari ini? Apa kau tidak lelah seharian tidak istirahat?”

“Tidak. Tidak ada kata lelah dalam kamusku.”

“Tch, aku tidak percaya.”

Sena tertawa geli lalu berbalik. “Kau mengenalku dengan baik.”

“Itu kata-kata Taehyung.” Yoongi menahan dagunya dengan tangan kiri sambil menatap Sena lekat.

“Kalau begitu, kau mengenalnya dengan baik.”

Mereka pun tertawa. Kemudian suasana mendadak serius. Sena mengangkat kedua alisnya saat dia mendapati tatapan curiga dari Yoongi.

“Kau punya hubungan khusus dengan Kihyun?”

Pernyataan itu otomatis membuat Sena terkejut. Dia tidak sekalipun berpikir kalau Yoongi akan menanyakan hal ini. Dia pun menggeleng. “Tidak. Sama sekali tidak. Kenapa?”

Senyum pun merekah di wajah Yoongi. “Baguslah.”

Wae?”

Ani. Aku hanya ingin memastikan….” Yoongi menyentuh pipi Sena sambil perlahan mendekatkan wajahnya. Tahu-tahu satu kecupan kilat pun mendarat di pipi gadis itu. “Kalau aku menyukai gadis yang tepat.”

Blush. Sena lantas menyembunyikan wajahnya untuk menutupi rona kemerahan di sana. Astaga, kecupan itu sangat mengejutkan. Tingkah Sena ini menjadi tawa tersendiri bagi Yoongi. Terlalu lama terjebak dalam hubungan yang dingin membuat mereka menjadi sedikit canggung. Sena berusaha berkelit dari Yoongi yang gatal ingin melihat wajahnya. Sadar atau tidak, mereka telah mengabaikan drama itu secara sepihak.

“Min Yoongi.”

“Hm?” Yoongi yang sedang asyik bermain ponsel pun menoleh ke pintu kamar Minhyuk. “Wae?”

“Aku boleh masuk?”

Eo. Masuk saja.”

CKLEK

Sena pun muncul dengan sebuah bantal di pelukannya. Setelah menutup pintu kembali, dia pun berdiri di sebelah ranjang.

Wae? Kau takut?” tanya Yoongi menyeringai sambil menyimpan ponselnya di atas perut.

Ani. Aku hanya tidak bisa tidur.”

“Ah … berbaringlah di sini.” Pria itu menepuk tempat kosong di sebelahnya. Tanpa banyak protes Sena meletakkan bantal itu di sana lalu berbaring. Dia melihat Yoongi yang sibuk kembali dengan ponselnya.

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Hanya melihat foto-foto pemandangan. Mau lihat?”

Tahu-tahu Sena sudah memindah kepalanya di lengan Yoongi, dan mereka pun bersama-sama melihat layar ponsel itu. Yoongi memang sedang melihat foto pemandangan, lebih tepatnya pemandangan alam di Norwegia.

“Bagus tidak?” tanya Yoongi sambil melirik puncak kepala Sena.

Eo. Aku ingin sekali punya rumah di sana.”

“Itu rumah kita sepuluh tahun nanti.”

Sena terkekeh sambil mencubit perut Yoongi. Pria itu juga ikut terkekeh. “Aku benar ‘kan?”

“Dasar.”

Yoongi pun mengecup puncak kepala Sena. “Menurutmu apakah itu mungkin akan terjadi?”

“Um?” Gadis itu mendongak.

Yoongi secara otomatis menyimpan ponselnya di nakas agar dapat memandang Sena dengan baik. “Aku hanya sedang memikirkan masa depan. Mungkin ini terdengar aneh untukmu, tapi aku benar-benar tidak pernah memikirkan saat ini. Kau tahu, setiap hari aku takut akan masa depanku. Takut kalau seandainya aku berakhir seperti hyung.”

“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?”

Sejuntai rambut yang menutupi wajah Sena pun, disibak ke belakang telinga. “Setiap kali aku sendirian di sini, aku selalu memikirkan hyung. Aku berharap waktu bisa diputar kembali, jadi aku bisa bersama-sama dengan hyung untuk waktu yang lama. Aku hanya sedikit menyesal … ah tidak … sangat menyesal bahkan karena sudah menyia-nyiakan waktuku untuk menghindari hyung. Andai waktu itu aku punya keberanian untuk masuk kamarnya, mungkin….”

Kalimat Yoongi berhenti sampai di situ karena Sena tiba-tiba meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya. “Semua itu sudah berakhir, Yoongi-a. Semuanya sudah berlalu.”

“Hm. Meskipun aku berharap aku bisa merubah waktu, semua itu tetap tidak akan berubah. Bagaimana pun, sekarang hanya kau yang kupunya.”

Sena tersenyum sambil mengusap pipi Yoongi dengan lembut. “Pasti sulit untukmu berada di rumah sendirian ‘kan? Aku tidak percaya, bagaimana bisa seorang Min Yoongi selalu betah berada di rumah yang nyaris tak berpenghuni? Di saat kau tidur dan aku terjaga sendirian, aku merasa takut sekali di sini, dan juga membosankan. Kau pasti sangat kesepian.”

“Tidak lagi setiap kau datang.”

“Kurasa Kihyun yang lebih sering datang kemari.”

“Lupakan dia, jangan bawa namanya saat kita sedang berdua,” balas Yoongi sambil pasang ekspresi kesal dibuat-buat. Sena tersenyum geli.

“Kau cemburu?”

Ani, buat apa aku cemburu padanya. Aku bahkan jauh lebih tampan darinya, untuk apa aku cemburu.”

Sena pun tertawa. Ternyata tingkat percaya dirinya seorang Min Yoongi tinggi sekali. Tapi itu memang fakta. Bagi seorang Oh Sena, mau setampan apa pun seorang Yoo Kihyun, masih akan kalah pamor dengan pesona Min Yoongi. Sorot matanya yang tajam namun penuh misteri itu selalu berhasil membuat dirinya jatuh cinta.

“Caramu tertawa cantik. Bagaimana bisa ada wanita secantik ini di dunia ini? Kau yakin bukan bidadari ‘kan?”

Sena mencubit pipi Yoongi gemas. “Tidak usah bicara yang aneh-aneh. Aku ini malaikat, bukan bidadari.”

“Kalau begitu aku akan jadi iblisnya.”

“Itu ide bagus.”

Mereka tertawa lagi.

“Kau masih belum mau tidur?” tanya Yoongi setelah tawa mereka mereda.

“Belum.”

“Tapi ini sudah malam. Besok pagi kau harus pergi kerja ‘kan?”

“Kau akan mengantarku lagi?”

“Hm.”

“Bukannya membosankan hanya duduk saja sambil menunggu?”

Ani. Selama itu menunggumu itu tidak akan pernah membosankan.”

“Aish, jangan mulai lagi.”

Yoongi mengecup dahi Sena lama. “Kapan kau akan tidur, hm?”

“Mungkin setelah detak jantungku kembali normal.”

Yoongi tersenyum. “Saranghae….”

Nado.”

“Aish, sudahlah, cepat pejamkan matamu.” Dengan wajah memerah Yoongi tiba-tiba saja menarik selimut sampai menutupi wajah Sena. Dia terkekeh saat gadis itu menggeliat lalu cemberut.

“Kalau aku melakukan yang tidak-tidak padamu, pukul saja kepalaku dengan lampu itu sampai kepalaku berdarah.”

“Aku tidak perlu melakukan itu. Aku percaya padamu.” Sena pun tersenyum sembari memindah kepalanya ke atas bantal. Dia menarik selimut sampai menutupi lehernya, lalu tidur.

TBC

Advertisements

One Reply to “Falling Crazy in Love #5 [Stereotype 2]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s