Freak Hwarang #28

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

“Jangan berpura-pura kuat. Kalau sakit bilang saja. Aku tidak akan memukulmu meskipun kau menangis juga.” –Kim Namjoon

“Aku menyukaimu.” — Min Yoongi

“Bantu aku … untuk mencintaimu.” — Oh Sena


previous chapter

Pertama kali memakai jubah putri kerajaan, Sena tampak kesulitan saat berlari menuju ruang ayahnya. Gaun putri sangat berat, dan besar, beda sekali dengan pakaiannya sehari-hari di pondok. Mungkin inilah salah satu konsekuensi dari kesetujuannya menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Bahkan sepatu berhak-nya terasa begitu menyebalkan di kaki. Ingin sekali dilemparnya sepatu itu jika saja dia tidak dipelototi oleh dayangnya yang menjadi alasan kenapa dia pasrah memakai sepatu tersebut.

Setelah menempuh jalan yang panjang dan penuh dengan penjagaan para prajurit istana, akhirnya Sena sampai juga di depan pintu ruang ayahnya. Di sini penjagaan jauh lebih ketat. Pintu dua sisi itu dijaga oleh empat prajurit bertubuh besar dan membawa senjata api. Membuat Sena gentar memang, tapi, mereka tidak akan melakukan apa pun karena dia adalah seorang putri.

“Bisakah aku bertemu Paduka Raja?” tanyanya dengan suara tenang, lebih tepatnya berusaha tenang.

Tanpa menjawab, atau setidaknya merespon, dua dari mereka langsung membuka pintu. Kemudian satu diantaranya masuk ke dalam sebentar untuk memberitahu raja, dan kembali keluar setelah mendapat persetujuan.

“Silahkan masuk, Tuan Putri.”

Sena mengangguk kaku lantas mengayunkan kakinya memasuki ruang tersebut.

Raja Bang ada di sana, duduk tenang di depan kanvas sambil menggoreskan kuas yang telah dicelupkan pada kaleng cat. Agaknya Raja tengah sibuk melukis wajah seorang wanita saat Sena mendatanginya.

Ketukan yang ditimbulkan sepatunya lantas membuat Raja menoleh. Dia tersenyum, terlihat cukup manis berkat matanya yang sipit dan pipinya yang tembem. “Halo putriku. Ada apa gerangan kau kemari?”

Sena terlalu penasaran pada wajah yang digambar ayahnya sampai dia lupa pada tujuan awalnya kemari. Tampak dirinya menggaruk kepala belakang, menunjukkan sekali kalau bingung.

Raja Bang sepertinya mengerti pada kebingungan anak gadisnya. Dia menyuruh Sena duduk, kemudian memerintah salah satu pelayannya untuk menyiapkan minuman.

“Kau berkeringat sekali, putriku. Terlalu rindu ayahmu sampai lari-lari, um?” goda Raja Bang sembari mencelupkan kuasnya ke dalam kaleng cat.

Sena yang baru sadar dengan wajahnya yang basah pun segera mengeringkannya dengan punggung tangan. Lantas dia kembali memperhatikan lukisan ayahnya.

“Kau tahu siapa wanita yang sedang digambar ayahmu ini?” Tiba-tiba saja Raja Bang bersuara. Sedetik Sena pikir ayahnya memiliki kekuatan membaca pikiran. Tapi segera ditepisnya pikiran itu setelah dia menyadari bahwa mereka hidup di dunia nyata.

“Apakah itu salah satu dari ibu para pangeran?” sahutnya mencoba menebak. Bertepatan dengan itu pelayan yang disuruh tadi datang dengan membawa nampan berisi dua gelas minuman gingseng yang mengepul.

Raja Bang tersenyum puas. “Wah … anakku pintar sekali. Tidak heran, darah dagingku dan Siyoon.”

“Siyoon?”

Raja Bang menoleh. “Nama ibumu. Oh Siyoon.”

Sekarang Sena akhirnya tahu darimana marganya berasal. Kenapa bukan Bang? Kenapa Oh?

“Kau akan mati kalau marga-mu sama denganku, Tuan Putri. Itulah kenapa kau memakai marga milik Siyoon.”

Sekali lagi raja berhasil membaca pikiran Sena. Makin membuat Sena dilema jika ayahnya ini serius seorang pembaca pikiran.

“Aku tidak perlu cerita ‘kan kenapa kau akan mati jika memakai marga-ku? Aku yakin Seokjin sudah menceritakan semuanya padamu.”

Sena menelan ludah. Sekarang dia benar-benar yakin jika ayahnya itu adalah pembaca pikiran!

“Cantik tidak? Kira-kira menurutmu, ibu siapa yang sedang kugambar ini?” tanya Raja yang mendadak mengalihkan topik pembicaraan. Sena pun kembali memperhatikan wajah hampir jadi di kanvas tersebut.

Cantik.

Tapi sedikit sedih.

Tiba-tiba dia teringat tujuan awalnya. Buru-buru dia bangkit.

“Paduka Raja, bisakah kau membatalkan kompetisi ini?”

Tampaknya Raja tidak mengacuhkan seruannya. Pria itu justru tersenyum dengan begitu lembutnya pada wajah tersebut. “Ah … cantiknya.”

“Paduka Raja,” seru Sena dengan nada naik satu tingkat.

Raja mendengus geli. Sena itu hanya merusak mood-nya saja. Dia pun menoleh. “Wae? Kompetisi ini sudah mendekati akhir. Kau juga sudah memilih bukan? Apa maksudmu membatalkan?”

“Itu pilihanmu, Paduka Raja. Bukan pilihanku. Kumohon, batalkan saja kompetisi ini.”

“Kau tidak ingin melihat ayahmu bahagia, Sayang?”

Tenggorokkan Sena mendadak tercekat. Sayang? Ini pertama kalinya Sena mendapat panggilan seperti itu. Khususnya dari orangtuanya.

Namun raja sama sekali tidak memedulikan respon Sena. “Aku sudah memberimu dua pilihan, dan kau sudah memutuskan. Jadi apa alasanmu ingin membatalkan kompetisi ini? Tujuan ayah itu baik. Ayah hanya ingin kau menikah dengan orang terbaik, itu saja.”

Sena menggeleng keras. “Itu hanya spekulasimu saja, Paduka Raja. Aku tidak mau mengorbankan perasaan orang lain.”

Raja tersenyum miring. “Mengorbankan? Siapa yang kau korbankan? Apa menurutmu aku ini piranha sampai kau menyebutnya ‘mengorbankan’?”

Sena tahu dia akan dalam bahaya jika tetap bersikeras melawan ayahnya. Tapi, dia sungguh tidak mau orang lain sengsara demi dirinya. Tidak mengapa dia tidak bahagia, asalkan orang lain tidak menjadi pijakan atas kebahagiaannya. Khususnya wanita dalam lukisan hampir jadi yang masih setia terpampang di dekat ayahnya.

Cantik, namun menyedihkan. Sungguh, dia tidak mau hidup dengan menyalahkan diri sendiri sampai mati hanya karena melihat wajah itu setiap harinya.

“Baiklah.” Jika ayahnya juga bersikeras, maka dia akan mengambil jalan paling berani yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Jalan yang mungkin akan makin disesalinya, namun merupakan yang terbaik dari dua pilihan sebelumnya. “Aku akan menikahi Park Jimin.”

Senyuman yang Raja Bang berikan usai dia memutuskan seperti itu, membuatnya cemas setengah mati. Dia harus siap membayangkan hal terburuk sekalipun karena dia tahu betul bagaimana sifat Raja Bang yang terkenal suka semaunya sendiri.

“Sena!” Teriakan melengking Jimin terdengar di saat Sena berjalan lunglai keluar dari ruang Raja Bang. Dia tersenyum, lebih tepatnya memaksakan senyum, sambil melambaikan tangan. Hwarang ada di sana, berdiri di titik yang sama dengan Jimin dan Ajudan Sejin.

Ketujuh pangeran itu pun sontak berlarian mendekat. Seperti sedang ada perlombaan lari jarak pendek dan Yoongi-lah pemenangnya. Merengkuh tubuh Sena erat tak peduli dengan ekspresi tidak suka Namjoon.

Rasanya Yoongi ingin menangis untuk kedua kalinya di  hari ini begitu mendapati seseorang yang telah membuatnya cemas sejak kemarin itu di depan mata. Sayang, air matanya kembali masuk saat seseorang mendorongnya menjauh dari perempuan terkasih. Siapa lagi? Sudah barang tentu pemilik hati Tuan Putri, Kim Namjoon.

“Aku nyaris tidak mengenalimu karena kau semakin cantik, Sena. Kenapa kau menghilang tiba-tiba, um?”

Yoongi memutar bola mata. “Kau sebut dirimu mencintainya? Aku saja mengenalinya meskipun dia memakai baju jelek seperti itu!”

Namjoon pura-pura tidak dengar. Dia malah mendorong Sena ke sebuah ruangan terdekat dan menguncinya. Tidak peduli dengan teriakan protes dan ancaman pembunuhan dari pangeran yang lain. Namjoon itu hanya ingin berduaan dengan kekasihnya.

Dia menempatkan punggung Sena di dinding, sementara bibir mereka saling beradu. Tangannya mengusap pinggang Sena lembut, sementara tangan Sena tengah meremas rambutnya.

Sebentar saja, Namjoon hanya ingin mencium gadisnya untuk sebentar. Setidaknya sampai dia mencapai puncak.

Lain halnya dengan Sena yang tidak akan pernah mau menghentikan momen ini. Ia memohon pada Dewa, pada alam, pada bintang termasuk pada semut-semut hitam yang berkeliaran di sekitar mereka. Jangan pernah sekalipun memisahkan mereka, jangan. Ia tak ingin waktu berjalan. Dia tidak ingin semua ini cepat berakhir. Tanpa sadar wajahnya sudah basah oleh air mata. Isakan pun lolos dari bibir mungilnya.

Terpaksa Namjoon mengakhiri ciuman mereka. Dia menggunakan ibu jarinya untuk menyeka air mata di pipi Sena, tersenyum getir saat gadis itu menyembunyikan wajah di dadanya sambil memeluknya erat.

“Kenapa kalian berdua menangis, hm? Tidak eomma, tidak kau. Kenapa kalian menyambutku dengan air mata?”

Karena kedatanganmu semakin membuatku takut akan masa depan, Orabeoni.

“Aku bersyukur kau baik-baik saja di sini, Sena. Setidaknya aku tidak melihatmu dalam keadaan kaki dan tangan terikat.”

Kau salah, Orabeoni. Kaki dan tanganku terikat, bahkan leherku juga diikat!

“Aku merindukanmu.”

Aku juga. Aku lebih merindukanmu.

Saranghae.”

Nado saranghae….”

Namjoon pun kembali menyambut bibir Sena dengan bibirnya. Membawa si gadis pada puncak hingga kaki mereka tak lagi berdaya untuk menopang tubuh. Nyaris saja Namjoon lepas kendali jika pintu tidak tiba-tiba terbuka dan ia terhempas oleh tendangan maut seorang Min Yoongi.

“Kau mau apa, huh?! Berani menyentuhnya sehelai rambut kubunuh kau!”

Namjoon mengusap lengannya korban dari tendangan Yoongi yang mungkin memar sambil menatap tajam si tersangka. “Itu bukan urusanmu. Dia itu kekasihku.”

Yoongi yang sedang meledak-ledak, makin meledak setelah mendengar kata-kata Namjoon. Dia kesal Namjoon dengan seenaknya mencuri start berduaan dengan Sena. Padahal seharusnya dia yang mendapat momen itu, karena dialah yang duluan memeluk Sena. Sialnya badannya terlalu kecil sehingga dia kalah tempur dari pangeran paling jangkung itu.

“Lalu kalau dia kekasihmu kau bisa seenaknya sendiri padanya?! Kau jadi tidak ada bedanya dengan bajingan dua huruf itu, Kim Namjoon!”

Namjoon tersenyum sinis. “Masih lebih baik karena aku kekasihnya. Sementara Hyung? Kau siapanya?”

Hati Yoongi panas. Sebelum Yoongi bertindak lebih brutal, Seokjin maju sebagai pelerai. Dia menarik lengan Yoongi untuk mundur.

“Kau tidak boleh lakukan apa pun, Min Yoongi. Sadarlah di mana kita sekarang.”

Yoongi berjalan mundur dengan pasrah. Namun matanya masih menatap nyalang pada Namjoon.

Namjoon sendiri tampak sedang berusaha bangkit. Setelah itu dia menghampiri Sena, membantu gadisnya berdiri. Tapi begitu Sena sudah berdiri berhadapan dengannya, Sena tahu-tahu mendorongnya kuat, bahkan menatapnya dengan rahang terkatup rapat. Ia bingung. Kenapa Sena tiba-tiba berubah?

“Mari kita akhiri sampai di sini saja, Orabeoni.”

Namjoon tercengang. Ah tidak, lebih tepatnya, semua yang ada di sana tercengang.

Baru saja … Sena minta mengakhiri hubungan dengan Namjoon?

Mulut Yoongi sampai terbuka lebar saking terkejutnya. Apakah itu berarti Sena akan berpaling padanya?

“K-kenapa, Sena?” Namjoon bertanya dengan terbata-bata. Dia bahkan melangkah maju, berusaha meraih tangan si gadis namun sudah ditepis duluan. Sikap Sena yang berubah drastis ini membuatnya tak mengerti. Baru saja Sena tampak mencintainya, tapi kenapa sekarang berubah sangat membencinya? Berbagai spekulasi pun berkeliaran di otak cemerlang Kim Namjoon. Hawa negatif melingkupinya. Matanya pun menyipit. “Apa ini karena kau menganggapku sama seperti Ro? Seperti yang dibilang Yoongi hyung?”

Sena menggigit bibir bagian bawahnya yang gemetar sebelum menjawab. “Ani.

“Lalu kenapa?! Apa salahku sampai kau ingin mengakhiri hubungan ini, huh?!”

Sena tersentak mendengar bentakan Namjoon. Bahunya gemetar hebat. Dia ingin menangis lagi. Tapi air mata rasanya seperti ada yang menahan. Pangeran lain tampak cemas. Yoongi bahkan ingin menyerang Namjoon lagi jika Seokjin tidak menahannya.

“Biarkan. Kau tidak perlu ikut campur.”

Yoongi menatapnya memohon, namun Seokjin tetap teguh pada kalimatnya. Ia pun menghela napas pasrah.

Sena tampak bimbang untuk sesaat. Seperti … tengah memikirkan alasan yang tepat. Dan gerak-geriknya itu tertangkap oleh retina Kim Namjoon.

Pria itu mendengus sinis. “Tanpa alasan, um? Kau HANYA ingin mengakhiri ini ‘kan?”

Tepat sasaran, dan bodohnya Sena mengekspresikan keterkejutannya dengan menatap Namjoon menggunakan matanya yang lebar. Tapi dua detik kemudian dia menunduk, dan berteriak. “Siapa bilang! Aku ingin mengakhiri ini karena … karena …”

“Karena?” Namjoon menantang sambil menyejajarkan tingginya dengan si gadis.

“KARENA AKU BENCI KAU DAN YOONGI BERTENGKAR TERUS!” jeritnya sepersekon detik usai ia mendapat alasan yang tepat. “Aku tidak suka melihatnya! Aku bosan!”

Suaranya yang tetap tinggi semakin memperjelas bahwa dia hanya berbohong. Namjoon tak tahan untuk tertawa keras. Sungguh, Sena sangat menggemaskan sekali saat mencoba berbohong. Syukurlah dia mendapat anugerah otak cemerlang, jika bukan karena itu dia tidak akan mungkin menangkap gelagat aneh dari seorang Oh Sena. Ah atau sekarang namanya adalah Bang Sena?

“Oke, jadi, kau ingin kita mengakhiri hubungan hanya karena itu? Bukankah itu terlalu berlebihan, Sena?”

Sena mengepalkan kedua tangannya kuat sampai buku jarinya memutih. “Tapi aku serius, Namjoon-sshi.”

Ekspresi Namjoon berubah begitu mendengar panggilan barunya. Namjoon-sshi? Kenapa bukan orabeoni lagi? Agaknya sekarang dia paham jika Sena benar-benar serius.

Keurae! Aku memang hanya membuat-buat alasan. Tapi aku serius soal mengakhiri hubungan ini, Namjoon-sshi. Hubungan ini tidak akan berhasil. Hubungan ini hanya akan menyakiti kita berdua saja nantinya. Aku tidak mau melanjutkannya. Tidak akan!”

Namjoon terdiam cukup lama. Membuat atmosfer di ruang tersebut menjadi tegang karena sebagian besar pangeran tengah menunggu jawabannya.

“Kupikir….”

Tenggorokkan Sena mendadak tercekat. Sesungguhnya ia tak berani mendengar kata selanjutnya yang akan diucapkan Namjoon.

“Dengan kau di sini, memakai gaun putri seperti ini, hubungan kita akan semakin indah.”

Sena menggigit bibir bawahnya lagi.

“Ternyata….”

Sena mengepalkan tangannya kuat. Tolong, Orabeoni. Tolong. Mengertilah sekali saja.

Namjoon tersenyum getir, lantas menyelesaikan kalimatnya yang tertunda. “Ternyata hanya menjadi akhir dari kisah kita. You are so mean, baby. Keurae. Aku tidak tahu apa alasannya tapi aku akan mendukung keputusanmu.” Ia menjeda kalimatnya sejenak untuk meraih tangan Sena dan menciumnya lembut. Kemudian matanya kembali menatap gadis itu. “Semoga ini jalan terbaik untuk kita.”

Dan tangis Sena pun pecah saat dilihatnya Namjoon pergi dengan terburu-buru meninggalkan ruangan ini, meninggalkan para pangeran yang memanggilnya, dan meninggalkan dirinya. Ia jatuh terduduk di lantai. Sudah tak bisa lagi menopang tubuhnya yang entah kenapa begitu berat. Yoongi dan Seokjin menghampiri, termasuk juga Jimin. Mereka bertiga hanya bisa berjongkok di sekeliling Sena sambil menenangkan gadis itu. Ketiganya sama-sama bingung bagaimana caranya menghentikan air mata si putri. Efek terlalu lama menjadi single sepertinya.

“Mau kuambilkan air minum?” tawar Seokjin dengan lembut sambil mengusap rambut Sena. Namun dia tidak mendapat respon apa pun.

Giliran Jimin yang bertanya. “Kuantar ke kamarmu, um?” Padahal tahu letak kamar Sena saja tidak. Dan nasibnya sama seperti Seokjin. Diabaikan.

Yoongi mendengus. Dia tahu kalau sekarang adalah gilirannya. Dan karena Sena mengabaikan yang lembut, dia menyimpulkan jika sikap sebaliknya mungkin akan diberi respon. “Yaa! Meskipun sebenarnya aku bahagia kau putus dengannya, tapi aku sangat tidak suka melihatmu menangis seperti anak cengeng seperti ini! Uljima! Uljima!! Akan kucium kalau kau tetap menangis.”

Dalam sedetik Sena pun berhenti meraung. Dia hanya terisak kecil dengan mata memerah yang menatap Yoongi penuh ancaman. “Awas kalau kau melakukannya.”

Yoongi tersenyum tipis. “Nah, kau memang seperti itu, Nona Tarzan. Cengeng itu bukan gayamu.”

Sena merengut, lantas ia pun menyeka wajahnya dengan punggung tangan. “Oppa, ambilkan minum,” katanya pada Seokjin.

Seokjin yang semula tercengang karena Sena merespon kata-kata Yoongi pun tampak loading beberapa detik. “Eo? Ah … baiklah.” Kemudian dia bergegas pergi.

“Antar aku ke kamar, Jimin.”

Seokjin dipanggil oppa, Yoongi dipanggil oppa, terkadang Jimin merasa iri di situ. Tapi mendengar Sena memanggilnya dengan ‘Jimin’ dan bukan lagi ‘mochi’, entah kenapa Jimin jadi makin berharap. Ia pun segera membantu Sena berdiri dan memapahnya menuju kamar si gadis.

Meninggalkan Yoongi yang tengah tersenyum dengan begitu gilanya karena Sena.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s