Falling Crazy in Love #6 [Stereotype 2]

ohnajla || romance, schoollife, family, friendship || Teen || Chaptered 

Suga BTS aka Min Yoongi, Oh Sena (OC), V BTS aka Kim Taehyung, Lee Soomi (OC), Kihyun Monsta X aka Yoo Kihyun (cameo), Minhyuk Monsta X aka Min Minhyuk (cameo)

Stereotype

#1 #2 #3 #4 #5 

 

Esok paginya saat Sena kembali ke rumah untuk mengambil sarapan dan pakaiannya, dia tiba-tiba dipanggil oleh sang ibu untuk berbicara di dapur.

“Semalam kau tidur di rumah Yoongi?”

Sena mengangguk. “Yoongi sudah mengabari Eomma ‘kan?”

“Ya, Yoongi sudah menelepon kemarin. Tapi, usahakan jangan setiap hari ya?”

“Kenapa?” Alis Sena terangkat.

Eomma menatapnya lekat. “Itu tidak baik untuk kalian. Bagaimana kalau tetangga berpikiran yang tidak-tidak tentang kalian?”

“Tapi aku setiap hari kesana, kurasa orang-orang juga tahu itu.”

Eomma menghela napas. Memindahkan hidangan sarapan ke dalam rantang. “Kalau urusan mengantar makanan itu memang sudah biasa. Tapi menginap? Dan hanya berdua saja, itu menjadi hal yang tabu di sini. Apalagi kalian masih haksaeng.”

Entah kenapa Sena kesal mendengar nasehat ibunya. Nasehat itu tidak lagi terdengar seperti nasehat, tapi larangan. Tanpa banyak bicara dia langsung berbalik memasuki kamarnya.

BRAK!

Omo!” Soomi yang sedang duduk di tepi ranjang dalam kondisi bangun tidur terkejut saat pintu dibanting oleh Sena. Mata bulatnya terbuka sempurna. Mengikuti kemana perginya Sena yang tampaknya sedang bersungut-sungut.

“Kau kenapa?”

Tapi Sena tidak memberikan jawaban apa pun. Gadis itu malah sibuk mengobrak abrik lemari baju, melempar baju-baju ke tempat tidur, lalu berteriak frustasi secara tiba-tiba. Soomi makin dibuat heran. Ada apa dengan anak ini?

“Kau ini kenapa?” Dia pun beranjak, menarik tangan Sena untuk duduk di tepi ranjang. Tapi Sena dengan kasar menepis tangannya, membuatnya membelalak terkejut.

“Jangan sentuh aku.”

“Tapi Sena….” Soomi berusaha meraih tangan Sena lagi.

“JANGAN SENTUH AKU!!” Tiba-tiba saja Sena keluar lagi, membanting pintu lagi, dan secepat kilat pergi dari rumah itu. Panggilan Soomi dan ibunya sama sekali tidak dia acuhkan. Pikirannya sedang berantakan. Kembali ke rumah Yoongi, menekan bel berkali-kali sampai pintu terbuka, lalu masuk dan menutup sendiri pintu tersebut. Napasnya terengah-engah.

Yoongi memandangnya heran. “Wae?”

Sena langsung berbalik lalu memeluk pria itu erat. Tangis yang sudah ditahannya sejak kemarin pun pecah.

“Ada apa?” tanya Yoongi lagi yang masih tidak mengerti dengan situasi. Sena baru saja pulang, lalu tiba-tiba kembali lagi sambil menangis. Memang apa yang sedang terjadi?

“Hiks. Aku benci semua orang!!!!”

Yoongi pun menepuk pelan punggung Sena sambil berbisik, “ayo kita masuk.”

Tangis Sena sudah reda begitu Yoongi datang dengan secangkir latte. Hanya itu yang bisa diminum di sini, karena di kulkas sudah tidak ada susu lagi. Cangkir itu diletakkan di atas meja, sementara Yoongi duduk di sebelah Sena.

“Sebentar lagi kau harus pergi kerja, bagaimana kau bisa berangkat kalau matamu bengkak seperti itu?”

Sena mengucek matanya. “Aku sudah ingin menangis sejak kemarin….”

“Kenapa kau menangis? Daehun menjahilimu?”

Yoongi terkekeh saat Sena memukul lengannya sambil cemberut. “Aku tidak menangis untuk hal sepele seperti itu.”

“Yang benar? Dulu bukannya kau pernah menangis karena adikmu?”

Kali ini Yoongi menjerit karena Sena mencubit lengannya. “Jangan ingat-ingat lagi masa lalu.”

Yoongi tertawa sambil mengusap lengannya yang mungkin memar. “Kalau begitu kenapa? Masalah apa sampai membuatmu menangis, hm?”

Setelah diingat-ingat lagi, Sena baru sadar kalau sebenarnya pagi ini dia menangis karena hal yang sepele. Hanya karena ibunya menegurnya untuk tidak sering-sering menginap di rumah Yoongi, yang artinya dia masih boleh menginap tapi dalam rasio yang tidak setiap hari. Mungkin dia terbawa emosi karena efek tidak menangis kemarin. Setiap kali beradu mulut dengan Yoongi hatinya selalu sakit yang menyebabkan dia terbawa emosi. Ia pun menatap Yoongi –yang sedang menatapnya sambil menunggu jawaban-, haruskah dia katakan kalau dia menangis karena pria ini?

“Ah molla! Aku lupa.” Sena pun mengusap wajahnya. Memilih untuk tidak menjawab. “Aku akan kembali ke rumah dulu setelah ini untuk mengambil sarapanmu. Kau berjanji akan mengantarku ‘kan?”

Yoongi mengangguk. “Jangan lupa pakai bawahan yang lebih panjang. Aku tidak mau tanggung kalau kakimu kedinginan lagi seperti kemarin.”

Sena menyeringai. “Kalau kakiku kedinginan aku akan berlari lagi padamu seperti kemarin.”

“Tch, hari ini tidak akan kubukakan pintu.”

“Dasar.”

Sena POV

Hari ini aku pakai blouse warna biru gelap dengan bawahan skinny jeans hitam. Seperti kemarin, Yoongi yang mengantarku ke tempat kerja. Sekarang tidak perlu lagi malu-malu untuk memeluknya. Meskipun aku tidak tahu pasti apa hubungan kami sebenarnya, tapi apa salahnya untuk menikmati saat ini?

Kami pun sampai. Aku turun duluan, menunggu Yoongi untuk memarkir sepeda. Setelah itu kami bersama-sama menuju café yang masih baru dibuka.

“Hari ini kau akan pesan apa?” tanyaku begitu dia duduk di salah satu kursi. Dia melepaskan bomber jacket-nya dan menyimpannya di atas meja.

“Bawakan aku Americano saja.”

“Tidak dessert?”

“Berikan aku pudding.”

Aku pun tersenyum. “Arasseo. Akan kuambilkan pesananmu setelah ini.” Aku pun membungkuk untuk menjangkau pipinya dengan bibirku. “Aku ganti baju dulu ya?”

Dia mengangguk sambil tersenyum tipis. Ah … aku suka sekali senyum tipisnya.

Aku pun buru-buru pergi ke ruang ganti karyawan untuk mengganti pakaianku dengan seragam café. Sebelum itu kusapa sunbae-sunbae yang juga sedang ganti baju di tempat ini. Salah satu dari mereka adalah Jieun, sunbae yang menyambutku dan mengajariku saat aku menjadi pendatang baru.

“Datang bersama siapa?” tanyanya yang tahu-tahu sudah berdiri di sampingku. Dia punya wajah yang cantik, hidung mancung sempurna, mata sipit khas Korea, bibir tipis berwarna kemerahan, harusnya dia menjadi idol bukan pekerja café sepertiku.

“Ah … temanku.”

“Benar teman?” godanya sambil menyikutku. “Hei, aku ini tahu loh siapa yang datang bersamamu kemarin, menunggumu seharian sampai pulang. Memangnya yang seperti itu hanya sebatas teman?”

Ucapannya sontak membuat pipiku merona. Yah … mau bagaimana lagi, aku juga tidak tahu apa sebenarnya hubungan kami ini. Untuk ukuran teman, terlalu dekat. Untuk ukuran pacar, terlalu canggung. Untungnya Jieun sunbae tidak lagi bertanya padaku karena jam aktif café sudah dimulai.

Istirahat makan siang hari ini Yoongi mengajakku makan di luar. Katanya dia sedang ingin makan samgyetang, jjamppong, dan banyak lagi di sebuah restoran yang baru saja dibuka dekat tempatku bekerja.

Aku terkejut melihatnya makan dengan begitu lahap menghabiskan semua itu. Aku saja rasanya sudah tidak mampu lagi memuat makanan yang lain setelah menghabiskan samgyetang. Dia bahkan menghabiskan porsi jjamppong milikku agar uangnya tidak terbuang sia-sia.

Kutepuk perutnya pelan saat kami dalam perjalanan kembali ke café.

“Ini perut apa kantung Doraemon? Bagaimana bisa kau tetap kurus meskipun sudah makan sebanyak itu?”

Dia terkekeh. Dengan santainya menyampirkan lengan kirinya di sepanjang garis bahuku. “Napsu makanku sedang tinggi hari ini. Sebelum dia hilang, ada baiknya menurutinya dulu ‘kan?”

“Kau persis seperti ibu hamil yang sedang mengidam.”

“Kau sendiri tidak sedang mengidam apa-apa sekarang?”

Kucubit perutnya sampai dia berteriak histeris. “Aku bukan ibu hamil.”

“Ah … kupikir kau sedang hamil. Ternyata kemarin memang tidak terjadi apa-apa ya?”

Sekarang kupukul tubuh kecilnya yang berguncang karena tertawa. Sial. Dia ini sebenarnya kenapa sih?

“Tidak lucu.”

Masih dengan sisa tawanya, dia kembali merangkul bahuku. “Aku harap kita cepat jadi dewasa. Orang dewasa bebas melakukan apa pun yang mereka mau.”

“Tapi bukan berarti meskipun aku sudah dewasa aku akan melakukan itu sebelum menikah.”

Dia menatapku jahil. “Ooohoo jadi kau ingin kita menikah?”

Langsung kutampar pipi gembulnya itu sebelum dia melihat rona kemerahan di wajahku. Kenapa dia bisa begitu blak-blakan?

Anehnya dia malah tertawa, dan menciumku sampai membuat kami berhenti di tengah jalan. Tubuhku langsung tegang. Tanpa kusadari kedua tanganku bergerak sendiri mencekal kerah bajunya. Aku tidak ingin mendapat ciuman pertamaku di tengah jalan. Aku tahu orang-orang yang melihat kami berdecak kesal karena telah menghalangi jalan mereka dan menodai penglihatan mereka. Tapi mau bagaimana lagi, Yoongi tidak segera menyudahinya dan aku … aku juga tidak ingin ini selesai begitu cepat.

Setelah dia menarik wajahnya, ia pun menenggelamkan wajahku di dadanya. Aaaah … pipiku panas. Aku juga bisa mendengar detak jantungnya yang sudah seperti drumband.

“Sena, ayo berkencan denganku.”

Kalimat yang ingin kudengar sejak dulu itu akhirnya keluar juga dari bibirnya. Tak perlu menunggu lama, aku pun langsung memeluknya dan mengangguk setuju.

TBC

Advertisements

One Reply to “Falling Crazy in Love #6 [Stereotype 2]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s