Bangtan House [#7 Rumah No. 7]

ohnajla || family, friendship, bromance, romance, marriage life || Teen || Chaptered 

Main Cast: 

– BTS members

– OC

Prolog | Rumah No. 1 | Rumah No. 2 | Rumah No. 3

Rumah No. 4 | Rumah No.5 Rumah No. 6

 

Ini adalah rumah yang paling asri. Anak-anaknya meskipun ada 3 tapi tidak semenyebalkan rumah nomor 2. Jihyun, Hoseok dan Hobae adalah anak-anak yang berhati malaikat. Tidak pernah bertengkar, selalu saling membantu, baik ke tetangga, angelic sekali intinya.

Jihyun sebagai anak perempuan satu-satunya tidak kalah cantik dari anak gadis keluarga Min atau Kim. Wajahnya kecil, pipinya tirus dan yang menjadi daya tariknya adalah hidungnya yang bak perosotan.

Ah, tidak hanya Jihyun. Hoseok dan Hobae juga punya hidung yang sama indahnya.

Saking indahnya orang-orang sampai tidak percaya dan menganggap bahwa mereka melakukan operasi plastik. Padahal itu saat mereka masih kecil-kecil.

Yakin anak kecil operasi plastik?

Hobae sebagai anak bungsu sama sekali tidak banyak berulah seperti para lelaki imut keluarga Park. Dia tidak suka cari-cari perhatian pada adik-adik Namjoon. Dia lebih memilih berlama-lama bermain game online di warnet daripada harus menghabiskan waktu untuk PDKT.

Hoseok? Ah dia juga tidak jauh beda dengan dua saudaranya. Tenang. Menyenangkan. Murah senyum. Tapi di balik semua itu dia takut pada segala hal.

Ketinggian.

Serangga.

Ular.

Kegelapan.

Film horor.

Tapi dia selalu berlagak baik-baik saja, terlebih di depan perempuan.

Contohnya saja Shin Woohyun, seorang gadis yang menjadi anak baru di kelasnya saat SMA. Shin Woohyun itu gadis yang supel, ceria, cerdas dan ambisius.Dia juga tidak takut pada apa pun. Tidak heran kalau Woohyun langsung mendapat perhatian banyak pria begitu dia masuk ke SMA Hoseok.

Dan Woohyun sepertinya tidak sadar kalau dia telah menjadi cinta pertama seorang Jung Hoseok.

Hoseok sendiri tidak punya keinginan untuk memberitahu Woohyun akan perasaannya.

Dia sadar diri.

Rangkingnya selalu eksis di 5 besar paling bawah.

Sama sekali dia tidak pernah ikut lomba atau kompetisi apa pun.

Bermain sepak bola saja selalu takut kena tendang. Bermain voli takut kena pukul. Apalagi berenang. Jangankan menyelam, duduk di tepi kolam saja parnonya setengah mati.

Bahkan di kelas pun dia tidak terlalu mencolok. Ketua kelas tidak, si anak paling jenius tidak, si anak paling idiot juga tidak, telatan juga tidak, apalagi teladan.

Jung Hoseok itu sangat rata-rata. Tidak seperti hidungnya.

Jadi atas dasar apa dia menyatakan perasaan pada Woohyun? Tidak ada hal yang bisa dia banggakan pada gadis itu. Selain hidungnya.

Tapi berbeda saat di rumah. Bersama dengan enam pasukan Bangtan, dia itu bukanlah lelaki yang rata-rata. Setidaknya dia memiliki hidungnya, jidatnya dan senyumnya yang bak matahari terbit. Dia itu tempat curhat yang paling aman. Seperti brankas yang hanya bisa dibuka dengan sandi yang terbuat dari nanoteknologi.

Percayalah, saat kalian curhat padanya, rahasia kalian akan aman. Bahkan kalau bisa, akan dia bawa rahasia kalian sampai dia menjadi abu dan terbawa angin musim semi.

Dia tahu betul apa rahasia terbesar seorang Min Yoongi. Anak bungsu dan satu-satunya anak lelaki di keluarga Min itu rupanya pernah mencoba memakai pembalut saking penasarannya. Salahkan nuna-nuna Min yang selalu memaksa Yoongi beli pembalut ke toko terdekat.

Sama halnya dengan Namjoon yang pernah dimintai ibunya membelikan pembalut untuk Jarim. Entah bagaimana pulang-pulang dia malah membawa popok bayi, bukan pembalut wanita.

Baiklah, kembali ke topik.

Tidak seperti Jihyun yang sejak kecil memang pintar dan selalu juara kelas. Tidak juga seperti Hobae yang diam-diam adalah atlit renang.

Benar-benar tak ada yang bisa dibanggakan dari Jung Hoseok.

Karena saking tidak adanya itu, Nyonya Jung sampai tidak pernah menyinggung tentang Hoseok saat mengobrol dengan kawan-kawan arisannya. Termasuk Tuan Jung yang secara terang-terangan mengungkapkan kekecewaannya pada ke-rata-rata-an Jung Hoseok.

Berbagai cara orangtuanya lakukan agar Hoseok setidaknya bersinar di satu bidang seperti senyumnya, namun telah berulang kali pula mereka gagal. Dan mereka pun akhirnya menyerah.

Hoseok terus menyalahkan dirinya sendiri akibat nasib tak beruntungnya itu. “Kenapa aku diciptakan kalau aku tidak bermanfaat menjadi apa-apa di dunia yang fana ini?”

Satu fakta yang harus kalian tahu, Hoseok itu sensitif dan sangat puitis. Andaikata dia sadar, mungkin saat ini dia telah menjadi penyair yang namanya akan melejit bak Kahlil Gibran.

Di tengah keterpurukannya itu, datanglah anugerah. Percayalah bahwa anugerah itu akan datang dari berbagai jalan, bahkan dari seseorang yang tidak kau sangka akan menjadi penyebab hidupmu berubah.

Shin Woohyun. Gadis cerdas yang kelebihan energi seolah-olah satu hari selama hidupnya memiliki waktu 72 jam.

Dialah seseorang yang berhasil merubah jalan hidup Hoseok. Berkat satu kalimat tanya yang sangat sepele.

“Mau tidak menjadi pasanganku di kompetisi menari?”

Ketika seorang gadis populer yang blink-blink menyapa si invisible man, di saat itulah bumi gonjang-ganjing.

Hoseok kehilangan kata. Pikirannya blank. Energinya mendadak lowbat.

D-dia mengajakku?

Demi apa Shin Woohyun bicara padaku?

Apakah seseorang di depanku ini benar dia? Bukan iblis penggoda yang menyamar menjadi dia?

Oh tidak! Ini pasti mimpi! Pasti!

“Ah ya, aku lupa kalau kita belum berkenalan. Namaku Shin Woohyun. Kau Jung Hoseok ‘kan?”

Meledak sudah jantung hati seorang Jung Hoseok. Tubuhnya pun melumer dan gelap sudah semuanya.

Kesimpulannya, dia malah jatuh pingsan.

Dan ketika terbangun, hampir saja dia pingsan lagi. Shin Woohyun lagi-lagi ada di depan matanya.

Gwaenchanha? Wajahmu kelihatan pucat sekali, Hoseok-sshi. Apa mungkin karena hukuman lari di lapangan tadi?”

Mati sudah Jung Hoseok.

Demi apa dia diperhatikan sampai sebegitunya oleh sang pujaan hati. Uh … Hoseok tak bisa menjelaskan bagaimana perasaannya melalui kata-kata.

Tak mau terlihat lebay di depan sang bidadari, Hoseok pun mati-matian menahan diri untuk tidak pingsan lagi dengan menanyakan sesuatu yang mengganjal hidungnya, eh maksudnya pikirannya.

“K-kenapa kau mengajakku? M-masih a-ada y-yang la-la-la—”

Woohyun yang tak sabaran pun menyahut. “La-la apa?”

Hoseok berdehem. “La-la-la … poo.”

Hening.

Hancur sudah imej Hoseok di depan pujaan hati. Matanya menatap harap-harap cemas pada Woohyun yang tengah menatapnya tanpa arti yang jelas.

Dan tiba-tiba saja….

“Pfft! BUWAHAHAHAHAHAHA!!”

Hoseok perlahan menutup lubang telinganya dengan kedua tangan. Matanya menatap penuh ingin dikasihani karena tawa Woohyun yang sangat tidak feminim dan menyiksa gendang telinganya.

Semenit kemudian setelah masa penyiksaan gendang telinga Jung Hoseok, tawa Woohyun pun mereda. Gadis itu sampai menyeka air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

“Leluconmu garing sekali, Hoseok-a.”

Kalau garing kenapa tertawanya sampai seperti itu, batin Hoseok tak habis pikir.

“Aku mengajakmu ikut kompetisi ini karena kau adalah style-ku, Hoseok-sshi. Tinggi badanmu tidak terlalu jauh dariku, postur tubuhmu juga sangat pas, dan yang paling penting….” Woohyun meraih tangan Hoseok lalu mengangkatnya dan menyelipkan jari-jarinya ke sela-sela jari tangan Hoseok. “Tanganmu sangat cantik dan cocok dengan ukuran tanganku.”

Jung Hoseok mendadak hiperventilasi ketika merasakan tangan Woohyun yang erat menggenggam tangannya.

Pengalaman pertama bersentuhan dengan wanita, dan Hoseok hanya megap-megap seperti ikan yang sedang mengambil oksigen di permukaan air.

Hari itu adalah awal di mana hidup Hoseok yang awalnya rata-rata berubah menjadi tidak rata-rata.

Kalau menurut tingkat IQ, Hoseok itu sudah dibilang superior.

Untuk pertama kalinya dia belajar menari –hal yang paling dibenci ayahnya karena untuknya menari itu hanya bagi perempuan dan banci. Tidak mudah memang, namun berkat kesabaran Woohyun yang menjadi tutornya, akhirnya dia pun berhasil membawa pulang uang sebesar 2 juta won sebagai hadiah utama dari kompetisi menari tersebut –meski harus dibagi dua dengan Woohyun.

Semenjak hari itu Hoseok pun jadi ketagihan dengan bidang ini. Dia terus dan terus berlatih, kalau ada kesempatan dia akan eksis di jalanan Hongdae untuk pamer kebolehannya, dia pun juga kerap kali terlibat dalam berbagai kompetisi menari. Sampai akhirnya gelar invisible man pun terhapus dari dirinya dan tergantikan dengan nama panggungnya, J-Dope.

Lalu bagaimana dengan Woohyun? Sebagai wanita yang merubah hidup Jung Hoseok, tentu dia ikut berkontribusi dalam hal ini. Dengan senang hati dia mengenalkan Hoseok pada kakaknya yang punya studio menari. Kakak Woohyun, yang memiliki nama yang hampir sama dengan Hoseok, yakni Shin Hoseok, memperbolehkan Hoseok berlatih di sana sekaligus menjadi anak muridnya –karena Shin Hoseok adalah seorang koreografer. Woohyun jugalah yang memberitahu Hoseok perihal info kompetisi menari.

Hanya karena satu hal, tanpa sadar hubungan antara Shin Woohyun dan Jung Hoseok pun melekat erat.

Berawal dari partner menari, kemudian menjadi teman dalam bidang yang sama, Jung Hoseok pun memberanikan diri mengungkapkan perasaan pada si gadis dengan membawa bunga mawar putih di hari ulangtahun Woohyun yang ke-20.

Will you marry me?

Dan hari itu ternyata Woohyun juga berniat untuk menyatakan cinta pada Hoseok. Ia bahkan sudah menyiapkan cokelat.

Akhirnya karena kesamaan maksud itu, mereka pun saling bertukar barang ‘sogokan’ dan menikah.

Namun Hoseok kembali terpuruk karena sang ayah menentang keinginannya untuk menjadi seorang penari.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s