Freak Hwarang #29

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

“Jangan berpura-pura kuat. Kalau sakit bilang saja. Aku tidak akan memukulmu meskipun kau menangis juga.” –Kim Namjoon

“Aku menyukaimu.” — Min Yoongi

“Bantu aku … untuk mencintaimu.” — Oh Sena


previous chapter

Sesekali Sena masih terisak saat dia berjalan ke kamarnya dibantu oleh Jimin. Dia memberitahu Jimin di mana letak kamarnya, dan Jimin dengan sigap mengantarnya ke sana.

Sesungguhnya dia masih ingin menangis. Sakit rasanya saat dia harus mengakhiri hubungan dengan Namjoon. Hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, sesuatu yang sukses membuat hatinya robek untuk kedua kali setelah nyaris dilecehkan oleh Ro.

“Ini kamarmu?”

Suara pria dengan nada lembut di sampingnya membuatnya menoleh, kemudian mengikuti arah tunjuknya. Ia mengangguk. “Hm. Ini kamarku.”

Jimin pun menggeser pintu tersebut, kemudian memapah Sena masuk. Ia mendudukkan Sena di tepi ranjang. Dan tak lama kemudian, Seokjin datang sambil membawa segelas air.

“Minumlah.”

Sena menerima gelas kaca itu, lantas menyesap isinya sampai ludes. Jimin dan Seokjin memperhatikan bagaimana Sena membuat suara meneguk air dengan mata tertutup, seolah meresapi. Dan Seokjin cepat-cepat menerima gelas kosong dari tangan Sena.

Gomawo, Oppa.”

“Sekarang tidur saja. Aku sudah menyuruh dayang-mu untuk membuatkan kompresan air hangat agar matamu tidak bengkak. Kaja, berbaringlah. Akan kuselimuti.” Seokjin dengan telatennya membantu Sena untuk berbaring bahkan membantunya melepas sepatu. Setelah Sena sudah berbaring dengan baik, ia pun merentangkan selimut dari bahu sampai ujung kaki. Kemudian menata rambut Sena yang sedikit berantakan.

Ia tersenyum. “Tidurlah yang nyenyak. Kita akan bertemu lagi begitu kau bangun.”

Sena tahu kalau ruangannya ini hanya memiliki beberapa jendela yang itu tidak bisa dijadikan jalan masuk sinar matahari karena memakai tirai renda. Namun saat ini dia tengah merasakan sinar matahari memeluknya hangat. Dia sangat menyukai paparan sinar matahari, dan sinar yang berasal dari senyum Seokjin adalah salah satu yang paling disukainya. Ia tak tahan untuk tidak tersenyum. Kepalanya mengangguk, menurut.

“Aku tinggal dulu. Jimin-a, ayo keluar.”

“Tunggu!”

Kedua pangeran itu langsung menoleh. Seokjin mendekat, “ada yang kau butuhkan?”

Sena mengarahkan telunjuknya pada Park Jimin. “Aku ingin mengobrol sebentar dengan Jimin, Oppa. Bisakah kau biarkan kami?”

Seokjin memutar kepalanya pada Jimin, lalu menatap Sena lagi. “Tentu. Kalau begitu aku keluar duluan.”

“Kau ingin bicara padaku?” tanya Jimin dengan penasaran sekaligus tak percaya setelah Seokjin benar-benar keluar dari ruangan tersebut.

“Um. Hanya sebentar. Duduklah di sini.” Sena menepuk sisi ranjangnya yang kosong, meminta Jimin untuk menempatinya. Tentu saja Jimin menurut tanpa banyak protes.

Mereka terlibat kontak mata yang cukup lama dalam diam.

Jimin mulai risih karena hatinya terus bergejolak tiap kali melihat rupa itu. Makin lama dia makin takut pada dirinya sendiri. Bagaimana kalau dia semakin berharap dan semakin takut kecewa? Kemungkinan-kemungkinan itu jelas ada. Tapi mana yang akan terjadi, itulah yang tidak bisa dia tebak. Dia takut jika kemungkinan terburuklah yang akan terjadi. Bagaimana kalau setelah putus dengan Namjoon, Sena berpaling pada Yoongi? Dirinya sadar, Sena tidak melihatnya. Bagaimana seorang gadis akan melihat seorang pria jika pria itu sendiri memilih untuk tetap bersembunyi?

“Jimin.”

Ne?” Jimin mengangkat kedua alisnya.

“Apakah aku bisa memohon sesuatu darimu?”

“Kau butuh bantuan?” tanya Jimin balik, dengan ekspresi bingung.

Sena mengangguk. “Aku sangat membutuhkan bantuanmu.”

“Apa itu?”

Sena menggigit bibirnya sebentar, agak ragu. “Bantu aku … untuk mencintaimu.”

Jimin menyandarkan punggungnya pada tembok, lima meter dari kamar Sena setelah berjalan linglung seperti orang mabuk. Matanya tampak kosong, berkedip-kedip dengan ritme waktu yang sama.

Untuk mencintaimu….

Untuk mencintaimu….

Untuk mencintaimu….

Ia pun menghela napas sambil memeremas dada kirinya yang rasanya ingin meledak saja.

Apa ini? Kenapa ini? Kenapa tiba-tiba? Kenapa aku? Ada apa sebenarnya?

Rasanya dia masih tidak bisa mempercayai hal itu.

Sena meminta bantuannya untuk mencintainya. Sesaat setelah mengakhiri hubungan dengan Namjoon.

Apakah dia sengaja melakukannya? Ada apa ini sebenarnya?!! Kenapa begitu tiba-tiba?!

Rasanya Jimin ingin mengubur diri. Haruskah dia melakukannya? Haruskah dia menghianati Kim Namjoon?

Tapi aku tidak bermaksud menghianatinya. Aku bahkan tidak menyuruh Sena mengakhiri hubungan dengan Namjoon hyung. Sisi lain hatinya berucap demikian.

Ia meremas rambutnya kuat.

Kendalikan dirimu, Park Jimin. Kendalikan dirimu. Ini tidak benar. Sungguh tidak benar. Pasti ada yang salah di sini. Pasti.

Kemudian menepuk-nepuk pipinya.

Sadarlah, Park Jimin. Mungkin ini hanya jebakan.

Ia mengangguk cepat.

Tapi untuk apa Sena menjebakmu? Bisa jadi dia benar-benar serius, Park Jimin. Kau tidak lihat matanya?

“Ah shikkeuro!” Reflek dia berteriak, yang kemudian disesalinya begitu dia menyadari bahwa ada seseorang yang sejak tadi berdiri di depannya. Buru-buru dia pun berdiri tegak.

“Ajudan Sejin.”

“Kau sedang apa, Pangeran? Sejak tadi aku memanggilmu.”

Jimin menggaruk tengkuknya canggung. “Maaf. Aku … aku hanya sedang banyak pikiran.”

Ajudan Sejin tersenyum tipis. “Aku datang untuk memberitahumu tentang pertemuan malam ini, Pangeran. Paduka Raja ingin mengajak kalian makan malam bersama sebagai ucapan selamat datang dan perayaan selesainya kompetisi.”

“Jadi kompetisinya sudah selesai?”

“Ya, Pangeran.”

“Itu artinya sudah ditentukan siapa yang akan menjadi penerus raja?”

“Ya. Nanti malam, Paduka Raja akan mengumumkan seseorang yang akan menjadi penerusnya. Untuk itu, karena masih ada waktu, kau diperbolehkan untuk istirahat, Pangeran. Dan jangan lupa pakailah jubah resmi untuk pertemuan nanti.”

Jimin mengangguk. “Arasseo.”

Sena tidak tahu kenapa dia diseret salah satu dayangnya ke sebuah ruang yang penuh dengan alat-alat aneh yang tidak dikenalinya. Di saat dia bangun tidur tadi tahu-tahu dayang judesnya sudah di depan mata sambil mengatakan dengan judes, “Tidurmu nyenyak, Tuan Putri? Sejam lagi akan ada perjamuan makan malam resmi dari Paduka Raja. Anda harus ikut saya untuk berdandan.”

Ya, berdandan, Sena ditarik ke tempat yang memuat satu meja berisi kaca besar dan penuh dengan alat-alat kecil untuk berdandan. Dia pasrah saja saat disuruh duduk menghadap kaca tersebut. Wajahnya tampak cantik, padahal dia baru bangun tidur dan menangis beberapa jam lalu. Tidak lagi ditemukannya wajah seorang gadis dekil dengan rambut berantakan karena banyak kutu dan mata belekan sehabis bangun tidur. Hanya ada seorang perempuan muda dengan rambut hitam panjang yang memakai dress berwarna biru dengan leher yang diikat oleh kalung berwarna senada dress-nya.

“Kalian, buat Tuan Putri menjadi perempuan paling cantik untuk malam ini dan berikan dress resmi untuk pertemuan. Mengerti?”

Empat dayang bagian kecantikan yang memiliki jabatan lebih rendah dari dayang judes pribadinya itu berseru mengerti lalu mulai melaksanakan perintah.

“Tuan Putri, bisakah Anda berdiri?” Seorang dayang memintanya dengan sopan, dan Sena tidak kuasa untuk menolak meski dia tidak tahu alasan kenapa dia harus berdiri.

Dan begitu dia berdiri, dayang itu malah berjalan ke belakangnya dan….

SRET!

“YAA!! APA YANG KAU LAKUKAN?!!

Sena menyilangkan kedua tangannya di depan dada begitu dayang tersebut melepas gaunnya dalam sekali tarik. Di pantulan cermin sendiri tampak dirinya yang hanya terbalut dalaman, berusaha menutup bagian terlarangnya.

Si dayang judes memutar bola mata. “Mereka hanya akan mengganti pakaianmu saja, Tuan Putri.” Kemudian dayang judes bernama Hwang Shin Bi itu bergumam, “Padahal badannya tidak bagus-bagus amat.”

Sena langsung menoleh dengan mata melebar. “Yaa! Kau pikir aku tidak dengar ejekanmu?!”

Shinbi langsung membungkuk sopan. “Maafkan saya, Tuan Putri. Saya hanya sengaja.”

Yaa!” Sena ingin sekali memaki dayang pribadinya itu jika saja dayang-dayang kecantikan itu tidak dengan tiba-tiba melepas dalamannya juga.

“KALIAN INI, HENTIKAN!!!”

Para pangeran telah berkumpul di ruang makan utama istana dengan jubah resmi masing-masing. Begitu juga dengan raja dan ketujuh selir. Meja dengan banyak kursi itu penuh, hanya sisa satu yang lurus dengan raja, dan memang selalu begitu.

Kursi itu sudah pasti akan ditempati oleh putri raja yang selama ini dinyatakan hilang. Dan siapa dia, semua yang di sini sudah tahu dengan pasti.

Makanan sudah terhidang rapi di atas meja, namun tak ada satu pun yang memulai makan. Semuanya menunggu penghuni kursi yang selama ini kosong. Dan dia datang tak lama kemudian bersamaan dengan ketukan sepatu yang terdengar rendah.

Semua mata menatapnya dengan penuh kagum. Ia begitu memesona dengan gaun biru putih panjangnya. Melenggok dengan mata ragu menuju satu-satunya kursi kosong di meja tersebut.

Raja Bang tersenyum begitu di dapatinya kursi yang selama ini kosong telah ditempati oleh si pemilik. “Baiklah, sekarang semuanya lengkap.”

Sena risih. Ketujuh pangeran menatapnya, begitu juga dengan ketujuh selir raja. Sebenarnya itu hal biasa, dia sudah sangat biasa dipandangi seperti itu oleh orang-orang. Tapi, mengingat fakta jika dia baru saja putus hubungan dengan Namjoon, rasa-rasanya semua mata itu seperti tengah mengadili. Ia pun berusaha menghindar dengan menunduk.

“Makanan hari ini terlihat enak, bukan? Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum menuju pada intinya? Nanti, keburu tidak napsu makan dan makanan-makanan ini akan terbuang sia-sia. Putriku, Bang Sena, sekarang kau sudah tidak perlu makan makanan langsung dari alam lagi. Makanlah yang kau suka di sini, kau bebas memilih mana pun.”

Sena sangat tidak menyukai itu, jujur. Dia malah semakin tertekan dengan perhatian Raja. Oh plis, ini adalah hal baru untuknya.

Semuanya mulai makan dengan tenang setelah raja memulai. Ada atmosfer yang beda di sini. Semuanya, mungkin selain raja, tampak begitu tertekan dengan suasana ini.

Mayoritas dari para pangeran sibuk menebak siapakah diantara mereka yang berhasil menjadi penerus raja. Dari kalangan selir sendiri, mereka takut jika bukan merekalah yang akan menjadi permaisuri agung nanti. Hanya ibu Min Yoongi yang berharap dia akan tersingkir dari jabatan yang membuatnya makin menderita itu. Dan hanya Kim Namjoon yang enggan lagi memikirkan tentang tahta.

Begitu selesai makan, suasana berubah menjadi tegang. Gerak-gerik raja tampak menghawatirkan. Ia menatap satu persatu selir, begitu juga dengan para pangeran. Seperti sedang mencoba menebak apa yang tengah dipikirkan oleh mereka. Jujur, ia tahu betul isi kepala 14 orang ini, namun wajahnya sama sekali tidak berubah, tetap tenang dengan senyum sedikit yang menghiasi. Senyumnya makin lebar begitu bertemu pandang dengan anak tercinta.

“Penerus raja nantinya akan mendapat izin bersyarat untuk menikahi Tuan Putri. Jadi, siapa penerus raja itu dan apa syarat yang telah ditetapkan, semua itu ada di tangan Yang Mulia Putri Bang Sena.”

Sontak semua mata tertuju lagi padanya. Dari cara menatap mereka, mereka terlihat seperti orang-orang yang sedang dipermainkan. Khususnya Jimin yang melebarkan matanya tidak percaya. Apakah mungkin? Itulah pertanyaan pertama yang terlintas di kepalanya.

Sena menggigit bibir bagian bawahnya takut. Kembali dia menunduk.

“Angkat kepalamu, Tuan Putri. Kau harus berani menatap langsung pada orang-orang di depanmu karena sebentar lagi kau akan menjadi istri raja masa depan yang harus berani berhadapan dengan banyak orang.”

Perintah yang terdengar tegas dan penuh penekanan itu serta merta membuat Sena mengangkat dagunya dengan perlahan. Ia mulai memberanikan diri menatap satu persatu orang di meja itu terkecuali raja. Ketika tatapannya bersiborok dengan Namjoon, lelaki itu langsung membuang pandangan, membuat dada kirinya serasa seperti sedang diinjak sepatu berduri.

“Sekarang kau bisa mengumumkan siapa penerusku, Yang Mulia Putri.” Suara ayahnya kembali terdengar. Yang itu sudah pasti membuat Sena makin tertekan.

Ia mengambil napas dalam lalu membuangnya pelan-pelan. Kemudian dia pun mengangguk mantap. “Saya telah memutuskan siapa yang akan menerima jabatan sebagai penerus Paduka Raja. Namun … sebelum itu saya ingin memperingatkan jika keputusan ini bersyarat. Yang artinya, saya dan Raja Bang telah menyepakati syarat ini bersama.”

Sena menjeda kalimatnya untuk menatap Yoongi dan Namjoon dengan seksama. “Seseorang yang akan menjadi penerus raja sekaligus pangeran yang akan menikahi saya setelah usia saya 20 tahun … adalah … Park Jimin.”

Pangeran yang disebut namanya itu nyaris saja terjungkal ke belakang jika dia tidak bisa menahan diri. Ibunya, yang duduk beberapa kursi darinya juga sama terkejutnya. Wanita itu sampai berkaca-kaca, dan menutup bibirnya yang mendadak bergetar.

“Dan itu berarti, Jiyeon-nim akan dinobatkan menjadi Permaisuri Agung di masa depan.”

Raja Bang tersenyum tipis.

“Sementara untuk syaratnya sendiri. Saya dan raja memutuskan untuk melepas gelar keluarga bangsawan dari Yoonbin-nim dan Namsun-nim serta melepas jabatan Min Yoongi sebagai pangeran kedua dan Kim Namjoon sebagai pangeran keempat dan mengubahnya menjadi asisten pribadi untuk penerus raja dan istri dari penerus raja. Syarat ini telah disepakati, mengingat tingkah laku kedua pangeran yang kerap kali melakukan kekerasan fisik pada satu sama lain selama menjalani masa kompetisi, yang mana sikap tersebut merupakan hal yang dilarang dalam peraturan istana. Dan sebagai gantinya, Yoonbin-nim selaku ibunda dari Min Yoongi serta Namsun-nim selaku ibunda dari Kim Namjoon akan dimutasi dari istana dan tidak akan diperbolehkan lagi menggunakan fasilitas Kerajaan Savanah. Sekian.”

Setelah berbicara dengan cara yang telah diajarkan dayang judesnya, Sena pun memutuskan untuk pergi duluan dari ruangan ini karena ia tak mampu lagi menahan bendungan air matanya. Sungguh, dia tak bisa melihat ekspresi Namjoon ataupun Yoongi yang pasti merasa sangat dipermainkan dalam permainan ini. Dia ingin segera ke kamarnya untuk mengunci diri, hanya untuk bergelung dengan rasa bersalah yang telah dibuatnya sendiri.

Sementara itu di ruang makan utama istana, Raja Bang diam-diam tersenyum puas dengan kinerja putri semata wayang. Namun senyum itu hanya bertahan sebentar sebelum kemudian berubah begitu mendapati gurat senang Yoonbin.

Sebegitu senangnyakah dirimu kulepas?

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s