Bangtan House [#8 Kagemusha]

ohnajla || family, friendship, bromance, romance, marriage life || Teen || Chaptered 

Main Cast: 

– BTS members

– OC

Prolog | Rumah No. 1 | Rumah No. 2 | Rumah No. 3

Rumah No. 4 | Rumah No.5 Rumah No. 6 | Rumah No.7

*Kagemusha = kembaran*

Yoongi saat itu sedang jalan-jalan di tepi sungai Han sambil mendengarkan lagu. Tidak biasanya memang dia jalan-jalan di pagi hari, apalagi pukul 9 dengan matahari yang sudah cukup panas. Hanya menggunakan kaos hitam berlengan pendek dengan beggie pants berwarna senada, dia melenggang dengan kerennya menyusuri tepi Sungai Han sambil menyenandungkan lagu yang didengarnya. Akhir-akhir ini dia suka dengan rap, makanya dia banyak mendengarkan lagu Homme.

Matanya yang kecil tapi tajam tampak berkeliaran kesana-kemari di balik topi hitamnya. Dia menikmati pemandangan sekaligus para gadis berpakaian olahraga yang sedang jogging berlawanan arah dengannya. Terkadang matanya mengikuti gerakan gadis-gadis itu sampai menoleh 180 derajat demi menikmati karyacipta Tuhan. Sungguh indah. Senyum mesum tak hentinya nampang di wajahnya.

Lalu entah bagaimana matanya menangkap sosok itu.

Seorang gadis berkaos hitam dan bercelana beggie hitam yang tampak asik bermain ponsel sambil jalan menghampirinya. Dari ujung kepala sampai ujung kaki gadis itu memakai segala hal berwarna hitam, sama sepertinya. Dan kulit putih gadis itu menjadi satu-satunya warna yang paling kontras dengan pakaiannya.

Ia berhenti melangkah. Senyum mesumnya hilang entah kemana. Fokusnya sekarang hanya pada gadis itu yang makin lama makin dekat dengannya.

Min Yoongi terpesona.

Tiba-tiba dia teringat dengan wejangan Sejong beberapa waktu lalu.

“Jodohmu itu adalah hasil refleksi dari dirimu.”

Ia pun tersenyum lebar. Segera ia pun melanjutkan langkahnya. Tak peduli meski gadis itu tengah berjalan padanya, dia juga sedang ingin berjalan di jalur ini. Dan….

SYUT!

Tepat saat mereka hampir bertabrakan, gadis itu bisa menyingkir dengan cepat dan berlalu begitu saja. Yoongi hampir terjungkal ke depan karena dia sudah ngegas sekencang-kencangnya agar bisa bertabrakan dengan begitu keras dengan si gadis. Lalu gadis itu mengomelinya, dan dia pun ambil kesempatan itu untuk PDKT.

Sayangnya gadis jaman sekarang terlalu pintar. Yoongi berbalik dengan wajah kesal. Ia pun segera ambil langkah seribu menghampiri gadis itu. Kembali bermodus dengan pura-pura menabrak bahu si gadis. Kali ini berhasil. Tapi mungkin tidak, karena ponsel gadis itu mendadak terlempar ke pijakan paving dan komponennya pun berantakan tak karuan.

Yoongi membuka mulutnya lebar. Ada retakan yang sangat jelas di layar ponsel itu. Mampus. Ia sesekali melirik si gadis yang masih berdiri kaku seperti patung di dekatnya. Apakah dia marah? Apa dia mati?

Hawa-hawa mematikan pun menggelitik bulu-bulu dada Yoongi. Yoongi meneguk ludah. Dengan pelan ia mengambil langkah mundur.

Dia harus kabur.

Tepat saat dia berbalik dan akan lari, kerah belakang kaosnya tiba-tiba ditarik, membuatnya tercekik jika tidak segera mundur.

“Mau pergi kemana kau, huh? This annoying bastard! Lihat apa yang sudah kau lakukan pada ponselku! Ganti tidak, huh?! Ganti!”

Yoongi menutup satu telinganya dengan jari. Gadis ini mengerikan juga kalau berteriak. Dia agak menyesal karena sudah berniat melakukan pendekatan dengannya.

“Aku tidak sengaja. Salahmu kenapa main ponsel sambil jalan-jalan.”

PAK!

Untuk pertama kalinya Yoongi dipukul di kepala oleh gadis yang bukan kakak-kakaknya. Ah … mantap soul sakitnya.

“Aku tidak mau tahu! Pokoknya ganti ponselku! Kalau kau tidak mau, aku akan laporkan pada polisi.”

“Ah wae?! Aku hanya tidak sengaja menyenggolmu! Dia jatuh karena kau yang sengaja melemparnya! Lagi pula kau punya apa huh sebagai bukti? Aku akan melaporkanmu ganti dengan tuduhan pemfitnahan.”

PAK!

Kepalanya dipukul lagi. Kalau ini adalah kartun, mungkin di kepalanya sudah ada bintang-bintang yang mengelilinginya, ditambah dua benjol bertingkat.

“Kalau aku bilang kau merusak ponselku, berarti kau merusak ponselku! Lihat! Kau merusak ponselku!” Entah sadar atau tidak, gadis itu menginjak-injak sendiri ponselnya sampai benar-benar rusak. Yoongi menganga tak percaya. Apakah gadis ini gila, pikirnya.

Yaa! Yaa! Yaa! Kau itu malah makin merusaknya bodoh!”

Seolah memang disengaja, gadis itu memunguti serpihan-serpihan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas. “Ini akan menjadi bukti yang kuat kalau kaulah yang merusak ponselku.”

Michin sonyeo! Kau sendiri yang merusaknya! Aku hanya tidak sengaja membuatnya jatuh!”

Bingo! Yoongi masuk jebakan. Gadis itu menoleh padanya dengan senyum iblis. “Akhirnya. Kau. Mengaku. Juga. Bastard.”

Yoongi meneguk ludah. Padahal dia dikenal cukup cerdas tapi kenapa sekarang jadi begitu idiot? Kalau ada pilihan Cancel dan Apply untuk ‘PDKT dengan gadis ini’ mungkin sekarang Yoongi akan memilih Cancel. Sayangnya tidak ada pilihan lain untuk dia selain Next.

Arasseo arasseo! Aku akan mengganti ponselmu. Berapa sih harga ponselmu, huh? Sejuta? Dua juta?” tanyanya sok punya. Padahal dia tidak punya sepersen pun uang untuk menggantinya, karena dia saja masih minta orangtua.

“Tujuh belas juta.”

Mwo?! Seolma! Ponsel jelek seperti itu pasti hanya tigaratus ribu.”

PAK! Kena pukul lagi. Hari ini adalah hari memukul Yoongi nasional.

“Tiga ratus ribu jidatmu! Ini ponsel merek baru, eoh! Jangan sama-samakan harga ponselku dengan baju jelekmu itu!”

Otomatis Yoongi melihat kaos yang tengah dipakainya. Ya juga, harga kaosnya memang 300ribu won. Eh? Darimana gadis itu tahu?

Dia pun menatap si gadis dengan mata menyipit. “Tahu dari mana kau kalau harga bajuku tiga ratus ribu? Kau ini mata-mata, machi? Malhae, sejak kapan kau menguntitku? Hah, sudah kuduga. Makanya kau memakai baju yang sama denganku dan sengaja menginjak-injak ponselmu karena kau sebenarnya fans-ku kan? Kau ingin aku yang mengganti ponselmu jadi kau bisa menciumi ponsel yang kuberi sesuka hati di rumah. Keuchi?” Kali ini ekspresi wajahnya berubah drastis. Dia menyeringai. Haha, rasanya menyenangkan sekali memutar balik keadaan. Kini bisa didapatinya ekspresi kalah dari wajah gadis itu. Mau apa kau, huh? Kau pikir bisa dengan begitu saja mengalahkan Min Yoongi jjangjjangman bbungbbung? Jangan harap domba manis.

“Mengoceh apa sih? Kau ingin kupukul lagi, huh?”

Yoongi langsung pasang pertahanan diri begitu si gadis mengangkat tangannya bersiap memukul. Setelah tahu kalau ternyata itu hanyalah sebuah ancaman, dia segera berdiri tegak dengan kerennya sambil berdehem berulang kali.

Arasseo, arasseo. Aku akan menggantinya.” Akhirnya dia menyerah juga.

“Kau memang harus menggantinya,” jawab si gadis dengan sedikit penekanan.

“Tapi, bukankah kita harus tahu dulu nama masing-masing?” Gadis itu spontan mendelik padanya, membuat Yoongi meneguk ludah padahal belum diapa-apakan. “A-ani, maksudku, aku sekarang tidak bawa uangnya. Kau pikir tujuh belas juta itu hanya sebesar upilmu? Biar bagaimanapun kau harus memberiku waktu. Kau tahu ‘kan apa itu cicilan?”

Gadis itu memutar bola mata. Seolah bilang ‘terserahlah, I’m so done with you’.

Melihat ekspresi itu, Yoongi pun tersenyum dengan kerennya sambil mengulurkan tangan. “Aku Min Yoongi, namamu siapa?”

Gadis itu memukul tangan Yoongi dengan kejamnya. “Oh Sena.”

Yoongi meratapi telapak tangannya yang panas karena pukulan gadis itu. Kemudian seolah tidak merasa kesakitan dia pun kembali tersenyum. “Salam kenal, Sena-chi.”

Sena menatapnya aneh dengan dahi berkerut, sebelum akhirnya menghela napas lelah.

“Aku akan mengganti ponselmu nanti, janji. Tapi, beri aku waktu dua bulan, eoh? Aku akan mengumpulkan uang dulu baru bisa membelikanmu ponsel dengan merk yang sama. Kalau begitu….” Yoongi menggaruk tengkuknya, bibirnya membentuk lengkungan tipis. “Bisakah kita bertukar nomor?”

PAK! Inilah rekor terbaik Yoongi dipukuli oleh orang yang sama, di tempat yang sama dan dalam hari yang sama. Dan sekarang dia sudah tidak bisa menerimanya begitu saja.

Yaa! Kau pikir kepalaku ini karung tinju, hah?! Apa maksudmu memukul kepalaku terus?! Aku itu sudah bilang kalau aku akan mengganti ponselmu!”

Sena memutar bola mata jengah. Ia pun menarik topi Yoongi ke bawah sampai Yoongi terbungkuk-bungkuk karenanya. “Dasar bodoh, idiot, sok keren. Apakah otak di dalam kepalamu itu bekerja, huh? Apa maksudmu bertukar nomor kalau ponselku saja sudah wafat? Sedikit pintarlah kalau mau menggodaku. Sudah baik aku tidak menyeretmu ke polisi. Cih.”

Yoongi K.O. Pada akhirnya hari itu dia hanya tahu nama gadis itu saja, sementara ponselnya dirampas oleh gadis itu sebagai jaminan. Jaminan kalau Yoongi pasti akan membelikannya ponsel baru. Cukup kejam memang. Tapi Yoongi senang. Setidaknya PDKT-nya berjalan meskipun tidak lancar seperti perkiraannya.

TBC

Advertisements

One Reply to “Bangtan House [#8 Kagemusha]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s