Falling Crazy in Love #7 [Stereotype 2]

ohnajla || romance, schoollife, family, friendship || Teen || Chaptered 

Suga BTS aka Min Yoongi, Oh Sena (OC), V BTS aka Kim Taehyung, Lee Soomi (OC), Kihyun Monsta X aka Yoo Kihyun (cameo), Minhyuk Monsta X aka Min Minhyuk (cameo)

Stereotype

#1 #2 #3 #4 #5 #6  

Kencan ini terasa begitu canggung. Padahal bagiku ini bukan yang pertama.

Dia masih tidak mau membawaku pulang ke rumah setelah sesi lesnya dengan anak sekolah dasar itu dan malah mengajakku berkeliling Seoul.

Tolong, Seoul itu tidak sempit.

Idenya itu terkadang gila sekali. Beruntung aku bisa menghentikannya dan kami memutuskan untuk duduk-duduk di tepi sungai Han saja.

Sekali lagi Yoongi mentraktirku makanan. Kali ini adalah sosis ikan yang kami beli sebelum datang ke sungai Han.

“Aaaa~”

Aku pun membuka mulut untuk menerima suapan darinya.

“Anak pintar,” pujinya sambil menarik tusuk sosis dari mulutku. Aku tersenyum tipis mendengarnya.

“Ternyata kau bisa bertingkah konyol juga ya.”

Tubuhnya berguncang karena tertawa. “Begini-begini aku juga manusia. Masih punya selera humor, bukan psikopat kesepian.”

Kucubit pipinya yang menggembung saat mengunyah sosis ikan.

“Oh ya, besok aku libur kerja. Kau mau tetap kuantar atau bagaimana?”

Kutatap mata kecilnya lamat-lamat. Sebenarnya aku tidak begitu suka dengan keputusannya untuk mengantarku kerja sekaligus menungguiku sampai sore. Kesannya malah aku ini manja sekali sampai-sampai mengekang orang lain –yang awalnya bukan siapa-siapaku- itu untuk bersamaku seharian penuh. Bahkan menurutku, mengantarku kerja saja sudah terlalu jauh untuk hubungan kami. Dia bukan suamiku, jadi tidak ada kewajibannya untuk mengantar-jemputku kemana pun aku pergi.

“Aku berangkat sendiri saja besok.”

Wae?” tanyanya, berhenti mengunyah.

Kuambil lagi satu tusuk sosis ikan sisanya dan memasukkannya ke dalam mulutku. “Aku tidak mau merepotkanmu. Sudah dua hari ini kau mengantarku sambil menungguku seharian penuh. Memangnya kau tidak punya agenda liburan sendiri? Aku tidak mau menyusahkanmu lagi.”

Dia pun pergi membuang sampah kemudian duduk lagi, membuka soda dan menghabiskan setengahnya. “Menyusahkan apanya? Justru yang selama ini disusahkan adalah kau. Setiap hari kau harus mengantar makanan ke rumah, menungguiku sakit, melaporkan ini itu ke eomma. Menungguimu bekerja tidak sesusah apa yang sudah kau lakukan pada keluargaku. Kau lupa? Sejak hari ini aku adalah namjachingu-mu. Aku akan melakukan apa pun untukmu untuk membayar hutang-hutang budiku. Agenda libur apanya sih, aku tidak tertarik pada banyak hal selain dirimu.”

Sebaris senyum tercipta di wajahku. Aku pun berusaha menyamarkannya dengan meminum soda bagianku sendiri. Jadi begitu, akhirnya dia sadar juga dengan apa yang sudah kulakukan selama ini untuknya. Sebenarnya ucapan terima kasih saja sudah cukup bagiku, tapi kalau dia memang ingin melakukan semua hal itu … aku bisa apa? Toh aku sendiri yang senang dengannya.

“Aku hanya iri melihat Taehyung bisa melakukan banyak hal untuk Soomi.”

Aku pun otomatis menoleh, menatap sisi wajahnya yang sedang menatap lurus ke depan.

“Bisa kubilang, Taehyung itu adalah seorang alien bodoh yang terperangkap dalam tubuh si tampan. Kupikir dia hanya tahu apa-apa saja tingkah teraneh di dunia ini dan hal-hal yang bagi orang lain bodoh. Tapi, Tuhan memang adil. Dia tidak sebodoh itu kalau sudah berurusan dengan Soomi. Mungkin itulah kenapa Soomi diciptakan. Dia ada karena Taehyung ada. Ah, atau sebaliknya? Bukannya kakakmu itu setahun lebih tua darimu? Berarti Taehyung ada karena Soomi? Atau … ah molla. Kenapa aku jadi membicarakan orang lain.”

Aku yang sejak tadi menyimak pun tertawa. Dia benar-benar konyol. Berbicara sendiri, mengoreksi sendiri, menyalahkan diri sendiri. Mungkinkah ini wajah aslinya yang selama ini ditutupinya dariku?

Kurasa aku makin menyukainya.

Author POV

Bagi Soomi, bekerja sebagai karyawan di sebuah butik adalah pertama kali untuknya. Dia telah terbiasa dengan kehidupan mewah yang memanjakannya sejak lahir. Mau makan tinggal minta, mau beli apa-apa tinggal gesek kartu, mau keluar negeri tinggal minta orangtua, beda sekali dengan kondisinya sekarang yang makan saja menumpang dari bibinya, barang-barangnya disita bank, bahkan akan pergi karyawisata saja harus bekerja dulu.

Akhirnya seorang putri tahu bagaimana sulitnya hidup setelah kabur dari kerajaan.

Untuk kesekian kalinya dia menyeka keringat di pelipisnya yang sejak tadi terus merembes turun. Dia masih berdiri di belakang seorang ibu-ibu berusia 30-an dengan sabar. Wanita itu sudah ada di butik ini sejak dua jam lalu. Dan Soomi selalu berdiri di belakangnya untuk menjawab berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan wanita itu.

“Menurutmu mana yang lebih cocok untukku dari dua bentuk tas ini?”

Ingin sekali Soomi mengumpat ketika melihat dua tas yang ditunjuk oleh wanita itu.

Bukannya tadi dia sudah tanya yang ini? Kenapa sekarang tanya lagi sih?

Tapi mengingat dirinya yang hanya seorang karyawan, ia pun menjawab dengan lembut. “Sepertinya yang warna hijau. Bentuknya tidak terlalu meremaja, tidak juga terlalu kuno. Saya rasa itu akan cocok dengan style Anda, Nyonya. Bukankah Nyonya tadi bilang kalau Nyonya ingin tampil glamour di depan orang lain?”

Soomi memang paling cerdas untuk urusan fashion, karena memang dia paling suka mengoleksi banyak jenis fashion sejak dulu. Seandainya dia sadar, sebenarnya dia itu akan lebih cocok menjadi fashion konsultan daripada pekerjaan seperti ini. Namun sayang sekali, dia benar-benar tidak menyadari bakatnya sendiri.

Justru wanita itulah yang sadar akan potensi Soomi. Dia tersenyum tipis pada penjelasan Soomi sembari mengusap-usap permukaan tas tersebut. “Baiklah, saya ambil ini.”

Gadis itu menghela napas lega. Akhirnya. Dengan segera dia pun membawa tas itu ke kasir untuk dibungkus oleh rekannya.

Tapi wanita itu justru menyerahkan selembar kartu nama padanya. Dengan alis terangkat, dia pun menerima kartu itu.

“Hubungi saya kalau kau ada waktu, Nona.”

Ibu itu berlalu begitu saja tanpa bicara apa-apa lagi. Soomi yang masih terheran-heran pun lekas membaca tulisan di kertas itu.

Madam Seo | Direktur Utama Fashion Consultant Center

Dahinya mengerut dalam.

“Apa ini maksudnya?”

Belum sempat dia mendapat jawabannya, seorang rekannya menepuk bahunya dan menyuruhnya untuk lanjut bekerja. Buru-buru dia pun mengantongi kartu itu dan pergi menghampiri pelanggan lain.

Si tampan Kim Taehyung sudah menunggu di depan butik tempat Soomi bekerja sejak beberapa menit lalu. Dia yang awalnya duduk di atas kursi sepedanya pun memutuskan untuk duduk di sebuah bangku kayu yang ada di depan butik tersebut. Dia terus sibuk dengan ponselnya dan sesekali menengok ke balik dinding kaca tebal yang memisahkan teras butik dengan butik itu sendiri. Benar-benar mengabaikan para gadis yang banyak lalu lalang di depannya sambil membicarakannya.

Lama sekali sih?

Dia pun menggigit bibir bagian bawahnya, kemudian berpaling kembali ke ponselnya.

Sebenarnya tidak ada yang dia lakukan dengan ponselnya.

Hanya melihat-lihat galeri ponselnya yang penuh dengan wajah Soomi dan dia sendiri.

Bosan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi? Dia paling benci kalau harus bengong dan meladeni tingkah para gadis yang sejak tadi mencoba menarik perhatiannya.

Lebih baik bosan melihat muka tembem Soomi daripada meladeni mereka.

Sekali lagi dia menengok ke belakang.

Kedua sudut bibirnya akhirnya terangkat begitu dia mendapati bayangan kekasihnya tengah membuka dan menutup pintu butik. Soomi tidak tahu keberadaannya. Gadis itu tampak kelelahan dan hanya fokus mengerahkan tenaga untuk mendorong pintu tersebut.

Taehyung segera beringsut dan menepuk bahu sempit Soomi dari belakang.

“KYAA!! Ah Taehyung….” Soomi mengerucutkan bibirnya kesal setelah menyadari kalau seseorang yang menepuk keras bahunya adalah Taehyung.

Lelaki itu memamerkan senyum kotak khasnya. “Salahnya lama sekali.”

Karena mereka berdiri tepat di depan pintu, Soomi pun menyeret Taehyung untuk menyingkir dan mendekati sepeda lelaki itu. Dia duduk di kursi yang tadi diduduki Taehyung. Melepas penatnya sekaligus lelah tubuhnya.

“Ada pelanggan yang sedikit menyebalkan tadi. Jadi aku tidak bisa keluar tepat waktu.”

Taehyung menatap lamat sisi wajah kekasihnya setelah dia ikut duduk. Ini adalah pertama kalinya dia melihat Soomi selelah itu. Ingat, putri adalah putri. Taehyung tidak pernah melihat Soomi kepayahan karena bekerja keras.

“Mau kupijat?”

Soomi menggeleng pelan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Taehyung. “Nanti lelahnya akan hilang sendiri kalau tidur.”

“Ya sudah, tidur saja.”

“Maksudku bukan di sini, tapi di rumah.”

Andwae. Tidurlah sebentar di sini. Aku tidak mau kau jatuh hanya karena mengantuk.”

Soomi mendongak, tersenyum sambil menatap Taehyung sebentar, kemudian menyamankan posisinya. “Benar ya? Aku boleh tidur di sini?”

“Hm. Tidur saja.”

“Kau tidak akan meninggalkanku ‘kan?”

Soomi bisa merasakan sebuah lengan tengah merangkul bahunya. Ia merasa hangat, sekaligus nyaman. Lalu tak lama indera pendengarannya menangkap suara berat milik orang yang telah mengambil hatinya selama ini.

“Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Ia terlanjur senang mendengar sebaris kalimat itu sampai kedua lengannya melilit pinggang Taehyung. “Aku percaya padamu.”

Setelah itu alam mimpi menyapanya.

Taehyung mengelus lembut rambut hitam Soomi sambil menciumnya. Dia tidak peduli pada orang-orang yang masih ramai berlalu lalang di sekitar mereka meski hari sudah mencapai tengah malam. Di saat Soomi sudah benar-benar jatuh ke alam bawah sadarnya, Taehyung dengan pelan mengubah posisi gadisnya untuk berbaring dengan pahanya sebagai bantal. Dia bahkan melepas coat-nya hanya agar Soomi tidak kedinginan akibat hembusan angin malam yang jahat. Dan hal terakhir yang dilakukannya sambil menunggu waktu adalah mengusap-usap rambut Soomi sambil menyenandungkan beberapa lagu.

Entah bagaimana, kedua pasangan muda itu datang bersamaan pukul 2 pagi. Yoongi yang membonceng Sena, dan Taehyung yang membonceng Soomi. Sena dan Soomi heboh sendiri melihat mereka berempat yang datang bersamaan. Kedua-duanya langsung turun dan menunjuk satu sama lain.

Yaa! Kenapa baru pulang sekarang? Kau tidak lihat ini sudah jam berapa?” Soomi tiba-tiba saja mengomel tanpa menyadari apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Dia menatap Yoongi dengan sedikit mengintimidasi.

Eonni juga kenapa baru pulang sekarang?” seru Sena tak mau kalah. Sesekali dia melirik Taehyung meminta jawaban.

“Dia tidur sebentar tadi, makanya sedikit terlambat,” sahut Taehyung, menggantikan Soomi.

“Kalau aku pulang jam segini memang sudah tidak aneh. Tapi kau, apalagi bersamanya. Darimana saja kalian sampai baru pulang sekarang?” Soomi tetap mengoceh karena merasa aneh melihat Sena dan Yoongi baru pulang kerja dini hari seperti ini. Sena tidak pernah pulang pagi. Bahkan meskipun bersama Yoongi, Sena selalu ada di rumah lebih dulu sebelum Soomi.

“Aku tidak kemana-mana,” balas Sena dengan mata sedikit membelalak. “Hanya makan di luar saja, tahu-tahu sudah jam segini.”

“Adikmu kupinjam dulu. Kasihan dia belum pernah jalan-jalan.” Dengan seenak jidat, Yoongi membocorkan kebohongan Sena begitu saja. Sena langsung menoleh sambil melotot. Dia menyuruh Yoongi hanya diam di tempat, tapi Yoongi hanya nyengir sambil mengedipkan sebelah matanya.

Aigoo … tahu-tahu sudah kencan,” goda Taehyung yang terkekeh setelah melihat pelototan Sena.

“Oh … jadi kalian sehabis kencan? Dasar. Kalau kencan lihat-lihat waktu. Ini sudah jam berapa, huh? Ayo masuk. Kalian berdua, pulanglah sana.” Soomi menarik lengan Sena untuk mengikutinya segera masuk rumah, sementara tangannya yang lain melambai untuk mengusir dua lelaki itu. Tapi baru saja dia akan membuka pintu gerbang, Taehyung tiba-tiba bersuara.

“Tidak ada night kiss nih?”

Dengan gerakan cepat, Soomi menoleh. “Sudah kukasih tadi.”

Taehyung cemberut. “Tadi ‘kan di sini, bukan di sini.”

Soomi mendadak kesal melihat Taehyung yang memajukan bibirnya secara dibuat-buat. “Aku tidak mau di situ.”

“Ah wae? Kau tidak sayang aku lagi?”

Yaa! Jangan bertingkah kekanak-kanakkan. Pergi sana.” Soomi pun mengabaikannya dan melanjutkan kegiatannya membuka pintu gerbang. Hanya dia yang diberi kunci pintu gerbang karena dia sering pulang larut malam.

“Aku juga mau night kiss.”

Kedua gadis itu spontan menoleh ke asal suara. Min Yoongi, dengan setelan serba hitamnya dengan santainya tersenyum menopang dagu sambil mengerling jahil pada Sena. Entah kenapa, yang kesal di sini justru Soomi.

“Kalian berdua ini. Cepat pergi! Atau kalau tidak kubocorkan ban sepeda kalian.”

“Ah! Itu ide bagus. Karena kalau ban sepedaku bocor, aku tidak akan bisa pulang ke rumah. Dan karena tidak pulang, aku harus menginap. Sepertinya malam ini Sena harus menginap di rumah Yoongi karena aku akan tidur denganmu, Nyonya Kim masa depan.”

Wajah Soomi sudah memerah mendengar penuturan Taehyung. Dia tiba-tiba melepaskan pegangannya pada pintu gerbang dan berjalan cepat mendekati lelaki itu. Taehyung sendiri tampak menunggu dengan senyum pangerannya.

“Kau ini menyebalkan kalau sudah malam. Janji setelah ini langsung pulang?”

Taehyung mengangguk patuh. “Aku janji akan langsung pulang, sayangku.”

Soomi memutar bola matanya jengah. Kemudian dia mengambil napas dalam-dalam lalu membuangnya pelan. Diraihnya tengkuk Taehyung dan menempelkan sekilas bibirnya pada bibir pria itu. Tapi sayang sekali, Taehyung entah bagaimana memeluknya erat sampai dia tidak bisa melepaskan diri. Ciuman yang rencananya hanya sekilas tahu-tahu berlangsung lama sekali sampai menit ketiga. Itu pun setelah Soomi mencekik leher Taehyung. Kalau tidak begitu, Taehyung tidak akan melepaskannya.

Di sisi lain Sena ternyata menghampiri Yoongi. Gadis itu tidak protes ketika Yoongi meraihnya dalam pelukan dan mengecup dahinya. Mereka cukup tenang, tidak seperti pasangan di sana. Apa yang ada di hati mereka tersampaikan dengan baik melalui tatapan mata. Yoongi dengan lembut menyelipkan rambut Sena ke belakang telinga.

“Sampai bertemu besok pagi. Tidurlah yang nyenyak.”

“Eum, kau juga.”

Yoongi menepuk pelan lengan atas Sena sebelum membiarkan gadis itu diseret paksa oleh Soomi untuk segera masuk ke rumah.

Sampai kedua gadis itu menghilang di balik pintu gerbang, kedua lelaki itu masih betah berada di sana. Kedua-duanya lantas menatap satu sama lain.

Yaa, malam ini aku menginap di rumahmu.”

Wae?

“Aku sudah mengantuk sekali.” Taehyung memanyunkan bibirnya. “Sudah tidak kuat pulang sekarang.”

Yoongi terkekeh. “Kupikir kau ikut tidur juga tadi.”

“Menurutmu aku dan Soomi tadi tidur di hotel? Kami tidur di kursi pinggir jalan. Kau pikir aku akan tidur begitu saja dan membiarkan orang-orang jahat menculik gadisku? Aigoo mataku sudah tidak betah,” ocehnya sembari mengucek kedua matanya yang mulai memerah.

Yoongi tersenyum mendengar penuturan Taehyung. Tapi siapa tahu, dalam hati dia iri mendengarnya. Taehyung bisa berkorban begitu banyak pada Soomi, tapi dia?

Arasseo, kaja.”

TBC

Advertisements

One Reply to “Falling Crazy in Love #7 [Stereotype 2]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s