Falling Crazy in Love #8 [Stereotype 2]

ohnajla || romance, schoollife, family, friendship || Teen || Chaptered 

Suga BTS aka Min Yoongi, Oh Sena (OC), V BTS aka Kim Taehyung, Lee Soomi (OC), Kihyun Monsta X aka Yoo Kihyun (cameo), Minhyuk Monsta X aka Min Minhyuk (cameo)

Stereotype

#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7

Special guest:

Jin BTS aka Kim Jin (sersan), Rap Monster aka Rap Monster Kim (detektif), J-hope BTS aka Jung Hwimang (pencopet)

H-2 sebelum karyawisata.

Sena, Soomi, Taehyung dan Yoongi berkumpul di café tempat kerja Sena. Di sanalah mereka menghitung gaji masing-masing dan mengumpulkannya.

“Dua ratus ribu won,” ujar Sena sambil menempatkan amplop beserta tangannya ke atas meja.

“Empat ratus ribu won,” sahut Yoongi yang juga melakukan sikap yang sama seperti Sena.

“Limaratus ribu won,” ucap Taehyung yang dengan cueknya melempar amplop gajinya ke atas meja.

Dan tersisa Soomi yang belum mengumumkan nominal penghasilannya. Gadis itu tampak masih sibuk menghitung isi amplopnya. Membuat yang lain harap-harap cemas jika jumlahnya tidak mencapai target.

Tiba-tiba saja Soomi menghela napas dengan bahu turun. Dia menatap satu persatu kawannya dengan wajah cemberut.

“Tidak sampai empat ratus?” tebak Sena dengan ragu.

Soomi menghela napas lagi. Lalu, “Aku dapat enamratus!! Yee!”

Ketiga remaja di sana pun menghela napas lega. Jadi totalnya sudah lebih dari cukup, karena biaya karyawisata sebesar 1,5 juta won.

Taehyung pun segera mengumpulkan semua amplop dan menyerahkannya ke tangan Soomi. “Cepat bayarkan tagihannya dan besok kita belanja untuk keperluan karyawisata.”

Soomi mengangguk senang. “Baiklah.”

Sena tersenyum simpul, akhirnya masalah terselesaikan. Begitu juga Yoongi yang tersenyum karena Sena.

Namun tiba-tiba saja, seorang pria berusia 30-an mungkin, muncul entah dari mana dan mencolek bahu Soomi. “Bendamu jatuh.”

“Apa?” Tanpa menaruh curiga sedikitpun, Soomi langsung membungkuk ke bawah, mencari sesuatu miliknya yang kata orang itu jatuh. Namun dia tidak menemukan apa pun. Malah mendengar teriakan keras ketiga kawannya.

“PENCURI!!!”

MWO?!”

Taehyung dengan sigap mengejar ahjussi bertopi itu sedetik setelah dia berteriak dengan suara mengerikannya. Orang-orang di kafe, dan di jalanan dekat kafe mendadak ramai karena teriakannya. Sena dan Yoongi ikut membantu Taehyung mengejar si pencopet. Termasuk Soomi yang harus beres-beres banyak barang dan menyembunyikan sisa kumulasi uang di dalam ranselnya sebelum ikut mengejar.

Amplop yang berhasil dicuri adalah amplop miliknya. Sial. Nominalnya paling besar diantara yang lain. Dia tidak bisa membiarkan uang hasil jerih payahnya hilang begitu saja oleh pak tua sinting yang membodohinya itu.

“Sena tunggu aku!”

Aksi kejar-kejaran itu menjadi heboh di jalanan tersebut. Si pencopet tak hentinya menabrak banyak orang, karena hari itu memang hari senin yang padat. Taehyung dimudahkan olehnya karena dia tidak harus menabrak banyak orang untuk mengejar. Kakinya yang panjang itu mengayun dengan cepat seakan tubuhnya terbuat dari bongkahan kapas. Hanya dua meter jarak diantara dirinya dengan si pencopet. Namun sebuah suara tiba-tiba menghentikannya.

“BERHENTI DI SANA, KIM TAEHYUNG!!”

Lantas, Taehyung pun berhenti. Dadanya naik turun sambil matanya memperhatikan dengan seksama bagaimana si pencopet kesulitan karena terjebak di arus lalu lintas yang padat. Yoongi berhenti di sampingnya tak lama kemudian dengan kondisi napas terengah. Jika saja Yoongi tidak meneriakinya, mungkin dia akan sama terjebaknya seperti si pencopet itu.

“Mana pencopetnya? Mana?” Sena begitu datang langsung membuat kerusuhan dengan menggoyangkan lengan Yoongi dan Taehyung bergantian. Yoongi yang kesal, langsung memeluknya dan menciumnya, yang sudah pasti membuat Sena langsung diam seperti patung Liberty.

Sena tahu-tahu oleng saat Soomi tak sengaja menabraknya karena rem blong. “Amplopku! Dia mengambil amplopku!”

“Kau ini jangan ikut berisik,” seru Yoongi kesal, sementara Taehyung tak mengacuhkan dua gadis itu dan malah memperhatikan si pencopet yang kini berhasil lolos dari jalanan.

“Tapi dia mencuri amplopku! Taehyung-a!!” Soomi berteriak merengek. Tapi sayang, Taehyung sedang fokus pada si pencopet itu.

“Kim Taehyung!”

TING!

Lampu pejalan kaki pun menyala. Taehyung pun segera melesat menuju arah kepergian si pencuri. Tidak peduli lagi dengan kawan-kawannya, termasuk kekasihnya sendiri.

Yoongi lantas mengambil alih ransel Soomi lalu menggandeng dua gadis itu seperti ibu-ibu muda yang menggandeng dua anak taman kanak-kanaknya. “Ayo kita kejar si pencopet. Lari yang cepat!”

Tanpa aba-aba Yoongi menarik tangan dua gadis itu untuk mengikutinya berlari. Tapi sayang, Yoongi terlalu cepat karena memang atlet lari, sementara dua gadis di belakangnya –yang olahraga saja ogah-ogahan, tak bisa menyejajari dan melepas paksa cekalan Yoongi dari pergelangan tangan mereka. Yoongi memutuskan berlari duluan, sementara dua gadis itu mengekor di belakang.

BRAK!

“Brengsek! Kau kemanakan uangnya, hah?!” Teriakan mengerikan Taehyung terdengar tujuh meter dari lokasi Sena dan Soomi sekarang. Mereka pun segera mempercepat lari mereka untuk segera sampai di tempat.

“Apa kau tahu bagaimana sulitnya dia mencari uang?! Dasar sialan! Meskipun kau lebih tua dariku aku tidak akan segan membunuhmu!”

“Kim Taehyung!!” Soomi berteriak keras begitu didapatinya Taehyung tengah bersiap mengayunkan tongkat besi berkarat menuju perut si pencopet. Teriakan itu berhasil membuat Taehyung membatalkan rencananya dan menoleh ke belakang.

“Jangan lakukan itu, Taehyung! Andwae!” Soomi menjerit sambil berjingkrak-jingkrak di tempat karena Yoongi dan Sena serentak menahannya mendekat.

Taehyung pun kembali memandang si pencopet yang sudah babak belur karenanya. “Kau lihat? Dia bahkan berusaha melindungimu padahal sudah jelas-jelas kau baru saja menghancurkan kebahagiaannya. Kau sungguh telah membuatku marah, ahjussi bajingan. “

“Taehyung!!!”

Suara sirine polisi pun terdengar dekat. Cepat-cepat Yoongi berlari ke arah Taehyung untuk menghentikan aksi brutal kawannya itu. Kalau Taehyung tidak segera dihentikan bisa-bisa Taehyung-lah yang dinyatakan tersangka karena tengah melakukan percobaan pembunuhan pada seseorang. Beruntung Taehyung bisa segera dijinakkan sebelum para polisi tiba. Namun, mereka semua yang ada di sana tetap harus ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

“Anak ini … mencoba … membunuh … ku,” tuduh si pencopet sambil menunjuk Taehyung.

Soomi yang duduk di sebelah Taehyung pun melotot tidak terima. “Apa katamu?! Dia tidak akan mencoba membunuhmu kalau kau tidak mencuri uangku!”

Pencopet yang babak belur itu menyeringai. “Kau itu idiot nak, tidak usah ikut campur urusan laki-laki.”

Yaa! Kau—”

“Nona, tolong tenang dan duduklah kembali,” tegur detektif bernama terang Rap Monster Kim sambil mengisyaratkan Soomi untuk kembali duduk.

Soomi pun menghela napas dan duduk di sebelah Taehyung lagi. “Tapi ahjussi itu sudah mencuri gajiku, Hyeongsa-nim.”

“Gaji? Kau bekerja, Nak?”

Soomi mengangguk cepat seperti anak kecil. “Aku dapat uang itu dari pekerjaanku sebagai karyawan butik.”

“Butik mana?”

“21st Century Girl Boutique,” jawab Soomi lengkap dengan aksen Inggrisnya yang bak native speaker.

Rap Monster yang sejak tadi pasang tampang kaku dan mengerikan, tahu-tahu tersenyum dengan begitu hangatnya sampai dua cekung tersembunyi di pipinya mencuat.

Soomi terpesona sesaat.

“Kau gadis yang lucu, Nona.”

Mendadak wajah Soomi merona. Taehyung memandang kekasihnya aneh. Dia tidak pernah melihatku seperti itu.

“Jadi, Nona Oh Sena, apakah kau melihat orang ini mencuri uang kawanmu?” Kini Rap Monster beralih bertanya pada Sena.

“Ya. Saya melihatnya sendiri bagaimana ahjussi itu mengambil amplop kakak saya setelah dia membodohi kakak saya yang Anda anggap lucu barusan.”

Rap Monster tertawa. “Oh astaga, kenapa gadis jaman sekarang lucu-lucu sekali. Baik, baik. Jadi, kau melihatnya dengan jelas. Lalu bagaimana denganmu, saudara Min Yoongi? Apakah kau juga melihatnya.”

“Ya, aku melihatnya.”

Rap Monster mengangguk mengerti. “Oke, jadi, kesimpulannya, Anda positif tersangka, Tuan Jung Hwimang. Kau telah mencuri amplop uang milik Nona Lee Soomi dan melemparnya ke pekarangan sebuah rumah. Sayang sekali, ternyata Anda melemparnya pada rumah yang salah. Karena itu adalah rumah milik saya.”

Detektif berlesung pipi itu lantas mengeluarkan amplop putih yang tak asing dari dalam laci. Diserahkannya langsung ke hadapan Soomi, yang diambil cepat oleh gadis itu. Dia menghitung jumlahnya lagi, dan menghela napas lega.

“Untunglah masih utuh,” desah Soomi sembari memasukkan amplop tersebut ke dalam ranselnya.

Rap Monster tersenyum puas. Kemudian ia pun berteriak pada seseorang yang merekam semua perbincangan di ruangan tersebut di ruang lain. “Hyung-nim! Sekarang kau bisa menggiringnya ke penjara!”

Tak lama kemudian muncullah seorang polisi tampan berbahu lebar dengan nama dada Kim Jin. Dia langsung menarik tangan Jung Hwimang untuk segera keluar.

Yaa! yaa! Apakah ini yang disebut dengan keadilan?! Anak itu juga barusan nyaris membunuhku! Dia sama-sama melakukan kejahatan!”

“Kau ingin minum wedang lem di dalam sel nanti?” ujar polisi Kim Jin dengan nada lembut, namun sarat akan sarkastisme.

Jung Hwimang langsung tutup mulut.

“Kalian boleh pulang sekarang,” ujar Rap Monster sambil sibuk membereskan peralatannya sendiri.

Keempat remaja itu segera bangkit dan berterima kasih pada detektif tersebut. Mereka serentak menghela napas begitu menginjak luar gedung kepolisian.

“Ah! Jantungku rasanya ingin lompat. Aku takut sekali berada di sana,” seru Soomi dengan berlebihannya sambil memegangi dada kiri sekalian merakul lengan Taehyung.

“Aku tidak menyangka kalau ahjussi itu melemparkan uangnya ke rumah detektif Kim,” sahut Yoongi yang saat ini sedang iseng menyandarkan tubuhnya pada Sena karena kelelahan saat lari-lari.

“Dia menyebutku bodoh tapi dia sendiri yang bodoh,” ketus Soomi dengan wajah berapi-api.

Taehyung tersenyum. Setidaknya usahanya tadi membuahkan hasil. Kini dia tidak lagi harus mendapati ekspresi kecewa di rupa sang kekasih. Diusapnya gemas rambut Soomi sampai berantakan. Soomi memekik dan cemberut karena tatanan rambutnya sudah dirusak.

“Taehyung!”

“Senang melihatmu kembali ceria, gadis manis.”

Soomi menata kembali rambutnya masih dengan wajah cemberut. Tak lama kemudian, setelah menatap mata indah Taehyung, dia tersenyum. Dan dengan usilnya membalas perlakuan Taehyung dengan cara yang sama.

“Terima kasih sudah membantuku, tapi kumohon jangan lagi seperti itu, hm? Kau terlalu tampan untuk jadi pembunuh.”

Taehyung nyengir lebar, reaksinya sungguh berbeda dengan Soomi. Kesannya dia seolah tidak peduli dengan penampilan, asal Soomi suka, dia tidak masalah mau jadi kelihatan seperti pengemis sekalipun. Toh, Taehyung yang tampan tidak akan ada artinya tanpa Soomi yang kelewat ceria dan berlebihan itu.

“Ayo kuantar ke sekolah.” Ia pun meraih tangan mungil Soomi ke dalam kungkungan tangan lentiknya. Lantas membawanya menjauh dari kantor polisi, kembali ke kafe Sena untuk mengambil sepeda kayuhnya yang tertinggal di sana.

“Badanmu berat, Yoong.”

Yoongi yang masih asik bermalas-malasan pada Sena, menoleh sedikit, kemudian memeluknya erat setelah beberapa detik. “Ayo pulang.”

“Lepaskan. Kita dilihat banyak orang,” gerutu Sena sambil melepas paksa rangkulan Yoongi di pinggangnya.

“Kalau kau tidak keberatan, ayo mabuk soda di rumahku.”

Sena langsung menggeleng tanpa pikir panjang. “Shireo. Aku sedang menstruasi. Perempuan yang datang bulan tidak boleh minum soda.”

“Menstruasi? Jadi, kau hamil?”

PLETAK!

“Kalau aku menstruasi itu artinya aku tidak hamil, Min Yoongi. Kau ini sudah hampir kelas senior dan kau sama sekali belum bisa membedakan hamil dengan datang bulan. Lepaskan.”

Yoongi pun melepaskan pelukannya. “Keurae. Kalau begitu bagaimana dengan minum? Tidak akan ada masalah kan kalau minum?”

“Tidak jika minum yang kau maksud adalah minum air mineral atau sari gingseng.”

Yoongi mengerucutkan bibirnya. Ia pun mengikuti kemana perginya Sena. “Benar-benar tidak bisa?”

“Lagi pula kita belum cukup umur untuk mengonsumsinya.”

“Sekali saja tidak akan ada masalah, Sena.”

Sena tiba-tiba berhenti dan berbalik. Membuat Yoongi nyaris saja menabraknya jika tidak menahan tubuhnya. “Kenapa kau memaksa sekali, Yoong? Shireo, aku tidak mau minum sebelum waktunya.” Lantas gadis itu kembali melanjutkan perjalanannya.

“Orangtuaku besok akan bercerai.”

Spontan Sena berhenti. Dengan perlahan dia pun berbalik. “Apa?”

“Besok mereka akan menjalani sidang perceraian.”

Segera Sena menghampiri Yoongi sambil berlarian. “Wae? Kenapa mendadak seperti itu?”

“Mereka sudah merencanakannya sejak lama, ini bukan rencana mendadak.”

“Tapi kenapa?”

Yoongi mengangkat bahu, sambil tersenyum miring. “Mungkin mereka sudah tidak sanggup lagi bertahan setelah anak kesayangan mereka meninggal dunia.”

Sena mengambil satu tangan Yoongi, menggenggamnya erat. “Bisa jadi bukan itu alasannya, Yoong.”

“Hm, semua ini bermula dari kecelakaan. Mereka terlalu muda untuk mengerti cinta dan yah … akhirnya bercinta dan jadilah aku dengan kakakku. Baguslah kalau mereka memilih berpisah.”

“Kau sama sekali tidak khawatir? Lalu bagaimana dengan dirimu, Yoong?”

Yoongi menggendikkan bahu. “Entahlah. Mungkin aku akan memilih hidup mandiri. Kurasa hidup sebatang kara di dunia ini tidak ada salahnya juga.” Ia pun menarik Sena lebih dekat dan menempatkan tangannya di lingkar pinggang Sena, sementara tangannya yang lain menata rambut Sena dengan telaten. “Kalau bukan karenamu, aku mungkin tidak akan pernah merasakan bagaimana rasanya bekerja itu. Aku telah menandatangani kontrak dengan lembaga kursus musik klasik anak-anak, dan akan aktif bekerja setiap kali mendapat panggilan mengajar privat. Gomawo, sekarang aku telah menemukan jalanku.”

Sena tidak tahu apakah dia harus senang atau sebaliknya dengan kabar ini. Yang pasti dia bisa merasakan sesuatu yang tengah menggelitik perutnya saat Yoongi mencium pipinya dengan lembut, sekaligus sebuah getaran aneh di dada saat didengarnya isakan lirih dari seseorang yang memeluknya erat kini.

Perlahan Sena pun membalas pelukannya, dan mengusap rambutnya pelan untuk menyalurkan ketenangan.

Dua hal telah terjadi bersamaan hari ini. Hal yang bahagia, sekaligus hal yang paling menyedihkan.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s