Freak Hwarang #30 #MyBirthday

ohnajla | fantasy, romance, brothership, friendship | general | chaptered | All BTS member & Oh Sena 

“Jangan berpura-pura kuat. Kalau sakit bilang saja. Aku tidak akan memukulmu meskipun kau menangis juga.” –Kim Namjoon

“Aku menyukaimu.” — Min Yoongi

“Bantu aku … untuk mencintaimu.” — Oh Sena


previous chapter

Sena mengangkat satu tangannya selevel dagu, menampung jatuhan daun kering yang terlepas dari ranting setelah tertiup angin. Dipandanginya kosong daun kecokelatan tersebut, lalu meremasnya dan menjatuhkan serpihan-serpihan daun tersebut ke gaunnya.

Gaun putrinya yang berwarna krem jadi kotor. Namun ia tak melakukan apa pun. Hanya melihatnya tak acuh.

Tiba-tiba sepasang sepatu hitam berhenti tepat di depannya. Sepatu yang tidak ia kenali. Namun dia tahu pasti, itu adalah sepatu milik pangeran.

“Bisakah kita bicara sebentar?”

Tidak perlu mengangkat kepala. Suara itu sudah menjelaskan siapa yang datang.

Dia memejamkan mata sebentar, lantas mengangguk pelan.

“Tolong tinggalkan kami berdua,” ujar si pangeran tersebut pada dayang-dayang yang sejak tadi mengelilinginya. Kemudian pangeran itu duduk di sampingnya.

Tak ada obrolan sama sekali diantara mereka sampai 5 menit terbuang begitu saja. Keduanya hanya duduk bersebelahan. Mendengar kicau burung, gesekan dedaunan kering, termasuk deru napas mereka sendiri.

Sampai kemudian keheningan itu dipecah oleh suara lembut khas si pangeran. “Kenapa kau memilihku?”

Sena tercekat. Pertanyaan itu terlalu sulit. Bahkan dia sendiri masih belum percaya jika ia telah memilih Park Jimin, bukannya Kim Namjoon yang ia cintai ataupun Min Yoongi yang sangat menyayanginya.

Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menggeleng.

Jimin menghela napas. “Kau bisa jujur padaku. Aku tahu pasti ada alasan kenapa kau memilihku, bukannya mereka.”

Jimin benar, Sena memilihnya karena suatu alasan. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas itu.

Ia tak mau Jimin ikut merasa bersalah.

“Kau tidak mau memberitahuku?” Jimin kembali berkicau karena dia tidak memberi respon apa pun. Dan kali ini, Sena mengangguk.

Sekali lagi Jimin menghela napas. “Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Beritahu aku kapan pun kau siap.”

Sena pikir ia tidak akan pernah siap untuk membahas hal itu. Dia takut, takut jika Jimin akan berubah dan membencinya.

“Sebenarnya….”

Sena reflek menoleh. Detik itu juga dia baru menyadari sesuatu. Bahwa Jimin ternyata semakin kurus. Sudah terhitung 7 hari sejak pengumuman penerus raja, 7 hari pula Sena berusaha menghindari Jimin, dan ini adalah pertama kalinya dia melihat rupa itu lagi. Pipi chubby-nya sudah hilang, yang ada sekarang rahangnya makin lancip, seolah sanggup membelah apel menjadi dua bagian.

“Aku masih tidak memercayai ucapanmu,” lanjut Jimin sambil menatapnya dari mata ke mata. “Aku merasa bahwa … semua ini tidak nyata. Apa yang kau katakan sangat tidak masuk akal. Kau bahkan mengindariku selama sepekan ini. Apakah kau bahkan serius dengan pilihanmu?”

Sena mungkin akan mendapat dosa besar karena telah menyakiti seseorang yang sudah sangat baik padanya. Seseorang yang tanpa sepengetahuannya berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaannya, seseorang yang diam-diam khawatir melihatnya menangis, kelelahan dan terluka. Seseorang yang hanya terlihat sebagai bayangan.

Secara tak sadar, Sena telah menyakiti tiga orang sekaligus.

Kim Namjoon yang mencintainya.

Min Yoongi yang menyayanginya.

Dan Park Jimin yang mencintai sekaligus menyayanginya.

Sena pun membuang pandangan, tidak kuat lagi melihat pada mata itu. “Aku serius.”

“Tataplah aku.”

“Kubilang aku serius.”

“Katakan itu sambil menatap mataku, Tuan Putri.”

“Aku serius, Pangeran.”

“Tuan Putri….”

“KUBILANG AKU SERIUS!”

Jimin sama sekali tidak terkejut dengan bentakan itu. Ekspresinya tetap datar, dengan sorot mata yang tak bisa terdefinisi. Ekspresi itu membuat Sena takut. Tahu-tahu kedua matanya sudah berkaca-kaca. Dia berpaling lagi. “Aku serius, Park Jimin. Aku … aku … hiks.”

Jimin tak berkutik. Hanya diam sambil mengamati punggung Sena yang bergetar karena terisak. Sena menangis dengan cukup keras, yang membuat Jimin teringat kembali pada hari dimana dia menyanyi di depan kamar Sena saat gadis itu menangis. Haruskah dia menyanyi lagi sekarang?

Tidak, Jimin tidak mau orang-orang istana tahu bahwa dia bisa menyanyi. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah menarik Sena ke dalam rengkuhan. Toh tidak akan ada yang bisa melarang seorang pangeran penerus raja untuk memeluk calon istrinya sendiri.

“Ini adalah pelukan kedua kita,” gumamnya, tanpa suara.

Hari pernikahan sang penerus raja pun akhirnya tiba. Di usianya yang ke-23, Park Jimin secara tak disangka telah mengenakan pakaian pernikahannya. Saat ini dia sedang berdiri mematut diri di depan cermin, melihat pantulan dirinya yang begitu tampan dalam setelan pernikahan. Bibir tipisnya mengembang, membentuk rupa paling elok yang pernah ada.

Tak lama kemudian, muncullah dua orang pelayan pribadinya. Siapa lagi mereka jika bukan mantan pangeran.

Kim Namjoon. Min Yoongi.

Senyum di wajah Jimin pun luntur. Dia menelan ludah, kemudian berbalik. Kembali bibirnya mengembang, membentuk senyum canggung.

“Acaranya akan segera dimulai,” ujar Yoongi, dengan suara sedikit tercekat namun ekspresi wajahnya tetap datar sebagaimana Min Yoongi aslinya. “Anda harus keluar sekarang, Yang Mulia.”

Makna senyum Jimin berubah. Senyum getir. Selangkah demi selangkah dia menghampiri dua pelayannya itu.

“Tuan Putri….” Kali ini Namjoon yang bicara, “Sudah siap.”

Jimin berhenti dua langkah di depan dua orang tersebut. Ia menatap satu persatu dari mereka dengan bibir yang tetap mengembang. Kemudian, ia merentangkan tangan dan memeluk dua orang tersebut dalam sekali gapai. Direbahkannya dagu lancipnya di titik pertemuan antara bahu Namjoon dan Yoongi.

“Kalian tidak perlu bicara seformal itu padaku, hyungdeul. Maafkan aku karena telah membuat kalian seperti ini. Aku tahu kata maafku ini tidak akan cukup, tapi … kalian tahu ‘kan jika ini membuatku merasa sangat bersalah. Hm, aku akan hidup dengan perasaan itu sampai mati. Aku akan menjaga Sena kalian. Tidak akan kubiarkan dia menangis dan terluka. Aku akan menjaganya dengan baik. Sekali lagi, maafkan aku.”

Usai bicara begitu, punggung Jimin tiba-tiba bergetar. Ia mengeratkan pelukannya pada dua pria itu, berusaha mengontrol diri untuk tidak terisak keras seperti perempuan.

Namjoon dengan perlahan menempatkan tangannya di punggung Jimin untuk menepuk-nepuk punggung itu. Sementara Yoongi, dia menahan diri untuk tidak memberi respon berlebihan karena itu memang bukan gayanya. Yoongi hanya diam di tempat, tanpa melakukan apa pun.

Puas menangis, Jimin pun segera pergi ke ballroom, tempat pesta pernikahannya dengan Sena digelar. Orang-orang sudah berkumpul. Mulai dari kalangan bangsawan sampai yang non bangsawan. Semuanya berkumpul di ruangan itu, hingga rasanya penuh sesak. Ia, bersama Yoongi dan Namjoon di belakangnya, berjalan naik ke altar menghampiri pastor yang telah menunggu di sana.

Tak lama kemudian mempelai wanita pun muncul dari balik pintu utama ballroom ditemani raja dan dayang-dayang yang menjadi bridesmaid-nya. Mempelai wanita luar biasa memesona. Ia memakai gaun modern berwarna putih panjang yang mengekspos bagian bahu dan lengannya. Wajahnya ditutupi kain putih transparan dengan model rambut disanggul. Salah satu tangannya yang terbalut sarung tangan putih tengah berada di genggaman Raja, sementara tangannya yang lain memegang sebuket bunga mawar putih.

Di saat dia berjalan menghampiri mempelai pria, semua mata seolah tersihir. Tak ada satu pun dari mereka yang berniat berpaling, termasuk diantaranya Yoongi dan Namjoon. Perasaan keduanya sama-sama bergemuruh. Mereka tak percaya bahwa gadis yang dicintai mereka selama ini akan menikah, dan ironisnya menikah bukan dengan salah satu diantara mereka.

Ketika mempelai wanita telah sampai di altar, Jimin mengambil alih tangannya dari raja, lalu membantunya untuk menaiki tiga anak tangga.

“Seharusnya akulah yang menggenggam tanganmu seperti itu,” batin Namjoon sambil membuang pandangan.

Jimin sama sekali tidak melepaskan genggamannya meski Sena sudah berdiri berhadapan dengannya. Pastor pun mulai membacakan sumpah-sumpah yang harus mereka ulangi dengan lancar. Dan kedua mempelai ini melakukannya dengan saling menggenggam tangan dan menatap. Sena bisa merasakan bagaimana intensnya tatapan Jimin ke matanya, seolah pria itu tengah mencoba membelenggunya. Dan tak akan melepasnya dengan begitu mudah.

Usai pembacaan sumpah, mereka pun saling bertukar cincin dan dipersilahkan untuk berciuman. Jimin pun mengangkat penutup wajah Sena, ia memajukan wajahnya, menargetkan bibir, namun tiba-tiba saja ia berbelok ke dahi.

Sena tercengang. “Kenapa di dahi?” pikirnya. Sena mengira jika Jimin akan menciumnya di bibir sama seperti yang dilakukan Ro, Namjoon dan Yoongi sebelumnya. Namun, ia tak percaya jika Jimin ternyata memilih untuk mencium dahinya.

Setelah puas mencium dahi Sena, Jimin menurunkan sedikit level wajahnya, berbisik tepat di telinga gadis itu. “Aku berjanji, tidak, bersumpah, aku bersumpah akan membuatmu bahagia dan jatuh cinta padaku. Dan aku bersumpah untuk tetap di sisimu selamanya. Pegang sumpahku.”

Sena pun mengangguk sebagai jawaban. Lantas Jimin menarik tubuhnya kembali tegak, dengan tetap menggenggam erat tangan mungil Sena.

Kini, mereka pun resmi menjadi sepasang suami istri.

Rakyat yang hadir bertepuk tangan meriah, memberikan selamat kepada sepasang pengantin baru. Sena dan Jimin sendiri tersenyum tulus untuk membalas ucapan selamat mereka.

Khususnya ucapan selamat dari empat pangeran yang tersisa.

Seokjin, Hoseok, Jungkook dan Taehyung, memeluk sepasang pengantin secara bergantian. Seokjin bahkan menambahnya dengan usapan penuh sayang di puncak kepala Sena.

“Wah … gadis tarzan-ku sekarang sudah dewasa. Selamat atas pernikahanmu, hm?”

Sena tersenyum. “Gomawo, Oppa.”

“Kalian tidak pernah kelihatan dekat dan malah sering bertengkar tapi justru kalianlah yang menikah. Takdir memang sulit ditebak,” sahut Jungkook.

“Selamat atas pernikahanmu, kawan,” ujar Taehyung sambil menepuk lengan Jimin.

Gomawo.” Keduanya pun kembali berpelukan.

“Kalian akan melakukan malam pertama nanti, hm?”

Sepasang pengantin baru mendadak merona dengan ucapan Hoseok. Jimin pun dengan tawa garing memukul pelan lengan hyung-nya. “Kau ini apa-apaan, Hyung.”

“Dia melakukannya lebih dulu darimu, hyung-deul,” ujar Taehyung pada Hoseok dan Seokjin. Hal itu spontan membuat Jimin memukulnya.

Sena yang ada diantara mereka hanya bisa nyengir bingung. Lalu, tak sengaja matanya mendapati dua orang pria yang tengah menghampiri. Kedua-duanya sama-sama membawa sebuah bingkisan.

“Kalian ini jangan bicarakan itu di depan Sena,” ujar Jimin sebelum akhirnya dia terdiam menyadari kehadiran Yoongi dan Namjoon. Seperti sebuah sinyal, sontak para pangeran yang ada di sana langsung diam. Mendadak atmosfer menjadi sedikit berat.

“Yang Mulia Putri.” Yoongi menjeda kalimatnya sejenak untuk berdehem karena tenggorokkannya serak. “Aku kemari dengan maksud ingin menyerahkan bingkisan ini untuk Anda. Dari, Yoonbin-nim.”

Tanpa menjawab apa pun, Sena merentangkan tangannya untuk merenggut kotak kecil yang terbalut kertas kado merah dari tangan Yoongi. Kemudian dia berdiri lagi di sebelah Jimin. “Terima kasih.”

“Ini … dari Namsun-nim, ibuku. Sebagai permintaan maaf karena tidak dapat hadir dalam pernikahan kalian, Yang Mulia Putri dan Pangeran.”

Jimin mengambilnya sebelum Sena. Ia tersenyum dengan manisnya pada Namjoon. “Terima kasih, Hyungdeul.”

“Kami permisi dulu.” Yoongi dan Namjoon pun membungkuk serentak kemudian pergi bersama.

Kepergian mereka ditemani tatapan kasihan dari yang lain. Khususnya Sena yang memeluk erat bingkisan pemberian Yoongi.

TBC

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s