Swag Couple Series [#29 Robin] #MyBirthday

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

other cameo

**

Intro Boy ver | Intro Girl ver | Want You More

Don’t Mess With Me | Oppa | Nobody Like You

Punishment | Bad But Sweet | Who Are You (1)

Pick Me (1) (2) (3)Who Are You (2) | Chatroom (1) (2) (3)

April Fools’ | Oppa (2)  | Park Jimin  | Date

Dream I Need U  | When You’re Gone

War of Hormones | Min Yoonji | Sorry | Morning Romance

E-mail

Yoonji paling benci tiap kali jam olahraga datang. Dia biasanya akan izin macam-macam untuk menghindarinya. Tapi sekarang jangankan izin, Tao seonsaengnim, guru olahraga kelas 3 sudah lebih dulu mendatanginya untuk mengajaknya olahraga.

“Aku tahu kau sering kali membolos di jam olahraga, Min Yoonji-sshi. Karena itu kuberitahu, di tahun ini tidak ada yang namanya izin kecuali jika kau benar-benar sakit. Kau hanya perlu bertahan selama 6 bulan dan setelah itu tidak akan ada lagi yang namanya jam olahraga. Arasseo?”

Terpaksa Yoonji pun setuju meski sebenarnya dia sangat tidak menginginkannya.

Saat ganti pakaian.

Yoonji tampak duduk tenang di mejanya sambil memegangi baju olahraganya. Entah apa yang sedang dia tunggu. Beberapa siswa perempuan sudah berhamburan keluar menuju toilet untuk ganti baju. Sementara siswa laki-laki banyak yang sudah melepaskan blazer mereka karena akan ganti di kelas.

Sampai siswa perempuan terakhir keluar dari kelas ini, Yoonji tetap bergeming. Dan itu mampu menarik perhatian semua siswa laki-laki di kelas itu.

“Yoonji-a, kau tidak ganti baju?” tanya Sanghyuk yang sekarang tengah sibuk mengeluarkan kemeja dari celananya.

Yoonji hanya meliriknya. Cuek.

Changkyun tertawa mengejek. “Kasihannya diabaikan.”

Sanghyuk melotot kesal pada Changkyun lalu mendengus begitu melihat Yoonji lagi.

Jooheon yang melihat kesempatan pun lantas mendekati Yoonji sambil melepaskan kancing kemejanya. “Kucing manis, mau sampai kapan kau di sini? Kuberitahu ya, kelas ini dijadikan tempat berganti pakaian untuk laki-laki. Kau disitu untuk menonton apa sekalian ganti baju juga?”

Sanghyuk terkekeh. Rasanya menyenangkan bisa membalas sikap Yoonji yang kurang ajar padanya barusan. Yoonji kurang ajar pada orang yang salah.

Yoonji ternyata juga tidak meladeni kata-kata Jooheon. Suara para lelaki yang mengasihani Jooheon pun terdengar bertalu-talu di ruangan ini. Membuat Yoonji gentar.

Dia trauma pada kelompok laki-laki.

Namun Yoonji berusaha tenang sambil menatap lurus pada Jimin yang tengah buru-buru melepas blazer, rompi dan dasi. Sepertinya dia mengerti kenapa Yoonji masih berada di kelas. Untuk itu kenapa dia cepat-cepat melepas atribut seragamnya sebelum berlarian kecil menghampiri kekasih.

Kaja,” ajaknya dengan suara lirih yang langsung membuat Yoonji berdiri detik itu juga. Tentu saja pemandangan itu disambut dengan sinis oleh kawanan Jooheon.

“Oh, ternyata dia maunya diajak pacar,” sahut Sungjae asal yang tanpa malu melepas kemejanya  saat itu juga meski Yoonji masih ada di kelas.

“Tentu saja. Min Yoonji ‘kan gadis alim,” tambah Changkyun sambil sesekali melirik Yoonmin.

Sanghyuk menyeringai. “Alim? Sepertinya kau salah istilah, Tuan bule. Istilah yang benar untuk gadis sepertinya adalah ‘manja’.” Ia menjeda kalimatnya untuk menatap sekilas Yoonmin dengan tatapan mengejek. “Hanya bergantung pada pacar, tch. Dasar jalang.”

Jimin dengan tanggap langsung menutupi kedua telinga Yoonji dengan tangannya. Sikap yang membuat para pria di sana bersiul mengejek.

Dan ketika mereka hampir keluar dari pintu belakang, seseorang tiba-tiba menghalangi jalan mereka.

Jooheon.

Lelaki itu melipat kedua lengannya di dada, menatap kedua mangsanya dengan senyum puas. “Kalian tidak bisa pergi kemana-mana, Tuan dan Nyonya Park. Akses untuk keluar sudah ditutup. Kalau mau berganti pakaian, lakukan di sini. Mengerti?”

“Jooheon-a,” panggil Jimin sambil berjalan maju, mencoba berani untuk berhadapan satu lawan satu dengan Jooheon. “Tolong jangan lakukan ini, eo? Yoonji itu perempuan, kau … tidak kasihan padanya?”

“Kasihan? Aku? Padanya?” Jooheon pun tertawa. Kemudian ekspresinya berubah serius. “Dia saja tidak pernah bersikap baik padaku. Kenapa aku harus kasihan padanya?”

Jimin menelan ludah susah payah. Jooheon terlalu garang untuk menjadi lawannya. Dia yang hanya sebutir debu ini tidak ada apa-apanya dibanding Jooheon.

Namun demi Yoonji, Jimin tidak akan menyerah sekarang. Dia akan lakukan apa pun untuk melindungi gadisnya.

“Jooheon-a, kumohon. Biarkan kami keluar, eo? Aku akan melakukan apa pun yang kau suruh jika kau mengizinkan kami.”

Mendengar kekasihnya memohon, Yoonji tidak terima. Dia tidak mau membuat Jimin makin diinjak-injak oleh yang lain. Tidak, dia tidak ingin Jimin makin diremehkan.

Keurae! Aku akan ganti di sini. Kau pikir aku takut ganti di sini karena kalian semua laki-laki?!”

Jimin reflek menoleh dengan mata melebar dan mulut terbuka. Tidak, Yoonji-a. Andwae!!

Tapi Yoonji tak memedulikan maksud tatapan Jimin. Dia malah dengan percaya dirinya mengangkat dagu, berniat menantang Jooheon.

“Ow….” gumam Jooheon setelah terdiam cukup lama. “Oke, silahkan ganti sekarang.”

Y-yaa!” Jimin tahu-tahu berseru pada Jooheon. Jooheon hanya membalasnya dengan gendikkan bahu. Lantas Jimin pun berlarian mendekati Yoonji. “Andwae! Aku akan mengantarmu ke lab, kita ganti di sana saja, eo?”

Tapi Yoonji malah membuka satu persatu atribut seragamnya. Matanya menatap Jimin lurus. “Tidak ada gunanya memohon pada ular sepertinya. Aku tidak mau terlambat karena kehabisan waktu.”

“T-tapi Yoonji-a….”

Jimin melotot begitu melihat Yoonji dengan santainya melepas satu persatu kancing kemejanya, hingga sedikit demi sedikit mulai tampak tank top hitam di dalamnya. Respon siswa lain juga tidak jauh beda. Khususnya Jooheon yang sejak dulu suka sekali menggoda Yoonji. Matanya membulat lebar seperti serigala yang mendapatkan mangsanya.

Yoonji pun menyimpan kaos olahraganya di bahu Jimin untuk memudahkannya melepas kemeja. Baru saja tangannya akan bergerak menyibak kemeja putih itu, tiba-tiba seseorang menariknya ke sudut kelas. Lebih tepatnya di ruang kosong kecil antara dinding dan loker.

“Ganti di sini,” kata orang itu sambil menyimpan kaos olahraganya di atas loker –yang entah kapan diambilnya dari bahu Jimin. Kemudian orang itu pun berbalik, menutupinya dari tatapan lapar para lelaki. “Yaa, Park Jimin. Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah, bantu aku.”

Jimin yang masih mencerna apa yang barusan terjadi di depan matanya pun akhirnya sadar. Dia buru-buru mendatangi tempat di mana Jungkook berada dan ikut membuat dinding buatan dari tubuhnya untuk menutupi Yoonji.

Jooheon berdecak. Ah tidak, lebih tepatnya semua berdecak. Jungkook baru saja menggagalkan hiburan mereka. Lagipula siapa juga yang berani melawan Jungkook? Semua orang di sana tahu kalau Jungkook adalah mantan preman. Seorang preman yang akhirnya tobat setelah adiknya dinyatakan menderita kanker darah stadium 2 setahun lalu.

Jimin perlahan menoleh pada Jungkook. “Gomawo.”

“Ini kedua kalinya aku ikut campur urusan kalian. Lain kali jadilah lebih tegas.”

Jimin tersenyum getir. “Arasseo. Maaf merepotkanmu.”

“Aku sama sekali tidak merasa kerepotan. Kalian berdua temanku.”

Gomawo.”

“Berhenti mengatakan itu.”

Mian.”

“Kubilang berhenti.”

Mian.”

Yaa.

Lantas kedua lelaki itu terkekeh geli.

Yaa Changkyun-a, kuperingatkan kau, jangan pernah berkencan dengan gadis yang memakai tank top hitam. Sekalipun dia cantik, jangan.” Tidak perlu menoleh untuk mencari tahu suara siapa ini. Dia adalah si ular berperut buncit bermarga Lee.

Wae? Tank top hitam bukannya seksi?” Im Chang Kyun sialan.

“Seksi tidak, jalang iya. Hahahaha.” Aku ingin membunuhnya.

“Hanya orang bodoh yang mau dengan gadis kurang ajar. Ya memang siapa juga yang mau dengan gadis seperti itu?” Kunyuk bermarga Han rupanya juga ingin kubunuh.

Yaa Jooheon-a, kau melupakan sesuatu.” Kali ini apa yang akan dikatakan si brengsek Yook.

Mwo?

“Gadis manja. Kau melupakan itu.”

“Ah … maja. Jadi Changkyun-a, kau itu jangan berkencan dengan gadis yang memakai tank top hitam karena mereka adalah jalang yang kurang ajar dan manja. Arasseo?”

“Hahaha, kenapa aku yang jadi sasaran di sini?”

“Karena hanya kau satu-satunya yang tidak pernah berkencan di sini.”

Aku sudah tidak tahan lagi.

Yaa.”

Itu bukan suaraku.

“Bisakah kalian berhenti membicarakan itu?”

Itu juga bukan aku.

“Aku bosan mendengarnya.”

Masih bukan aku.

“Memangnya kenapa kalau aku berkencan dengan gadis yang memakai tank top hitam, eo? Maja, aku memang orang bodoh. Keundae wae? Ada masalah dengan itu?”

Itu adalah Park Jimin.

“Kau … berani padaku?” Jooheon tersenyum sinis. Sungguh, aku benci wajahnya itu.

“Untuk apa aku takut padamu?” Jimin menantang, dan itu membuatku tercengang.

Jooheon dan kawanannya tampak menyeringai dan mereka pun mendekat bersama pada Jimin. Apa ini? jangan bilang kalau mereka akan main keroyokan. Jimin! Cepat menyingkir dari sana.

BUG!

Terlambat. Kekasihku yang super imut itu sudah terjengkang duluan ke belakang. Aku pun berlarian menghampirinya, ingin membantunya berdiri. Tapi langkahku terhenti setelah melihatnya menggeleng padaku.

Ia berusaha bangkit dengan tenaganya sendiri.

“Huh, nyalimu boleh juga. Tapi sadarlah dengan kemampuanmu!”

BUG!

“Jimiin!!” Entah bagaimana aku berubah menjadi gadis-gadis di dalam drama. Sayangnya aku tidak menangis, justru mataku nyalang menatap kejadian di depan mataku ini. Tch, sebenarnya kemana perginya Jeon Jungkook? Apa yang membuatnya tiba-tiba izin pulang duluan? Ugh. Kenapa tidak tepat waktu sekali?

“Aku baik-baik saja, Yoonji-a.” Dasar pembohong imut. Dia pikir aku akan percaya?

Si ular berperut buncit beserta rombongannya itu tertawa. Padahal yang ditertawakan juga tidak jelas apa. Mereka pikir mochi-ku sedang bercanda?!

“Wah, sepertinya ada yang sedang berlagak menjadi superman di sini. Tak apa Tuan Putri, aku baik-baik saja. Cuih! Kekanakkan sekali.”

Yang kekanakkan di sini itu kau, ular buncit!

Cih, kenapa bibirku sulit sekali diajak bergerak?

PLAK!

“Kau pikir kau keren karena menjadi ketua kelas? Sadarlah, Park Jimin, kau itu hanya anjing peliharaan kelas.” Kunyuk Han dengan tidak tahu dirinya menghina Jimin sambil menamparnya berulang kali.

Sialan! Aku tak tahan lagi.

PAK!

“Akh!”

Semuanya langsung fokus padaku begitu Changkyun berteriak usai kepalanya kulempar dengan sepatu. Sayang, dia tidak mimisan, padahal aku sudah berharap dia akan mimisan setelah kulempar dengan sepatu kayu hadiah dari Min Yoongi.

Neo!

“Apa?!” Tantangku dengan lebih garang. Mereka kira aku takut hanya karena mereka laki-laki? Mereka hanya tidak tahu saja kalau aku sudah sering berurusan dengan lelaki brengsek semacam mereka.

“Hah! Tidak yang laki-laki, tidak yang perempuan. Dua-duanya sangat mengesalkan.”

Oke, sekarang aku gemetaran.

Mataku melotot tajam saat Changkyun pelan-pelan mendekat sambil mengusap tengkuknya.

“Kau harus tahu kalau laki-laki bisa melakukan hal yang paling gila sekalipun saat dia marah, termasuk pada perempuan.”

Sial. Aku tidak bisa tetap berdiri di sini. Aku harus kabur.

Tapi … Park Jimin….

“Mau kabur tapi menghawatirkan kekasihmu, eh?”

Brengsek. Dia menyadari arah pandangku. Dan dia tersenyum dengan begitu mengerikannya. Sungguh, aku sangat berharap keajaiban segera datang.

“Kalau kau menghawatirkan kekasihmu, maka diamlah di situ. Sekali saja kau bergerak kabur, kupastikan kekasih tercintamu akan tidur nyenyak di rumah sakit.”

Inilah kenapa aku paling benci berurusan dengan pria. Mereka … gila!

Melihatku yang diam ditempat seperti anak ayam yang tak bisa berkutik di jebakan serigala, ia menggunakan kesempatan itu untuk menjatuhkanku dan menindihku.

Sial. KENAPA HARUS TERULANG LAGI KISAH YANG MENYEDIHKAN INI.

Ia terburu-buru membuka sabuk yang melilit celananya.

“YOONJI-A!” Aku bisa mendengar dengan jelas Jimin yang meneriaki namaku. Aku pun bisa mendengar suara pukulan bertubi-tubi di arah yang sama.

Sekarang si brengsek Im tengah berusaha membuka pakaianku. Dan aku tidak akan pernah membiarkannya menyentuh seinchi-pun tubuhku. Meski aku tahu ini terlihat mustahil, aku tidak akan menyerah untuk melukai dirinya.

“MIN YOONJI!”

“Kau itu tidak bisa menutup mulutmu, hah?!”

Rasanya seperti ada sesuatu dalam diriku yang terbakar hebat. Aku merasa lelah, namun aku tidak akan berhenti untuk menyingkirkan mesum menjijikkan ini dari atas tubuhku! Aku harus kuat. Tidak boleh lagi bergantung pada siapa pun, termasuk Park Jimin.

BRAK! PYAR!

Tahu-tahu si mesum itu sudah terlempar ke dinding dan diikuti dengan botol soju yang kemudian pecah dan beling-nya berhamburan ke mana-mana.

CKRIK!

Bunyi yang sama sekali tidak relevan itu terdengar. Membuatku reflek menoleh pada asal suara, dan asal dari mana si mesum Im bisa terhempas ke sana.

Mataku membola. “Seokjin Oppa.”

Mendengarku memanggilnya, dia menoleh dan mengedipkan sebelah mata. “Robin-mu datang, Tuan Putri.” Sedetik kemudian dia sibuk kembali dengan kamera mahalnya. Apa sebenarnya yang tengah dilakukannya itu?

“Kalian ingat siapa aku ‘kan? Meskipun aku bukan lagi kakak kelas kalian, tapi aku ini bisa melaporkan kalian ke kantor polisi dengan tuduhan bullying dan pelecehan seks. Kalian tahu apa konsekuensi dari tuduhan itu? Hm, kalian tidak akan bisa lulus dari sekolah. Dan bisa jadi kalian malah akan dikeluarkan. Tapi, kalau kalian memohon padaku untuk tidak melakukannya, itu tidak akan berguna, karena aku sudah mengirimkan video-nya pada kakakku yang bekerja sebagai kepala kepolisian. Dan sekarang, aku sedang mengumpulkan foto-foto bukti jika kalianlah pelaku dari dua tuduhan itu. Nah, mulai dari sekarang, bersiaplah hidup sengsara, anak-anak nakal.”

Oke, meskipun wajahnya sangat lembut dan baik, ternyata mulutnya tidak jauh beda dengan Min Yoongi. Bisa jadi Yoongi telah menginfeksi senior yang terkenal baik hati dan polos ini dengan mulut pedasnya yang selalu ia banggakan sebagai tongue technology. Serius, Seokjin sunbae bahkan sempat-sempatnya tersenyum manis pada mereka. Tidak sadar kalau dia juga yang baru saja menendang Changkyun, dan hampir membunuh Changkyun dengan lemparan botol soju-nya.

Chaebol memang bebas melakukan apa pun.

TBC

Advertisements

1 Comment

  1. Astaga kasian min yoonji, si mochi emnang mungil ya, kasian banget jimin, ngak bS nolong yoonji…wishhh robinhood korea datang…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s