Swag Couple Series [#30 Love Hate]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

Kim Seokjin BTS

other cameo

**

Chapter #1 – #29

“Yoonji-a. Kau tidak diapa-apakan kan?”

“Yoonji … jawab aku.”

“Min Yoonji.”

“Sayang~”

Yaa!” Akhirnya aku tak tahan lagi untuk membentaknya. Wajahnya langsung merengut, dan aku sangat suka itu. Tapi responku selalu berbeda.

Aku mendengus dan kembali mengobati memar-memar di wajahnya. “Sudah kubilang aku ini baik-baik saja, Park Jimin. Jangan membuatku mengulangi jawaban yang sama.”

“Tapi … aku ingin memastikan.” Dia menunduk sambil memainkan jari-jarinya. Sungguh, itu sangat imut. Tapi kalau dia seperti itu aku jadi tidak bisa mengobati wajahnya.

Yaa, angkat wajahmu.”

Dia menurut dan langsung menjalankan perintah.

Saat ini, kami sedang berada di ruang kesehatan sekolah. Sebenarnya ada dokter sekolah di ruangan ini, namun aku mencalonkan diri untuk menjadi dokter anak ini. Aku ingin mengobatinya, sekalian memakinya.

Tapi sejak tadi aku belum sekalipun memakinya.

Wajahnya terlalu imut dan menyedihkan untuk dimaki. Aku tidak tega.

“Yoonji~”

“Apalagi?” ketusku. Sebenarnya aku tidak mau seketus itu. Tapi ini seperti respon reflek. Setiap kali dia bersikap manja, aku ingin menjadi orang paling kejam di hadapannya.

“Kau benar tidak diapa-apakan Changkyun, ‘kan?”

Itu lagi. Ugh, aku lelah mendengarnya. “Ya.”

“Benar?”

“Hm.”

Dia malah cemberut lagi. Lama-lama kutarik juga bibir imutnya itu. Kenapa dia itu bisa menggoda di saat-saat seperti ini? Bibirnya itu.

“Aku sungguh tidak becus menjagamu, Ji-ya. Aku bahkan pernah menyentuhmu. Huweee aku bukan pria yang pantas untukmu.”

Ji-ya? Apakah itu panggilan baru untukku? Gara-gara itu aku jadi tidak peduli dengan wajah pura-pura menangisnya yang BEGITU IMUT SAMPAI AKU MELUMER DI TEMPAT SEPERTI ABS MIN YOONGI.

Oke, maafkan aku yang sedikit berlebihan.

Aku pun membuang kapas berisi obat merah ke tempat sampah. Lalu membereskan kotak obat.

“Kalau kau merasa begitu, maka berusahalah menjadi pantas untukku. Aku tidak suka pria yang hanya menyalahkan diri sendiri tanpa berinisiatif untuk memperbaiki kesalahannya.”

Suara merengek pura-puranya pun menghilang. Dia cemberut lagi. “Kalau begitu aku tidak akan menjadi pria yang tidak kau sukai.”

“Bagus. Tapi jangan hanya bicara saja. Lakukan.”

Saat aku akan mengembalikan kotak obat ke lemari kaca, tahu-tahu kotak itu sudah raib dari tanganku. Yang ternyata telah berpindah ke tangan mungil Jimin.

“Biar aku saja.”

PAK!

“Akh! Kenapa kau memukulku?!!”

Kuambil lagi kotak obat itu. “Tugasmu sekarang berbaring, Park Jimin. Siapa yang menyuruhmu turun dari ranjang, huh? Berbaring! Ppali!”

Sekali lagi dia menunjukkan bibir bebeknya sambil naik kembali ke ranjang. Aku menunggunya berbaring dulu sebelum beranjak mengembalikan kotak obat itu ke lemari kaca.

“Kau mau makan sesuatu?” Aku bertanya setelah duduk kembali di tepi ranjang yang ditidurinya. Dia mengangguk sambil menatapku dengan sebelah matanya yang bengkak.

“Makan Min Yoonji.”

Ingin rasanya kusate jari-jari imutnya itu.

Aku pun mengambil napas dalam dan menghembuskannya cepat. Min Yoonji tidak boleh emosi pada orang yang baru saja dikeroyok, dosa. “Aku serius, Park Jimin.”

“Aku juga, Min Yoonji.”

Aku tak tahan lagi.

“Akh! Akh! Iya iya! Maaf! Aaaaakh!!”

Kulepaskan cubitan mautku di pinggangnya. Aku sudah tak peduli pada dosa yang akan kuperoleh nanti. “Jadi, kau ingin makan atau tidak.”

Dia menggeleng dengan wajah kesakitan. “Kalau Yoonji tidak lapar, aku tidak akan makan.”

Yaa!

“Aku hanya makan saat kekasihku makan.”

“Kau—”

“Karena aku mencintai Min Yoonji.”

Senyum menggelikan yang dia pamerkan padaku membuatku ingin membuat matanya yang satu lagi sama bengkaknya. Kenapa dia begitu menyebalkan di saat-saat seperti ini? Apakah setiap kali dia sakit dia selalu begini?

Masa bodoh. Tanganku gatal memukul perut ratanya.

“Terserah kau saja. Kalau kau mati kelaparan, jangan harap aku akan datang ke pemakamanmu.”

“Ah … aku ini sakit, Ji-ya. Kenapa kau memukulku terus?”

“Karena kau menyebalkan!”

“Aku menyebalkan karena mencintaimu.”

Lagi-lagi.

“Hentikan. Aku ingin muntah mendengarnya terus.”

“Tak apa, aku akan dengan senang hati membersihkan muntahanmu.”

“Jimin!”

Sret.

“Kenapa ini? Sedang meributkan apa kalian?” Kwon Jiyong, dokter sekolah –yang kata teman-teman manis dan kaya itu, tiba-tiba muncul di balik tirai yang kubelakangi. Matanya yang terkekang kacamata dan poni cokelat yang menutup seluruh dahinya membuatnya tampak lugu tapi aku bisa melihat ekspresi kesal darinya. Kurasa suaraku tadi baru saja menghancurkan momen-momen penuh ketenangannya di ruang ini.

“Kalau ada apa-apa, bilang padaku. Jangan bertengkar di sini. Yang di sini bukan hanya kalian saja, arro?” Kemudian dia menutup tirai itu lagi. Dan aku bisa mendengar gumamannya dari sana, “dikiranya aku ini nyamuk. Dasar anak-anak.”

Aku pun menepuk perut Park Jimin lagi. Kali ini dia tidak berani berteriak, hanya meringis.

“Istirahatlah. Aku tidak akan kemana-mana.”

Mendadak dia menyingkir untuk membuat ruang kosong di sampingnya. Tangannya yang imut itu menepuk-nepuk tempat kosong yang barusan dibuatnya. “Kau juga istirahat, Ji-ya.”

Diriku melotot. “Micheosseo? Shireo.”

“Aku tidak akan melakukan apa pun. Serius. Bahkan ayah dan ibuku saja tidak terjadi apa-apa meskipun tidur seranjang berdua selama enam belas tahun.”

Kucubit pinggangnya. “Kau itu tahu apa.”

“Tapi aku janji tidak akan melakukan apa pun, Ji-ya. Kau juga kelelahan. Kau harus istirahat. Ya?”

Melihat wajah memohonnya yang begitu manis, aku tidak tega untuk menolaknya lagi. Akhirnya kujatuhkan tubuh lelahku di sampingnya, dengan membuat sedikit jarak di antara kami. Rasanya lega ketika kepalaku berhasil mendarat di bantal yang empuk.

“Nyaman bukan?”

Reflek aku menoleh ke asal suara. Wajah Jimin hanya berjarak dua jengkal tangan mungilnya dari wajahku. Dan dia sepenuhnya menghadapku.

“Maafkan aku, Yoonji-a.”

Hah. Kali ini apa lagi.

“Aku janji akan menjadi lebih kuat. Seperti Jungkook dan seperti kakakmu. Agar nantinya kau tidak perlu ragu untuk berlindung di belakangku.”

Kata-kata yang sungguh manis. Sesaat aku merasakan sensasi kupu-kupu di perut. Apakah seperti ini perasaan yang dirasakan pemeran utama wanita ketika pemeran utama pria menggombalinya?

“Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu, Ji-ya.”

Aku suka panggilan itu.

Malamnya, aku mendapat panggilan telepon dari Min Yoongi. Penasaran kenapa dia menelepon malam-malam, aku pun cepat menerima panggilannya.

“Ya?”

“Kau baik-baik saja, adikku yang paling cantik?”

Reflek diriku bertingkah muntah. “Kau ini kenapa?”

“Harusnya aku yang tanya kenapa!” Cepat-cepat kujauhkan ponsel dari telinga. Dia itu sangat tidak sadar jika memiliki suara yang lebih cempreng dariku.

“Kau itu kenapa sih?”

“Kau itu yang kenapa?! Kenapa harus terulang lagi dan lagi, eo?! Kenapa kau harus dilahirkan sangat cantik dan menarik?!”

Dia mengundangku untuk naik darah juga. “Kau pikir aku yang meminta dilahirkan seperti itu dan dengan takdir seperti ini?! Aku bahkan berharap tidak dilahirkan sebagai adikmu, tahu!”

“Begitukah?” Entah kenapa aku menyesali kalimatku yang terakhir.

“Jadi kau tidak suka menjadi adikku?” tanyanya dengan nada kecewa. Sungguh, aku benci suasana ini.

“Tidak. Aku tidak bilang begitu.”

Keurae. Aku tidak akan mengganggumu lagi, Min Yoonji. Tidurlah. Selamat malam.”

Oppa! O—” Panggilan diakhiri. Kutatap nanar layar ponselku yang kini menampilkan riwayat meneleponku dengan Oppa.

Dia ini, ada apa sebenarnya? Tadi marah-marah dan sekarang ngambek.

Apa mungkin sejak dia di Amerika dia operasi alat kelamin?

Ah tidak. Kurasa itu pemikiran yang terlalu berlebihan.

Ah tapi … dari mana dia tahu kalau aku baru saja mendapat musibah mengesalkan itu?

Park Jimin-kah?

Tapi Park Jimin tidak punya alamat e-mail-nya, dan sudah pasti juga tidak tahu dengan nomor luar negerinya.

Kalau begitu. Seolma….

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s