Swag Couple Series [#31 Kim Seok Jin]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

Kim Seokjin BTS

other cameo

**

Chapter #1 – #29

Love Hate

“Oh, Jin. Tumben baru datang. Bukankah hari ini jadwal kuliahmu hanya sampai jam sepuluh pagi?”

Seokjin menghampiri sofa. Ia menjatuhkan ransel dan kameranya di sana lalu bergegas menuju dapur. “Ada sesuatu yang harus kulakukan tadi. Kau sedang masak apa? Mau kubantu?”

“Hanya ingin membuat kimchi.”

Kimchi?” Bola mata Seokjin nyaris meloncat dari peraduan. Buru-buru dia menghampiri wanita yang sejak tadi berkutat di dapur itu. Lantas menempatkan satu tangannya di punggung wanita tersebut. “Punggungmu baik-baik saja? Kau merasa pegal?”

Wanita muda itu terkekeh. “Aku baik-baik saja. Tidak akan terkena lordosis kalau hanya tiga jam, Kim Seokjin-sshi.”

“Tapi tetap saja. Aku takut punggungmu kenapa-napa, chagi.”

“Tch, aku ini masih muda, Kim Seokjin. Jangan remehkan kekuatan perempuan muda.”

Seokjin menghela napas, menyerah. “Baiklah. Sini, kubantu.”

“Tidak usah, sebentar lagi juga akan selesai. Kau duduk saja di sana.”

“Jiwoo….”

Kriiing~ kriiing~

“Sepertinya ponselmu berbunyi.”

Seokjin yang sebenarnya sangat ingin membantu sang kekasih pun memilih untuk mengambil ponselnya. Dahinya berkerut mendapati nama Yoongi-chi di layar ponselnya.

Bukankah barusan aku meneleponnya? Kenapa menelepon lagi?

Segera diangkatnya panggilan itu. “Ya?”

“Jin-a, kau yakin adikku baik-baik saja?”

“Tentu saja. Wae?

“Kurasa dia membenciku.”

“Kau ini bicara apa?”

“Katanya dia berharap tidak ingin dilahirkan sebagai adikku.”

“Hah?”

“Apakah selama ini aku masih belum cukup menjaganya?”

“Dia bicara begitu?”

“Hm. Dia bicara begitu sambil berteriak. Ini salahku.”

Yaa! yaa! yaa! Mungkin dia hanya bercanda. Kau ini kan sudah hidup dengannya lebih dari  tujuh belas tahun.” Seokjin mencoba untuk menghibur kawan tercintanya itu. Dia terlalu paham Min Yoongi. Serius, saat sedang terpuruk, Min Yoongi itu sangat menyusahkan.

“Tapi kali ini sepertinya dia serius, Jin-a.”

“Itu hanya dugaanmu saja, Min Yoongi.”

“Seharusnya waktu itu aku tidak menerima beasiswa dari Ivy League. Ini salahku. Dia pasti merasa kesepian karena tidak ada yang perhatian padanya lagi.”

“Hei! Berhenti menyalahkan dirimu sendiri, Yoong! Ini bukan salahmu. Percayalah padaku, dia itu tidak serius saat bicara begitu. Yoonji tidak mungkin membencimu.”

“Tapi….”

Bip bip! Bip bip!

Seokjin menjauhkan ponselnya barang sejenak untuk melihat siapa orang lain yang berusaha meneleponnya.

Yoonji-chi

Ia menghela napas. Ada apa sebenarnya dengan kakak beradik ini?

Kembali ditempelkannya ponsel ke telinga. “Yoongi-a, kuputus dulu panggilanmu, eo? Adikmu meneleponku.”

“YOONJI MENELEPONMU?!”

Seokjin memejamkan matanya sejenak karena terkejut oleh suara keras Yoongi yang tiba-tiba. “Eo. Adikmu sepertinya ingin mengatakan sesuatu juga.”

“Baiklah. Jangan bilang padanya kalau aku baru saja meneleponmu tentang hal ini, eo? Bilang pada adikku kalau aku sangat mencintainya. Annyeong.”

“Hei hei! Kenapa harus aku yang—Yaa!

Jung Jiwoo yang sedari tadi mendengar celotehan kekasihnya di telepon mendadak cemas. Kalau Seokjin terus-terusan seperti itu, bisa-bisa kekasihnya akan mengalami penuaan dini.

Seokjin yang tidak menyadari perhatian kekasihnya pun lekas menerima panggilan dari Yoonji. Dia mengatur napasnya untuk menata emosi. Berurusan dengan Yoongi terkadang membuat tekanan darahnya berantakan.

“Ya, Yoonji-chi.”

Sunbae, apakah benar kau yang memberitahu Oppa?”

Tidak perlu Yoonji jelaskan memberitahu apa itu, Seokjin sudah paham. “Hm. Aku memberitahunya.”

“Kenapa kau memberitahunya?”

“Karena dia harus tahu kalau adiknya dalam bahaya.”

“Tapi kau tidak perlu melakukan itu. Aku bahkan baik-baik saja. Kalau kau memberitahunya, dia akan melakukan hal yang menyeramkan pada kumpulan ular itu.”

Seokjin berdehem. Sebenarnya, Yoongi sudah melakukan ‘hal menyeramkan’ yang dimaksud Yoonji. “Aku tidak mau kejadian itu terulang lagi makanya aku memberitahu kakakmu.”

Sunbae, kau sendiri tahu ‘kan kalau oppa ada di Amerika? Yang kau lakukan itu tidak akan ada pengaruhnya.”

Keurae. Maafkan aku.”

Ani. Aku justru sangat berterima kasih padamu. Kalau bukan karena kau, aku tidak tahu lagi bagaimana nasibku dan Jimin.”

Baru detik ini Seokjin tersenyum. “Itu bukan apa-apa, Yoonji-a. Aku hanya menolong adik kecilku dari bahaya.”

“Jin-a, supnya sudah matang,” seru Jiwoo yang kini tengah berjalan dari dapur menuju meja makan sambil membawa panci berisi sup kimchi. Seokjin langsung menoleh, tersenyum dan mengangguk.

“Yoonji-a, kalau sudah tidak ada lagi yang mau kau bicarakan, kututup dulu ya?”

“Ah … baiklah.”

Seokjin tersenyum lembut. “Jalja.”

“Hm. Kau juga, Sunbae.”

“Ah iya, Yoongi bilang, dia mencintaimu.”

“Oh … oke.”

KLIK. Segera Seokjin memasukkan ponselnya ke dalam ransel, kemudian berlarian dengan ceria dan memeluk Jiwoo dari belakang.

“Wah … sepertinya lezat. Siapa ya yang membuatnya?” Iseng Seokjin menggesek ujung hidungnya di leher Jiwoo. Dan kelakuannya itu sukses membuat Jiwoo memekik kesal.

“Hentikan, Jin-a! Aku akan mengganti sandi apartemen ini kalau kau tetap melakukannya.”

“Kkkk, kalau begitu aku tidak akan pergi kemana-mana dari tempat ini.”

“Seokjin!!!”

Terkadang malah yang lebih tua yang justru hubungannya lebih manis dan lugu.

Kriing! Kriing! Kriing! Kriing!

“Jin-a … Jin-ie….”

“Ng?”

“Ponselmu berisik.”

“Biarkan saja.”

“Tapi aku kesal mendengarnya.”

Seokjin pun membalik badannya dan mengulurkan tangannya ke nakas, berusaha mencari ponsel yang tak mengerti situasi dan kondisi itu. Begitu dapat, tanpa melihat siapa peneleponnya, dia segera mengangkatnya.

“Ya, ini dengan Kim Seok—”

YAA! KAU SENGAJA MENGGANTI SANDI APARTEMENNYA?!”

Seokjin reflek melihat siapa penelepon tersebut. Dia mendengus mendapati nama Jung Hwimang di layar ponselnya.

“Memang apa masalahnya? Kau ‘kan punya apartemen sendiri.”

“Memangnya tidak boleh berkunjung ke apartemen saudari kembarku sendiri? Yaa, dari suaramu, jangan bilang kalau kau sedang tidur dengan kakakku. KAU INI!”

Belum sempat Seokjin menjawab, ponselnya sudah disambut duluan oleh tangan kurus kekasihnya. “Aku sedang tidak bisa menerima kunjunganmu malam ini, adik kecil. Tidak ada makanan yang tersisa di sini, jadi kembalilah ke habitatmu.”

Mwo?! Yaa! Kau lebih memilih kutu kupret itu daripada saudara kembarmu sendiri?! Neomuhae! Neomuhae!”

Ponsel itu kembali ke tangan Kim Seokjin. “Pergilah atau kau akan dikeroyok orang-orang se-apartemen, Jung Hwimang-chi. Sudah dulu ya, dah.”

“KALAU KAU BERANI MEMATIKAN PONSELMU, AKU AKAN—”

Seokjin tak peduli dengan ancaman seperti suara kuda menjerit itu. Tidak akan pernah. Cepat dia mematikan ponselnya dan kembali bergelung di balik selimut. Tidak lupa dia menarik Jiwoo yang hanya memakai gaun tidur tipis agar menempel pada tubuhnya yang kedinginan karena bertelanjang dada dan hanya memakai boxer. Sebelum kembali lelap, ia menghadiahkan ciuman di dahi Jiwoo.

Akan tetapi hubungan yang lebih tua terkadang lebih dewasa. Terkadang.

TBC

Sorry, kemarin aku ngebut ngerjain laporan praktikum jadi ngga sempet update SCS T^T

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s