Falling Crazy in Love #10 [Stereotype 2]

ohnajla || romance, schoollife, family, friendship || Teen || Chaptered 

Suga BTS aka Min Yoongi, Oh Sena (OC), V BTS aka Kim Taehyung, Lee Soomi (OC), Kihyun Monsta X aka Yoo Kihyun (cameo), Minhyuk Monsta X aka Min Minhyuk (cameo)

Stereotype

#1 #2 #3 #4 #5 #6 #7 #8 #9

New Cast: Kim Do Yeon (ex I.O.I / Weki Meki)

Entah angin apa, saat hari karyawisata tiba, tubuh Sena mendadak demam tinggi. Termometer menunjukkan angka 39. Dia segera di bawa ke rumah sakit hari itu juga, bersamaan dengan keberangkatan Soomi ke sekolah untuk mengikuti karyawisata. Sebenarnya Soomi ingin sekali tidak ikut karyawisata karena adik sepupunya yang tampak lemah dan tak berdaya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah berjuang dengan keras selama kurun waktu sebulan untuk bisa ikut acara ini. Taehyung bahkan menjemputnya langsung ke rumah. Mau tak mau Soomi pun berangkat juga.

Kabar lainnya, Yoongi juga tidak ikut karyawisata. Saat ditanya apa alasannya, dia menjawab dengan asal. “Kekasihku sakit. Aku lebih baik menungguinya di rumah sakit daripada kepikiran selama di perjalanan.”

Soomi semakin berat untuk pergi.

Gwaenchanha. Ada aku. Kita pergi berdua saja,” ujar Taehyung dengan niat menghibur Soomi.

Akhirnya, setelah melalui pertimbangan yang cukup berat, Soomi pun berangkat juga ke sekolah, bersama Taehyung.

Tujuan karyawisata hari itu adalah menuju Pulau Jeju. Dari Seoul, mereka akan menaiki bus dulu ke Incheon, lalu menyeberang laut menggunakan kapal feri. Selama di dalam bus, Soomi yang duduk bersebelahan dengan Taehyung, tak hentinya mengecek ponsel untuk mendapat kabar terbaru dari Yoongi. Dia saling berkirim pesan dengan Yoongi demi mendapat pemberitahuan kondisi Sena sekarang. Entahlah, dia merasa sangat tidak bersemangat sekali untuk mengikuti karyawisata ini. Kalau bisa, dia lebih baik kembali pulang dan menunggui Sena di rumah sakit sampai kondisi adik sepupunya itu membaik.

Namun genggaman Taehyung yang makin erat di tangannya berhasil membuatnya berpaling sejenak dari ponsel. Ia mendapati kekasihnya membaringkan kepala di bahu sempitnya, sementara kedua tangan pria itu asik bermain-main dengan tangannya.

“Kau mengabaikanku, Soomi-a.”

Soomi pun menyimpan ponselnya dalam tas tangan. “Aku khawatir sekali dengan kondisi Sena. Mian.”

Taehyung menggambar sesuatu di telapak tangan Soomi dengan ujung jari telunjuknya. “Tapi aku ingin kau perhatikan juga.”

Soomi menghela napas. “Kenapa hari ini kau manja sekali, hm?”

“Aku tidak manja,” kilah Taehyung dengan nada sedikit tidak terima. “Bukankah wajar kalau aku meminta perhatian kekasihku sendiri? Kau juga sama sekali tidak menikmati perjalanannya. Kau tidak suka karyawisata bersamaku? Kau juga ingin absen seperti Yoongi dan Sena? Meninggalkanku sendirian?”

Perasaan Soomi makin tak karuan. Taehyung membuatnya semakin dilemma. “Aku tidak bermaksud begitu, Taehyung-a. Aku hanya … hanya … ah lupakan.”

“Nikmati saja perjalanan ini, Soomi-a. Kau tidak akan pernah tahu jika saja ini adalah perjalanan terakhir kita bersama.”

“Jangan bicara seperti itu,” sergah Soomi cepat. “Tidak baik bicara seperti itu saat dalam perjalanan. Berpikirlah positif.”

Taehyung mengangguk mengerti.

“Ini sudah sampai mana?” tanya Soomi berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia membuang pandangan keluar jendela, mencoba menebak lokasi mereka saat ini.

“Sebentar lagi kita akan berhenti di rest area.”

“Dari mana kau tahu?”

“Kau tidak dengar apa yang dikatakan Namjoon seonsaengnim tadi?” Bukannya menjawab, Taehyung justru melempar pertanyaan.

Soomi terdiam sejenak. “Ah … ya, aku terlalu fokus pada ponselku.”

Tahu-tahu Taehyung melingkarkan kedua lengannya pada pinggang Soomi, menghirup dalam aroma si gadis dari leher. Dan tersenyum miring saat menyadari bahwa tubuh Soomi menegang. Tegangannya semakin kuat saat dia iseng mendaratkan bibirnya di leher tersebut.

“Setidaknya sampai kita tiba di Jeju, bisakah kau lupakan ponselmu dan perhatikan aku?”

Soomi meliriknya dengan kaku. Lantas mengangguk kecil.

Ia tersenyum lebar. Mengecup leher Soomi lagi lalu menempatkan kepalanya di bahu si gadis. “Aku tidak akan tidur. Ceritakan aku sebuah kisah.”

Sejak tadi Yoongi betah hanya duduk di kursi, menghadap ranjang tempat tidur Sena. Gadis itu lelap sekali dalam tidurnya, tak peduli meski tangannya tersambung infus dan suhu tubuhnya yang masih cukup panas.

Dokter mengatakan jika Sena demam tinggi karena kelelahan. Yoongi paham, pasti karena lusa mereka main kejar-kejaran dengan si pencopet bernama Jung Hwimang dan hari kemarin dia mengajak Sena berputar-putar di Everland usai sidang perceraian orangtuanya sampai sore makanya Sena drop hari ini.

Yoongi pun meraih tangan Sena yang tersambung selang infus, mengelusnya pelan.

“Ini kedua kalinya aku menungguimu di rumah sakit, gadis cantik,” gumamnya pelan. Sangat pelan bahkan sampai hanya dirinya saja yang bisa mendengar suaranya sendiri.

“Apakah ini yang dinamakan telepati? Kurasa feeling burukku kemarin adalah pertanda kondisimu hari ini.”

Ia menggunakan tangannya yang lain untuk menyeka titik-titik keringat di dahi Sena. Obat penurun panasnya tengah bekerja.

“Kau itu cantik sekali kalau sedang tidur,” gumamnya lagi. “Aku takut khilaf.”

Sena tetap tidak bergerak. Namun napasnya terdengar teratur.

“Kau harus menepati janjimu untuk tidak membiarkanku jalan sendirian, hm? Jujur, aku sebenarnya takut hidup sendirian di dunia ini. Kalau kau penasaran, aku juga selalu menangis setiap malam jika kau dan Kihyun tidak menginap di rumah. Aku takut, sangat takut. Minhyuk hyung selalu mengawasiku di sana. Dia selalu datang setiap malam dan terus saja memaksaku untuk menyusulnya. Hanya jika saat kau dan Kihyun datang, ia tidak pernah muncul. Aku ingin, setelah kau sembuh nanti, kau tinggal di rumahku, dan tepati janjimu untuk menemaniku. Algesseo?

Yoongi menghela napas karena ia tak mendapat jawaban apa pun dari Sena. Namun detik berikutnya ia membelalak. Tangan Sena tiba-tiba mencekal tangannya erat, akan tetapi kedua mata gadis itu tetap tertutup rapat. Tubuh Sena bergetar hebat, mulai menangis.

Yoongi buru-buru bangkit untuk memencet bel darurat. Akan tetapi gerakannya terhenti saat Sena menggumamkan sesuatu.

Eonni … eonni … Taehyung-a … Kihyun-a….”

“Sena….”

PRANK!

Tak sengaja Yoongi menyenggol gelas kaca di atas nakas saat dia menarik kembali tangannya yang tergantung di udara.

Mendadak perasaannya makin tidak karuan.

Jantung Soomi rasanya akan meledak saat bus yang ditumpanginya bergerak pelan memasuki kapal feri. Tanpa sadar dia meremas tangan Taehyung dengan sangat kuat, sampai yang punya tangan meringis dan menatapnya tak mengerti.

“Sayang, sakit.”

Perlahan Soomi mengendurkan cengkramannya, tapi hal itu tidak serta merta membuat dirinya tenang. Kakinya sudah gatal ingin lompat keluar dari bus ini.

“Kau kenapa?” tanya Taehyung cemas. Dalam sekejap dia melupakan rasa sakit di tangannya begitu melihat wajah pucat Soomi.

“Taehyung-a, ayo keluar dari sini, eo? Aku tidak bisa, Tae. Aku takut.”

“Kita baru boleh keluar setelah kapalnya jalan, sayang.”

“Justru itu, kita harus keluar sekarang. Ya? Ayolah, Tae….” Soomi mencekal lengan atas Taehyung dan menggoyang-goyangkannya cepat.

Tapi Taehyung dengan tenang memeluk Soomi, berusaha menyalurkan ketenangan. “Gwaenchanha. Tidak ada yang perlu ditakutkan, sayang. Ada aku, kau bersamaku.”

“Tapi Tae….”

“Ssst. Tenangkan dirimu. Bukankah katamu kita harus berpikir positif. Sudah, tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja.”

Soomi pun menyerah. Dia balas memeluk Taehyung dengan erat sembari mengatur napasnya hingga dadanya tidak lagi terasa menyesakkan. Kemudian terdengarlah suara Namjoon seonsaengnim, guru pendamping bus 3-1 yang mengumumkan bahwa sekarang mereka diperbolehkan keluar dari bus.

Satu persatu siswa berjalan keluar dari bus. Begitu juga Soomi dalam gandengan Kim Taehyung. Mereka berjalan ke salah satu sudut kapal, bergabung bersama siswa lainnya untuk menikmati pemandangan laut.

Untuk sesaat Soomi terpesona. Lalu tiba-tiba dia dikejutkan oleh Taehyung yang memeluknya dari belakang.

“Ingin mencoba sesuatu yang keren?” bisik lelaki itu tepat di telinga Soomi. Suaranya yang berat dan indah berhasil membuat Soomi berdebar.

“A-apa itu?”

“Rentangkan kedua tanganmu.”

Soomi pun menurut dengan melakukan apa yang diperintah. Perlahan dia merentangkan kedua tangannya. Kemudian ia bisa merasakan tangan Taehyung tidak lagi memeluknya, melainkan menempatkannya di pinggang.

“Aku percaya pada keabadian. Karena perasaanku padamu bersifat abadi, Lee Soomi.” Sekali lagi Taehyung berbisik dengan suara husky-nya di telinga Soomi. Kemudian ia merasakan lengan Taehyung memeluk perutnya lagi, menempatkan dagu di bahunya.

Saranghae….”

Soomi hanya tersenyum dengan pipi merona.

Tiba-tiba saja Taehyung melepaskan pelukannya dan berlarian memasuki bus. Soomi menoleh dengan penuh tanya. “Kau mau kemana?!”

“Aku melupakan sesuatu! Sebentar!”

Meski sedikit tidak terima karena Taehyung meninggalkannya begitu saja, tapi ia tetap berdiri di sana. Menatap sekeliling, mengamati pemandangan yang hanya ada air dan langit.

Tak lama kemudian Taehyung pun muncul sambil membawa sebuah pelampung. Soomi mengerutkan dahi tak mengerti.

“Kenapa bawa-bawa benda seperti itu?”

Taehyung tersenyum lebar. Sebelum menjawab, dia memakaikan pelampung itu ke tubuh Soomi. “Aku hanya ingin melihatmu memakai ini.”

Tepat di detik itu juga, tiba-tiba posisi kapal berubah miring dan oleng. Taehyung dengan sigap memeluk Soomi sambil berpegangan pada tiang pancang. Begitu juga dengan yang dilakukan siswa lainnya. Sisi yang dipijak Taehyung dan Soomi jauh lebih tinggi dari sisi yang lain. Itulah kenapa urat-urat di lengan Taehyung bermunculan. Dia berusaha mati-matian mempertahankan agar mereka tidak terjatuh ke sisi lain.

Soomi sendiri berpegangan erat pada Taehyung. Wajahnya pucat saat melihat satu persatu kawannya terjun bebas ke laut.

“Soomi-a, dengarkan aku.”

Soomi pun mendongak. “Ne?

“Pelan-pelan, kita berjalan bersama mendekati Kihyun. Jangan lepaskan peganganmu padaku, arachi?”

Gadis itu mengangguk mengerti. Kemudian mereka mulai bergerak pelan mendekati lokasi Kihyun yang cukup jauh dari mereka. Setidaknya mereka tidak akan mudah jatuh bebas ke laut jika berdiri di lokasi tersebut.

Dan setelah menghabiskan cukup banyak waktu, akhirnya mereka sampai juga di sana. Sayangnya posisi kapal semakin miring.

Doyeon, yang berada dalam perlindungan Kihyun tampak terisak. Dia sama ketakutannya seperti Soomi. Takut jika dia akan berakhir mati di dalam laut.

Gwaenchanha. Aku baru saja menelepon bantuan. Mereka akan datang sebentar lagi. Kau akan selamat, Doyeon-a,” ucap Kihyun berusaha menenangkan kekasihnya sambil menghapus jejak air mata di wajah gadis itu.

Tidak hanya Doyeon saja yang menangis. Nyaris semua gadis di sini menangis ketakutan karena kondisi sekarang. Mereka mencoba meneriakkan ayah dan ibunya, bahkan ada juga yang berteriak memanggil neneknya. Hanya Soomi, yang tetap tenang dari yang lain meski wajahnya sudah basah karena air mata.

Ia mendongak saat sebuah tangan menghapus air matanya.

Kim Taehyung, tersenyum dengan begitu cerahnya seakan semuanya akan berjalan baik-baik saja. Bahkan senyum itu terlalu ceria untuk kondisi segenting ini.

“Apa yang akan kau lakukan, jika kau selamat?” tanyanya yang entah bagaimana membuat dada Soomi makin sesak.

“Aku akan berkencan denganmu.”

“Jika aku tidak selamat?”

“Kau pasti selamat.”

Taehyung tersenyum simpul. Ia pun mendekatkan wajahnya, dan mengecup dahi gadis itu cukup lama. Kemudian berbisik.

“Perasaanku abadi untukmu.”

Tepat saat itu bantuan pun datang. Taehyung dengan cepat membawa Soomi kepada salah satu petugas penyelamat. Membiarkan si petugas membawa kekasihnya, sementara dia sendiri kembali untuk membantu Kihyun membawa Doyeon pada petugas tersebut. Soomi dan Doyeon berteriak histeris saat Taehyung dan Kihyun tidak ikut serta dengan mereka. Dua lelaki itu malah sibuk menjadi asisten tim penyelamat untuk siswa perempuan yang lain. Dan mereka terus melakukannya sampai tim penyelamat yang membawa Doyeon dan Soomi pergi ke dermaga terdekat.

Kedua lelaki itu tersenyum puas. Kekasih, teman dan saudara mereka akhirnya selamat. Tidak ada yang lebih disyukuri oleh mereka selain mengetahui fakta tersebut.

“Aku akan tetap berada di sini.”

“Aku juga.”

Keduanya saling melempar senyum pada satu sama lain.

“Bantuan selanjutnya akan datang,” ujar Kihyun. “Kurasa kita harus selamatkan guru-guru.”

“Hm. Tapi kurasa, Min seonsaengnim tidak berniat untuk menyelamatkan diri,” jawab Taehyung sambil menoleh ke tempat di mana guru Sejarahnya, sekaligus ayah kandung dari kawannya Min Yoongi tengah sibuk membantu anak-anak lainnya untuk menyingkir ke tempat yang lebih aman.

Sebenarnya tidak ada tempat yang aman di sini. Suasana begitu kacau seperti yang ada di film Titanic.

“Setidaknya, Soomi dan Doyeon selamat,” ujar Kihyun seakan tak tertarik sedikitpun pada ayah Yoongi.

“Bagaimana bisa kau berkencan dengan anak itu?”

“Entahlah. Dia kelihatan sangat berbeda dari yang lain.”

“Kau memang tidak boleh menyamakannya dengan orang lain, dia paling tidak suka disama-samakan.”

“Karena itu aku suka. Dia dulunya sangat sinis padaku, tapi sekarang sudah lebih kalem meskipun terkadang dia tidak sungkan memukulku.”

Taehyung tertawa. Dua anak ini sungguh tidak peduli dengan suasana sekarang. Mereka malah bercerita dan tertawa.

“Sejak kecil dia terbiasa bermain dengan laki-laki, termasuk aku.”

“Ah … jadi kaulah orangnya yang sudah membentuk kepribadian jantannya itu?”

Taehyung tertawa lagi. “Ya ampun, kau menyebut kekasihmu sendiri jantan. Tapi sebenarnya, dia memang begitu sejak dulu. Kau saja dipukuli apalagi aku yang masih saudaranya.”

Kihyun tersenyum tipis. “Kenapa kau ikut bertahan di sini?”

Tawa Taehyung perlahan sirna, diganti oleh senyumnya yang getir. “Kemarin malam aku didatangi halmeoni di mimpi. Dia bilang, aku akan bertemu dengannya hari ini.”

“Sepertinya nenekmu sangat merindukanmu.”

“Hm. Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak menyelamatkan diri? Bukannya kau bisa menelepon sekretarismu untuk mengirimkan helikopter?”

Kihyun nyengir. “Sebenarnya, setiap kali aku menginap di rumah Yoongi, aku selalu didatangi Minhyuk hyung.”

“Maksudmu, dia menampakkan diri?” Wajah Taehyung mendadak ngeri.

Kihyun menggeleng. “Tidak. Maksudku, dalam mimpi.”

“Ah … kau membuatku takut.”

Kihyun terkekeh. “Dia bilang, dia butuh teman. Dan memintaku untuk datang menemaninya.”

“Kenapa harus kau yang menemaninya?”

“Karena selain Yoongi, seseorang yang dekat dengannya hanya aku. Kau tahu sendiri kan kalau dia tidak punya teman? Padahal dia jenius dan tampan.”

“Hm … aku juga heran kenapa dia selalu pergi sendirian. Tapi, aku juga tidak pernah melihat kalian dekat.”

Hyung tidak suka orang lain tahu kalau kami berteman. Bahkan Min seonsaengnim sama sekali tidak tahu kalau dia diam-diam menceritakan masalahnya padaku.”

“Kenapa dia melakukan itu?”

Kihyun menggendikkan bahu. “Entahlah, sejak kecil dia dididik untuk banyak belajar. Beda sekali dengan Yoongi yang masih diberi kebebasan untuk melakukan apapun.”

Mereka pun sama-sama terdiam. Lalu Kihyun mengingat sesuatu. Cepat-cepat dia mengeluarkan ponselnya dari saku, membuka aplikasi email dan menulis sesuatu di draf baru. Taehyung meliriknya dengan penasaran.

Mwohae?”

“Menulis pesan terakhir. Kau juga harus melakukannya di ponselmu.”

“Ah, maja.” Tak lama kemudian Taehyung pun bergabung dan mereka larut dalam kegiatan tersebut. Sampai akhirnya bantuan kedua pun datang.

Taehyung tak sengaja mendapati Jimin yang tengah berdiri sendirian tak jauh di dekatnya dengan mata memerah, menahan tangis. Ia pun segera menghampiri kawan sekelasnya itu.

“Kenapa kau di situ?”

Jimin tersentak. Ia menoleh, lantas menggeleng.

“Kau tidak menyelamatkan diri?”

Kali ini Jimin tidak menjawab, lebih tepatnya ragu untuk memberi jawaban.

“Kau akan mati kalau tetap berdiri di sana. Cepat selamatkan dirimu.”

“Tapi bagaimana dengan yang lain?”

“Kau masih memikirkan orang lain di saat seperti ini?” Kihyun tiba-tiba datang. Kehadirannya itu semakin membuat Jimin ragu.

“Tentu. Memangnya kalian tidak memikirkan yang lain?”

“Kami memikirkanmu,” ujar Taehyung dan Kihyun bersamaan. Warna mata Jimin semakin merah.

“Tidak perlu memaksakan diri. Aku tahu kau ingin selamat karena kau tidak ingin membuat ibu dan adik-adikmu bersedih. Untuk alasan itu kau berhak untuk menyelamatkan dirimu, Park Jimin. Jangan biarkan ibu dan adik-adikmu menderita karena kau pergi.” Sambil bicara begitu, Taehyung memasukkan ponselnya dan ponsel milik Kihyun ke saku celana Jimin.

“Tolong berikan ponsel-ponsel itu pada Yoongi,” sambung Kihyun sebelum keduanya membantu Jimin naik ke perahu yang digunakan oleh tim penyelamat. Mereka melambai ketika perahu yang membawa 80 kawannya pergi dari lokasi.

Sementara itu salah satu sisi kapal telah tercelup ke laut. Dan di sini, masih ada cukup banyak orang yang belum terselamatkan. Termasuk mereka, yang sama-sama berpegangan pada tiang pancang, berusaha untuk memperpanjang usia mereka sendiri.

“Untung aku belum menikahi Soomi. Jadi Soomi tidak akan jadi janda.”

Bayolan yang diungkapkan Taehyung sontak menjadi bahan tertawaan Kihyun.

Tawa terakhir mereka.

TBC 

Advertisements

1 Comment

  1. Ini cm mimpi kn thor, mimpi soomi! !!!😢😢😢
    Jangan beneran thor, jangan2 mau end lg ceritanya.. Jangan thor, q mau msh lanjut

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s