Swag Couple Series [#32 Park Jimin (2)]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

Kim Seokjin BTS

other cameo

**

Chapter #1 – #29

Love Hate | Kim Seok Jin

Oppa, wajahmu kenapa?!”

Cepat-cepat kutarik turun topiku. Si kecil ini kenapa tidak mengerti situasi sih? Gara-gara dia, aku yang berniat menghindari appa dan eomma, malah dikerubung seperti aku ini adalah gula dan mereka semutnya.

Ayah melepas topiku dengan paksa. Reflek kepalaku menunduk, berusaha menutupi memar-memar tapi gagal karena ibu mengangkat daguku.

“Kau berkelahi?” Sekilas kudapati raut kecewa di wajah eomma.

Pandanganku berpindah ke sana kemari. Tanda kalau aku bingung dan berniat untuk berbohong. “A-aniyo. Aku hanya jatuh dari sepeda.”

Tahu-tahu ayah menarik pipiku yang memar. Jelas saja aku menjerit.

“Aku sudah berkali-kali jatuh dari sepeda saat muda dan wajahku tidak sampai seperti ini, Nak. Berpikirlah sedikit kalau mau berbohong.”

Baiklah, Ayah. Ayah seharusnya tahu dari mana asal otak kosongku ini. Dan tolong, berhenti bernostalgia.

“Ada apa, hm? Ceritakan pada kami, kenapa kau bisa berkelahi dan pulang dengan keadaan seperti ini?”

Aku menatap ibu ragu. “Boleh aku jujur?”

“Tentu saja! Siapa yang melarangmu untuk jujur?” Ayahku, Park Chanyeol, berseru dengan begitu semangatnya.

“Jadi kenapa?” Haera, ibuku, terus mendesak.

Rasanya aku seperti tikus kecil yang berhasil masuk dalam jebakan dan tengah disudutkan oleh dua ekor kucing garong.

“Eum … Aku….”

“Ya ya, kau.”

“Wajahku ini….”

“Ya benar, wajahmu.”

“Tadi….”

“Ya, tadi.”

“Habis dipukuli.”

“Ya, dipukul—MWO?!

Kepalaku tertunduk. Sungguh, sekarang aku tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa. Aku siap jika mereka menyalahkanku karena telah membuat mereka kecewa karena diriku yang dipukuli ini. Anak yang tidak tahu diuntung memang.

“Siapa yang memukulmu?”

“Teman-teman sekelasku,” jawabku lirih.

“Kenapa mereka memukulimu?”

Bibirku mendadak kelu. Haruskah aku bilang jika aku dipukuli karena membela Yoonji? Tapi, bagaimana kalau nanti Yoonji yang disalahkan? Sudah jelas akulah yang bersalah di sini karena berani menantang Jooheon dkk.

“Kau tidak mau jujur pada kami?” Tebakan ibu sungguh tepat.

“Apa ini karena perempuan?” Ayahku juga sama benarnya.

Dan, kepalaku mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari Ayah.

“Min Yoonji eonni?”

Aku mengangguk lagi. Tidak heran, aku memang mudah dibaca di situasi seperti ini.

Helaan napas dari tiga orang terdengar. Dan itu semakin membuatku takut untuk mengangkat kepala. Aku tak mau membayangkan ekspresi mereka!!

“Min Yoonji adalah gadis yang baik. Aku tahu kau pasti dipukuli karena melindunginya ‘kan? Kau berusaha melindunginya tapi tak mampu.”

Eh?

Aku langsung mengangkat kepala, menatap ayah tak percaya. “A-a-appa tahu dari mana….”

Ayahku yang super tampan dan jangkung –tapi sangat pelit karena tidak bersedia mewarisi tinggi tubuhnya padaku—itu tiba-tiba menempatkan kedua tangannya di bahuku dan meremasnya pelan. “Kau itu mirip sepertiku, Jimin-ie. Jangan kira ayah tidak tahu kalau kau itu ketua kelas sekaligus class pet di sekolah. Meskipun kau tidak mewarisi ketampanan dan tubuh tinggi ayahmu ini, tapi sifat dan takdirmu nyaris mirip denganku. Aku juga dulu korban pengeroyokan saat berusaha melindungi ibumu ini.”

Aku pun menoleh pada ibu. Wanita cinta pertamaku itu, tersenyum tipis.

“Semakin sering kau dipukuli, kau akan semakin kuat, Sayang. Karena itu, gwaenchanha. Kami tidak akan menyalahkan Yoonji, karena aku tahu sendiri bagaimana rasanya disalahkan saat orang lain terluka karenaku.”

“Haera….” Tahu-tahu ayahku beralih menempatkan kedua tangannya di bahu ibu. Ibu terlalu mungil jika bersanding dengan ayah. “Jangan kau ungkit lagi masa lalu. Eomma sudah tidak lagi membencimu, Sayang. Lupakan itu, eo?”

Kurasa ayah tidak sadar dengan dirinya sendiri. Bukankah di sini yang paling sering mengungkit masa lalu adalah ayah?

“Untuk itu kami tidak akan menyalahkan Yoonji. Agar kau tidak ikut-ikutan bertingkah seperti kaset rusak seperti ayahmu ini.” Ibu dengan kejamnya menjepit hidung ayah dan menariknya seolah hidung itu adalah karet.

Jihyun tertawa geli.

Dan aku….

Seolah tengah melihat gambaran masa depan.

Saat ini aku sedang berada di kamar, asyik berguling-guling di atas ranjang sambil memegang ponsel.

Aku kangen Min Yoonji.

Aku kangen Min Yoonji.

Aku kangen Min Yoonji.

Send

Entah kenapa aku geli sendiri setelah pesan random itu terkirim pada si pujaan hati. Kira-kira bagaimana ya reaksinya? Apa dia kesal? Atau menjerit bahagia dan lompat-lompat di atas ranjang? Hm … aku sangat merindukan si cantik itu.

Amugeotdo saenggakhajima

Jimin sarang is calling

Tanpa banyak pertimbangan langsung saja kuterima teleponnya itu.

Wae?

“Bukankah harusnya aku yang tanya begitu?” tanyaku balik sambil terkekeh.

“Kalau tidak ada apa-apa kututup.”

Andwae!!” Tahu-tahu aku sudah duduk di atas ranjang. “Jangan ditutup. Aku merindukanmu.”

“Kalau begitu bicaralah.”

Setiap kali berbicara dengan Yoonji, tanpa sadar bibirku terus tersenyum. “Yoonji tidak rindu Park Jimin?”

Pass. Lainnya?”

Tapi sayangnya, Min Yoonji terlalu jahat padaku. “Jimin rindu Min Yoonji.”

“Aku sudah tahu. Lainnya?”

“Kau sudah makan?”

“Sudah.”

“Kau tidak tanya aku sudah makan atau belum?”

“Kau sudah makan?”

Bibirku merekah senyum. “Sudah. Tapi, aku masih merasa lapar.”

“Makan lagi sana.”

“Aku tidak akan bisa kenyang kalau tidak makan bersama Min Yoonji.”

Diam sejenak di sana. Sesaat aku berpikir kalau dia memutuskan panggilan tapi kulihat penghitung waktunya masih berjalan. Hm … apakah mungkin dia sedang menjerit senang? Tapi, kenapa tidak terdengar suara apa pun? Jangan-jangan dia tidur.

“Min Yoonji? Yoonji sayang … kau tidur ya?”

Ani.”

“Kenapa tadi tidak dijawab?” Bilang kalau kau sedang sibuk menjerit, sayang.

“Malas.”

Bibirku mengerucut. Dia ini sangat tidak asik.

Tapi aku suka.

Senyumku yang katanya seperti orang idiot kembali merekah. “Malas kenapa? Bilang saja kalau kau tadi sibuk menendang-nendang selimutmu, Yoonji sayang. Tidak apa-apa jujur padaku.”

“Dalam mimpimu, Park Jimin.”

“Kau memang selalu dalam mimpiku, Min Yoonji tercinta.”

“Kau tidak mengerjakan tugas hm? Kau masih punya tanggungan lima soal bahasa Inggris. Aku tidak mau tahu, besok pokoknya sudah harus diserahkan padaku.”

“Aku sudah mencoba mengerjakannya. Tapi….”

“Apa?”

“Aku tidak mengerti, hehe. Jadi bisakah Yoonji tersayang mengajariku? Aku tidak tahu apa artinya interesting atau strength atau apalah itu. Karena yang kutahu cuma satu.”

“Apa itu?”

I love you.”

KLIK!

Eh?

Sambungan terputus?

Kini yang muncul di layar ponselku hanyalah total waktu obrolanku dengan Yoonji. Sambungan sudah benar-benar terputus. Yoonji yang melakukannya, bukan aku.

Dan kalian tahu bagaimana ekspresiku sekarang?

Evil smile. Pasti si manis itu sedang melompat-lompat kegirangan di kasurnya.

Ah … membayangkannya saja sudah membuatku melumer di tempat.

Aku pun meraih boneka Jjibang yang selalu menemaniku tidur. Kupeluk dia erat, sambil mencium pipinya. “Saranghae Min Yoonji ……………… Aouh!!! Hiiing!!”

Oppa kecilkan suaramu!!”

Tapi aku tak peduli. Kugigit kuat kepala si Jjibang sambil berguling-guling di ranjang seperti ayam yang sedang dibumbui. Aku terlalu bahagia.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s