Swag Couple Series [#34 Yoonji’s Secret Weapon]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

Kim Seokjin BTS

other cameo

**

Chapter #1 – #29

Love Hate | Kim Seok Jin | Park Jimin (2)

Lee Jooheon

Aku juga ingin meminta maaf

**

“Jooheon sedang dalam perjalanan kemari,” ujar Sungjae sambil mengantongi ponselnya dalam saku dan menatap rendah Yoonji. Yoonji sendiri dengan berani menantangnya.

“Oke.”

Sanghyuk yang berdiri di belakang Sungjae meletakkan satu tangannya di bahu Sungjae sambil menyeringai pada Yoonji. “Kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu dengan Jooheon, hm? Sudah menyerah?”

Animnida.

Sanghyuk dan Sungjae mendengus geli. “Animnida? Tumbennya bicara formal.”

Merasa bahwa jarak antara Yoonji dan dua pria itu terlalu dekat, Jimin pun menarik mundur Yoonji. Entah kenapa jika Yoonji berdiri di depannya dia merasa seperti seseorang yang dilindungi, bukan melindungi.

Mereka berada di belakang sekolah. Sungjae dan Sanghyuk asik merokok saat tiba-tiba Yoonji datang. Sebenarnya tidak hanya ada mereka saja, Taehyung juga berada di sana, asik sendiri bermain game ponsel.

“Ji-ya, kau harusnya berdiri di belakangku. Jangan menantang mereka seperti itu,” bisik Jimin tepat ke telinga Yoonji. Tapi suaranya bisa didengar dengan jelas oleh duo S menyebalkan itu.

“Ow manisnya…. Sedang berlagak jadi pahlawan, eh?” ujar Sanghyuk sambil berjalan maju dan mendorong dada Jimin dengan satu tangan. Yoonji menatapnya galak, sementara Jimin sendiri menghindar untuk bertatapan langsung dengan Sanghyuk.

“Apa lihat-lihat? Kau tidak terima?” ketusnya saat mendapati tatapan tajam Yoonji. Kini dia berjalan mendekati gadis itu, tapi Jimin sudah duluan menghadangnya.

Andwae. Jangan Yoonji.”

Sanghyuk dengan mudahnya mendorong Jimin menjauh. Kembali dia mendekat, dan berhenti saat jarak di antara mereka hanya tersisa sejengkal tangan Park Jimin. Tubuhnya yang terlalu tinggi membuatnya harus menunduk. Ia menyeringai sadis saat Yoonji membalas tatapannya dengan berani.

“Kau sangat pemberani. Ah, aku baru sadar kalau kau ternyata semenarik ini. Yaa sonyeo, bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu sambil menunggunya datang? Kau tidak keberatan ‘kan? Aku akan pelan-pelan. Bagaimana? Oke! Call! Urusi pacarnya sebentar, Sungjae-ya.”

Sungjae memutar bola mata. Merepotkan, pikirnya sebelum menyeret Jimin menjauh dari lokasi.

Tak ada yang bisa Jimin lakukan selain berusaha melepaskan diri dari Sungjae. Sayangnya Sungjae cukup kuat sehingga bisa membawanya menjauh dari jangkauan Yoonji.

Yoonji sendiri masih tetap diam di tempat tanpa sedikitpun merasa gentar. Dia sudah mempersiapkan diri untuk hari ini. Dia benar-benar yakin jika dirinya akan baik-baik saja.

Sanghyuk pun memulai aksinya dengan membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya selevel dengan tinggi badan Yoonji. Dia memamerkan senyum tampannya, sambil iseng mengelus rambut Yoonji.

Joha, kau memang jalang, Min Yoonji. Mari kita lakukan sesuatu yang menyenangkan.”

Dengan senyum liciknya dia mulai memangkas jarak wajah mereka. Yoonji sendiri membalas tatapannya dengan tak gentar. Sanghyuk awalnya memang hanya berniat menggoda untuk melihat reaksi gadis ini. Dia pikir Yoonji akan menamparnya atau apa, ternyata malah justru pasrah begitu saja. Bukan ini yang dia inginkan, tapi kalau Yoonji memang mau, apa salahnya mencoba?

Di saat napas mereka saling berebut, tiba-tiba saja…

“HUATSYI!”

Sanghyuk otomatis berhenti. Dia memejamkan matanya dengan kesal sebelum menoleh pada asal suara. Dahinya berkerut saat melihat Taehyung yang dengan santainya mengusap hidung sambil menatapnya sok tak berdosa.

“Maaf, maaf. Hidungku gatal,” ujarnya kelewat santai lalu kembali berkutat dengan game ponselnya lagi.

Sanghyuk ingin sekali memukulnya. Tapi kemudian dia sadar jika sekarang dia sedang melakukan sesuatu yang menarik pada Yoonji. Begitu menoleh pada Yoonji, tahu-tahu gadis itu sudah berdiri 5 meter darinya. Membuatnya mendengus dan kembali berdiri tegak.

Alien itu sudah menghancurkan momennya, sialan.

“Aku datang kemari untuk berbicara dengan Jooheon, bukan untuk berurusan dengan playboy kurang belaian sepertimu.”

Mwo?

“BUWAHAHAHAHAHAHAHA!”

Seketika Sanghyuk menoleh kembali pada Taehyung. “Yaa! Apa yang kau tertawakan, huh?!”

Dalam sekejap tawa Taehyung langsung hilang entah kemana. Dia menunjukkan sekilas ponselnya yang sedang menampilkan sesuatu yang Sanghyuk sendiri tidak tahu itu apa. “Ada yang lucu di game ini.”

Sanghyuk berdecak. Kemudian dia pun menatap Yoonji lagi. “Berterima kasihlah karena aku masih berbaik hati untuk tidak memotong lidahmu itu, jalang.”

“Untuk apa aku harus berterima kasih padamu?” balas Yoonji sengit.

“Bagus bagus.” Tiba-tiba Taehyung menyahut dari sudut sana. Namun Sanghyuk berusaha untuk tidak peduli.

“Kau itu benar-benar keras kepala. Kau harus berterima kasih karena aku sudah berbaik hati padamu, imma!”

“Tch, baik hati apanya.” Sekali lagi Taehyung iseng menyahut.

Yaa!” Sanghyuk berseru tidak terima.

Taehyung pun mengangkat wajahnya. Tatapannya terkesan dingin dan tak terbaca. “Mwol?”

Sanghyuk menggeram sebentar, sebelum akhirnya dia menyerah. “Dwaesseo.” Sesungguhnya dia takut pada Taehyung. Tatapan Taehyung seperti seorang psiko yang bersiap melakukan percobaan penyiksaan padanya. Dan dia, tidak mau mati sia-sia karena psikopat macam Kim Taehyung.

Sanghyuk sudah tidak lagi berselera mengganggu Yoonji gara-gara Taehyung. Dia pun memanggil Sungjae. Kawannya itu datang tak lama kemudian bersama Jimin.

“Ah, aku kesal sekali,” ujarnya sambil berlarian mendekat pada Jimin dan melayangkan tendangannya di perut kekasih imut Yoonji itu. Jimin langsung tumbang karena sebelumnya dia juga mendapat pukulan di perut dari Sungjae.

“Jadi sejak tadi kau tidak melakukan apa-apa? Aish, dasar merepotkan.” Sungjae menambah sakit di tubuh Jimin dengan menendang punggungnya.

Yoonji yang berdiri jauh dari mereka tampak tidak terima dengan apa yang sudah mereka lakukan pada Jimin. Tanpa pikir panjang dia pun melepas sepatunya dan melemparnya ke kepala Sungjae dan Sanghyuk. Dengan berani dia bahkan menghampiri mereka, lebih tepatnya membantu Jimin untuk berdiri.

“Berhenti melukainya. Kalian bahkan tidak lebih baik dari Park Jimin.”

“Yoonji-a….” lirih Jimin namun diabaikan oleh Yoonji karena duo S menyebalkan itu kini berdiri di depannya dengan tatapan tajam.

“Kau itu makin dibiarkan makin menyebalkan ya,” ujar Sungjae sambil mengantongi kedua tangannya dalam saku.

“Inilah kenapa aku paling tidak suka berurusan dengan makhluk merepotkan bernama perempuan,” sambung Sanghyuk yang juga melakukan hal yang sama.

Wae? Apakah aku salah bicara? Kalian ingin menghajarku? Silahkan. Toh di sini sudah tidak ada siapa-siapa. Silahkan pukul aku sepuas kalian.”

Makin ditantang, Sungjae dan Sanghyuk pun marah. Tanpa ragu mereka pun mengangkat tinju serentak dan….

Geuman kaja. Dia ingin bicara denganku, bukan untuk berkelahi dengan kalian.”

Mereka, Yoonji, Sungjae dan Sanghyuk sama-sama menoleh ke asal suara. Wajah Jooheon muncul di antara tubuh duo S. Ekspresi wajahnya datar, ia menatap lurus pada Yoonji.

“Tapi dia sudah memukul kepalaku dengan sepatu!” seru Sungjae tidak terima.

Dalam sekali dorong, Sungjae dan Sanghyuk pun terpental menjauh. Kini Jooheon-lah yang berdiri berhadapan dengan Yoonji. Tak sekalipun dia merasa iba dengan kondisi Jimin atau Yoonji yang tidak memakai sepatu. Dia sangat dingin dengan kedua tangan yang masuk dalam saku celana.

“Kenapa kau ingin bertemu denganku? Bukankah selama ini kau berusaha untuk menjauh dariku?”

“Aku sudah lelah.”

Mworago?

“Tolong, berhenti memukuli Jimin. Anak ini tidak memiliki salah apa pun.”

“Hanya itu?”

Yoonji menggeleng. “Aku juga ingin meminta maaf.”

Akhirnya ekspresi Jooheon muncul lagi. Dia mengangkat alisnya bingung. “Maaf?”

“Aku minta maaf untuk semua yang sudah kulakukan termasuk kelakuan buruk kakakku padamu. Kumohon berhentilah menyakiti Jimin. Dia tidak salah apa-apa. Kau tidak berhak melukai wajahnya. Karena yang bersalah di sini adalah aku.”

“Yoonji-a,” panggil Jimin lagi dengan suara lirih, atau mungkin bisa dibilang rintihan.

Yoonji menoleh. Ekspresinya khawatir sambil satu tangannya yang lain merangkul pinggang Jimin. “Gwaenchanha? Sakit sekali, hm? Kita ke ruang kesehatan, ya?”

Tepat saat Yoonji akan mengambil langkah menuju ruang kesehatan, Jimin tiba-tiba ambruk. Dia ikut terseret jatuh karena beban tubuh Jimin yang lebih berat. Matanya seakan ingin melompat keluar saat dilihatnya Jimin yang pingsan.

“Jimin? Jimin-a. Yaa, ireona. Jimin-a!” Karena Jimin tidak sekalipun bangun meski tubuhnya sudah digoyangkan, Yoonji pun menoleh ke belakang. Pada 4 pria yang hanya mematung di tempat. Wajahnya panas, matanya mulai berkaca-kaca. “Apa yang kalian lakukan di sana? Kalian hanya akan diam saja melihat dia sekarat? Lakukan sesuatu. CEPAT LAKUKAN SESUATU!!”

Duo S berdecak. Changkyun membuang pandangan seolah dia tidak melihat apa-apa. Lain halnya dengan Jooheon yang tengah menenangkan emosinya sebelum berjongkok membelakangi Jimin yang terkapar. Matanya menatap satu persatu anggota kelompoknya. “Yaa, bantu dia naik ke punggungku. Ppali.”

Karena tiga anak itu lumayan takut pada Jooheon, mereka pun hanya patuh dan membantu Jimin yang pingsan untuk naik ke punggung Jooheon. Setelah posisinya pas, Jooheon pun berdiri. Dia melepas kedua sepatunya lalu menendangnya ke hadapan Yoonji.

“Pakai itu. Kakimu bisa terluka,” ujarnya tanpa sekalipun menatap siapa yang diajaknya bicara sebelum membawa Jimin ke UKS. Changkyun mengikutinya, sementara duo S masih berdiri di tempat. Mereka tampaknya bingung ingin memulai pembicaraan dengan Yoonji. Rasa kesal itu masih ada. Tapi jika teringat wajah kecewa Yoonji saat diantara mereka tak ada satu pun yang tanggap membantu Jimin, entah bagaimana membuat mereka merasa bersalah. Terlebih ketika mendengar isakan Yoonji, perasaan mereka makin tak karuan.

Sanghyuk sudah tidak betah berlama-lama hanya diam. Dia pun segera berlutut di hadapan Yoonji untuk memakaikan sepatu milik Jooheon ke kedua kaki Yoonji. Dia bahkan menyimpul ulang tali sepatunya agar lebih erat karena kaki Yoonji terlalu mungil untuk ukuran sepatu Jooheon.

Begitu selesai, Sanghyuk pun berdiri untuk membungkuk 90 derajat padanya (ungkapan maaf) sebelum beranjak pergi. Menyisakan Sungjae di sana dengan rasa bersalah yang menyelimutinya.

“Aish. Kenapa dia meninggalkanku di saat seperti ini?” gusarnya sambil merogoh saku kemeja untuk mengambil selembaran sapu tangan yang selalu diselipkan ibunya di sana sebelum berangkat sekolah. Dengan kasarnya dia melemparkan sapu tangan itu ke pangkuan Yoonji. “Bersihkan wajahmu dengan itu. Dasar cengeng. (translate: jangan menangis).”

Kemudian dia mengikuti jejak kawan-kawannya yang lain meninggalkan lokasi. Tersisa Yoonji bersama Taehyung yang masih sibuk bermain ponsel. Yoonji tak sekalipun memedulikan kehadiran Taehyung. Dia mengantongi sapu tangan Sungjae tanpa sekalipun memakainya lalu berjalan terseok-seok menyusul kepergian Jimin.

Taehyung meliriknya dari balik ponsel. Kemudian dia mengetikkan sesuatu.

Dia baik-baik saja. Kau tidak usah muncul.

TBC 

Advertisements

One Reply to “Swag Couple Series [#34 Yoonji’s Secret Weapon]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s