Swag Couple Series [#35 I Know]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

Kim Seokjin BTS

other cameo

**

Chapter #1 – #29

Love Hate | Kim Seok Jin | Park Jimin (2)

Lee Jooheon | Yoonji’s Secret Weapon

Anak-anak chaebol seperti kalian memang tidak sepantasnya meminta maaf pada seseorang yang bukan apa-apa seperti Jimin

**

PAK! PAK! PAK!

Jooheon, Changkyun dan Sanghyuk meringis kesakitan secara berjamaah. Baru saja kepala berharga mereka dipukul dengan penggaris kayu oleh Kwon Jiyong. Lelaki muda berwajah lugu yang bekerja sebagai dokter sekolah itu menatap mereka garang di balik kacamata imutnya. Kemudian dia menggeplak kepala Sungjae.

“Kalian tahu apa kesalahan kalian? Lihatlah, anak itu pingsan karena kalian. Dia akhir-akhir ini sering datang kemari dengan wajah babak belur dan ternyata semua itu adalah ulah kalian. Dasar anak-anak sialan. Atas dasar apa kalian memukulinya, huh? Masalah perempuan? Uang? Kekuasaan? Apa pun itu, berhenti menjadi sok. Berkacalah, wajah-wajah kalian ini sangat imut. Sia-sia sekali kalau imej kalian sangat buruk.”

Sementara Kwon Jiyong sibuk memberi wejangan pada 4 anak itu, di salah satu bilik terdapat Yoonji yang sedang menatap kosong pada Jimin yang berbaring tak berdaya. Sampai detik ini Jimin belum sekalipun bangun, sepertinya kekasihnya itu sangat-sangat mengantuk sampai tidak ingin bangun untuk melihat kondisi wajahnya yang kini sangat berantakan. Tangannya sendiri sejak tadi asik menggenggam tangan mungil Park Jimin.

“Aku tidak mau tahu. Pokoknya awas saja kalau setelah ini Jimin datang lagi kemari karena ulah kalian. Pergilah, kalian ini hanya membuatku muak saja.”

Terdengar suara langkah kaki menjauh. Sementara itu terdengar pula suara langkah kaki mendekat. Salah satu tirai tersibak, menampilkan wajah 4 anak troublemaker itu yang 3 diantaranya seakan terpaksa datang. Jooheon yang berdiri di paling depan langsung berjalan ke belakang Yoonji. Kakinya hanya dibalut kaos kaki karena sepatunya masih dipakai Yoonji. Dia berhenti jarak beberapa langkah.

Yaa, mianhae. Aku janji tidak akan melakukan itu lagi.”

Yoonji masih bergeming. Ketiga anak di belakang Jooheon mendadak kesal karena diabaikan, beda lagi dengan Jooheon yang tampak tenang.

“Aku akan lakukan apa pun jika terjadi sesuatu dengan Jimin. Tiga anak ini, mereka juga akan ikut bertanggung jawab.”

“Kenapa aku—AKH!” Belum sempat Changkyun melayangkan protes, kakinya sudah lebih dulu ditendang oleh Jooheon. Terpaksa dia pun tutup mulut karena takut dengan pelototan Jooheon.

“Pokoknya kau tidak perlu khawatir lagi. Kami tidak akan mengganggumu lagi, tidak akan melukai Jimin lagi dan kami juga akan bertanggung jawab jika kondisi Jimin memburuk. Mianhae. Tolong maafkan kami.” Setelah bicara begitu, Jooheon pun berlutut untuk menunjukkan kalau dia benar-benar serius minta maaf. Dia bahkan memaksa tiga kawannya untuk ikut berlutut (meski mereka sebenarnya ogah). Mereka berempat terus bertahan di posisi itu sampai Yoonji akhirnya buka suara.

“Kenapa kau harus minta maaf padaku?”

Jooheon langsung mendongak. “Ye?

“Seseorang yang sudah menderita karena kalian adalah Jimin, bukan aku. Kenapa kalian harus meminta maaf padaku?”

“Jalang ini. Yaa! Kau pikir aku sudi meminta maaf padamu?!” Sanghyuk tahu-tahu menyahut. Tapi setelah itu dia menyesali tindakannya karena Jooheon memelototinya dengan ancaman mati.

“Aku juga tahu kalau Jimin-lah yang selama ini menderita karena kami. Tapi, biar bagaimanapun kami juga memiliki salah padamu. Kami akan meminta maaf pada Jimin nanti, setelah Jimin siuman,” ujar Jooheon.

Micheosseo? Kenapa juga aku harus minta maaf pada anjing kelas miskin itu?!” Kali ini giliran Sungjae yang menyalak. Jooheon juga memelototinya, tapi dia sama sekali tidak takut. Yang ada dia berdiri dan beranjak dari sana. “Aku tidak mau lagi melakukan hal bodoh seperti ini.”

Changkyun dan Sanghyuk yang melihatnya pun ikut-ikutan. Meski Jooheon sudah memberikan mereka ancaman, mereka tetap hengkang dari sana. Menyisakan Jooheon yang meminta maaf seorang diri di sini. Dia menghela napas lelah.

Ka. Neodo. Anak-anak chaebol seperti kalian memang tidak sepantasnya meminta maaf pada seseorang yang bukan apa-apa seperti Jimin. Biar bagaimanapun, toh Jimin tidak akan bisa melaporkan kalian pada pihak berwenang. Dia sudah pasti akan kalah karena kalian bisa menggunakan koneksi pengacara pribadi untuk mengalahkannya. Jangan meminta maaf pada Jimin. Ganti permintaan maafmu dengan tidak lagi melukai dirinya karenaku. Aku … tidak akan meninggalkan dia begitu saja meskipun kau berhasil mematahkan tulang punggungnya, Lee Jooheon.”

Kalimat terakhir yang diucapkan Yoonji seketika menampar dirinya. Apakah itu artinya dia menyadari perasaanku? Entah bagaimana dia merasa malu setelah menyadari hal itu. Kepalanya pun makin tertunduk. Benar-benar mengakui kesalahannya.

Setelah beberapa menit bertahan di sana, Jooheon pun segera beranjak seperti yang Yoonji minta. Namun langkahnya terhenti saat sebuah suara menginterupsi.

“Pakailah sepatumu. Aku tidak mau luka di kakimu makin parah.”

Lelaki itu kembali untuk mengambil sepatu yang sudah lepas dari kaki Yoonji. Setelah itu dia membungkuk dan beranjak pergi.

“Sebelumnya kau sudah pernah punya maag?” tanya Kwon Jiyong saat memeriksa kesehatan Jimin sementara yang diperiksa sibuk mengisi perut.

Animnida.”

“Berapa kali kau makan akhir-akhir ini?”

“Hm … sehari dua kali, biasanya. Terkadang tiga … empat … ya, tergantung aku lapar tidaknya,” jawab Jimin sembari memasukkan sesumpit kimchi ke dalam mulutnya. Saus kimchi itu tertinggal di ujung bibirnya. Dengan telaten Yoonji menyekanya menggunakan ibu jari. Jimin yang menyadari itu tersenyum senang akan tindakan Yoonji.

“Jadi, jadwal makanmu tidak tetap?”

Ne.”

“Oke. Jadi, kau ini terkena maag, Park Jimin. Mulai besok setidaknya kau harus mulai mengatur ulang jadwal makanmu. Usahakan makan tepat waktu. Kalau bisa kau harus sediakan makanan ringan seperti roti di dalam tasmu untuk jaga-jaga saat kau tidak bisa makan tepat pada waktunya. Mengerti?”

Ne, seonsaengnim.”

Jiyong mengalihkan perhatian pada Yoonji yang sejak tadi terus memantau Jimin makan. “Kau bisa membantunya untuk mengatur jadwal makannya?”

Tanpa menoleh, Yoonji mengangguk. “Aku akan melakukan apa pun untuk anak bodoh ini.”

Pria nyaris 30 tahun itu ber’oh’ ria dengan jawaban Yoonji. Dia memperhatikan pasangan kecil di depannya ini bergantian, lalu dia tersenyum penuh arti. “Joha. Kalian memang sangat serasi. Aku punya feeling yang bagus untuk karir hubungan kalian ke depan nantinya.”

Jinjja-yo? Apakah aku bisa menikah dengan Yoonji nantinya? Menurut seonsaengnim, kalau seandainya aku menikah dengan Yoonji, apakah nanti anak-anakku akan tampan dan cantik seperti idol?”

Mendadak wajah ceria Jiyong berubah poker face. Ia menepuk pelan kepala Jimin sebelum beranjak. “Na kanda. Setelah ini kalian langsung pulang saja. Toh sebentar lagi sekolah juga akan bubar.”

Jimin mengernyit tak mengerti dengan kepergian Jiyong. Dia pun menoleh pada Yoonji. Bertanya dengan wajah polos. “Apakah tadi aku salah bicara? Kenapa ekspresinya tiba-tiba berubah?”

Yoonji tersenyum tipis, sekilas memang mirip dengan Min Yoongi tapi milik Yoonji tampak lebih feminin. Dia menggeleng. “Kau tidak salah bicara.”

“Tapi kenapa seonsaengnim itu tiba-tiba pergi?”

“Kau tidak salah bicara, tapi kau bicara pada orang yang salah. Jangan pernah singgung soal pernikahan pada orang yang masih lajang di usia nyaris 30, Jimin. Itu hukumnya, haram.”

Jimin membuka mulutnya, baru paham dengan maksud kepergian Jiyong.

Ruangan itu hening untuk beberapa menit. Jimin makan dengan nikmat sekali, membuat Yoonji yang melihatnya tersenyum penuh arti. Gadis itu tidak tahu jika melihat seseorang makan dengan lahap bisa membuatnya bahagia. Jimin tampak seperti anak usia 3 tahun yang baru belajar makan sendiri.

“Yoonji kenapa melihatku terus?” tanya Jimin setelah dia sadar akan perhatian Yoonji. Salah satu pipinya menggelembung, nasi di sebelah situ masih belum dikunyahnya.

Wae? Memangnya aku tidak boleh melihatmu? Mata milikku juga.”

Ani … maksudku, jantungku jadi berdebar-debar karenanya. Malu dipandangi gadis cantik terus,” jawab lelaki itu sambil tersenyum-senyum genit. Wajahnya jadi makin jelek, itulah kenapa Yoonji memukul lengannya.

“Shikkeuro. Cepat habiskan makananmu dan setelah ini kita pulang.” Yoonji pun berdiri dari tempatnya untuk merenggangkan tubuhnya yang pegal.

“Kau tidak ingin menginap di rumahku? Besok akhir pekan. Daripada kau di rumah sendiri, bagaimana kalau menginap di rumahku saja?”

“Tapi aku harus pulang dulu untuk ambil barang-barang.”

“Nah! Bagaimana kalau kita pulang ke rumahmu sekarang?”

Keurae, kaja.”

“Sebelum itu.” Yoonji yang sudah berniat pergi dari tempat itu langsung menoleh. Jimin memandangnya penuh arti sebelum melanjutkan kalimatnya. “Bisakah kau mendekat padaku sebentar?”

“Untuk apa?”

“Sudahlah, mendekat saja.”

Yoonji memicing curiga, namun dia tetap beranjak mendekat seperti yang Jimin minta. Begitu dia benar-benar dekat dengan Jimin, Jimin pun menarik pinggangnya dan berakhir memeluknya. Yoonji terlalu terkejut bahkan untuk mendorong kepala Jimin menjauh dari perutnya. Kedua matanya memandang puncak kepala Jimin tak mengerti.

Yaa, mwohaneungeoya? Ini di sekolah, lepaskan aku.” Yoonji mendorong pundak Jimin agar menjauh darinya. Namun itu tidak bekerja sesuai yang diharapkan. Jimin meskipun dalam keadaan sakit, tetap masih lebih kuat dari Yoonji. Dia dengan santainya malah mengangkat kepala, memamerkan senyum manisnya saat membalas tatapan Yoonji.

“Yoonji sayang, kau baik-baik saja?”

Yoonji termenung di tempat usai mendengar suara indah nan menggoda milik Park Jimin.  Kata ‘sayang’ usai namanya disebut, entah kenapa membuat jantungnya berdebar-debar. Tidak kuat terus-menerus menatap Jimin, Yoonji pun membuang pandangan ke mana saja. “A-apa sih? Aku tidak apa-apa.”

Jimin tersenyum simpul. “Kau habis menangis, hm? Jejak-jejak ingusnya masih ada nih. Duh….”

Reflek Yoonji menyeka punggung tangannya ke hidungnya. Namun dia tidak merasakan apa-apa disana.

“Kena kau.”

Yoonji mendengus kesal. Tapi Jimin malah tersenyum.

“Benar ‘kan habis menangis? Wae? Menangis kenapa sayang? Malhaebwa. Apa karenaku? Kau takut aku tidak bangun lagi?”

“Bicara apa sih? Lepaskan tidak?”

Tiba-tiba Jimin mendudukkannya di ranjang, lebih tepatnya di atas pangkuan Jimin. Reflek Yoonji mengalungkan lengannya di leher Jimin supaya dia tidak oleng.

Untuk pertama kalinya, Yoonji merasa kecil di dekat Jimin. Wajahnya terpaksa harus sedikit mendongak untuk membalas tatapan Jimin. Sementara itu, lidahnya terus saja menelan ludah pahit setiap kali dia berebut udara dengan Jimin. Jimin yang sebelumnya terlihat seperti puppy, entah bagaimana sekarang berubah menjadi seorang … daddy? Cukup berbahaya untuk kesehatan jantung Yoonji.

“Kau tidak akan mengatakannya padaku?” tanya Jimin tiba-tiba dengan suara seraknya sambil menekan pinggang Yoonji agar makin dekat dengannya. Dan ya, jarak diantara wajah mereka semakin tidak ada.

“Di sini sedang tidak ada siapa-siapa, Sayang. Aku bisa saja menciummu sepuasku kalau kau tidak segera memberitahuku,” lanjut Jimin, dibarengi dengan jemarinya yang menyelipkan rambut Yoonji ke belakang telinga.

Jantung Yoonji rasanya nyaris meledak. Buru-buru dia mendorong bahu Jimin dengan kedua tangannya, membuang muka.

Y-yaa, i-ini di sekolah. Geumanhae.”

Melihat rona merah di pipi Yoonji, Jimin terkekeh. Ia pun mengelus rona itu sebelum mengecupnya cepat. Kekehannya kembali terdengar saat Yoonji bereaksi dengan memukul dadanya.

Arasseo, arasseo. Aku tidak akan melakukan itu. Tapi, benar kau tidak akan memberitahuku? Ah … aku jadi khawatir. Kuharap … kau bukan menangis karena pria lain. Orang yang boleh membuatmu menangis hanya aku. Dan itu tangisan bahagia karena pernikahan kita~”

Yoonji merotasikan matanya jengah. Meski begitu terdapat senyum tipis di wajahnya. Dia segera turun dari ranjang, membantu Jimin turun dari ranjang juga.

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s