Swag Couple Series [#36 Sleepover]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

Kim Seokjin BTS

other cameo

**

Chapter #1 – #29

Love Hate | Kim Seok Jin | Park Jimin (2)

Lee Jooheon | Yoonji’s Secret Weapon | I Know

Masih ada aku di sini, kau tidak sendirian

**

Yoonji hanya membawa pakaian secukupnya dari rumah. Dengan menaiki bus, dia pun pergi ke rumah Jimin bersama Jimin. Sesampainya di kediaman keluarga Park, kepalanya menoleh ke sana kemari, tidak ada siapa pun di dalam rumah ini. Jimin juga sepertinya bingung dengan keadaan rumahnya yang kosong melompong. Ia pun menyuruh Yoonji untuk duduk di depan TV sementara dia pergi ke kamar untuk ganti baju dan menelepon kedua orangtuanya.

Selama Jimin di kamar, Yoonji duduk tenang di depan TV. Sengaja dia tidak menyalakan TV itu karena remote-nya saja tidak ada. Kepalanya menoleh pada dinding sisi kanannya yang penuh dengan pigura foto. Tidak seperti di rumahnya yang hanya memiliki segelintir foto, itu pun foto keluarga yang diambil dengan sangat jarang. Foto-foto di dinding itu lebih banyak foto individu. Foto ayah Jimin sejak bayi sampai usia sekarang, foto ibu Jimin sejak masih kecil sampai usia sekarang, foto Jihyun sejak berada di kereta bayinya sampai Jihyun yang memegang diploma kelulusan SMP-nya, begitu juga foto-foto Jimin. Dinding itu seolah merupakan saksi bisu dari perjalanan hidup keluarga ini. Yoonji tak bisa menahan senyumnya melihat tampang menggemaskan Jimin saat mengenakan kostum coboi.

Anak ini sama sekali tidak berubah, kecuali … tinggi badannya.

“Ji-ya.”

Yoonji reflek menoleh. Jimin muncul dari kamar dengan mengenakan kaos hitam polos dan celana training berwarna senada. Fokusnya hanya tertuju pada ponsel saat berjalan menghampiri dan duduk di hadapan Yoonji.

Wae?” tanya Yoonji akhirnya karena tidak betah melihat Jimin yang hanya diam sambil melihat sesuatu di ponselnya.

“Sepertinya….” Jimin mendongak. “Aku ditinggal di rumah sendirian.”

Yoonji mengerutkan kedua alisnya bingung. “Maksudnya?”

Jimin menghela napas. Ia mematikan lampu layar ponselnya, dan menyimpan ponselnya di ruang kosong antara mereka. “Yah … karena akhir pekan. Biasanya orangtuaku pergi ke rumah halmeoni, bersamaku dan Jihyun. Tapi sepertinya pekan ini aku tidak diajak. Mereka sudah berangkat.”

Melihat bahu Jimin yang turun dibarengi dengan bibirnya yang melengkung ke atas, membuat Yoonji iba. Ia pun menepuk lembut bahu Jimin sambil tersenyum.

Gwaenchanha. Masih ada aku di sini, kau tidak sendirian.”

Jimin balas menatapnya dengan senyuman. “Maja, sekarang aku tidak sendirian lagi.”

Yoonji pun kembali memalingkan wajahnya pada dinding sisi kanannya. Satu tangannya menunjuk pada foto Jimin kecil yang sedang bermain pasir. Jimin pun mengikuti arah pandangnya.

“Senyumanmu tidak pernah berubah sejak dulu.”

Jimin tersenyum tipis, mengingat kembali masa kecilnya entah kenapa ingin membuatnya tersenyum. Hm, masa kecilnya tidak sesulit masa yang sedang dijalaninya sekarang. Jika bukan karena Yoonji, apakah bisa dia tersenyum selebar itu?

“Kau bahagia sekali,” lanjut Yoonji lirih. Karena jarak antara dia dan dinding itu tidak jauh, mudah baginya untuk menyentuh kaca pigura foto itu. “Apakah bermain pasir sebegitu menyenangkannya bagimu?”

“Mungkin. Itu sudah lama sekali. Aku juga sudah lupa bagaimana perasaanku kala itu.”

“Hm … arro. Aku juga tidak mengerti kenapa dulu aku tersenyum saat berfoto bersama Teletubbies. Padahal mereka itu mengerikan.”

Jimin terkekeh. “Kupikir kau menyukai hal-hal menakutkan seperti itu.”

Molla. Sekarang aku berpikir, hantu itu menakutkan, gelap itu mengerikan. Bahkan, boneka Kumamon milik oppa kusembunyikan di dalam lemari. Sejak oppa pergi ke Amerika, dia bukannya membuat tidurku nyenyak, malah membuatku bermimpi buruk.”

Sekali lagi Jimin terkekeh. Yoonji sendiri tidak masalah jika ceritanya barusan terdengar lucu bagi Jimin. Malah bagus kalau Jimin tertawa. Entah sudah berapa chapter Jimin tidak lagi tertawa seringan itu. Author-nya sendiri bahkan sudah lupa, dan malas untuk baca ulang.

“Lalu … apa yang harus kita lakukan di sini kalau keluargamu tidak di rumah?” tanya Yoonji akhirnya setelah lama mereka saling diam.

“Entah ya.” Jimin menjawab seadanya sambil menggendikkan bahu. “Mungkin, bercerita … menonton film … makan … tidur. Hehe, besok aku akan mengajakmu kencan, janji.”

Yoonji menggeleng tidak setuju. “Aku tidak mau kondisimu jadi makin parah. Tidak perlu membuat janji seperti itu. Besok kita akan menghabiskan waktu di dalam rumah juga. Kau, harus banyak tidur dan makan. Tidak boleh bepergian kemanapun.”

Aigoo … aku diperhatikan!” pekik Jimin sok imut sambil menggoyangkan badannya seperti seorang gadis yang baru saja di-notice lelaki yang disukainya. Yoonji sendiri menatapnya heran. Tingkah unik Jimin terkadang membuatnya tercengang. Lebih buruk lagi ekspresi wajahnya saat melihat Jimin yang memukul genit bahunya.

“Yoonji ih. Aku ‘kan jadi shy shy shy~

60 detik kemudian…. RIP JIMIN.

Benar-benar tidak ada yang bisa dilakukan di rumah Jimin. Sebenarnya kalau toh Yoonji di rumah sendiri, tidak ada juga hal yang bisa dilakukan selain menghabiskan stok snack sambil maraton drama. Tapi setidaknya itu masih lebih baik daripada di rumah Jimin. Sebagian besar waktu yang dihabiskan Yoonji di tempat ini hanya bernapas.

Tidak menonton TV. Remote TV-nya hilang entah kemana.

Tidak juga makan. Stok makanan di kulkas hanya bahan-bahan untuk makanan pokok 3 kali sehari. Sangat tidak cocok sebagai camilan.

Bahkan Jimin tidak punya komputer terlebih laptop yang bisa digunakan untuk menonton sesuatu. Komputer di kamar Jihyun tidak berguna karena terproteksi oleh sandi yang tidak bisa dipecahkan oleh mereka.

Sempurna, satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Yoonji hanya duduk tenang di depan TV. Sembari memikirkan kembali alasan kenapa dia bisa berada di sini dan melupakan snack serta bergiga-giga dramanya di rumah.

“Ji-ya. Sedang apa di situ? Ayo ke kamarku. Kita tidur.”

Dalam hitungan detik, mata sipit Yoonji langsung terbuka lebar. “Kau pikir aku ini apa?!”

Jimin melonjak takut. Spontan dia menggeleng. “A-aku tidak bermaksud apa-apa. Kau kelihatannya sangat lelah seharian ini. Kau butuh tidur. Tidur ya tidur, bukan tidur yang lain. Aku juga tahu batas kok. Ya? Ayo.”

Yoonji mendengus. Dengan wajah jutek dia meletakkan tangannya di atas tangan Jimin yang terulur. Membiarkan Jimin menggandengnya memasuki kamar, dan melotot kesal saat Jimin mengusak rambutnya.

Mian, kau pasti kesal karena disini tidak ada yang bisa dilakukan. Yah beginilah rumahku. Biasanya kalau aku sendirian seperti ini aku akan menghabiskan waktu untuk tidur-tiduran sambil baca webtoon. Itupun kalau aku punya paket data.” Jimin membiarkan Yoonji menempati ranjangnya sementara dia menarik kursi meja belajarnya dan mendudukinya dengan posisi memeluk sandaran kursi.

“Tahu begini lebih baik menginap di rumahku saja. Aish, aku bosan sekali di sini.” Yoonji meraih satu bantal dari ranjang dan memeluknya sambil cemberut. Melihat kekasihnya merajuk, Jimin yang seharusnya merasa bersalah malah justru tersenyum geli. Iseng dia mencubit pipi Yoonji.

“Kesal ya padaku? Lucunya.”

“Lucu katamu? Mau kupiting lagi lehermu?!”

Jimin menggeleng cepat diikuti cengengesannya. “Ani, ani. Satu kali saja sudah cukup. Sakit.”

Yoonji mendengus. “Tahu begini aku akan bawa jajan dan laptopku. Setidaknya ada yang bisa dimakan dan ditonton. Tapi ini, aish. Dimana sih kau menghilangkan remote-nya?!”

Sekali lagi Jimin terlonjak karena bentakan Yoonji. Hm, Yoonji memang sering sih marah-marah tidak jelas padanya. Tapi yang kali ini berbeda, entah kenapa Yoonji jadi sangat menakutkan. Seolah Jimin sedang berhadapan dengan singa betina yang kelaparan.

“Tenang, tenang. Aku yakin remote-nya pasti ada di salah satu tempat di dunia ini. Kita hanya perlu mencarinya, dan dia—”

“KAU PIKIR DUNIA INI SESEMPIT KAMARMU?! BERANINYA MENYURUHKU IKUT MENCARI BARANGMU!”

Andai saja ini film animasi, mungkin sudah keluar badai dari mulut Yoonji yang membuat Jimin terhempas ke dinding bersama kursinya dan jatuh ke lantai dengan kepala yang dikelilingi burung. Itu. Pasti. Sakit. Syukurlah author bukan animator.

Arasseo, arasseo. Biar aku saja yang cari. Yoonji cukup duduk tenang di sini, tiduran juga boleh. Oke? Gwaenchanha?

“Apa maksudmu gwaenchanha?” seru Yoonji tak terima sambil melayangkan bantal di pelukannya ke wajah Jimin. “Kau pikir aku setua itu sampai harus tiduran sambil menunggumu! Kenapa kau menyebalkan sekali sih hari ini?!”

Jimin tak mengerti. Diajak mencari bersama, salah. Diminta tidur juga salah. Lalu yang benar apa? Jimin nggak bisa diginiin. Yoonji itu neomuhae neomuhae.

Jimin yang tak bisa menggunakan otaknya, akhirnya merengek sambil pura-pura menangis seperti anak kecil kehilangan balon. “Cakit~ Yoonji jahat. Jimin anak yang baik, kenapa dipukul? Hueee padahal Jimin cuka cama Yoonji. Tapi Yoonji jahat ke Jimin. Hiks.”

Yoonji berdecak tak suka, tapi sebenarnya dalam hati dia menjerit bombai. Cuteness overload! Jiwa Yoonji sampai mimisan karenanya.

Dwaesseo. Tidak usah dicari saja remote-nya. Aku mau tidur, ngantuk.” Ia pun menata bantal dengan baik sebelum berbaring di sana. Dibungkusnya erat-erat seluruh tubuhnya dengan selimut tebal milik Jimin. Kemudian menepuk sisi kosong ranjang itu, meminta Jimin menempatinya.

Dengan senang hati Jimin menjalankan perintah.

“Kalau nanti pagi selimut ini lepas dari tubuhku, siap-siap saja kau mati, Park Jimin. Jalja.”

Jimin hanya tersenyum tipis. Seperti yang Yoonji lakukan, dia juga ikut memejamkan mata.

Paginya….

“PARK JIMIN! JUGULLAE?!

“AW! AW! BUKAN AKU! AKH! BUKAN AKU YANG MELEPASNYA!”

“MEMANGNYA SIAPA LAGI YANG ADA DI SINI SELAIN KAU, HM?! PENCURI TIDAK AKAN MENGAKU MENCURI!”

“TAPI MEMANG BUKAN AKU YANG MELAKUKANNYA! AKH! APA APA!

Semalam….

Yoonji mengerang. Dia merasa kegerahan karena selimut yang terlalu tebal. Dengan sedikit kesadaran, dia pun melepas sendiri selimut itu, termasuk melepas blazer sekolahnya –yang masih dia pakai- karena keringat di tubuhnya yang sudah seperti banjir bandang.

Sementara itu, saat menoleh ke samping, dia melihat Jimin yang meringkuk tanpa bantal. Dia pasti kedinginan, pikirnya. Masih dengan kesadaran yang minim, dia pun menyelimuti Jimin sekaligus menyelipkan bantal di bawah kepala lelaki itu.

“Nggg … dingin….” gumam Jimin saat Yoonji sedang berusaha mengangkat kepala Jimin.

Arra … angkat sebentar kepalamu….” balas Yoonji dengan suara malasnya.

Akhirnya bantal itu berhasil terselip ke bawah kepala Jimin. Tepat detik itu juga Yoonji jatuh lelap kembali. Posisinya nyaris menimpa Jimin, karena satu lengannya melintang santai di atas leher lelaki itu.

Dan Jimin … mungkin karena masih kedinginan, otomatis mendekap Yoonji erat.

Yoonji yang semula kepanasan, lama-lama kedinginan juga sampai keringatnya membeku.

Akhirnya … dan yang paling akhir … mereka pun tidur dalam posisi berpelukan.

Sampai pagi.

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s