Swag Couple Series [#37 Change]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

Kim Seokjin BTS

other cameo

**

Chapter #1 – #29

Chapter #30 – #36

Ada apa sebenarnya denganmu?

**

Hari-hari berlalu dengan begitu cepat. Tak terasa ujian kelulusan sudah ada di depan mata. Kelas 3 semakin hari semakin pulang malam. Terkadang Yoonji baru sampai rumah pukul 1 pagi, belum di rumah dia harus mengerjakan tugas esok harinya dan baru bisa tidur pukul 3 pagi. Semua ini semata-mata dilakukan untuk ujian nasional.

3 bulan sebelum ujian dilaksanakan, para wali kelas membagikan selembaran pilihan karir usai lulus SMA. Para murid diminta untuk memilih antara kuliah atau bekerja setelah lulus SMA. Jika memilih kuliah, maka para siswa akan mendapat jam bimbingan khusus untuk ujian masuk universitas. Namun jika yang dipilih adalah bekerja, maka para siswa akan diberi pembinaan skill dan kewirausahaan di sela-sela persiapan ujian kelulusan.

Tiap siswa diberi waktu 2 hari untuk mempertimbangkannya, bersama orangtua.

“Kau sudah memilih?” tanya Yoonji sambil membersihkan ujung bibir Jimin dengan tisu. Mereka makan siang di dalam kelas.

Jimin menggeleng. “Yoonji?”

Bomonim menyuruhku masuk kuliah. Mungkin aku akan memilih opsi kuliah.”

Keurom. Kau harus kuliah.”

Neo-do.”

Jimin menyeringai. “Kenapa aku juga? Aku tidak pantas kuliah.”

Mworago? Kenapa kau tidak pantas kuliah?” Yoonji pun mengabaikan sendoknya yang sudah diisi nasi dan memokuskan pandangan pada Jimin. Ekspresi wajahnya seolah siap berperang dengan siapa pun. Dia tidak suka Jimin bicara begitu.

“Aku tidak pintar. Orangtuaku juga tidak punya dana. Untuk apa aku kuliah?”

“Kau pasti bisa kuliah. Ada beasiswa untuk siswa yang kurang beruntung. Kau bisa mengambil itu.”

Jimin menggeleng. “Tetap saja aku harus masuk rangking sepuluh besar untuk kualifikasinya.”

“Lihat aku, Jim.”

Jimin pun mengangkat kepalanya perlahan. Yoonji menghela napas.

“Kau bisa. Kau pasti bisa. Yang harus kau lakukan adalah berusaha. Aku akan membantumu sebisaku.”

Bibir Jimin membentuk garis lurus tipis. Sorot matanya tampak teduh saat menatap Yoonji. “Aku jauh lebih tahu tentang diriku sendiri, Ji-ya. Tidak perlu. Kau tak perlu melakukannya. Lebih baik gunakan waktumu untuk mengejar mimpimu. Nan gwaenchanha. Dunia tidak akan kiamat kok kalau aku tidak kuliah.”

Sambil terkekeh Jimin pun kembali menyantap bekal makan siangnya. Namun pergerakannya berhenti mendadak usai mendengar ucapan Yoonji.

“Tapi aku ingin bersamamu.”

Perlahan ia mengangkat kepalanya, bersitatap dengan Yoonji dengan ekspresi tercengang. “Ne?”

Yoonji lagi-lagi menghela napas. “Aku ingin bersamamu. Kita harus kuliah bersama.”

“Yoonji-a….”

“Kau harus menemaniku. Aku takut sendirian.”

“Tapi….”

Arra, aku memang tidak bisa memaksamu. Tapi, tidak bisakah kau berusaha melakukannya? Jebal.

Jimin bungkam. Bukannya tidak mau menjawab, dia hanya sulit mengungkapkan jawaban. Yoonji sedang memohon padanya. Dia takut menyakiti hati Yoonji.

Kriiing!

Bel tanda masuk otomatis menyelamatkan Jimin.

“Kita bicarakan lain kali. Habiskan dulu makananmu,” ujarnya sebelum menyikat habis makanannya yang masih tersisa di kotak. Yoonji pun dengan pasrah ikut menyelesaikan makannya.

Esok harinya terasa berbeda. Hari di mana para siswa kelas 3 harus mengumpulkan lembaran pilihan karir, tingkah Jimin mendadak aneh.

Dengan mata sayu seperti tidak tidur semalaman, dia sama sekali tidak fokus mengikuti pelajaran dengan baik. Bahkan dia meminta Jungkook untuk menggantikannya mengumpulkan semua lembaran. Di jam makan siang dia langsung keluar kelas entah pergi kemana tanpa sekalipun menyapa atau melirik Yoonji. Seharian itu pasangan unik ini sama sekali tidak bertegur sapa.

Yoonji pun cemas.

Usai kelas pokok dibubarkan, Yoonji pun segera menghampiri Jimin yang seolah akan menghindar lagi, lantas menyeretnya menuju lokasi yang sepi orang-orang. Ia menolehkan kepalanya ke sana kemari untuk memastikan jika tidak ada siapa pun yang akan menguping pembicaraan mereka. Lantas netranya bersiborok dengan milik Jimin.

Wae? Apa terjadi sesuatu?”

Jimin bukannya menjawab malah melepas cengkraman Yoonji dari pergelangan tangannya. Matanya masih tetap sayu ketika berpandangan dengan Yoonji.

“Bukan urusanmu.”

Saat Jimin akan beranjak, sekali lagi Yoonji menarik lengannya.

Malhaebwa. Apa? Eodi?

Lagi-lagi Jimin menepis perhatian Yoonji. Dia mengucapkan kalimat yang sama sebelum beranjak. Namun Yoonji bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia pun berjalan mendahului dan berdiri sambil merentangkan kedua tangannya tepat di depan Jimin.

“Jawab aku dulu, Park Jimin. Kenapa kau jadi seperti ini?”

“Minggir. Aku sedang tidak ingin bicara denganmu. Jangan halangi jalanku.”

Tidak seperti Jimin biasanya, dia dengan kasar mendorong Yoonji untuk menyingkir dari jalannya. Bahkan mendengar suara debuman bahu Yoonji dia tetap tidak menoleh ke belakang. Sempurna dia meninggalkan Yoonji di sana.

Yoonji sendiri menatap punggungnya dengan sendu.

Ada apa denganmu?

Sehari? Tidak. Dua hari? Tidak. Ini terjadi nyaris sebulan.

Jimin selalu masuk sekolah dalam keadaan lemas. Wajahnya sayu, semangatnya hilang entah kemana. Dia akhir-akhir ini kerap masuk terlambat. Jika biasanya dia selalu datang pukul 7 pagi, sekarang dia baru datang 5 menit sebelum bel masuk. Perubahannya yang drastis ini semakin membuat Yoonji cemas.

Ia terus menatap lurus pada Jimin saat mereka berkumpul dalam kelompok untuk mengerjakan soal ujian tahun lalu. Posisi Jimin berada di seberangnya pas, bersebelahan dengan Jungkook. Seperti yang lain, Jimin tampak fokus mengerjakan soal meski sesekali menguap lebar.

Selama memerhatikan Jimin, pikirannya berkecamuk. Apakah Jimin makan dengan baik? Apa semalam dia kurang tidur lagi? Apa dia baik-baik saja? Hanya pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa dilontarkan langsung olehnya. Dia lebih menghawatirkan Jimin daripada dirinya sendiri yang sama sekali belum menyelesaikan soal satu pun. Mungkin dia akan terus mengabaikan soalnya jika Koeun tidak tiba-tiba menyikutnya.

“Hei, aku lihat nomor delapan be—eh? Kau tidak mengerjakan?”

Ia terhenyak saat tiba-tiba Jimin berpaling padanya. Tidak hanya Jimin, Jungkook dan Taehyung juga ikut-ikutan memusatkan atensi padanya. Ia pun berdehem, lantas menoleh pada Koeun.

“Kau tanya nomor berapa?”

“Delapan belas,” jawab Koeun masih dengan ekspresi heran karena Yoonji yang tidak biasanya malas mengerjakan tugas.

Yoonji pun berpaling pada lembar soalnya. Setelah membaca dan memahaminya sebentar, dia pun bersuara sambil mencoret salah satu opsi. “Jawabannya B.”

Sementara tanpa sepengetahuannya, Jimin tersenyum kecut dan menyembunyikan wajahnya di atas lembar soal.

Yaa, kau serius tidak akan memberitahu dia?” Jungkook tiba-tiba datang dan duduk di samping Jimin. Mereka berada di rooftop, tempat yang akhir-akhir ini sering dikunjungi Jimin setiap jam istirahat.

Jimin menghela napas. “Aku kan sudah bilang.”

“Bukannya dia harus tahu? Aku yakin dia pasti mencemaskanmu. Kau tidak lihat tadi? Dia sampai lupa mengerjakan soalnya gara-gara menghawatirkanmu.”

Tercetak senyum miring di wajah sayu Jimin. “Memangnya kau bisa membaca pikiran orang? Apa iya itu yang dia pikirkan tadi?”

“Dalam sekali lihat aku langsung tahu dia sangat menghawatirkanmu. Bukankah tindakanmu ini terbilang egois? Bilang padanya kalau ayahmu masuk rumah sakit.”

Jimin memeluk kedua kakinya yang sengaja ditekuk. “Shireo, nanti dia akan lebih cemas.”

“Dia bisa saja membencimu kalau dia mendengarnya dari orang lain. Kau lebih memilih dia yang mencemaskanmu atau dia yang membencimu? Aish kalian ini.”

Jimin menutup matanya saat angin musim panas berhembus kencang menerpa wajahnya. Dia mengantuk, sangat. Akan tetapi dia selalu sulit untuk tidur. Dirinya terlalu takut jika ayahnya tidak akan bangun lagi kalau dia tidur. Chanyeol koma selama sebulan setelah insiden tabrak lari itu. Dan dia sudah mengalami gangguan tidur sejak hari itu karena takut jantung Chanyeol akan berhenti berdetak tanpa sepengetahuannya. Hari-hari terasa begitu berat setelah kecelakaan itu terjadi.

Kedua matanya perlahan terbuka saat sesuatu menyenggol lengannya. Dia menoleh dan mendapati sebungkus roti isi dengan bungkus yang familiar di tangan Jungkook.

“Ambil ini. Kau harus makan.”

Ia pun mengambilnya. “Gomawo.”

“Mau dengar cerita lucu?”

Mwo?” Jimin tampak sedang membuka bungkus itu lalu menggigit satu potong dan mengunyahnya perlahan.

“Aku punya teman. Dia itu bodoh.”

“Jangan bilang kalau itu aku.”

“Dia sangat bodoh sekali sampai rasanya aku ingin menonjok wajah idiotnya. Sayang sekali, dia punya pacar yang sangat mengerikan,” lanjut Jungkook tanpa sekalipun mengacuhkan ucapan Jimin.

“Kalau itu tentangku, jangan dilanjutkan.”

“Dan kurasa pacarnya bodoh juga karena mencintai temanku yang bodoh. Pasangan bodoh. Sialnya aku berada di tengah-tengah drama mereka.”

Geumanhae.”

“Temanku, yang semula adalah si bodoh yang ceria, mendadak suram seperti baru saja berganti jiwa. Makin hari dia semakin menyedihkan dengan tampang bodoh sok suramnya.”

Kali ini Jimin malas meladeni. Terserah mau bicara apa, aku tidak mau dengar.

“Dan pacarnya pun cemas setengah mati. Anehnya dia malah marah-marah padaku karena tidak mau memberitahunya kebenaran soal kondisi lelaki bodohnya. Entah bagaimana, aku juga ikut-ikutan bodoh.”

“Tidak lucu.”

“Aku belum selesai. Kau tahu kenapa aku ikut-ikutan bodoh? Karena aku harus menjadi perantara di antara kalian. Roti yang kau makan barusan, bukan aku yang beli. Tapi kekasih bodohmu, arra?! Jangan berterima kasih padaku, berterima kasihlah pada pacarmu yang masih tetap menghawatirkan orang bodoh sepertimu. Aku duluan.”

Seolah tidak perlu mendengar balasan Jimin, Jungkook pun segera beranjak dari sana meninggalkannya. Jimin menatap kepergiannya dengan sorot mata yang sulit terbaca, kemudian menghela napas panjang. Pandangannya beralih pada roti isi yang masih sisa setengah potong di tangannya. Meremasnya lemah.

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s