Swag Couple Series [#38 Struggle]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

Kim Seokjin BTS

other cameo

**

Chapter #1 – #29

Chapter #30 – #36 Chapter #37

Happy Jimin Day

**

Masih tidak ada perubahan dalam hubungan aneh antara Jimin dan Yoonji. Jungkook yang awalnya peduli, kini terkesan acuh tak acuh. Dia sudah malas mengurusi. Terserah Jimin, mau Jimin memberitahu kebenarannya pada Yoonji atau tidak, dia tidak peduli. Toh sejak awal dia hanya cameo dalam cerita romansa mereka, ada tidak adanya dia, tidak akan ada yang berubah.

Yoonji agak dibuat frustasi karena tidak bisa lagi memberikan roti isi kepada Jimin. Dia sempat mencoba menyelipkannya diam-diam ke dalam tas Jimin, tapi Jimin juga mengembalikannya secara diam-diam ke dalam lokernya. Terus seperti itu sampai akhirnya Yoonji mendapati roti isi pemberiannya berakhir di tong sampah.

Jimin sungguh kejam.

Semalaman dia menangis karena sikap Jimin itu. Secara otomatis ia menyalahkan dirinya sendiri. Dia berpikir jika dia memiliki salah yang besar kepada Jimin. Lalu entah bagaimana tiba-tiba Yoongi menelepon. Mungkin inilah salah satu bentuk dari kedekatan genetik.

“Yoonji-a, tiba-tiba aku sangat merindukanmu.”

Yoonji menyeka wajahnya yang basah menggunakan punggung tangannya. “Oppa….”

Eoh? Kenapa suaramu begini? Kau sedang flu? Atau jangan-jangan … kau menangis?!”

Air mata Yoonji yang sempat terhenti, mengalir kembali. “Oppa….”

Wae~? Jimin ttaemune? Ceritakan padaku. Ada apa?”

Yoonji mengangguk meski dia tahu Yoongi tidak akan melihatnya. Dia pun mengambil tisu dari atas meja untuk membuang ingusnya. “Akhir-akhir ini Jimin berubah.”

“Berubah bagaimana contohnya?”

Gadis bermarga Min ini pun menceritakan semua sikap-sikap aneh Jimin akhir-akhir ini. Terkadang dia menjeda kalimatnya karena tidak tahan dengan dadanya yang sangat sesak. Sementara di seberang sana, Yoongi mendengarkan dengan seksama.

“Aku khawatir kalau ternyata semua ini disebabkan karena aku yang punya salah padanya,” lanjutnya, mengakhiri ceritanya.

Terdengar suara napas Yoongi di seberang sana. “Apa menurutmu kau telah membuat kesalahan padanya? Kalau kau tidak pernah melakukannya, jangan pernah menyimpulkan begitu. Sang namja tidak mungkin berubah hanya karena kekasihnya melakukan satu kesalahan padanya.”

Terdiam sejenak. “Benarkah?”

Eo. Kurasa kalian butuh lebih banyak komunikasi. Aku sudah paham dengan tipe Jimin. Dia tidak akan berubah begitu saja hanya karena dirimu. Pasti ada hal lain yang sayangnya tidak bisa dia ungkapkan padamu sehingga dia lebih memilih untuk berubah dan menghindarimu. Percayalah padaku, dia berubah bukan karena kau punya salah. Malah dialah yang punya banyak salah padamu.”

Kepala Yoonji tertunduk. Atensinya fokus pada jari-jari tangannya yang tampak tergeletak tanpa daya.

“Bagaimana aku bisa bicara padanya kalau dia menghindariku? Dia bahkan tidak mengatakan apa-apa sebelumnya.”

“Kunci utamanya adalah jangan memaksa. Ikuti alur yang dia buat. Jangan pernah memperlihatkan kalau dirimu tengah memaksa dia bicara. Tapi perlihatkan kalau dirimu adalah sosok yang tangguh. Nantinya dia juga akan lelah sendiri dan berakhir memberitahumu. Bersabar dan optimislah.”

Yoonji lagi-lagi dibuat diam. Yoongi ada benarnya. Memaksa justru tidak akan membuat Jimin buka mulut. Seperti saat itu. Jimin sepertinya butuh waktu, dan dia harus sedikit menyabarkan diri.

Senyumnya pun terulas. “Gomawo.”

Eo? Aih, tidak perlu~ Hahaha, itu bukan sesuatu yang besar. Jangan berterima kasih. Tapi kalau memang kau berterima kasih, ya sudah sih, sama-sama, hehe.”

Kepalanya menggeleng pelan, heran dengan tingkah absurd Yoongi.

Komunikasi diantara mereka pun berlanjut membahas tentang kuliah Yoongi selama di New York sebelum benar-benar berakhir.

Yoonji adalah tipe yang suka gerak cepat. Esok harinya dia langsung mendatangi Jimin secara terang-terangan di rooftop, melaksanakan rencana pertama.

“Park Jimin.”

Yang punya nama pun menoleh. Kedua matanya tampak membelalak, sekilas, kemudian membuang pandangan. “Kenapa kemari?”

“Aku harus bicara denganmu.”

Jeda sebentar. Jimin agaknya tengah mengolah kalimat yang tepat untuk membalas ucapan Yoonji. “Bukannya sudah kubilang kalau ini bukan urusanmu?”

“Urusanku atau tidak, aku tetap harus bicara denganmu.”

“Tidak ada yang ingin kubicarakan. Pergi.”

Yoonji tetap tidak goyah. Dia masih berdiri di tempat, fokus menatap Jimin. “Oke kalau memang begitu. Akan kutunggu sampai kau ingin membicarakannya. Tolong jangan lupa makan. Aku pergi.”

Reaksi Yoonji yang tidak sesuai dugaannya membuat dirinya menoleh cepat. Dia memperhatikan punggung Yoonji yang perlahan menjauh dan hilang dari jarak pandangnya. Dengusan napas terdengar dari mulutnya. Dia mengusap wajahnya dengan sedikit tekanan.

Esok harinya Yoonji kembali mendatanginya di rooftop. Gadis itu tidak perlu memanggilnya supaya dia menyadari kehadirannya. Dirinya yang tengah mencoba tidur, terusik dengan suara gesekan sepatu Yoonji hingga membuatnya gagal terlelap.

“Aku tidak ingin membicarakan apa pun. Pergilah.”

Yoonji membawa dirinya semakin mendekat. Dia menaruh kotak makan kecil dan botol air mineral di dekat Jimin.

“Biar bagaimanapun, kau harus tetap makan. Gwaenchana, aku tidak akan memaksamu bicara. Bicaralah saat kau sudah siap. Aku pergi.”

Sekali lagi Jimin dibuat terpana dengan jawaban Yoonji. Dia melirik sebentar kotak makan itu, kemudian membukanya. Perasaannya menjadi bercampur aduk ketika mendapati dua roll kimbap yang telah dipotong rapi. Bentuknya agak sedikit berantakan, Jimin tahu ini adalah kimbap buatan Yoonji sendiri. Entah bagaimana setelah melihat makanan itu perutnya jadi keroncongan. Tangannya terulur, berniat meraih satu potong. Namun tiba-tiba tangannya yang lain menahan tangannya itu. Dia menggeleng.

Andwae. Andwae.”

Cepat-cepat dia menutup kembali kotak itu. Mendorongnya makin jauh.

Namun sayang sekali, dirinya selalu menjadi buas setiap kali dirundung kelaparan yang sangat, terlebih dengan kehadiran makanan di depan mata. Layaknya serigala yang kelaparan karena berhari-hari tidak makan, dia langsung menyerbu kotak itu dan melahap isinya dengan rakus. Terlalu bersemangat, dia pun tersedak. Segera diambilnya botol air minum yang tidak jauh darinya. Dia meminumnya sambil memukul-mukul dadanya.

Air matanya mengalir. Dia cepat-cepat menyeka wajahnya sambil menyantap kimbap buatan Yoonji dengan lebih tenang.

Rasanya enak sekali….

Hari esoknya juga Yoonji datang lagi ke rooftop. Dia seakan tidak mengenal kata menyerah. Di tangannya terdapat kotak makan lain dan botol air minum. Langkahnya seketika berhenti beberapa meter dari lokasi Jimin. Senyumnya perlahan mengembang. Lantas dia pun melanjutkan kembali langkahnya.

“Kau memakannya?”

Jimin reflek menoleh. Tidak biasanya, ekspresinya kini terkesan lebih kalem, atau bisa dibilang canggung? Entahlah.

A-ani.”

Yoonji masih tetap memamerkan senyumnya. Kali ini dia memilih duduk di samping Jimin. Meraih kotak bekal miliknya yang sudah kosong di dekat Jimin.

“Seharusnya tidak perlu dicuci.”

Jimin memilih tidak menjawab, tidak ingin Yoonji tahu kalau dia sungguhan memakannya.

Kemudian Yoonji menaruh kotak makan baru di hadapan Jimin. “Makanlah.”

Jimin memperhatikan kotak itu sekilas, lantas dia menoleh pada Yoonji. “Sampai kapan kau akan melakukan ini?”

“Sampai kau bicara.”

“Kalau aku tetap tidak mau?”

“Aku tetap akan melakukan ini.”

Jimin seketika bungkam. Kedua netranya tampak bergerak-gerak kecil saat menatap Yoonji. “Kenapa kau seperti ini?”

“Karena kau seperti ini.”

Lagi-lagi skak mat. Harusnya dia tahu kalau berdebat dengan Yoonji itu mustahil. Yoonji punya karakter yang hampir mirip dengan Yoongi, mudah memojokkan orang.

“Apa aku punya salah? Kalau memang iya, katakanlah dengan jujur. Aku tidak suka kita yang seperti ini. Ini seperti bukan kita.”

Jimin membuang muka. “Kau tidak salah apa pun.”

“Kalau begitu apa? Beritahu aku.”

Kepala Jimin menggeleng pelan. “Aku tidak bisa.”

Wae?

Shireo.”

Jawaban yang sulit untuk ditentang. Yoonji lantas menelan ludah. Kalau memang Jimin tidak mau, mau bagaimana lagi. Dia tidak boleh sekalipun terdengar memaksa.

“Begitu ternyata. Keurae, kalau memang itu alasannya. Aku tidak akan memaksa, tidak akan pernah. Tapi, bisakah kau memikirkan sedikit tentang hubungan ini? Kalau memang aku tidak boleh tahu, bisakah kau tetap menjadi Park Jimin yang kukenal? Aku tidak apa-apa tidak kau beritahu, tapi aku tidak bisa kalau harus seperti ini. Kembalilah menjadi Park Jimin yang kukenal.”

Setelah bicara begitu Yoonji bergegas pergi, tentu sambil membawa kotak makannya yang kosong. Jimin tak sekalipun melihatnya. Lelaki ini sibuk mengatur perasaannya yang bercampur aduk dengan memandang lurus langit biru yang terhampar di depan matanya.

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s