Swag Couple Series [#39 The Truth]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

Kim Seokjin BTS

other cameo

**

Chapter #1 – #29

Chapter #30 – #36

Change | Struggle

Aku kangen Yoongi, kangen Jimin juga *huwee

**

Masih belum ada kejelasan di antara Yoonji dan Jimin. Apakah mereka masih sepasang kekasih atau sudah bukan, tidak ada yang tahu, bahkan mereka sendiri tidak tahu. Jarak diantara mereka semakin lebar. Keduanya seolah berada di tebing yang terpisah oleh jurang yang dalam dan luas, dan tidak akan bisa mereka lewati kecuali keduanya sepakat membangun jembatan diantara tebing tersebut.

Hari minggu, hanya di hari itu Yoonji tidak bisa memberi kotak makan pada Jimin. Namun meski tahu begitu, entah kenapa pagi hari dia sudah tampak sibuk di dapur. Hanya sendirian, karena kedua orangtuanya sedang mengikuti workshop di departemen pendidikan. Tanpa kenal lelah dia berjalan kesana kemari, menyusun dan mengolah bahan.

Beberapa jam kemudian, dia sudah cantik dengan setelan musim gugurnya. Sesaat setelah sepasang converse high terpasang di kedua kakinya, dia mengambil tas jinjing berisi bekal makan kemudian pergi dari rumah.

Tujuannya hanya satu, rumah Jimin.

Setelah melakukan perjalanan singkat menggunakan taxi, akhirnya dia sampai juga di tujuan. Ia tampak memantapkan diri sebelum memencet bel yang terpasang di dekat pintu gerbang.

Beberapa menit menunggu, tidak ada jawaban. Lantas dia memencet bel lagi.

Masih tidak ada jawaban. Tidak mudah menyerah, dia memencet bel lagi sampai tujuh kali perulangan.

Tetap tidak ada reaksi dari dalam.

Kedua alis Yoonji mengerut. Apa mungkin rumahnya kosong?

Sedikit dia ragu dengan pemikirannya sendiri. Ani, Jimin selalu ada di rumah setiap hari minggu.

Saat dia akan memencet bel untuk kesekian kali, mendadak dia teringat sesuatu.

“ … karena akhir pekan. Biasanya orangtuaku pergi ke rumah halmeoni, bersamaku dan Jihyun….”

Akhirnya dia menarik kembali tangannya, menghela napas. Mungkin sekarang dia sedang di rumah neneknya.

Sekali lagi dia menatap pintu gerbang itu, lantas dia pun melangkah mundur dan berbalik pergi.

Hari masih terlalu pagi untuk pulang ke rumah. Yoonji tidak mau terburu-buru. Dia lebih memilih mengayunkan kakinya daripada memberhentikan taksi. Lokasi tempat tinggal Jimin tidak terlalu dekat dari kota, jadi dia bisa berjalan santai di trotoar sambil melihat kesana kemari.

Kakinya membawanya menuju taman bermain anak-anak. Dia mengernyit mendapati taman bermain itu tampak ramai seolah sedang ada perayaan tertentu. Mungkin ya memang ada perayaan. Di beberapa lokasi seperti di panjat besi, terdapat belasan balon berwarna-warni yang diikat di sana. Dan yang mencolok dari keramaian itu adalah seseorang yang entah siapa dalam kostum beruang besar  sedang bermain bersama anak-anak.

Yoonji tanpa sadar berhenti di tempat. Netranya fokus melihat anak-anak dan si beruang yang tengah bermain bersama. Tampak menyenangkan. Setiap kali si beruang itu bertingkah konyol, dia akan tersenyum. Entah mengapa tingkah konyol beruang itu mengingatkannya pada Jimin. Mungkin kalau Jimin memakai kostum itu, dia juga akan bertingkah sekonyol dan seenerjik itu. Ah … mengingat Jimin entah kenapa dia jadi rindu.

Lelah berdiri, Yoonji pun memutuskan untuk duduk-duduk di depan toko yang terletak persis di seberang taman bermain itu. Sebelumnya dia membeli minuman dan beberapa snack. Dia mengambil duduk di salah satu kursi yang posisinya sanggup membuatnya melihat semua yang terjadi di taman bermain tersebut.

Mungkin satu jam setelahnya, keramaian itu pun perlahan berkurang. Satu persatu ibu membawa anak-anak mereka pulang. Tidak ada satu pun anak yang menangis atau merengek karena harus pulang. Si beruang itu memberi mereka balon dan tidak protes saat diajak berfoto.

Sampai akhirnya keramaian di sana benar-benar habis tak bersisa, Yoonji masih tetap bertahan. Dia terus memperhatikan gerak-gerik si beruang yang sedang berjalan loyo mendekati kursi dan menghempaskan diri di sana. Kedua alis Yoonji berpusat di tengah kala si beruang itu memegang kepalanya sendiri dan melepaskannya dari tempat.

DEG!

Yoonji rasa jantungnya baru saja jatuh ke perut. Kedua netranya membelalak. Apa yang tengah dilihatnya, sangat sulit untuk dipercaya.

Bagaimana bisa?

Ya, bagaimana bisa kalau ternyata orang berkostum beruang itu ternyata adalah Jimin, kekasihnya sendiri.

Yoonji mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan kalau dia tidak berhalusinasi. Mencubit pipinya sendiri untuk memastikan jika dia tidak sedang tidur. Dan setelah apa yang dilakukannya itu, seseorang di sana tetap tidak berubah. Itu benar Jimin.

Seperti baru saja tertidur, dia mendadak berjengit di tempatnya. Cepat-cepat dia membersihkan sampahnya lalu masuk lagi ke dalam toko. Segera dia mengambil minuman dingin dari mesin pendingin, membayarnya dan tergesa keluar. Kedua tungkainya mengayun cepat menuju lokasi Jimin sekarang.

Ia berhenti setelah di depan Jimin, sembari mengulurkan minuman dingin itu.

Jimin sendiri tampak tercengang melihat kehadirannya.

“Kau….”

Yoonji yang masih terengah-engah, menggerakkan botol itu, meminta Jimin untuk segera mengambilnya.

Jimin memandang botol minuman tersebut sebentar, lantas menatap Yoonji kembali. “Kenapa kau bisa ada di sini?”

Yoonji menyeringai. “Bang-ya, akhirnya aku menemukanmu.”

Jimin mengerutkan dahi bingung. Belum sempat dia tanya, Yoonji tahu-tahu sudah duduk di sampingnya dan mencium bibirnya dalam. Meskipun hanya menempel, Jimin bisa merasakan betul bagaimana perasaan rindu Yoonji kepadanya. Sangat berapi-api namun terasa lembut. Dia tidak bisa mengelak, tapi mendekap gadisnya lebih erat, memperdalam ciuman mereka.

Hingga kemudian keduanya sepakat mengakhiri ciuman itu. Menatap satu sama lain dengan kerinduan yang terpancar dari mata masing-masing, kemudian berpelukan.

“Apa karena ini? Kau mengira aku akan malu melihatmu melakukan ini?” Yoonji bergumam, sembari mengusap lembut rambut Jimin yang basah karena keringat.

Daripada Yoonji, Jiminlah yang paling merindukan momen-momen seperti ini. Seiring waktu berlalu, dia semakin merekatkan pelukan mereka.

“Aku tidak mau kau melihatku yang seperti ini.”

Yaa, apa salahnya? Tidak ada yang salah denganmu.”

“Aku yang seperti ini tidak akan bisa kau banggakan kepada siapa pun.”

Yoonji menghela napas. “Bicara apa sih? Yaa, untuk apa aku membanggakanmu ke orang lain? Supaya mereka iri dan ingin memilikimu begitu? Tidak akan pernah, aku tidak akan pernah melakukannya.”

Ani … maksudku, aku hanya ingin kau melihatku sebagai sosok yang keren, bukan orang yang selalu dikasihani.”

Yoonji mendorong pelan tubuh Jimin agar mereka bisa saling melihat wajah satu sama lain.

“Kau itu keren. Dulu, sekarang ataupun di masa depan nanti. Karena kau Park Jimin. Kau keren karena menjadi dirimu sendiri bukan menjadi orang lain.”

Jimin mengulum senyum. “Kau seharusnya meninggalkanku. Nan gwaenchanha.”

An-gwaenchana,” sahut Yoonji cepat. Dia menyeka keringat di pelipis Jimin dengan punggung tangannya. Sama sekali tidak ada rasa jijik sedikitpun. “Bagaimana aku bisa baik-baik saja kalau aku selalu menghawatirkanmu setiap harinya, huh? Kau ini masih belum bisa mengurusi dirimu sendiri dengan baik. Apa ini? Kantung mata? Kau seekor panda? Bahkan panda jauh lebih menggemaskan daripada dirimu. Ini juga? Kemana lemak bayi di pipimu, huh? Jugullae? Kau ingin menjadi tengkorak hidup begitu? Aku tidak akan baik-baik saja, kau selalu membuatku khawatir meskipun aku tidak menginginkannya. Jangan bicara yang tidak-tidak.”

Jimin bukannya merasa bersalah, justru terkekeh hingga tubuh kurusnya menggigil. Dia pun meraih tangan Yoonji dari wajahnya, menggenggamnya erat. “Terima kasih sudah menghawatirkanku. Kau benar, aku masih belum bisa mengurus diriku sendiri. Aku masih menyusahkan dan selalu membuatmu khawatir. Jadi, bisakah kau terus menghawatirkanku? Aku tidak bisa melakukannya sendiri, aku butuh seseorang. Bisakah?”

Yoonji terdiam selama beberapa saat. Sebelum seulas senyum manis khas keluarga Min mencuat di wajahnya. Dia pun mengangguk, mengiyakan.

Mereka berpelukan lagi.

Mungkin nyaris dua bulan Yoonji tidak datang ke rumah Jimin. Dan dia sudah mendapati sesuatu yang janggal sekali di rumah ini. Entah kenapa semuanya terlihat berbeda.

“Kemana TV-nya?” tanyanya setelah Jimin keluar dari kamar, sudah tampan dengan pakaian musim gugurnya.

“Sudah dijual.”

Wae?

“Nanti kau akan tahu sendiri. Kaja.”

Seolah tidak memberi Yoonji kesempatan untuk bertanya lebih lanjut, Jimin segera menarik tangannya keluar dari rumah. Yoonji tidak tahu Jimin akan mengajaknya kemana. Yang dia tahu Jimin akan mengajaknya ke suatu tempat, tempat apa itu, nah dia juga penasaran.

Perjalanan yang mereka tempuh cukup jauh. Mungkin sudah masuk area kota. Yoonji tampak keheranan melihat Jimin yang terus berjalan memasuki area rumah sakit. Ya, rumah sakit. Yoonji tidak pernah membayangkan akan masuk ke gedung ini bersama Jimin.

Yaa, benar kesini?” tanyanya yang tetap mengekor saat mereka menyusuri lorong utama rumah sakit.

Jimin berhenti sejenak hanya untuk meraih tangan Yoonji dan mengajaknya jalan bersisian. “Aku memang ingin mengajakmu kesini.”

Wae?

“Lihat saja sendiri nanti.”

Lagi-lagi jawaban itu. Ingin sekali Yoonji protes, namun waktu tidak memihaknya karena Jimin tiba-tiba membawanya masuk ke sebuah ruangan. Jangan bayangkan kamar pasien VIP yang satu orang satu ruangan. Ini adalah kamar pasien yang paling ramai dari yang Yoonji tahu. Delapan belankar tampak berjejer di kanan kiri, semuanya penuh oleh para pasien dan keluarga yang menunggu. Sesak sekali, sangat. Terlebih ada satu pasien yang tampak menjerit kesakitan karena sedang disuntik dokter.

Dia otomatis berhenti saat Jimin berhenti. Kepalanya menoleh setelah seseorang memanggil namanya.

“Oh … Jihyun?”

“Kenapa eonni ada di sini?” Jihyun pun bangkit dari kursi, berjalan menghampiri Yoonji sambil menatap Yoonji dan kakaknya bergantian.

Yoonji juga ikut-ikutan menoleh pada Jimin, lalu saat melihat Jihyun lagi tak sengaja netranya mendapati seseorang yang sedang terbaring di ranjang. Ia menyipit, berusaha melihat dengan lebih jelas. Dan setelah menyadari siapa yang di sana, kepalanya lantas menoleh cepat pada Jimin.

“Ayahmu….”

Eo. Sudah sebulan ini,” jawab Jimin lirih.

Sekali lagi Yoonji memandang belankar milik Chanyeol. “Kenapa kau tidak memberitahuku sejak awal?”

Jimin menggeleng pelan. “Mian.”

Yoonji benar-benar kecewa. Namun tidak baik jika dia protes dan ngambek begitu saja sekarang. Terlebih, dia tahu pasti ini juga sangat sulit bagi Jimin. Apakah mungkin alasan Jimin menjadi si beruang penghibur anak-anak karena ini? Karena ayahnya yang masih terbujur di ranjang rumah sakit ini? Kalau memang benar, sungguh, Yoonji merasa tidak berguna sebagai kekasih Jimin.

Tak lama setelahnya ibu Jimin datang. Wanita itu tampak lelah dan lebih kurus dari yang terakhir kali Yoonji temui. Yoonji menyadari jika komanya Chanyeol berdampak pada hal lain. Termasuk perubahan sikap Jihyun.

Mwo?! Eomma! Kenapa kau tidak bilang padaku dulu?!” Gadis belia itu berteriak kesal setelah ibunya memberitahunya jika komputernya baru saja dijual pada orang lain. Tentu saja dia tidak terima. Itu komputer miliknya, yang dia dapat sebagai hadiah dari kompetisi menyanyinya tiga tahun lalu. Jika bukan karena memenangkan kompetisi itu, memangnya dia bisa punya komputer dari mana? Gaji ayah dan ibunya, yang bahkan jika digabung tidak akan bisa membelikannya komputer. Bagaimana mungkin ibunya dengan begitu saja menjual komputernya?

Yaa,” seru Jimin sedikit membentak. Matanya melotot, menandakan bahwa dia tidak suka dengan bagaimana cara Jihyun berteriak pada ibu mereka.

Sementara Haera sendiri memegang bahu Jihyun, menatap lembut, meminta pengertian. “Eomma terpaksa melakukan ini, sayang. Besok kita harus membayar tagihan rumah sakit ayahmu. Tidak mungkin eomma bisa mendapatkan dua juta won dalam waktu sehari.”

Jihyun menepis tangan ibunya kasar. “Tapi aku ‘kan sudah bilang untuk jangan menjual komputerku juga! Bahkan bukan kalian yang membeli komputer itu! Kalian tidak berhak menjualnya!”

Teriakan-teriakan Jihyun sanggup menarik atensi ke-7 penghuni kamar lainnya. Mereka tidak bisa untuk tidak berpura-pura dengar. Suara melengking Jihyun menggema di seantero ruangan.

Jimin menatap adiknya makin garang. “Yaa, Park Jihyun, kecilkan volume suaramu.”

Jihyun menoleh pada kakaknya nyalang. “Kau juga sebenarnya sudah tahu ‘kan? Kau bersekongkol dengan eomma ‘kan? Hah! Oke, silahkan jual saja. Jual semuanya. Jual saja sampai kita tidak punya apa-apa lagi untuk dijual. Aku muak dengan keluarga ini.”

Setelah mengucapkan kalimat yang sangat pedas itu, Jihyun langsung beranjak pergi dari tempat. Mengabaikan kakaknya yang berteriak marah, mengabaikan ibunya yang menatapnya penuh terluka, dan menyisakan keheningan canggung di ruangan tersebut. Sadar jika telah membuat keributan, Haera pun segera meminta maaf pada pasien yang lain. Setelah itu dia pun duduk di kursi yang tadi ditempati Jihyun dan mulai menangis dalam diam dengan wajah sepenuhnya tenggelam pada ranjang Chanyeol.

Yoonji pun mendekat, mengelus punggung ibu Jimin lembut tanpa mengatakan sepatah kata pun. Jimin sendiri memilih berjongkok bersandarkan tembok, menghela napas sembari mengusap frustasi wajahnya.

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s