Swag Couple Series [#40 The End?]

ohnajla || romance, schoollife || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC) aka Yoongi lil sister

Park Jimin BTS 

Min Yoongi aka Suga BTS 

Jeon Jungkook BTS

Kim Seokjin BTS

other cameo

**

Chapter #1 – #29

Chapter #30 – #36

Change | Struggle | The Truth |

The End?

**

Malam menjelang. Haera menyuruh Jimin mengantar Yoonji pulang. Karena tidak mungkin dia akan membiarkan gadis itu ikut menunggui Chanyeol di rumah sakit. Akhirnya mau tak mau Yoonji pun beranjak pulang, diantar Jimin menggunakan bus.

Halte tempat mereka menunggu cukup lengang. Hanya ada beberapa orang termasuk mereka berdua. Meski begitu, Jimin tidak malu untuk memeluk dan menyimpan kepalanya di bahu Yoonji. Dia hanya ingin sedikit istirahat. Dia tidak akan bisa melakukannya jika sedang berada di rumah sakit.

Yoonji sendiri pun tidak protes. Ia mengelus lembut rambut Jimin dan terkadang mengusap pipinya.

“Ji-ya.”

“Hm?”

“Aku ngantuk.”

“Tidurlah.”

“Tapi aku tidak bisa.”

Yoonji mengelus pipi Jimin sekali lagi. “Semuanya akan baik-baik saja, jangan khawatir.”

“Aku takut.”

Yoonji tahu ketakutan apa yang dimaksud Jimin. Dia sudah melihat semua hari ini, dan jika bukan keluarganya, memang apa lagi ketakutan seorang Park Jimin? Ayah yang jatuh koma selama sebulan lebih, adik yang tiba-tiba pergi entah kemana dan ibu yang mendadak harus overworking demi memenuhi segala tagihan rumah sakit. Yoonji tahu betul ketakutan yang dimiliki kekasihnya.

Ia pun mengangkat dagu Jimin, memaksa Jimin menatapnya. Ah … hatinya sakit melihat wajah Jimin yang sayu seperti tidak tidur selama berhari-hari. “Ketakutan hanya akan membuat yang kau takuti terjadi. Percayalah jika semua akan baik-baik saja.”

Mendengar itu, entah bagaimana Jimin merasa bersalah. Gadis sebaik ini, kenapa dia tega menyakitinya? Sikapnya sebulan lalu pasti sangat melukai Yoonji. Tapi dia juga tidak bisa berbuat apa pun karena dirinya yang juga terluka. Pikirannya kacau. Keluarga kecilnya jadi kacau dalam semalam karena ulah orang yang menabrak ayahnya. TV harus dijual, kulkas harus dijual, bahkan sekarang komputer Jihyun terpaksa dijual. Ah … berbicara soal Jihyun, entah kenapa dia khawatir dengan keadaan adiknya sekarang. Kembali dia memeluk Yoonji, meminta kehangatan lebih.

“Aku tidak punya tempat untuk bercerita,” ujarnya lirih.

“Kau bisa cerita padaku.”

“Aku rasanya ingin mati saja.”

Sontak kedua mata Yoonji melebar. “Mwo?

“Kau tahu ‘kan, akhir-akhir ini aku sering sekali berada di atap sekolah. Eo, aku selalu mempertimbangkan untuk bunuh diri, dengan cara melompat.”

“Jimin-a….”

Lelaki itu menggeleng. “Tapi aku tidak bisa. Aku tidak punya keberanian meski ingin.”

Yoongi mengusap pipi Jimin lembut. Baiklah, kali ini dia tidak akan mengucapkan apa pun. Jimin hanya butuh bicara.

“Bagaimana nasib ibuku? Bagaimana nasib Jihyun? Bagaimana nasib ayah? Bahkan dirimu juga, aku memikirkan semuanya. Dan kesimpulannya, aku tidak bisa.”

Yoonji tersenyum. Mendengar Jimin juga memikirkannya, dia jadi terharu. Dia pikir dia akan menjadi pengecualian.

“Kehadiranmu juga sering kali menggangguku, Ji-ya. Aku berharap mati kelaparan saja di sana tapi kau selalu datang membawa makanan. Ah, aku kesal sekali padamu. Bodohnya aku juga memakan sandwich darimu yang dibawa Jungkook.”

Kau memang bodoh tapi aku menyukainya.

“Dan hari ini juga. Bagaimana bisa kau berada di sana? Aku terkejut melihatmu. Kupikir kau hanyalah halusinasiku tapi ternyata benar dirimu. Kau mengikutiku ‘kah? Atau diberitahu Jungkook?”

Yoonji menggeleng. “Tidak keduanya.”

“Lalu?”

“Aku berniat datang ke rumahmu. Tapi tidak ada siapapun di rumahmu jadi aku pulang. Dan aku pun bertemu denganmu. Ini hanya sebuah kebetulan.”

“Tidak ada yang namanya kebetulan,” sahut Jimin kemudian. Dia pun melepaskan pelukannya dan meraih tangan Yoonji, mengajaknya masuk ke bus yang sudah datang. Mereka menempati dua tempat di belakang. Sekali lagi Jimin memeluk Yoonji.

“Boleh aku tidur sebentar?”

Gadis itu mengangguk. “Nanti akan kubangunkan setelah sampai.”

Jimin pun menarik pinggang Yoonji makin dekat, menempatkan kepalanya dengan nyaman di bahu kecil gadisnya.

“Tetaplah di sisiku.”

Hanya 15 menit Jimin tidur. Hal yang membuat Yoonji bernapas lega adalah karena tidurnya yang lelap sekali. Tapi karena terlalu singkat, Jimin pun merasa pusing ketika bangun. Dia harus dipapah Yoonji saat turun dari bus dan berjalan menuju rumah gadisnya.

“Mau tidur sebentar di rumahku?”

Jimin menggeleng pelan. “Eomma sendirian di rumah sakit.”

Tidak mau memaksa, Yoonji pun mengangguk sambil tersenyum.

Sesampai di rumah, rupanya ayah dan ibu Yoonji sudah pulang. Mereka sedang makan malam saat dua anak ini datang. Melihat presensi Jimin, ibu Yoonji yang membukakan pintu pun segera mengajaknya ke meja makan. Mengajak sambil memaksa Jimin ikut makan.

“Kau sedikit berbeda dari terakhir kali aku melihatmu,” ujar Nyonya Min sambil menaruh mangkuk nasi di hadapan Jimin. “Apa ada masalah?”

Jimin tersenyum tipis. Canggung juga mendapat perhatian dari ibu kekasihnya. “Akhir-akhir ini, memang ada sedikit masalah.”

“Kau juga seperti kurang tidur,” sambung ibu Yoonji. “Tidur di sini sebentar sebelum pulang.”

Lelaki itu langsung menggeleng. “Terima kasih, tapi tidak perlu, Eomeonim. Ada yang harus kulakukan setelah ini.”

“Apa yang akan dilakukan anak SMA tahun ketiga malam-malam begini?” sahut Tuan Min tajam.

Jimin yang duduk tepat di sebelahnya, menelan ludah gugup. “I-itu … a-aku….”

“Kutebak pasti bukan untuk belajar,” potong Tuan Min.

Appa, Jimin punya alasan sendiri.”

“Aku tahu. Justru karena itu aku tanya. Urusan apa yang membuatmu harus keluar malam-malam begini, huh? Aku tidak suka anak perempuanku dekat-dekat dengan laki-laki yang suka berkeliaran malam.”

Appa!

Jimin sendiri menunduk. Menggigit bibir bagian bawahnya. Baru saja, ayah Yoonji salah paham padanya. Jika ayah Yoonji sudah berpikiran begitu, bukan tidak mungkin dia dan Yoonji harus berakhir. Namun hal itu tidak akan terjadi jika seandainya dia mengatakan alasannya.

Sayangnya dia tidak bisa mengatakan apa alasan sebenarnya.

“Sudah, sudah. Kita di sini bukan untuk berdebat. Jimin, makanlah nasimu.”

Jimin hanya menuruti ucapan Nyonya Min. Dia pun mulai menyantap makanannya, sedikit demi sedikit karena dirinya tidak berselera untuk makan.

“Seorang pria harus berani berbicara jujur.” Lagi-lagi Tuan Min memercik api di suasana tenang tersebut. Yoonji menatap ayahnya kesal, sementara Jimin sendiri berhenti mengunyah.

“Jujur dalam hal kecil saja tidak bisa, bagaimana untuk urusan yang lebih besar nanti? Aku tidak bisa membiarkan putriku bersama laki-laki yang seperti itu.”

Usai bicara begitu, Tuan Min segera bangkit dan beranjak dari kursinya. Sama sekali tidak mengindahkan seruan Yoonji. Namun, saat dia akan membuka pintu kamar, langkah kakinya terhenti.

Joesonghaeyo, abeonim. Aku tidak bisa berkata jujur karena ini menyangkut orangtuaku. Kau benar, lelaki yang tidak berani bicara jujur sangat tidak pantas untuk gadis sebaik Yoonji. Aku juga tahu itu. Tapi kau tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Aku hanya tidak ingin dikasihani oleh kalian. Selama ini aku sudah cukup menerima banyak sekali kebaikan dari kalian. Terima kasih banyak.”

“Jimin-a….” panggil Yoonji lirih.

“Dan kalau ternyata menurutmu aku memang tidak pantas bagi putrimu. Baik, aku akan mundur sekarang. Aku juga sadar jika aku tidak memiliki apa pun untuk membuat kalian menyanjungku. Aku tidak punya kekayaan, kecerdasan, ketampanan, pekerjaan yang bagus, tidak semuanya. Aku hanya punya diriku, yang mengagumi putrimu lebih dari apa pun. Kalau memang kau tidak menyukai kehadiranku di sini, aku akan pergi. Dan tidak akan pernah … mendekati putrimu lagi.”

Kalimat terakhir itu sukses membuat hati Yoonji sakit. Dia melihat sendiri bagaimana Jimin bangkit dari duduknya, membungkuk sopan pada ibunya, termasuk pada dirinya, sebelum bergegas pergi.

“Jimin … hajima….” panggilnya lirih.

BRAK!

“Park Jimin!” Gadis itu tiba-tiba berteriak dan berlari begitu saja dari tempatnya. Tidak peduli dengan kakinya yang hanya beralaskan sandal rumah, Yoonji mengejar Jimin yang sudah agak jauh dari rumahnya. Dipeluknya Jimin dari belakang. Menggeleng sambil menangis terisak.

“Jangan pergi, kumohon jangan pergi.”

“Lepaskan, Ji-ya.”

Yoonji tetap menggeleng kuat. “Aku mencintaimu, aku membutuhkanmu. Jangan pergi kumohon.”

“Semuanya sudah berakhir.”

Yoonji bertahan memeluk Jimin meski Jimin berusaha melepaskan rangkulannya. “Tidak. Ini masih belum berakhir.”

Akhirnya setelah berusaha keras, Jimin pun berhasil melepaskan pelukan Yoonji dan berbalik, menggenggam kedua tangan gadisnya hangat. “Biar bagaimanapun, hubungan ini pasti akan berakhir. Kau memang lebih baik tanpaku.”

“Omong kosong macam apa itu?! Siapa yang bilang begitu?!”

Jimin mengusap air mata yang mengalir di pipi Yoonji lembut. “Aku tidak menyesal pernah mengenalmu.”

Andwae.”

“Aku juga tidak menyesal pernah jatuh cinta padamu.”

Andwae.”

“Dan aku juga tidak menyesal memilih berpisah denganmu sekarang.”

Andwae! Aku tidak mau! Aku tidak menginginkan–”

Ucapan Yoonji terpotong saat Jimin tiba-tiba menciumnya. Siapa bilang Jimin tidak menyesali pilihannya berpisah dari Yoonji? Tentu dia sangat menyesalinya. Ciumannya bergerak dalam dan penuh emosi. Memeluk pinggang Yoonji dengan protektif, seolah Yoonji hanya miliknya di dunia ini.

Jimin … aku tidak bisa.

Aku juga, sayang.

Aku sangat membutuhkanmu.

Aku lebih membutuhkanmu.

Kenapa kau lakukan ini?

Karena aku bodoh. Maafkan aku yang bodoh.

Aku mencintaimu.

Kau segalanya bagiku.

Setelah ciuman itu berakhir, Jimin pun tersenyum. Mengusap lembut pipi basah Yoonji, mengecup kedua mata Yoonji yang membengkak. “Sampaikan permintaan maafku pada Yoongi hyung. Aku tidak bisa lagi berada di sisi adik kesayangannya mulai detik ini.”

Yoonji meremas lembut bahu Jimin. “Berhati-hatilah di perjalanan. Jangan pernah lupakan makan. Tidur yang nyenyak. Jangan merasa takut pada apa pun. Kau berhak menerima banyak cinta, lebih banyak dari yang aku berikan selama ini. Jaga dirimu baik-baik.”

Jimin mengangguk, kemudian dia mengecup dahi Yoonji. “Terima kasih banyak. Sekarang masuklah ke rumahmu. Aku akan di sini, melihatmu.”

Sebelum Yoonji berbalik dan kembali menuju rumahnya, dia mengecup sekilas bibir Jimin, tersenyum.

Namun senyum itu hilang menjadi sebuah isakan setelah dia menutup pagar rumahnya. Jimin pergi, cintanya telah pergi. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menangisi kepergiannya.

Sementara Jimin sendiri, langsung berbalik dan berlari kencang menuju rumah sakit. Peduli amat dengan jaraknya yang jauh. Dia hanya tidak ingin orang-orang melihatnya dengan tatapan menyedihkan karena air matanya yang mengalir deras.

Kisah kami berakhir di sini.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s