Spring Romance – 4. Femme Fatale

ohnajla | school life, fluff, romance | Teen | 5 Chapter

Starring: 

BTS Suga aka Yoongi || Oh Sena (OC) || BTS V aka little Taehyung || BTS Rap Monster aka Namjoon || BTS J-Hope aka Hoseok || BTS Jin aka Seokjin || BTS Jungkook aka Jeon Jungkook || Han Sung Kyung (OC)

**

sequel of Brother Romance

previous chapter: 

1. Spring Kiss

2. Happy Birthday

3. New Rival

Femme Fatale: Seorang gadis dengan kecantikan dan pesona mematikan yang bisa membunuh pria.

**

“Aduh aduh.”

“Aaa~ sakit? Maaf.”

Setelahnya Yoongi tersenyum. Dia mencubit gemas pipi Sena. “Tadi heroik sekali, wonder woman. Belajar dari mana tendangan seperti itu?”

“Kau tidak lupa aku punya paman pemilik dojo taekwondo ‘kan? Sebelum mengajari orang lain, dia mengajariku. Aku tidak tahu kalau ternyata itu akan berguna di saat seperti ini juga.”

Yoongi terkekeh. Dia menatap lurus ke dalam mata Sena sementara Sena sendiri sibuk mengobati luka di wajahnya. Hm, dia baru sadar kalau Sena memiliki mata yang cukup lebar untuk ukuran orang Korea. Asli, bukan hasil operasi plastik. Kulitnya pun bagus, bersih tanpa ada jerawat sedikitpun. Pantas ketua OSIS semacam Jungkook bisa tertarik padanya. Gadisnya terlalu cantik. Femme fatale!!

Yoongi menelan ludah, sedikit tergoda dengan mulut Sena yang terbuka sedikit saat fokus mengobati wajahnya. Ya ampun, mematikan sekali sungguh.

“Ngomong-ngomong, kenapa sih orang itu tiba-tiba memukulmu? Dia iri karena aku pacaran denganmu ya?” Pertanyaan Sena sukses membawa Yoongi kembali ke akal sehat. Lelaki itu berdehem, lantas menggendikkan bahu.

Molla, dia tiba-tiba datang dan memukulku.”

“Kau tidak memukulnya balik?”

“Aku memukulnya. Kau tidak lihat wajahnya tadi? Wajahnya bahkan jauh lebih hancur dari wajahku,” balas Yoongi dengan nada naik dua oktaf.

Sena tahu Yoongi terkadang suka berlebihan, dia sangat tahu betul. Dan yang bisa diberikannya sebagai respon hanya senyuman kecut. “Ya, ya, ya, aku lihat tadi.”

Lelaki itu pun mendengus. “Aku cemburu.”

Mwo?

“Aku cemburu,” ulangnya sambil melipat kedua tangannya di dada. “Melihatmu diberi bunga pria lain membuatku cemburu.”

“Tapi aku tidak menerima bunganya.”

“Biar bagaimana pun itu menjatuhkan harga diriku. Aku tidak pernah memberimu bunga selama ini.”

Sena tersenyum geli. Dia membuang kapas di tangannya, lalu memasang plester di tulang hidung Yoongi yang tadinya terluka. “Aku tidak begitu suka bunga.”

“Tapi sebenarnya kau ingin dapat bunga ‘kan?”

“Tch, siapa bilang. Bersamamu saja sudah cukup.”

“Jangan sok cheesy. Kau itu asin ‘tau tidak?” sewot Yoongi dengan wajah merona. Ya, lelaki tanpa marga ini merona.

Sena hanya tersenyum. Selesai dengan urusan wajah Yoongi, Sena pun beralih merapikan seragam dan dasi Yoongi. Dia tidak bisa berhenti tersenyum terlebih saat membayangkan sesuatu. “Aku ingin melakukan ini setiap pagi.”

“Apa?” Alis Yoongi terangkat tinggi, merasa ambigu.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya sendiri. “Pasti menyenangkan ya, memakaikanmu dasi, lalu merapikan jas yang kau pakai. Memastikan kau berangkat kerja dengan pakaian yang rapi.”

Mengerti kemana arah pembicaraan Sena, Yoongi ikut tersenyum. Semua siswa tahun ketiga memang diwajibkan memakai almamater sekolah setiap harinya. Terkecuali di musim panas dan gugur. Termasuk salah satunya si kurang waras Yoongi yang terpaksa memakai almamaternya. Sebenarnya dia tidak begitu menyukai almamater sekolahnya, terkesan formal. Tapi, setelah mendengar kata-kata itu dari Sena, entah kenapa dia ingin memakai almamater ini selamanya.

“Tapi kalau aku hanya bekerja di bakery sebagai pendekorasi kue, aku tidak akan mungkin memakai pakaian seperti itu.”

Sena menyimpan kedua tangannya di bahu Yoongi. Kepalanya terangkat sedikit, menatap tepat pada manik mata Yoongi. “Karena itulah, bekerjalah dengan lebih keras. Aku akan selalu berada di belakangmu, mendukungmu.”

Yoongi merasa seperti sedang berjalan di atas awan. Barusan itu manis sekali. Di balik sikap galak dan tingkah bar-bar Sena selama ini, ternyata gadis itu menyembunyikan rasa manis yang mematikan. Jantung Yoongi mendadak diabetes.

Dia meraih satu tangan Sena di bahunya, lalu menciumnya lembut. “Aku jadi ingin melamarmu.”

“Lakukan saja kalau berani,” tantang Sena sembari mengikis jarak di antara wajah mereka.

Yoongi pun menyambut bibir Sena dengan bibirnya. Meraih pinggang Sena, membawa diri mereka pada ciuman yang panas.

Tolong lihat dimana kalian berada, anak-anak.

CKLEK!

Aigoo … bagaimana bisa dia terjungkal seperti itu?”

Otomatis Yoongi dan Sena saling menarik diri. Yoongi segera membaringkan tubuhnya di bawah selimut, sementara Sena berpura-pura sibuk membereskan kotak obat.

“Oh? Ada orang ternyata, kupikir tidak ada siapa-siapa. Eh? Kenapa wajahmu itu?”

Yoongi mencoba nyengir tapi malah berakhir mendesis karena pipinya yang nyeri. “Hanya sedikit main perang-perangan, Ssaem.”

“Dia itu sulit sekali diberitahu,” sahut Sena dengan nada dibuat kesal.

Mendadak si dokter sekolah ini menyipitkan mata. Dia menatap Sena dan Yoongi –yang gugup, secara bergantian. “Kenapa bibir kalian sama-sama bengkak?”

Reflek Sena memegangi bibirnya sendiri. Dia menyumpah dalam hati.

“Ini tadi kena pukul,” sahut Yoongi cepat. Si dokter sekolah tampak memahami itu.

“Kalau kau, Nona?”

“A-anu itu….”

“Tadi ada nyamuk besar yang menggigit bibirnya, jadinya, bengkak seperti itu.” Yoongi menyelamatkannya, tapi kenapa dia merasa sama sekali tidak diselamatkan? Digigit nyamuk? Yang benar saja? Nyamuk bernama Yoongi.

“Hm, aku tidak tahu kalau nyamuk bisa membuat bengkak. Tapi ya sudahlah. Kalian masih akan di sini? Tolong kunci pintunya kalau sudah selesai ya? Berikan pada guru piket. Hari ini aku harus pulang lebih awal. Jangan macam-macam di sini!”

Dua anak itu mengangguk mengerti. Tak lama kemudian si dokter sekolah itu pun pergi. Yoongi tahu-tahu turun dari ranjang, entah melakukan apa pada pintu itu, lalu kembali lagi ke ranjang tersebut.

“Tadi kau sedang apa?”

Yoongi mengangkat sebuah kunci di tangannya. “Hari ini kita bolos, bagaimana?”

Sena mendelik. “Micheosseo?! Yaa, kita sudah tahun ketiga. Aku tidak mau bolos.”

Yoongi langsung melempar kunci itu ke atas lemari. Sementara tangannya yang lain dengan cepat menarik lengan Sena untuk bergabung dengannya di ranjang tersebut.

“Yoongi!!”

“Ssst, nanti ada yang dengar. Gwaenchana, hanya sehari saja. Kau pasti akan lulus. Gadisku ‘kan jenius.”

“Aku tidak mau bolos, Gi.”

“Ah wae? Kau bolos denganku, bukan dengan si Jeon itu,” sahut Yoongi kesal.

“Justru karena aku bolos denganmu.”

Wae?

Sena menghela napas. “Aku akan kecanduan membolos.”

Yoongi terperangah.

“Nanti kalau aku ingin terus membolos denganmu, bagaimana?” lanjut Sena sambil memilin ujung dasi Yoongi. “Bisa-bisa aku akan mengulang lagi di SMA. Shireo.”

Lelaki itu pun mendengus geli. “Mwo? Haish. Kukira apa. Kau mengesalkan, sayang. Mulutmu manis sekali.”

“Tapi kau suka, bukan?”

Yoongi tersenyum lebar. “Suka sekali. Saaangat suka.”

Mereka pun saling mengikis jarak kembali, dan yah, keduanya melanjutkan kegiatan yang tadi terpotong.

Sudah, jangan dibahas, nanti kalian –yang pastinya jomblo- akan iri melihatnya.

Menjelang malam, mereka terbangun. Masih di UKS. Saling berpelukan di atas satu ranjang UKS yang sama. Keduanya langsung mempertemukan mata dan bibir mereka.

“Air liurmu yang mengering saja manis,” bisik Yoongi sambil mengusap bibir Sena yang kembali bengkak karenanya.

“Jangan katakan hal yang menjijikkan seperti itu.” Sena juga ikut-ikutan mengusap bibir bengkak Yoongi.

“Kalau kau adalah vampir, aku akan mati untukmu.”

“Sialan, mulutmu manis sekali.”

Dan mereka berciuman lagi.

Yaa, kau tadi belum mencuci mulutmu?” tanya Sena dengan wajah mengkerut setelah merasakan sesuatu di lidahnya.

Yoongi dengan polosnya menggeleng.

“Aish!! Pantas sejak tadi aku merasakan yang pahit terus di mulutmu. Nikotin bercampur darah. Sialan.”

Yoongi terkekeh. Sekali lagi dia mempertemukan bibir mereka. “Kalau bibirmu itu racun, aku sudah mati sejak tadi.”

“Mulutmu itu yang racun,” sewot Sena sembari mendorong Yoongi dan beranjak duduk. Dia menata rambutnya sejenak sebelum pergi menuju wastafel, berkumur.

Yaa, sedang apa kau di sana? Kemari, kau juga perlu berkumur.”

Yoongi pun dengan patuh beranjak menghampiri. Dia berdiri tepat di belakang Sena, memeluk tubuh gadisnya erat. “Kumurin.”

“He? Bicara apa sih?”

Lelaki itu menaruh kepalanya di bahu Sena. Menggesek ujung hidungnya ke belakang telinga Sena. “Aku malas berkumur.”

“Tapi mulutmu itu bau! Ah geli!”

“Sebau apa pun toh tetap akan kau cium juga.”

“Ih! Mimpi saja sana. Cepat berkumur!”

Shireo~~~”

“Aku akan minta putus dan berpacaran dengan Jungkook kalau kau tidak segera berkumur.”

Ekspresi Yoongi langsung berubah masam setelah mendengar nama orang yang paling tidak disukainya disebut. “Jangan sebut nama pria lain saat bersamaku.”

“Makanya cepat berkumur.”

Sena yang sudah tak sabaran pun segera melepaskan rangkulan Yoongi di pinggangnya lalu menarik lelaki itu supaya berdiri di sebelahnya. Dia menyalakan kran lalu menarik kepala Yoongi untuk meminum air kran itu langsung. Yoongi yang entah kenapa tidak protes, segera menggunakan air di mulutnya untuk berkumur lalu meludahkannya.

Sena mengambil selembar tisu dari sebelah wastafel untuk membersihkan sekitar bibir Yoongi.

“Itu hanya akan membesar karena anakku nanti.”

Sena reflek mengarahkan pandangannya ke tempat yang ditunjuk Yoongi. Wajahnya langsung memerah. Dia pun melayangkan tendangannya ke tulang kering lelaki itu. “Frontal sekali sih!”

Yoongi yang melompat-lompat kecil dengan satu kaki –sementara kakinya yang lain terlipat ke atas, sakit- langsung berseru kesal. “Frontal apanya sih?! Maksudku kau hanya akan hamil setelah sper— AH!”

Yaa! Itu lebih frontal lagi, sialan!!”

Yoongi mengaduh berkali-kali karena Sena memukulinya dengan brutal. Barulah Sena berhenti setelah puas.

“Salahmu kenapa menyebut-nyebut si Jeon itu.”

“Memang kau pikir aku akan benar-benar melakukannya?”

“Siapa tahu? Kau itu ‘kan fanatik.”

Sena mendengus tak percaya. Sekali lagi dia menendang kaki Yoongi sebelum berdiri menghadap cermin, menata penampilannya yang berantakan karena Yoongi. “Kau tahu kenapa aku menyukaimu?”

“Mana kutahu!”

“Aku ini pemilih. Seleraku tidak pasaran.”

“Sudah kelihatan dari koleksi parfummu.”

Gadis itu tersenyum. “Eo. Daripada menyukai parfum yang populer di kalangan teman-temanku, aku lebih suka parfum yang menarik perhatianku. Hanya aku yang suka, tidak dengan orang lain. Seperti itulah aku menyukaimu.”

“Aku juga suka parfum itu. Bukan hanya kau saja.” balas Yoongi sembari berdiri bersandar di tembok samping cermin. Melipat lengannya di dada, menatap Sena intens.

Sena menggulirkan bola mata padanya. Menjentikkan jari, tersenyum lebar. “Itulah dia. Parfum itu bagaikan dirimu untukku, sekaligus bagaikan diriku untukmu.” Ia pun beringsut dari tempatnya, berpindah tempat menghadap Yoongi, merapikan almamater serta menyimpul ulang dasi Yoongi. “Bukankah mulutku sekarang terasa manis, Yoongi-ssi?”

Sena sedang menggodanya, itulah yang ditangkap Yoongi sekarang. Gadis itu benar-benar seorang femme fatale. Dia akan mati jika jatuh dalam pesonanya. Tapi tak ada yang bisa dia lakukan selain meraih pinggang Sena, mempertemukan kembali bibir mereka. Sena sendiri tidak keberatan. Sambil menyelesaikan dasi Yoongi, dia meladeni permainan Yoongi. Tidak ada yang perlu ditakutkan. Lelakinya ini sangat menjaga dirinya dengan baik. Mungkin Yoongi hanya akan iseng mengelus punggung dan pinggangnya, termasuk perutnya supaya dia merasa kegelian dan tertawa sebentar di tengah-tengah ciuman mereka.

tbc

Advertisements

2 Comments

  1. ah moment nya sweet banget anjir wkwk bikin iri sama senyum senyum sendiri hahaha. Sumpah ini jadi pengen punya pacar kayak Yoongi beneran dududuhhhh

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s