Single Parent [Chapter 31]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki), Rap Monster aka Kim Namjoon (BTS), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Bagi pecinta cinta segitiga antara Tae-Yoonjung-Jimin, kupersembahkan chapter ini ❤

**

Taehyung sebenarnya sangat tidak ingin masuk sekolah. Lebih tepatnya dia tidak siap bertemu dengan Yoonjung dan Jimin. Kenapa juga Sena sakit di saat-saat seperti ini? Ah, padahal dia berharap sekali jika dialah yang sakit.

Lift yang sejak tadi terbuka lebar di depannya, hanya diberinya helaan napas panjang. Padahal dia tidak perlu menunggu lift ini datang. Dia juga tidak perlu berdesak-desakan dengan banyak orang. Tapi kenapa kakinya sulit sekali digerakkan?

Nyaris saja dia berbalik ke apartemen Sena jika dia tidak teringat ancaman Sena yang tidak akan makan seharian. Taehyung mengacak rambutnya frustasi. Akhirnya dia masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai dasar.

Lift pun bergerak pelan. Kepalanya mendongak mengamati layar angka di atas pintu lift. Saat angka di layar berubah ke angka 2, lift tiba-tiba berhenti dan pintunya terbuka, mempertemukan kedua mata Taehyung dengan mata sipit sosok berseragam sama sepertinya di seberang sana.

Keduanya hanya saling melempar pandang dalam diam. Seperti ada percikan listrik tak kasat mata dari pertemuan mata mereka. Taehyung bisa merasakan kemarahan yang menyelimuti diri Jimin. Sementara Jimin sendiri dapat merasakan suatu semangat persaingan dari kedua mata Taehyung.

Pintu lift mulai bergerak menutup. Jimin menahan kedua pintu itu dengan tangannya, lalu melangkah masuk dan berdiri di sebelah Taehyung. Pintu akhirnya benar-benar menutup.

Ini adalah suasana tercanggung yang pernah ada dari kedua sahabat ini. Tidak ada yang saling bicara, bahkan melihat satu sama lain saja hanya dengan lirikan-lirikan sinis. Jika kalian tidak mengenal mereka, pasti kalian akan mengira mereka sebagai musuh.

Dua menit yang terasa seperti dua abad –bagi keduanya- akhirnya selesai sudah. Pintu lift terbuka lebar. Keduanya bergantian keluar dan melangkah tergesa-gesa menuju halte, menunggu bus.

Waktu sudah makin siang. Saat bus yang datang adalah bus yang penuh dengan penumpang, mau tak mau keduanya menaikinya. Tidak ada lagi tempat duduk yang tersisa, bahkan tempat untuk berdiri saja sangat terbatas. Mau tak mau juga mereka harus berdiri bersebelahan, berpegangan pada bagian atas bus.

Bus itu pun melaju pelan.

Efek laju bus membuat tubuh mereka bergoyang ke kanan kiri. Sehingga menyebabkan keduanya semakin berdempetan dan kelihatan seolah Taehyung memeluk Jimin. Oh!! Orang-orang bisa salah paham.

Yaa, geser sana,” seru Taehyung agak berbisik sambil mendorong kaki Jimin menggunakan tempurung lututnya.

Jimin berdecak sebal seraya menyikut dada Taehyung. “Diam kau.”

“Rambutmu bau seperti *** aish!”

“Kau bau ketiak ‘tau.”

Jugullae?

“Kau itu yang akan mati kubunuh duluan.”

“Geser sana ah!” Sekali lagi Taehyung mendorong paha Jimin dengan lututnya. Niatnya hanya sedikit bercanda tapi yang ada malah membuat sedikit kekacauan karena Jimin membuat orang-orang di belakangnya nyaris jatuh.

Joesonghammida, joesonghammida,” ujar anak Park itu dengan penuh penyesalan sebelum menyikut dada Taehyung lebih keras. Bahkan dia melotot saat Taehyung mendesis kesakitan.

“Kau mencari gara-gara denganku, huh? Tidak usah begini, ayo kita selesaikan secara jantan.”

Taehyung membalas tatapannya lebih tajam. “Keurae, siapa takut. Rooftop jam makan siang, jangan lupa.”

Bus pun akhirnya sampai di halte SMA Young Forever. Mereka pun segera turun. Jimin yang berjalan di depan, harus pasrah saat tubuhnya didorong dengan tidak manusiawi oleh Taehyung. Dia hanya melotot sementara Taehyung sendiri melengos seolah tidak berdosa.

Sedangkan Yoonjung sedari tadi sudah menunggu di pos penjaga. Yoongi yang mengantarnya sudah pergi ke kantor sejak tadi. Dia menghabiskan waktu di bangku pos penjaga sambil mengutak-atik ponselnya, mencari kabar terbaru dari BTS.

Begitu atensinya menemukan batang hidung dua orang yang ditunggunya, dia segera melupakan oppa-oppa BTS dan beranjak menghampiri mereka.

“Taehyung! Jimin!”

Kedua lelaki itu langsung menoleh. Namun reaksi mereka setelahnya sangat bertolak belakang. Taehyung langsung berpaling seolah tidak mengenal Yoonjung, sementara Jimin tetap bertahan dengan wajah temboknya sambil melirik punggung Taehyung.

“Hei, aku harus bicara padamu.” Yoonjung berdiri tepat menghalangi jalan Taehyung, namun Taehyung hanya melewatinya. Gadis itu yang memang mewarisi sifat ibunya yang tidak kenal kata menyerah, segera meraih tangan Taehyung, membuat lelaki tinggi semampai itu berbalik cepat.

Yaa, kita harus bicara.”

Taehyung menyentak tangan Yoonjung kasar. “Tidak ada ‘kita’. Dan tidak ada yang harus dibicarakan.”

Saat Taehyung akan melenggang, sekali lagi Yoonjung menahan lengannya. “Tapi kau harus dengar aku dulu.”

“Memangnya siapa dirimu, hah?!” seru Taehyung keras sambil menoleh. Otot-otot wajahnya yang sedari tadi tegang, kini semakin tegang. “Jangan bertingkah seolah kau adalah orang yang penting bagiku. Di mataku kau itu hanya orang lewat, tidak lebih.”

Sekali lagi Taehyung menyentak tangannya dan pergi. Namun kali ini Yoonjung tidak bergerak menahannya lagi. Dia mematung di tempat, tertohok dengan ucapan yang dilontarkan Taehyung barusan.

Kau hanya orang lewat, tidak lebih.

Kesadarannya kembali saat sebuah lengan merangkul lehernya dari belakang. Reflek dia menoleh, dan menghela napas lelah saat mendapati wajah datar Park Jimin.

“Jangan melihatku seperti itu,” katanya sembari membuang tangan Jimin dari lehernya.

Tapi lagi-lagi Jimin ngotot merangkul leher Yoonjung. “Kalau orang-orang tidak tahu status sepupu kita, aku bisa saja memelukmu dari belakang sekarang juga. Ayo masuk.”

Mau tak mau Yoonjung ikut saja kemana Jimin menyeretnya. Selama berjalan menuju kelasnya, tak henti-hentinya dia memikirkan kata-kata Taehyung.

Taehyung, kau itu nappeun namja.

Seperti yang telah dijanjikan. Rooftop saat jam makan siang. Taehyung menutup pintu rooftop setelah melihat punggung Jimin yang berada di salah satu sisi pagar pembatas. Lantas ia mengayunkan tungkai panjangnya. Tidak perlu memanggil karena Jimin langsung menoleh saat mendengar suara gesekan sepatunya.

Mereka pun berdiri berhadapan. Angin musim gugur mendadak bertiup kencang, mengibarkan rambut mereka, menambah tegang suasana.

“Aku memang bilang untuk menyelesaikan ini secara jantan. Tapi sebelum itu, bukankah harus ada kata pembuka dulu?” ujar Jimin tiba-tiba. Jangan kira dia memakai dialek Seoul, sekarang dia tengah menggunakan dialek Busan.

“Tidak adakah yang ingin kau jelaskan padaku?” lanjutnya.

Taehyung memasukkan kedua tangannya dalam saku celana. Seperti biasa, dagunya akan terangkat sedikit, mempertontonkan keangkuhannya.

“Kurasa aku tidak berada di pihak untuk melakukan itu.”

Jimin menyeringai. “Jadi maksudmu akulah yang harus menjelaskan semuanya padamu?”

“Terserah. Toh aku tidak peduli. Aku saaaaangat tidak tertarik dengan penjelasanmu.”

Balasan Taehyung yang acuh tak acuh seketika memantik amarah dalam diri Jimin. Namun dia masih berusaha menahannya.

“Kau benar. Dia memang sepupuku. Tapi kau harus tahu kalau dia juga kekasihku. Jadi apa menurutmu salah jika aku berciuman dengan kekasihku sendiri?”

“Kubilang aku tidak peduli,” sahut Taehyung santai. Namun ekspresinya tidak sesantai cara bicaranya.

“Justru kaulah yang harus sadar dengan dirimu sendiri. Kau itu siapa sampai harus marah karena itu? Kau menyukainya, eo? Menyukai pacar orang?”

“Setidaknya itu tidak lebih menjijikkan dari seseorang yang mengencani saudaranya sendiri.”

Dan amarah Jimin pun tak tertahankan.

BUG!

Taehyung mundur beberapa langkah, terbungkuk-bungkuk sambil memegangi pipinya.

“Lalu kau sendiri apa? Hina? Menyukai anak dari seseorang yang akan menjadi kakak iparmu?”

BUG!

Satu pukulan balik dari Taehyung.

“Itu jauh lebih baik daripada mengencani saudara sendiri.”

BUG!

“BAJINGAN TIDAK TAHU DIRI! TIDAKKAH KAU LIHAT KELAKUAN AYAHMU YANG MEMBUATNYA HIDUP MENYEDIHKAN?! BERANINYA KAU MENYUKAINYA!”

BUG!

“KAU PIKIR KAU SUDAH TAHU DIRI?! PIKIRKAN NENEKMU, BANGSAT! KAU AKAN MEMPERMALUKAN KELUARGAMU!”

“AKU AKAN LEBIH MALU LAGI JIKA MENJADI DIRIMU!”

“BANGSAT!”

“BAJINGAN!”

“********!!”

“********!”

Yaa!! Geumanhae!!

Yoonjung berlarian cepat menghampiri dua anak manusia yang tengah berguling-guling di lantai rooftop itu, menarik Jimin yang kini berada di atas dan sedang memukuli Taehyung.

“Hentikan!!”

Sialnya Yoonjung malah kena sikut Jimin. Dia bisa merasakan sesuatu mengalir turun lewat lubang hidungnya, namun daripada itu dia lebih memilih untuk memisahkan mereka.

“HENTIKAN ATAU KUBUNUH KALIAN SEMUA!”

Akhirnya dua lelaki itu pun berhenti saling memukul. Keduanya hanya saling menatap dengan dada yang naik turun. Yoonjung segera menghampiri mereka dan menarik kuat Jimin dari atas Taehyung.

“Aku bisa saja mendorong kalian satu-persatu dari sini kalau kalian tidak berhenti. Wae? Kenapa kalian berkelahi di sini, huh?! Bagaimana kalau salah satu dari kalian, bahkan kalian berdua jatuh dan mati?! Apa kalian tidak punya otak?!”

Tidak ada satupun yang berniat menyahut. Keduanya sempurna diam sembari mengatur napas yang masih memburu.

“Aish. Yaa, setelah ini akan ada jam etika. Kau mau dihukum karena wajahmu ini?!” omel Yoonjung setelah melihat wajah babak belur Jimin. Jimin sendiri berusaha menghindari tatapan Yoonjung dan menyingkirkan tangan gadis itu dari dagunya.

“Kau juga. Kau tahu tidak seberapa mengerikannya Seokjin seonsaengnim itu? Kau bisa kena hukuman karena ini!” Omelan Yoonjung juga available untuk Taehyung.

Gadis itu menghela napas lelah. Dia pun menyeka hidungnya kasar dengan kain seragamnya, lantas beranjak pergi begitu saja. Jimin maupun Taehyung, hanya menatap kepergiannya dalam diam.

“Pasti semua ini gara-gara aku ‘kan?”

Tebakan Yoonjung sangat tepat sasaran. Dua lelaki yang sedang diobatinya itu tampak sedang menghindari tatapan mengintimidasinya. Yoonjung menghela napas. Dia kembali menempelkan kapas yang telah dilumuri alkohol ke memar Jimin.

“Kenapa harus diselesaikan dengan perkelahian sih? Kalian bisa menyelesaikannya sambil bicara. Apa manfaat yang bisa diambil dari berkelahi, huh? Kalian ingin kucampakkan semua?!”

Andwae!” seru Jimin tiba-tiba. “Jangan campakkan aku. Dia saja.”

Lelaki bermata sipit itu menjerit keras saat lukanya sengaja ditekan oleh Yoonjung.

“Diam kau. Aku tidak berpihak pada siapa pun.”

Taehyung yang masih menunggu giliran diobati, hanya diam sambil memeluk erat kedua kakinya. Menyadari itu, Yoonjung pun menoleh padanya.

“Kau akan membuat eonni khawatir.”

Si tampan itu hanya meliriknya sekilas, dan kembali menatap lurus pada awan-awan yang berarak pelan di langit sana.

“Dia itu tidak punya hati, jangan bicara padanya,” sahut Jimin kemudian.

Sekali lagi Jimin kena getahnya.

Yoonjung pun mempercepat kegiatannya mengobati Jimin, lantas berpindah tempat ke hadapan Taehyung. Dia memegang kepala Taehyung dengan kedua tangannya, menggerakkannya supaya mata mereka saling bertemu.

“Kau sudah tidak punya alasan lagi untuk mengabaikanku, Tuan Oh. Maja, aku memang mencari-cari alasan supaya tidak bersamamu karena aku sudah punya Jimin. Aku sendiri tahu kalau memang hubungan ini sangat terlarang, tapi, akulah yang memulainya, bukan Jimin. Salah kalau kau menghajarnya. Harusnya kau menghajarku saja, bukan dia.”

Ekspresi Taehyung sama sekali tidak berubah. Namun Yoonjung tahu jika Taehyung mulai tidak marah lagi padanya dilihat dari tatapannya yang terasa lebih lembut.

Yoonjung pun menarik tangannya kembali. Segera diambilnya alat perawatan luka luar dari kotak P3K.

“Terima kasih karena sudah menyukaiku. Tapi maaf, aku tidak bisa menjadi kekasihmu,” lanjutnya sembari mensterilkan luka di wajah Taehyung dengan kapas yang sudah diberinya alkohol.

Lama mereka terdiam, sampai akhirnya Taehyung buka suara.

“Kenapa harus Jimin?”

Eo?”

“Kenapa Jimin?”

Jimin yang sebenarnya tidak mau ikut-ikutan obrolan mereka, tidak tahan untuk tidak menoleh. Matanya melirik Yoonjung yang tampak sedang berpikir.

“Karena dia Jimin.”

Taehyung mengangkat kedua alisnya bingung. Yoonjung sendiri mengganti kapas itu dengan kapas baru yang telah diberi betadine.

“Jimin adalah Jimin. Dan aku suka Jimin. Saat aku mencari alasannya aku tidak pernah menemukannya. Jadi aku rasa, aku menyukainya karena dia Jimin. Si Park Jimin yang terkadang terlihat sangat misterius di mataku.”

Taehyung terus mengamati wajah Yoonjung. Meski Yoonjung tidak gamblang mengekspresikan perasaannya, namun dia bisa menangkap ketulusan dan kebahagiaan dari cara Yoonjung membicarakan Jimin. Ah … dia iri. Kenapa bukan dia saja penyebab Yoonjung seperti ini? Kenapa harus sahabatnya?

“Hm, aku mengerti.”

Terakhir, Yoonjung menempelkan plester pada luka Taehyung. Sempurna, akhirnya selesai juga. Yoonjung melihat hasil karyanya pada wajah Jimin dan Taehyung secara bergantian. Kemudian dia mengacak rambut mereka bersamaan.

Aigoo kalian lucu sekali seperti anak TK. Yaa, aku sudah merasa seperti ibu-ibu gara-gara kalian. Jangan berkelahi lagi ah. Aku jadi sedih melihat kalian babak belur seperti ini. Aigoo … hilang sudah manis dan tampannya.”

Kedua lelaki itu meringis saat Yoonjung mencubit pipi mereka gemas. Tapi bukannya minta maaf, Yoonjung justru tertawa.

“Aku menyayangi kalian. Saaaaaaaaaangat menyayangi kalian. Meskipun dalam definisi yang beda. Dan, kalian harus tahu kalau ini aku bukan tipe yang suka berpura-pura. Aku berbicara tulus dari hatiku, arro?! Dengarkan ini baik-baik! Aku sedang menurunkan harga diriku demi bicara seperti ini! Aku sangat menyayangi kalian! Jangan pernah berkelahi lagi, arra?!”

Jimin maupun Taehyung, hanya tersenyum dengan tingkah Yoonjung yang agak sedikit berlebihan. Katanya tulus dari hati tapi kalau diucapkan dengan cara seperti itu, bagaimana mereka bisa tahu itu sungguhan tulus atau tidak. Namun jika Yoonjung orangnya, mereka tentu akan paham.

Yoonjung sendiri tersenyum lebar. “Nah, begitu seharusnya. Kalian jadi kelihatan keren kalau tersenyum.”

Tiba-tiba Yoonjung mengulurkan tangannya pada Taehyung. “Mari berteman mulai sekarang. Bahkan sampai status kita berubah karena ayahku menikah dengan kakakmu, ayo tetap berteman. Aku tahu pertemanan antara pria dan wanita itu mustahil. Tapi kenapa kita tidak berusaha mencetak rekor? Aku yakin, kalau orang itu adalah dirimu, kita pasti bisa mencetak rekor pertemanan lawan jenis selamanya.”

Taehyung terlihat bimbang. Dia menatap mata dan tangan Yoonjung bergantian. Ini bukan masalah apakah mereka bisa mencetak rekor. Ini adalah persoalan apakah dia bisa mengabaikan perasaannya yang semakin menggila pada Yoonjung, demi Yoonjung. Tentu melakukannya bukanlah hal mudah. Dia hanya berdiri di zona friendzone. Yoonjung membuat batasan yang sangat kukuh yang tidak mungkin bisa dirubuhkannya dengan mudah.

Bisa saja Taehyung kembali pada status awalnya, menjadi ‘bayangan’ diantara dua belah pihak. Setelah ibunya dan Jungkook, Sena dan Yoongi, haruskah dia juga menjadi bayangan di antara Yoonjung dan Jimin?

Perlahan dia mengangkat tangannya, menjabat tangan mungil Yoonjung.

Keurae, mari kita berteman mulai sekarang.”

Dia sendirilah yang memilih untuk kembali menjadi bayangan.

tbc 

maaf lambat update T^T aku lagi disibukkan pesenan artikel nih, jadi ngga ada waktu untuk nulis. Maafkan T^T

Advertisements

2 Comments

  1. Kok dipihak taetae nyesek ya T.T
    Status bayangan itu lohh ngena banget :’3
    FRIENDZONE!!! Pliss aku setuju, mustahil ada pertemanan lawan jenis :’v *curcol

    Like

  2. Bingung komen apa, ,aku suka jimin sama yoojung, ,tp kasian lihat tae sakit ati, errr mungkin tae bisa sama aku aja biat ngga sakit ati mulu 😂😂 eaaaaa
    Keep writing kak, ,

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s