Single Parent [Chapter 33] Special Chapter: Hoseok #2

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki), Rap Monster aka Kim Namjoon (BTS), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31 Chapter 32

Pinginnya pake foto J-hope yang di Wings Tour Final, tapi ngga dapet T^T J-hope sejak Mic Drop jadi ganteng banget :”)) CUKUP! Aku udah berpaling ke Jimin, sekarang ke J-hope, kasian Yoongi T^T

**

Akhir November, sudah terhitung satu bulan Doyeon bekerja di MINT. Sejauh ini, semuanya berjalan lancar. Ia mengirim semua data penting kantor kepada bosnya. Sekaligus memberitahu perihal Min Yoongi dan Oh Sena.

Tapi itu hanya perasaan Doyeon saja. Ia tidak benar-benar berhasil karena Hoseok mengetahui betul semua yang dilakukannya. Bukan tanpa alasan Hoseok ditunjuk Yoongi sebagai pengawas Doyeon. Namun karena sejauh ini tidak ada masalah berarti, Hoseok pun memilih diam, berpura-pura tidak tahu apa pun.

Hari ini adalah hari terakhir Doyeon magang di perusahaan MINT. Gadis itu tampak sedang mem-packing barang-barangnya ke kotak, mulai mengosongkan meja. Di tengah-tengah kesibukannya itu, Hoseok mendekat, menaruh segelas kopi di atas meja Doyeon.

Doyeon pun otomatis menjeda aktifitasnya. Dia menatap gelas kertas kopi itu, lantas mengangkat kepalanya, bertemu mata Jung Hoseok. “Apa ini?”

“Kopi,” jawab Hoseok singkat.

Namun jawaban itu mengundang dengusan kesal dari Doyeon yang kembali melanjutkan aktifitasnya. “Aku tidak sebodoh itu. Cepat katakan apa maumu.”

Hoseok menatap profil wajah Doyeon dengan sedikit sesal. Si gadis cilik yang dulunya sangat manis dan cengeng ini, tidak disangkanya telah tumbuh menjadi seorang wanita yang cantik jelita. Seharusnya dia dibuat makin jatuh cinta karenanya. Tapi kenapa Doyeon harus kembali dengan tujuan untuk menjadi “musuh”-nya?

“Hanya untuk memberitahumu,” ujarnya saat Doyeon kembali menatapnya yang tak kunjung bicara. “Sajangnim mengundangmu makan malam sebagai perayaan hari terakhirmu kerja.”

Doyeon mengerutkan dahinya. “Benarkah itu?”

Hoseok mengangguk tanpa pikir panjang. “Sajangnim meneleponku barusan. Ia memintamu bertemu dengannya di restoran Eat Jin.”

Arasseo.”

Hoseok pun melenggang pergi setelahnya.

Malamnya, Doyeon sudah duduk manis di sebuah meja sudut ruangan. Restoran Eat Jin sedang tidak dalam keadaan ramai malam itu, sehingga Doyeon bisa memilih tempat di mana saja dan tanpa ragu dia langsung menempati meja paling sudut. Di sana selain dekat dengan pemanas ruangan, dia juga bisa melihat langsung keluar jendela, yang tengah diliputi titik-titik air dan embun karena hujan gerimis.

Ia menopang dagunya sambil melempar pandangan keluar jendela. Hujan, dia suka hujan. Hujan akan mengingatkannya pada kenangan-kenangan indahnya di masa kecil. Saat hujan, ia datang. Karena hujan, mereka tertawa bersama. Doyeon rindu. Merindukan akan kenangan tersebut, sekaligus seseorang dalam kenangannya.

Melihat kaca yang mulai berembun, ia pun mengangkat jari telunjuknya, menggambar bentuk hati di sana.

Aku merindukanmu.

Wasseo?”

Mendengar suara seseorang, Doyeon pun cepat-cepat menghapus gambarnya lalu menoleh. Ia terkejut mendapati presensi Hoseok dan bukannya Min Yoongi.

“Kau … kenapa kau kemari?!”

Tanpa sekalipun mengindahkan pertanyaan penuh amarah si gadis, Hoseok pun duduk tepat di seberang Doyeon. Ia menaruh tas serta coat-nya di sisi kirinya.

“Makan malam. Bukankah kau di sini untuk makan malam? Ahjumma, berikan kami daging dan soju!

Doyeon menatap Hoseok tak percaya. “Jadi kau membohongiku?”

Hoseok menuangkan air mineral ke dalam gelas. Sebelum meminumnya, ia menatap gadis di hadapannya sekilas. “Kau suka hujan, ‘kan?”

Gadis itu mendengus. Tidak perlu bertanya lagi, dia sudah tahu jawabannya. Hoseok pasti sengaja membohonginya. Tepat setelah Hoseok menaruh gelas kosong di atas meja, dia segera membereskan barang-barangnya dan bangkit.

Saat akan mengambil satu langkah pergi, sebuah tangan menahan lengannya.

“Mau kemana?”

Doyeon menoleh dengan wajah garangnya. “Singkirkan tanganmu.”

Tapi Hoseok menolak. “Kau belum makan malam, duduk lagi.”

Gadis itu lantas menepis tangan Hoseok. “Aku tidak sudi makan denganmu.”

Jangan kira Hoseok akan membiarkan Doyeon pergi dengan mudahnya. Sekali lagi dia menahan lengan Doyeon, lalu dengan kasar menariknya hingga terduduk di atas pahanya.

Doyeon meringis. Pahanya berdenyut karena sempat terbentur meja. Ia mengangkat kepalanya. Bertemu pandang dengan sorot mata datar yang paling dibencinya dari pria ini. Sayangnya Doyeon tidak punya kesempatan mengelak karena setelahnya Hoseok mendudukkannya di antara si pria dan dinding restoran Eat Jin ketika bibi pemilik restoran datang membawakan pesanan mereka.

“Terima kasih,” ujar Hoseok ramah. Doyeon terperangah, perubahan suara dan ekspresi pria ini cepat sekali.

Setelah bibi itu pergi, Doyeon tertawa sinis. “Wah … kau pintar sekali menggunakan topengmu, Jung Hoseok.”

Hoseok seolah tuli. Dia menyibukkan diri dengan menyiapkan alat penggorengan untuk memasak daging. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia menata seiris demi seiris daging di atas penggorengan.

Doyeon menghela napas. Gadis itu lantas mengambil botol soju, membukanya lalu menuangkan ke dalam gelasnya hingga penuh. Kesal karena Hoseok masih tidak mengacuhkannya, ia pun meminum soju itu dalam sekali tarikan napas.

Pahit? Tentu saja. Tapi lebih pahit lagi rasanya karena berduaan dengan orang di sampingnya.

Perasaan Doyeon berkecamuk hebat. Mengalami dua jenis perasaan yang saling bertolak belakang secara bersamaan itu menyesakkan. Dia merindukan sosok ini, sangat. Terlebih didukung oleh hujan yang semakin deras diluar. Tapi di satu sisi dia sangat tidak menginginkannya sekarang. Kepalsuannya, cara dirinya meninggalkannya dulu, semua itu menyakitkan.

Sekali lagi dia menikmati soju-nya dengan terburu-buru.

Sesaat setelah minuman dengan rasa pahit yang mencekik itu berhasil lolos ke dalam lambungnya, sesuatu tiba-tiba menyentuh bibirnya.

Ssam.

Matanya bergerak pada sosok yang menyodorkannya daging yang terbalut daun selada ini. Siapa lagi pelakunya jika bukan Jung Hoseok. Pria itu tengah menatapnya dengan tatapan yang lagi-lagi sulit diartikan, tatapan yang sangat dibenci olehnya.

Ia pun menepis tangan lelaki itu. Lebih memilih meraih kembali botol soju, dan berniat menuangkannya ke dalam gelas.

Tapi cairan pahit itu tidak segera terjun ke dalam gelasnya, karena tertahan oleh tangan seseorang.

“Kau harus mengisi perutmu.”

“Lepaskan.”

Hoseok menarik paksa botol soju itu dari tangan Doyeon dan menyingkirkannya ke tempat yang sulit dijangkau gadis itu. Sekali lagi dia mengulurkan ssam di tangannya.

Doyeon menatapnya jengkel. Namun dia sadar jika melakukan itu sungguh tidak berguna. Sehingga dengan terpaksa dia membuka mulutnya dan meraup makanan dari tangan lelaki itu.

“Kau harus makan sesuatu supaya perutmu tidak sakit,” ujar Hoseok yang kemudian berpaling mengurusi daging di atas penggorengan.

Dari tempatnya duduk, Doyeon bisa dengan leluasa memperhatikan sisi wajah Hoseok. Sungguh, dia sangat merindukan lelaki ini. Seseorang yang datang di saat hujan, menemukan dirinya yang terpisah dari ibunya saat sedang mengunjungi taman bermain. Seseorang yang juga membuatnya tersenyum selama hujan berlangsung, mengajaknya bermain hujan-hujanan, kemudian menghabiskan sisa waktu dengan menonton kartun sembari menghangatkan diri di depan perapian. Sekaligus seseorang yang meninggalkannya di hari hujan sambil menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Kenangan itu membuat kedua matanya berembun. Lantas ia membuang pandangannya, mengucek kedua matanya cepat sebelum berujar, “Berikan aku soju-nya.”

Hoseok tidak mengatakan apa pun, tapi dia bergerak menuangkan cairan pahit itu ke gelas si gadis. Sekilas melirik Doyeon, kembali diletakkannya botol berwarna hijau gelap itu di dekat kaki meja.

Doyeon segera menegak cairan itu dalam sekali tarikan napas. Lagi-lagi rasa pahitnya mencekik lidahnya.

“Kau kenal Oh Sena?”

Gadis itu seketika mencurahkan atensinya pada Hoseok. Kedua alisnya berpusat di tengah. Ada perasaan takut saat Hoseok menanyakannya dengan nada suara yang terkesan dingin.

Wae? Kalau aku mengenalnya, kenapa?” tantangnya, mencoba berani. Tentu saja dia tahu siapa Oh Sena karena kekasih Min Yoongi itu adalah anak dari bosnya.

Hoseok kembali membuat ssam dari daging yang sudah matang. “Kau juga kenal ayahnya ‘kan?”

Doyeon terdiam sesaat. Menelisik mata Hoseok yang hanya bisa dilihatnya satu dari samping, karena satunya lagi terhalang oleh hidungnya yang terpahat sempurna. “Eo, aku mengenalnya. Wae?

Lelaki berusia tiga puluh empat tahun itu menyodorkan ssam yang telah jadi ke depan bibir Doyeon. Sembari melakukannya, dia memusatkan pandangannya pada si gadis yang mulai merona karena efek alkohol.

“Buka mulutmu.”

Doyeon tersenyum kecut mendengarnya. Ia sungguh merasa dibodohi. Seharusnya Hoseok mengatakan jika dirinya tahu soal hubungannya dengan Sehun. Tapi yang dikatakannya sekarang … ugh, ia muak sekali melihat muka lelaki ini.

Ia pun menepis kasar tangan Hoseok hingga menjauh dari wajahnya. Ditatapnya tajam lelaki itu. “Aku tahu kau ada di sini, berbohong soal undangan Min sajangnim, bukan untuk urusan menemaniku makan malam, Jung Hoseok. Cepat katakan apa tujuanmu. Aku tidak punya waktu untuk berlama-lama denganmu.”

Tahu Doyeon tidak akan memakan ssam buatannya, ia pun memasukkan ssam itu ke mulutnya sendiri, mengunyahnya dengan nikmat. Lantas mengambil botol soju, menuangkan isinya sedikit ke dalam gelasnya.

“Aku tidak tahu kalau malam ini akan hujan.”

“Berhenti berbasa-basi.”

Namun Hoseok sekalipun tampak tidak peduli. Ia menyesap soju-nya dengan nikmat, kemudian menggeram rendah saat perutnya mulai terasa panas.

“Masih ingat pertemuan pertama kita?”

Doyeon bungkam. Kenapa tiba-tiba membahas ini? Doyeon yakin Hoseok membohonginya perihal makan malam ini bukan untuk mengenang masa lalu mereka. Daripada memilih meladeni, dia memutuskan untuk diam.

“Kau menangis sendirian di dekat komidi putar. Padahal taman bermainnya sudah hampir ditutup dan kau masih di sana.”

Si gadis membuang muka. Menahan diri supaya tidak jatuh pada emosinya sendiri.

“Kau tahu? Melihatmu seperti melihat diriku yang dulu. Berdiri di sana sambil menghitung maju dari angka satu hingga sepuluh, sampai berkali-kali, menunggu seseorang yang tak kunjung datang.”

Hoseok menjeda ceritanya hanya untuk mematikan penggorengan dan menaruh beberapa lembar daging di atas mangkuk nasi Doyeon.

“Dan aku menangis seperti kau menangis waktu itu. Tapi syukurlah, kau tidak bernasib sama sepertiku. Setidaknya, meskipun hari sudah larut, kau bisa kembali pada orangtuamu.”

Wajah si gadis mendadak banjir air mata. Dia baru tahu setelah dia magang di perusahaan MINT jika Hoseok dibuang oleh ibunya dan terpaksa tinggal selama beberapa tahun di panti asuhan. Dulu, Hoseok sempat memberitahunya jika ia tak memiliki orangtua, tapi karena pengungkapan Hoseok yang rumit, Doyeon kecil tak bisa mencernanya dengan baik. Doyeon pun tak pernah punya keinginan untuk bertanya pada ayahnya. Ayahnyalah yang memberitahunya dalam perjalanan pulang setelah menjemputnya kerja.

Ia lantas menyeka air matanya cepat-cepat.

“Apa sulitnya mengatakan jika kau tahu semua yang aku lakukan selama ini? Bukankah itu tujuanmu sebenarnya? Berhenti mengungkit masa lalu, Jung Hoseok. Aku tak peduli lagi dengan semua itu … termasuk denganmu.”

Segera dia membawa tasnya dan beranjak dari sana. Langkahnya semakin cepat saat dia mendengar pria itu memanggilnya. Persetan dengan hujan, dia suka hujan, tak masalah hujan-hujanan.

Yaa Kim Do Yeon!”

Gertakan keras dari pria itu seketika menghentikan langkah Doyeon. Ia berhenti di tengah hujan, tanpa berniat sekalipun menoleh, hanya membiarkan dirinya dan air matanya dibilas oleh air hujan.

Hoseok membalik tubuhnya dengan cepat. Rasa sakit mulai terasa di kedua bahu Doyeon karena cengkraman kuat Hoseok di sana.

“Dengarkan ucapan orang yang lebih tua darimu.”

Doyeon menepis kasar kedua tangan Hoseok dari bahunya. Dagunya terangkat, menatap berani pada manik mata pria itu.

“Aku benci padamu, Jung Hoseok. Aku benci! Kenapa aku harus bertemu lagi dengamu?! WAE?! WAE?! Kenapa dari semua orang, harus kau yang kuhadapi?! Keurae, aku mengirimkan semua data-data perusahaan pada Oh Sehun, aku memberitahu semua yang Min Yoongi dan Oh Sena lakukan pada Oh Sehun, dan aku memang menjadi kaki tangannya untuk menghancurkan MINT dan Min Yoongi! Sekarang kau puas?! Kau hanya perlu menggugatku ke pengadilan, memenjarakanku, atau apalah itu! Aku tidak keberatan menjadi narapidana! Asalkan aku tidak bertemu denganmu untuk kesekian kalinya!”

Hoseok langsung menangkap pergelangan tangan Doyeon yang berniat hengkang dari hadapannya. Si gadis memberontak, namun tentu Hoseok lebih kuat. Dia langsung menarik Doyeon ke dalam pelukannya. Menahan si gadis sekuat tenaga supaya tidak terlepas lagi.

Dagunya mendarat di bahu Doyeon usai si gadis tenang.

“Akulah yang keberatan,” ujarnya setelah menghela napas berat. Ia mempererat pelukannya pada si gadis, membiarkan tubuh mereka saling berbagi kehangatan yang tersisa di bawah guyuran hujan yang semakin deras.

“Aku keberatan kau menjadi narapidana. Kau tak boleh berakhir seperti itu, Kim Doyeon,” lanjutnya.

Tangis Doyeon makin keras, saling berlomba-lomba dengan suara hujan.

“Kau masih muda, masih punya banyak sekali kesempatan untuk meraih semua mimpi-mimpimu. Aku tak bisa membiarkanmu membusuk di penjara. Kau harus hidup dengan baik, harus menjadi seseorang yang bersih dari semua catatan kriminal.”

“Ta-tapi … tetap saja aku harus bertanggung jawab terhadap apa yang kulakukan….”

Hoseok mengelus rambut Doyeon yang sudah lepek oleh air hujan. “Eo, itu sudah pasti. Kau tetap harus mempertanggungjawabkan semua tindakanmu.”

Doyeon menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Hoseok, terisak hebat.

“Tapi aku tak akan membiarkanmu membusuk di balik jeruji, Doyeon-a. Akan kubuat Oh Sehun-lah yang membayar semua ini.”

Hoseok mendorong pelan bahu si gadis, menangkup pipinya dengan kedua tangan. “Percayalah padaku.”

Meskipun masih terisak, gadis itu mengangguk. Hoseok tersenyum, menggunakan kedua ibu jarinya untuk menghapus air mata si gadis.

tbc

Advertisements

2 Comments

  1. Eee pertama tama mungkin terimakasih udah di next kak, ,,,apa dayeon udah ngirim data² ke oh sehun, ,penasaran masa lalu dayeon dan haseok, kenapa dayeon benci sama haseok

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s