Single Parent [Chapter 34]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki), Rap Monster aka Kim Namjoon (BTS), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31 Chapter 32 Chapter 33

Taehyung tuh ya, padahal aku udah berkali-kali liat fotonya tapi selalu yang pertama muncul di pikiranku tuh, “waah ganteng banget”. Taehyung ganteng! ganteng bangeeettt!!!

**

Semenjak Taehyung memutuskan pindah ke Seoul dan tinggal bersama Sena, Jungkook kesepian di rumah besarnya. Dia muak melihat para pembantu yang seliweran dan ayah ibunya yang kini lebih sering tidak saling sapa. Dirinya seperti patung pajangan di rumah itu. Hanya dilirik sekilas, tanpa adanya kasih sayang.

Meski benci mengakui ini, sebenarnya Jungkook sangat merindukan kedua kakaknya. Terlebih Taehyung yang hampir 16 tahun terus bersamanya. Di saat ayah dan ibu tidak ada di rumah, dan para pembantu diliburkan, dia tidak akan merasa kesepian karena memiliki Taehyung yang akan selalu ada untuknya. Taehyung sangat perhatian padanya. Jika tidak ada pembantu, Taehyung-lah yang memasak sarapan untuknya. Walaupun masakan Taehyung terkadang memiliki kandungan yodium yang sangat luar biasa, setidaknya Jungkook tidak akan kelaparan di sekolah.

Taehyung juga akan menelepon kalau Jungkook pulang terlalu larut. Meski dia terkadang membalasnya dengan amarah dan bentakan, jauh di lubuk hatinya dia merasa tenang, karena diperhatikan.

Namun semenjak hari itu Taehyung sedikit berubah.

Sudah tidak ada lagi yang bersedia membuatkannya sarapan saat tidak ada siapa-siapa di rumah. Tidak ada juga yang meneleponnya saat dia pulang larut malam. Bahkan untuk menyapa saja tidak.

Taehyung sangat marah karena kematian Hong Seungjoo.

Ia sendiri tidak mengerti kenapa Taehyung marah. Maksudnya, kenapa juga Taehyung harus marah kalau Jungkook sedang membantunya?

Ya, membantu supaya perhatian Taehyung hanya tercurah penuh padanya, bukan pada perempuan atau orang lain.

Harusnya Taehyung berterima kasih, dengan begitu Taehyung sudah tidak perlu banyak menguras uang, tenaga dan pikiran demi perempuan itu.

Sama halnya untuk kasus Park Jihyun.

Dirinya terlalu muak melihat kakaknya yang hanya bermain dengan Jihyun dan malah mengabaikannya. Saat hanya berdua dengan Jihyun, dia mendorong adik Park Jimin itu sehingga hanyut terbawa oleh ombak laut. Jihyun sudah nyaris sekarat saat Taehyung dan orangtua Jihyun menemukannya.

Jihyun ditemukan keesokan harinya oleh tim SAR dalam keadaan tanpa denyut nadi.

Orangtua Jihyun, bahkan Jimin, tidak ada satupun yang tahu tentang itu. Hanya Taehyung. Dia memberitahu Taehyung jika dirinya tak sengaja mendorong Jihyun ke laut.

Taehyung marah dan menyesal. Namun Taehyung sendiri juga ikut menyalahkan diri karena dia tidak bisa berbuat apa pun. Dengan kebaikan hatinya, melihat Jungkook menangis sambil merengek ketakutan supaya Taehyung tidak memberitahukannya pada siapa pun, Taehyung pun ikut menyimpan rahasia itu.

Sayangnya Jungkook tidak memberikan balasan setimpal pada Taehyung.

Kini kebenciannya tercurah pada Sena. Ya, dia juga merindukan kakak perempuannya itu, tapi tidak dalam arti sebuah kasih sayang.

Seseorang yang mencuri perhatian Taehyung tidak pantas mendapatkan kasih sayang.

Kedua tangannya tampak menampilkan urat saat dia meremas setir mobil. Sementara arah pandangnya hanya tertuju lurus pada sepasang manusia di depan sana. Setiap kali melihat mereka berbagi canda dan tawa, terdengar decihan tak suka dari bibirnya.

“Kalian tidak pantas tertawa.”

Hingga akhirnya momen yang ditunggu-tunggu pun datang. Cepat dia menginjak pedal gasnya dan….

Hyung—”

CKIIIT!!!

BRAK!

Yoongi ingin terlepas dari penjara publik. Dia sangat tersiksa saat harus menutup identitas setiap kali berkencan dengan Sena. Entah apa yang ada di pikirannya hari ini, dia sepertinya serius sudah tidak peduli apa pun lagi. Dia tiba-tiba muncul di depan pintu apartemen Sena menggunakan satu set tuxedo warna favoritnya, hitam serta sebuket bunga di tangannya yang untungnya tidak hitam juga. Tanpa berdosa dia tersenyum begitu menemukan wajah shock Sena sambil menyerahkan sebuket bunga di tangannya.

A-ahjussi … k-kau … i-ini….”

Ma, kasinaya, naerang saegillae?” ucap Yoongi dengan tenangnya sembari mengangkat lebih tinggi bunga tersebut. (Daegu satoori: hey cewek, mau kencan denganku?)

Sena dibuat terpana selama beberapa detik. Dia tidak tahu satoori Daegu tapi mendengar Yoongi berbicara dengan nada seperti itu, entah kenapa aura ‘ahjussi’-nya seketika menghilang. Walau satoori Daegu tidak se-memesona satoori Busan, jika orangnya Yoongi, Sena tak bisa menolong hatinya.

Rona kemerahan perlahan muncul di kedua tulang pipinya. Bibirnya mengulum senyum bersamaan dengan kedua tangannya yang menyambut buket bunga itu, malu-malu.

“Ada apa denganmu hari ini, Ahjussi….” gumam Sena dengan kepala tertunduk, mengelus mahkota bunga berwarna merah muda itu bersama senyum malunya.

Yoongi memiringkan kepalanya, tersenyum lembut mendapati wajah manis gadisnya. “Aku merindukanmu.”

Kadar senyum malu Sena makin bertambah, begitu juga dengan semburat kemerahan di pipinya. “Ahjussi hentikan.”

“Aku tidak akan berhenti sampai kau memberiku jawaban, gadis.”

Sena tersenyum hingga tiap biji giginya terlihat di retina Yoongi. “Aku tidak mengerti kenapa pagi-pagi seperti ini kau sudah bersikap aneh, Ahjussi. Dan lagi, aku tidak mungkin akan menolak keinginanmu.”

Jawaban itu seketika membuat Yoongi tersenyum lebar. Ia pun lantas mengambil satu langkah mendekat untuk mencium Sena di kening.

Kaja, bersiaplah.”

Yoongi melirik sosok di sampingnya sinis. Kemudian bola matanya berputar 360 derajat, lantas menoleh cepat.

Yaa, haruskah kau ikut di saat-saat seperti ini?!”

Taehyung, seseorang yang dibentak itu tampak tersentak. Tapi hanya sebentar sebelum wajah menyebalkannya saat menenangkan Yoongi muncul. “Hyung, sudah kubilang jangan anggap aku ada. Aku tidak akan mengganggu kalian, serius.”

Yoongi ingin sekali mendorong “hama” ini pergi. Tapi mana mungkin dia berani kalau faktanya Taehyung adalah adik kandung gadis yang kini sedang ada di sisinya yang lain, tersenyum geli melihat caranya mengungkapkan kekesalan pada adiknya.

Akhirnya pria paruh baya ini pun menghela napas. Pasrah.

“Ah ngomong-ngomong, apa kalian tidak takut tertangkap kamera paparazzi?”

Yoongi langsung menoleh dengan pelototannya. “Tadi siapa yang bilang tidak akan ganggu, hm?”

Sena lantas menenangkan Yoongi dengan menepuk bahunya saat melihat aura panas dari Yoongi. “Ahjussi, tenanglah. Kau akan makin tua kalau banyak marah-marah.”

Sekali lagi Yoongi dibuat menghela napas pasrah. Lantas dengan lebih tenang dia menjawab, “Bersembunyi hanya bagi para pengecut.”

Seketika Taehyung terdiam, membiarkan dirinya tertinggal oleh Yoongi dan Sena yang kini mendahuluinya menyeberang jalan.

Bersembunyi hanya bagi para pengecut….

Ya, dirinya.

Si pengecut itu.

Tiba-tiba saja kepalanya menoleh. Menemukan sebuah mobil yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Ia tak mengenal mobil itu, namun dia tahu kalau mobil itu sedang menarget kakak dan calon kakak iparnya. Tak ada mobil yang berhenti di jalur itu meski lampu lalu lintas menandakan bahwa pejalan kaki boleh lewat. Apakah orang itu buta? Pikirnya. Namun dia tak ingin terlena dengan pikirannya sendiri saat dua orang yang dia ganggu kencannya sedang dalam bahaya.

Cepat dia mengayunkan kakinya dan berhenti sambil merentangkan tangan, melindungi kedua orang itu dengan berani. Bahkan ia terlalu berani hingga tidak sudi menutup matanya demi melihat siapa yang beraninya menargetkan pasangan di belakangnya ini.

“Jungkook….” Lirihnya tepat sebelum roda mobil itu berputar dan beralih menargetkan tiang lampu lalu lintas.

CKIIIIT!! BRAK!

Semuanya terjadi begitu cepat.

“Jungkook … OH JUNGKOOK!!!”

Sena tetap pada posisi mematung saat duduk di ruang tunggu. Dirinya seperti tidak hidup. Yoongi pasti akan membawa Sena ke ruang gawat darurat andai dia tidak mendengar hembusan napas darinya. Mungkin hampir tiga jam lebih, Sena tetap bertahan dalam posisi itu meski sudah diperbolehkan menjenguk pasien. Ia tak beranjak sedikitpun sehingga Yoongi tetap berada di sana untuk memantau kondisinya.

Sekali lagi pria paruh baya itu meremas lembut bahu Sena, meminta si gadis sudi bergerak sedikit, menoleh kepadanya.

“Bicaralah,” pintanya dengan lembut, sembari menyelipkan sejuntai rambut bebas Sena ke belakang telinga.

Yoongi takut Sena akan menjadi bisu dalam tiga jam.

Wajahnya semakin khawatir saat mendapati kedua mata gadisnya berkaca-kaca dengan cepat. Hidung memerah, bibir bergetar dan air mata itu….

Segera Yoongi membawa gadisnya dalam pelukan. Membiarkan si gadis terisak di dadanya.

Yoongi bukannya tidak mengerti kenapa Sena seperti ini. Dia sangat tahu betul –meski tidak pernah berada di posisi Sena. Dia paham bagaimana takutnya Sena andai Daena dan Sehun tahu Jungkook mengalami kecelakaan parah. Sebenarnya, sudah bukan andai lagi, Taehyung sudah memberi tahu Daena tanpa pikir panjang. Remaja itu terlalu panik hingga dia tidak memikirkan konsekuensi yang akan didapat. Dan Daena, seperti yang didengar oleh Yoongi, langsung berangkat dari Busan detik itu juga.

Hanya tinggal menunggu kapan Daena dan Sehun akan datang. Sena akan bertemu dengan apa yang ditakutinya, sementara Yoongi akan bertemu muka dengan rivalnya lagi setelah 20 tahun lamanya.

“Aku takut….”

Gwaenchanha….”

Yoongi mengelus lembut surai hitam Sena. Mencoba menyalurkan ketenangan meski bisa saja hal itu tidak berpengaruh apa-apa. Ia menyingkirkan rambut Sena yang menutupi telinga, membisikkan sesuatu dengan suara penuh kharismanya.

“Ada aku disini, tenanglah.”

Sena menyabuk lengannya di sepanjang lingkar pinggang Yoongi, mengeratkan pelukan.

Dia sangat takut sampai rasanya ingin mati. Bayangan akan wajah marah ibunya dan tamparan keras menuju pipinya menghantuinya. Hanya itu yang bisa dia ingat dari ibunya. Kenangan yang tidak bisa disebut dengan kenangan. Membuat dirinya ingin mengakhiri hidup supaya tidak merasakan tamparan keras dan melihat wajah amarah wanita itu lagi.

Namun sentuhan lembut Yoongi di rambutnya seketika membuat pikiran buruk itu sirna. Dia masih memiliki seseorang yang mau menjadi tempat bersandarnya, mau memeluk dan menenangkannya saat sedih, jadi apa mungkin dirinya tega meninggalkan sosok yang berjasa ini?

Akan tetapi perasaan tenang itu hanya datang sebentar. Karena setelahnya dia ditarik paksa untuk berdiri oleh seseorang dan PLAK! Tamparan keras itu akhirnya datang juga. Panas mulai menjalar, dari pipinya, menuju perasaannya. Tak butuh berpaling untuk melihat siapa yang melakukannya. Tamparan ini terasa sama.

“Apa kau sudah gila? Apa yang kau lakukan sampai Jungkook kecelakaan?! Dasar tidak berguna.”

Yoongi yang sempat terpaku beberapa detik akhirnya bangkit dan menarik Sena untuk berdiri di belakang tubuhnya. Sementara matanya menatap tajam pada sosok wanita yang berstatus sebagai ibu kandung gadisnya.

“Berhenti menyalahkan anak ini.”

Daena balas menatapnya sinis. “Kau ini siapa, huh? Kau tidak punya hak untuk melarang orangtua memarahi anaknya sendiri.”

Yoongi menyeringai. “Orangtua?” Matanya melirik pria jangkung yang baru saja datang dan berdiri di belakang Daena. “Kalian sebut diri kalian ini orangtua?”

Sena menunduk, mencoba menahan isakannya selagi Yoongi meremas tangannya kuat, menandakan jika pria itu tengah dibakar amarah.

Sebagai satu-satunya orangtua yang dimiliki oleh darah dagingnya, Yoongi sangat tidak terima jika Daena dan Sehun menyebut diri mereka sebagai ‘orangtua’. Menjadi orangtua bukan berarti bebas main hakim sendiri. Menyalahkan anak atas peristiwa yang telah terjadi, Yoongi sangat benci itu. Jungkook kecelakaan bukanlah salah Sena, tidak ada alasan bagi mereka untuk menyalahkan Sena.

Sehun sendiri fokus melihat tangan Sena dan Yoongi yang sedang bergandengan secara terang-terangan. “Bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tidak membuat rumor lagi, Oh Sena?”

Yoongi menatap Sehun tajam, sementara Sena sendiri semakin menyembunyikan diri di balik tubuh kurus Yoongi.

Daena juga ikut mengarahkan pandangannya pada apa yang dimaksud Sehun. Senyum kecut pun terlukis di wajahnya. “Hah, tidak heran kenapa kau sangat se-protektif ini pada anak itu.”

Terdengar suara pintu dibuka. Taehyung memunculkan diri dari sana dan nampak sedikit terkejut melihat tiga kepala orang dewasa tengah memusatkan atensi padanya. Keterkejutan itu berubah menjadi rasa penasaran setelah mendengar kakaknya terisak di belakang Yoongi. Bukannya menanyakan kenapa ayah dan ibunya bisa cepat sampai di Seoul, dia justru menanyakan alasan kenapa kakaknya menangis.

Sayangnya tiga orang dewasa itu tak memberi jawaban. Dia sedikit kebingungan, terlebih dengan atmosfer di sana. Namun dia malas untuk ikut campur urusan orang dewasa dan lebih memilih untuk mengambil alih kakaknya dari Yoongi.

“Jungkook ada di dalam,” katanya pada ayah dan ibunya, sambil menggandeng Sena yang berusaha menyembunyikan diri di belakangnya.

Daena menoleh pada Yoongi sekilas sebelum beranjak memasuki ruang rawat Jungkook. Begitu pula dengan Sehun yang menyusul beberapa saat kemudian.

Yoongi menghela napas. Taehyung menoleh.

“Kenapa, Hyungnim?”

Yoongi menoleh, menggeleng. Matanya teralih pada Sena yang masih terisak di punggung Taehyung. Ia membawa tungkainya mendekat, meraih Sena ke dalam pelukannya. Puncak kepala, dahi, pelipis, pipi, hidung, bibir, semua bagian wajah Sena dia cium sedemikian rupa, membuat keterkejutan tersendiri di mata Taehyung namun memberikan perasaan tenang bagi Sena. Ia tersenyum saat Sena tersenyum meski sangat tipis.

Diciumnya lagi pipi Sena sampai berkali-kali.

Uljima.”

Sena memegangi kerah kemeja hitam Yoongi yang dua kancing teratasnya terbuka saat Yoongi menghapus air mata di pipinya dengan satu tangan. Ia mendongak ketika Yoongi mengangkat dagunya, matanya perlahan memejam bersamaan dengan wajah Yoongi yang kian mendekat.

“EHEM.”

Gadis itu spontan membuka matanya lebar. Ia menoleh ke belakang, begitu juga dengan Yoongi. Di sana, Taehyung menatap mereka dengan sedikit kerutan di dahi dan kedua tangan terlipat di dada.

“Tolong jangan lupakan kehadiranku, Tuan dan Nona.”

Sena tersenyum geli, Yoongi berdecak sebal.

“Kau ini selalu saja mengganggu.”

Taehyung menggendikkan bahu. “Dimana-mana peranku selalu seperti ini. Bayangan itu memang selalu mengganggu.”

Yoongi mendecih. Tapi rasa kesalnya tidak bertahan lama karena Sena tiba-tiba memeluknya erat.

Ahjussi, aku lapar.”

“Lapar? Mau makan sesuatu?”

“Hm. Ramen.”

“Aku juga,” sahut Taehyung cepat. “Aku lapar, mau ramen.”

Keurae, kaja. Kita makan di kantin rumah sakit saja. Gwaenchanha?”

Gwaenchana,” jawab Taehyung cepat.

“Aku tidak tanya padamu,” balas Yoongi cuek. “Gwaenchanha, sayang?”

“Hm. Gwaenchanha.”

Heol, kau berlaku sangat baik pada nuna, tapi memperlakukanku seperti kotoran. Hyungnim, kau harus a—ehey Haengnim … masa baru begitu saja sudah marah. Haengnim~ maafkan Taetae~ Haengnim~

Sena dibuat tersenyum geli selama berjalan di sebelah Yoongi gara-gara tingkah merajuk Yoongi dan cara membujuk Taehyung yang kekanakkan. Untuk sesaat, dia melupakan fakta bahwa dia baru saja ditampar oleh ibunya.

Tingkah anjing dan kucing ala Taehyung dan Yoongi sanggup membuatnya tersenyum dan tertawa geli.

tbc

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s