Single Parent [Chapter 35]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki), Rap Monster aka Kim Namjoon (BTS), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31 Chapter 32 Chapter 33 Chapter 34

#RIP_Kim Jonghyun

#Let’s spread love #LoveYourself #LoveMyself #Loveourself

Meskipun BTS nggak sempurna, aku nggak mau Yoongi terlarut dengan depresinya, aku ngga mau Jimin sampe kena anoreksia, aku nggak mau Taehyung jadi emotionless, aku nggak mau old jokes-nya Jin ilang, aku mau kehilangan senyum malaikatnya J-hope, aku ngga mau ngeliat Jungkook nggak pede dengan dirinya, dan aku nggak mau liat BTS tanpa RM. I love them from the bottom of my heart, even I know that they’re not perfect.

**

“Jimin!! Aku datang!!”

Yoonjung merentangkan kedua tangannya dengan bahagia. Menyambut wajah baru bangun tidur Jimin yang kesal karena harus membukakan pintu di tengah-tengah kegiatan bercintanya dengan selimut dan bantal.

“Apa aku menyuruhmu datang?” tanya lelaki itu.

Yoonjung menggeleng dengan cerianya.

“Trus kenapa kau datang?”

Yoonjung lantas mengerucutkan bibirnya. “Kau tidak ingin bertemu dengan kekasihmu?”

Ani. Pulang lagi sana.”

Saat Jimin akan menutup pintu, Yoonjung segera menaruh satu kakinya di ambang pintu. Jeritannya sanggup membuat Jimin urung menutup pintu. Lelaki itu sekarang malah terlihat sangat khawatir.

Gwaenchanha? Kakimu tidak sampai terluka ‘kan?”

Yoonjung menggeleng sambil nyengir. Jimin menghela napas.

“Jangan pernah mengulangi ini lagi, mengerti? Kakimu bisa-bisa terluka bahkan bisa saja sampai pincang kalau kau meletakkan kakimu seperti ini.”

Ne, algeseummida.”

Sekali lagi Jimin menghela napas. Ia pun membuka pintunya lebar. “Masuklah.”

Yoonjung pun dengan semangat segera melangkah masuk bahkan sampai menggantikan Jimin menutup pintu. Jimin tampak terheran dengan sikapnya. Ini bahkan masih terlalu pagi untuk bangun dan Yoonjung sudah terlihat seperti seseorang yang akan berpesta seharian penuh dengan ditemani musik club. Apa yang membuat Yoonjung sesemangat ini? pikirnya.

“Jimin, ayo masak,” seru Yoonjung yang entah bagaimana sudah sampai di dapur.

Jimin sendiri menghampiri sofa, menghempaskan tubuhnya di sana. “Tidak ada yang bisa dimasak di sini.”

“Siapa bilang? Aku membawa banyak sekali bahan-bahan makanan dari rumah.”

Jimin yang posisinya memang membelakangi Yoonjung, langsung menoleh usai mendengarnya. “Aku tidak lihat kau bawa itu tadi.”

“Tentu saja. Bagaimana kau bisa lihat kalau matamu masih banyak beleknya, Park Jimin.”

Jimin berdecak keras. “Yaa.”

“Tidak percaya? Cek sendiri saja sana.”

“Awas kau kalau bohong.” Jimin cepat-cepat turun dari sofa dan beranjak menuju kamar mandi. Yoonjung sendiri menanggapinya dengan gendikkan bahu.

Jimin kembali tak lama kemudian dengan wajah yang lebih segar sehabis mencuci muka dan sikat gigi. Dia cemberut mendapati tawa menyebalkan dari Yoonjung.

“Sudah kubilang ‘kan? Aish, kau ini menjijikkan sekali ternyata. Iyuuh…”

Jimin mengabaikannya dan memilih untuk duduk di salah satu kursi konter. Memperhatikan apa yang dilakukan Yoonjung saat ini.

“Apa yang akan kau masak?”

“Aku sebenarnya ingin membuat Jjamppong, tapi karena kau tidak suka seafood jadi aku akan membuatkanmu Yangnyeom Tongdak hari ini.”

Jimin menopang dagu di atas meja, tertarik dengan makanan yang akan dibuat Yoonjung. “Oke, mari kulihat seberapa bagusnya kau dalam memasak.”

Yoonjung nyengir. “Jangan remehkan gen Min, Tuan Park.”

Jimin tersenyum simpul.

Tidak sampai satu jam kemudian, Yangnyeom Tongdak yang dijanjikan Yoonjung akhirnya terhidang juga di depan mata. Jimin tak bisa mengedipkan matanya barang sekali. Berulang kali dia menelan air liurnya yang terus mendesak untuk keluar. Yoonjung sendiri yang tersenyum dengan ekspresinya langsung memberinya sumpit.

“Nah, cobalah.”

Jimin menerima sumpit itu sambil menegak ludahnya sekali lagi. Dia langsung mengambil sepotong daging ayam lalu menggigitnya. Dalam kunyahan ketiga matanya pun langsung melebar.

Yoonjung menatapnya sambil menopang dagu. “Bagaimana, hm?”

Tiba-tiba saja Jimin turun dari kursinya, menarik ke atas kain lengan sweater-nya, lalu….

“DNA….”

Si gadis dibuat melongo dalam sepersekon detik sebelum buncahan tawa menggema. Jimin sendiri yang masa bodoh mau ditertawakan atau tidak, kembali duduk di kursinya untuk menyantap ayam goreng pedas manis itu lebih banyak.

Yoonjung menghapus air matanya dengan tawa yang mulai mereda. “Astaga, selera humormu boleh juga, Park Jimin.”

“Aku sedang tidak bercanda,” sahut Jimin dengan pipinya yang menggembung karena mulut penuh. “Masakanmu ini memang luar biasa. Jjang!

Yoonjung tersenyum mendapati jempol mungil dari Jimin.

“Benarkah?”

Jimin mengangguk yakin. “Kau sudah sangat pantas menjadi koki.”

Yoonjung tersenyum penuh arti sembari memandangi lelaki di hadapannya makan dengan lahap. Ah, dia suka sekali melihat seseorang memakan masakannya selahap ini. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya orang lain mencoba masakannya. Min Yoongi, ayahnyalah orang pertama yang mencoba masakannya. Ada perasaan senang setiap Yoongi memuji dan menyantap masakannya sampai habis tak bersisa. Tapi dia merasakan suatu perasaan yang berbeda jika orang yang mencobanya adalah Park Jimin. Yoonjung merasa senang dan bahagia tapi dua kata itu masih kurang untuk mendeskripsikan bagaimana perasaannya sekarang.

Ia memperlihatkan sederet giginya saat Jimin melakukan kontak mata dengannya.

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Jimin curiga, tapi di satu sisi juga malu.

Yoonjung menggeleng pelan sambil membersihkan saus di ujung bibir Jimin dengan ibu jarinya. “Kau makan dengan lahap, kakak sepupu.”

Momen romantis itu hancur setelah mendengar panggilan Yoonjung untuknya. Ia menghela napas sembari menaruh sumpitnya di meja. Ia kembali membuat kontak mata dengan gadis itu, lebih intens. “Berhenti memanggilku seperti itu.”

Wae? Kita ‘kan memang saudara sepupu,” jawab Yoonjung santai sambil menjilati ujung ibu jarinya yang belepotan saus.

“Aku tahu tapi aku tidak suka mendengarnya.”

“Lalu kau sukanya bagaimana?”

“Kau masih tanya? Kita ini pacaran. Kau seharusnya memanggilku dengan panggilan ‘sayang’ ‘chagi’yeobo’ atau apalah itu. Bukan ‘kakak sepupu’.”

Yoonjung terkekeh. Merasa geli. Tapi Jimin tampaknya serius sehingga Yoonjung pun meraih satu tangannya. “Yaa, masa kau ngambek hanya gara-gara itu?”

“Ngambek? Yaa, kau bahkan sama sekali tidak pernah memanggilku seperti itu. Sekalipun tidak pernah. Hah. Kadang aku berpikir kalau kau diam-diam mempunyai hubungan khusus dengan Taehyung. Kenapa kau begitu dingin padaku, hm?”

Raut wajah Yoonjung berubah. “Kau menuduhku dengan Taehyung?”

Jimin pun menepis tangan Yoonjung darinya. “Jangan salahkan aku kalau aku berpikiran seperti itu.”

Yoonjung mendengus kemudian tertawa keras. “Yaa, neomuhane jinjja. Bagaimana kau menuduh teman sendiri seperti itu? Kau sendiri tahu kalau setiap waktunya aku selalu kemana-mana bersamamu. Kenapa tiba-tiba menuduh Taehyung?”

“Sikapmu, Min Yoonjung. Sikapmu yang menggampangkan hubungan inilah yang membuatku kesal. Pulanglah, kau bisa membuka dan menutup pintu sendiri ‘kan?”

Jimin meneguk air minumnya dulu sebelum turun dari kursi dan beranjak menuju kamar. Mood-nya hari ini mendadak kacau entah kenapa. Dia ingin kembali bergelung di bawah selimut, membuat mimpi dalam tidurnya sendiri supaya suasana hatinya membaik. Namun Yoonjung memeluknya dari belakang tepat setengah jalan dari kamarnya.

Pelukan itu mengerat sebelum Yoonjung buka suara. “Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba seperti ini, Jimin-a. Kau biasanya sangat pengertian dan tidak mempermasalahkan soal itu. Kau juga bukan tipe yang mudah menuduh teman sendiri. Malhaebwa, apa telah terjadi sesuatu?”

Yoonjung memang terbaik, Jimin akui itu. Dia sendiri juga aneh dengan kata-katanya barusan. Tapi gara-gara suasana hatinya yang makin lama makin terasa buruk, dia seolah membenarkan semuanya. “Jangan berlagak seolah kau mengerti diriku. Tidak ada yang terjadi. Aku hanya kecewa padamu.”

Ia pun melepaskan pelukan Yoonjung. Kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar. Namun lagi-lagi ada yang menghalangi jalannya yaitu ponselnya yang mendadak berbunyi. Suasana hatinya makin jelek saat dia mengambil benda itu dan mendapati nama Taehyung di sana. Ingin sekali dia menolak panggilan tersebut namun hatinya seolah menyuruhnya untuk mengangkatnya.

“Hm, wae?

“….”

MWO?

Yoonjung yang masih berdiri di tempatnya ikut mengerutkan dahi, mulai khawatir.

“Kau di mana sekarang? Arasseo, aku akan ke sana sebentar lagi.”

Tepat setelah memutus panggilan, Jimin menoleh pada Yoonjung. “Hei, ikut aku ke rumah sakit.”

W-wae?” Mendadak perasaan Yoonjung tidak enak. Siapa yang masuk rumah sakit, pikirnya.

“Jungkook kecelakaan.”

Yoonjung tak mengerti kenapa dia harus ikut menjenguk seseorang yang jelas-jelas tidak dikenalnya meski dia tahu siapa orangnya. Jimin tidak mengatakan apa-apa padahal dia sudah menanyakannya berkali-kali. Mereka sudah setengah jalan dan dia tidak tahu kenapa harus ikut menjenguk seseorang bernama Jungkook itu.

Bosan karena diabaikan Park Jimin. Yoonjung pun memutuskan untuk membuka ponselnya. Inginnya dia melihat kabar terbaru dari BTS, tapi entah kenapa tiba-tiba dia tertarik pada sebuah artikel yang kini sedang menempati posisi #1 di Baver. Tertarik dengan judulnya, dia pun langsung membuka artikel tersebut.

Mendadak dia berdiri dari duduknya dan menekan tombol, meminta bus menurunkannya di halte terdekat.

Wae?” Tanya Jimin yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya. Ia memberikan ekspresi ‘ada apa denganmu’ saat Yoonjung menatapnya tajam.

Tapi Yoonjung tak mau memberi jawaban. Dia langsung beranjak turun begitu bus berhenti. Tidak peduli mau Jimin mengejarnya atau tidak, tapi dia sendiri tahu Jimin pasti akan mengejarnya karena sekarang badannya dipaksa berbalik karena tarikan kuat Jimin di tangannya.

Yaa, ada apa denganmu?”

Yoonjung menyeringai. “Aku tidak mau menjenguk seorang pembunuh, Park Jimin.”

Jimin mengerutkan dahi tak mengerti. Yoonjung pun menghempas tangannya kemudian beranjak pergi. Ah, bukan Jimin namanya kalau dia menyerah begitu saja. Sekali lagi dia mengayunkan tungkainya cepat untuk menyejajari langkah Yoonjung.

“Siapa yang kau sebut pembunuh itu?”

“Jangan pura-pura tidak tahu.”

“Aku memang tidak tahu maksudmu.”

Yoonjung pun akhirnya berhenti, kemudian menyerahkan ponselnya ke tangan Jimin. “Baca itu.”

Masih belum mengerti, Jimin pun segera membaca apa yang terdapat di ponsel Yoonjung. Reaksinya membuat Yoonjung langsung membuang muka.

“Berita ini sungguhan?”

Yoonjung menghela napas. Rupanya, Jimin juga baru tahu. Ia pun kembali meraih ponselnya. “Entahlah. Mau itu benar atau tidak, aku tidak sudi kesana untuk melihatnya.”

Yaa, mau kemana?”

Sayangnya Jimin tidak beruntung karena Yoonjung hanya melenggang tanpa berminat memberinya jawaban. Akhirnya mau tak mau Jimin pun mengikuti kemana Yoonjung pergi. Dia menggamit tangan kanan gadisnya. “Ayo pergi bersama-sama.”

Yoonjung tidak protes apalagi menolak saat Jimin mengajaknya berlari. Selama itu tidak ke rumah sakit, dia akan ikut kemanapun Jimin pergi. Karena dia butuh meredamkan rasa marahnya atas fakta yang baru saja dia tahu.

Jungkook nyaris membunuh ayah, teman dan adik dari temannya.

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s