Single Parent [Chapter 36]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki), Rap Monster aka Kim Namjoon (BTS), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31-35

***

Nuna Nuna?”

“U-uh?”

Taehyung menghela napas. Dia menangkup kedua pipi kakaknya supaya menoleh padanya. “Ada apa denganmu? Sejak tadi kau melamun terus.”

“Maaf.”

“Kenapa minta maaf segala? Kau tidak melakukan kesalahan apa pun.” Taehyung mengelus pipi kakaknya dengan kedua ibu jarinya. “Sekarang jangan melamun lagi dan makan, hm?”

Sena mengangguk patuh.

Yoongi yang duduk tepat di hadapan Sena dan sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka, juga membuat ekspresi serupa seperti Taehyung. Jengah melihat Sena terus seperti ini. Ah dia sangat benci perlakuan Sehun dan Daena pada gadisnya. Bahkan hanya dengan melihat raut wajah mereka saja, Yoongi tahu seberapa bencinya mereka pada anak ini. Mereka tahu Jungkook kecelakaan bukan karena Sena tapi mereka tetap menyalahkan Sena karena Sena pantas mendapatkan itu.

Sekelebat ide pun muncul di kepala Min Yoongi. Dia menoleh pada Taehyung.

Yaa, setelah ini kembalilah ke ruangan anak itu.”

Taehyung mendongak dengan mata indahnya yang melebar. “Lalu Haengnim dan nuna?”

“Kurasa kakakmu butuh sedikit udara segar. Aku akan mengajaknya jalan-jalan sebentar.”

Sena yang mendengarnya sama sekali tidak melayangkan protes. Dia sendiri memang membutuhkan itu. Tidak ingin bertemu dengan orangtuanya untuk sementara waktu.

Usai makan, Taehyung pun kembali ke ruangan Jungkook, sementara Sena dan Yoongi pergi ke taman rumah sakit. Keduanya duduk di sebuah bangku kayu yang berada tepat di samping lampu taman. Jas milik Yoongi telah berpindah tempat ke tubuh Sena.

Yoongi duduk menghadap Sena dengan kedua kaki menyilang di atas bangku. Tangan kanan menopang dagu dengan siku bertumpu pada kakinya sendiri. Mata kecilnya menatap lurus pada si gadis yang lagi-lagi melamun.

“Harusnya hari ini menjadi hari yang menyenangkan untukmu.”

Sena perlahan menoleh.

Yoongi menghela napas. Ia membuang muka pada rumput hijau yang menjadi tempat berpijak Sena. “Kalau saja aku tidak mengajakmu keluar hari ini, mungkin ini tidak akan terjadi.”

Sena pun meraih tangan Yoongi yang bebas. “Ahjussi, kau ini bicara apa?”

Yoongi balas menggenggam tangan Sena meski tidak memandang si pemilik tangan dalam genggamannya. “Hari ini kau seharusnya hanya tinggal di rumah, melakukan apa pun yang kau sukai di rumah, bukannya mendapatkan apa yang seharusnya tidak kau dapat. Mian.”

Sena tersenyum. Matanya turun dari wajah Yoongi ke tautan tangan mereka. Mengabsen satu persatu jemari kekasihnya menggunakan ibu jarinya.

“Seperti yang Taehyung bilang tadi padaku. Kau tidak melakukan kesalahan apa pun, Ahjussi. Kenapa minta maaf segala? Kita tidak bisa menyalahkan siapa pun atas kejadian hari ini, bukan? Kau tidak salah apa-apa. Semua ini terjadi karena memang harus terjadi.”

Sekali lagi Yoongi menghela napas. Lantas ia pun menoleh. Menatap intens pipi Sena yang ditampar oleh Daena tadi. “Sakit?”

Sena sempat dibuat bingung ditandai dengan kedua alisnya yang terangkat tinggi. Tapi tak lama kemudian muncul senyum tipis di wajahnya sebelum tangannya yang lain menepuk dada kirinya sendiri. “Di sini, sakit.”

Kini ekspresi Yoongi tak terbaca. Ia membuang muka lagi.

“Ah … aku benci perasaan ini.”

Ucapan yang terlontar beberapa detik setelah kediaman Yoongi, membuat Sena kembali tersenyum. Ia menepuk pelan punggung tangan Yoongi. “Tolong maafkan mereka.”

“Memaafkan mereka?” Yoongi tersenyum kecut. “Yang benar saja.”

“Memaafkan adalah satu-satunya cara yang bisa membuat perasaan kita tenang, Ahjussi. Aku tidak mau melihatmu dalam kondisi dipenuhi emosi negatif. Jadi kumohon, maafkan mereka, meski itu sulit bagimu.”

Tak ada respon dalam bentuk apa pun dari pria berkulit seputih bengkoang itu. Pikirannya dipenuhi dengan perdebatan antara hati nurani dengan sisi gelap dirinya. Gadis yang dicintainya terlalu baik. Gadis baik, hanya untuk pria yang sama baiknya. Bisakah dia menjadi pria baik untuk gadis malaikat ini?

Sesuatu yang cair tiba-tiba jatuh di atas kepalanya. Dia mendongak, bersamaan dengan sesuatu berwarna hitam menutupi arah pandangnya. Sekaligus dapat merasakan hawa hangat yang cukup dekat darinya. Saat dia menoleh, ia mendapati wajah sang kekasih yang sedang kesulitan menutupi kepala mereka dengan jas hitam miliknya. Dan mata mereka pun saling bertemu.

“Ahaha … sepertinya sebentar lagi akan hujan, bagaimana kalau kita cari tempat berteduh?”

Tawa dan senyum malu-malu Sena karena wajah mereka yang begitu dekat, dan karena Yoongi yang menatapnya lekat, membuat darah Yoongi berdesir hebat. Pria itu segera mengambil alih tugas menutupi kepala mereka dengan jas, lalu mendorong pelan kepala belakang Sena hingga bibir mereka saling menyambut.

Tetesan air langit yang semula hanya satu dua, kini meningkat menjadi belasan, puluhan, hingga tak terhitung lagi. Menghujam tubuh dua sejoli yang masih betah berbagi cinta mereka melalui ciuman tanpa napsu. Di saat awan makin pekat, keduanya pun menyudahi momen tersebut kemudian berlarian menuju koridor rumah sakit. Yoongi menggelengkan kepalanya ke kanan kiri dengan cepat supaya air di rambutnya berkurang, sementara Sena sibuk mengusap wajah dan lengannya yang sudah basah kuyup.

Keduanya saling melempar senyum saat mata mereka bertemu.

“Sepertinya kita harus ganti baju,” ujar pria itu sesaat setelah dia mendapati dress Sena yang basah kuyup hingga menempel dan membentuk tubuh. Tanpa mengatakan apa pun dia lantas memindah jasnya –yang semula berada di kepala Sena, ke tubuh Sena, supaya menghindari tatapan lapar pria di luar sana akan tubuh indah gadisnya. Kemudian ia menggamit tangan itu.

“Ayo ganti baju.”

Yoonjung dan Jimin baru sampai di rumah sakit ketika hujan turun. Jimin lantas mengomando Yoonjung menuju ruang dimana Jungkook dirawat. Meski malas, Yoonjung tetap ikut karena perjanjian mereka beberapa jam lalu.

“Kalau aku berhasil mengalahkanmu dalam semua permainan di sini, maka kau harus mengantarku pulang.”

“Dan kalau aku yang berhasil mengalahkanmu?”

“Aku akan menjenguk si pembunuh itu.”

Call.”

Jadi kalian sudah tahu ‘kan kenapa Yoonjung sudah berada di rumah sakit? Ya, dia kalah, hampir semua permainan di pusat game itu.

“Nah, kita sampai.”

Yoonjung berhenti sebagaimana Jimin berhenti. Ia membaca tulisan di pintu itu. Ruang VVIP, tertulis nama pasien Oh Jung Kook.

Pintu tersebut dibuka dari dalam setelah Jimin mengetuknya. Memperlihatkan wajah Taehyung yang agak terkejut dengan kehadiran Yoonjung.

“Oh?”

Yoonjung membuang muka saat Jimin menoleh padanya.

“Ah, dia sedang ada di tempatku makanya kuajak datang.”

“Hm begitu. Masuklah.” Taehyung pun membuka lebar pintu, mempersilahkan Jimin dan Yoonjung untuk masuk.

Yoonjung mengerutkan dahi mendapati dua orang dewasa di sana. Dia seharusnya memberi salam dengan tubuh membungkuk seperti Jimin, tapi yang ada dia malah memelototi mereka.

“Mereka siapa?” tanyanya pada Jimin secara terang-terangan, tanpa sekalipun merasa sungkan.

Yaa, bersikaplah sopan,” bisik Jimin sedikit kelabakan. “Mereka ini orangtua Jungkook.”

Senyum kecut pun muncul di wajah Yoonjung. Lantas ia membungkuk sopan seperti yang dilakukan Jimin sebelumnya. “Ah maafkan aku. Aku tidak tahu kalau Anda sekalian adalah ORANGTUA dari si pembunuh itu. Senang bertemu dengan kalian, aku, Min Yoonjung, teman sekolah Sena eonni, Taehyung dan Jimin.”

Jimin dibuat shock dengan cara Yoonjung menyebut Jungkook. Oh ayolah, pasti setelah ini akan muncul masalah baru.

Daena mendengus tak suka dengan cara Yoonjung memperkenalkan diri. Sangat tidak sopan terlebih gadis itu menekan kata ‘orangtua’ bahkan menyebut Jungkook sebagai si pembunuh. “Kenapa kau membawa gadis yang tidak punya sopan santun ini kemari, Park Jimin.”

Tebakan Jimin benar. Pasti masalah baru muncul. Ia melepas tangan Yoonjung untuk membungkuk penuh. “Maafkan Yoonjung, Eommeonim. Dia tidak bermaksud seperti itu.”

“Aku memang bermaksud seperti itu,” sahut Yoonjung enteng, yang membuat Jimin makin frustasi.

“Tolong maafkan—”

“Aku tidak melakukan kesalahan, Park Jimin. Dan kau tidak perlu meminta maaf atas namaku,” sahut Yoonjung lagi sambil menarik paksa Jimin supaya berdiri tegak kembali. Ia mendapat pelototan dari sepupu sekaligus kekasihnya itu, namun hanya senyuman yang menjadi balasannya.

“Kenapa aku harus bersikap sopan pada orang-orang yang telah membuat ayahku, eonni, Taehyung, kau dan keluargamu menderita? Aku bersikap seperti ini karena mereka pantas mendapatkannya.”

Tanpa seorang pun tahu, Taehyung yang duduk di sebuah sofa diam-diam tersenyum. Dalam hati dia memberi applause serta sorakan supaya Yoonjung makin memojokkan kedua orangtuanya.

“Tidak orangtuanya, tidak anaknya, kalian sama saja,” ujar Daena sinis. “Bukankah kau harusnya sadar diri, Nak? Ibumu sudah mati, kau mempermalukannya.”

Yoonjung menyeringai. “Kurasa kalau ibuku masih hidup, dialah yang akan bersikap seperti ini. Bahkan mungkin lebih ganas dari ini karena … ibuku tidak suka orang lain macam-macam pada ayahku.”

“Keluar kau sekarang juga.”

“Ngh … eomma….”

Daena langsung menoleh ke asal suara. Seketika dia melupakan kehadiran Yoonjung yang sempat membuatnya terbakar amarah.

“Ya sayang, eomma di sini.”

“Akh! Kepalaku sakit….”

“Sakit? Sebentar, akan eomma panggilkan dokter.”

Saat Daena kembali duduk tegak untuk menelepon dokter, Yoonjung tahu-tahu sudah berada di sisi lain ranjang Jungkook dan….

PLAK!

Semua mata di sana seketika membelalak.

“Sakit? Ya, itu untuk orang yang sudah menyiksa eonni.”

PLAK!

“Ini untuk orang yang sudah membunuh Park Jihyun.”

Jimin dan Taehyung terkesiap. Daena melotot seolah siap menerkam Yoonjung kapan pun.

PLAK!

“Yang ini untuk orang yang sudah membunuh Hong Seungjoo.”

“Hentikan!” seru Daena. Tapi sepertinya seruan itu hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Karena setelahnya lengannya terayun lagi, dengan kekuatan penuh menarget pipi Jungkook.

PLAK!

“Dan itu spesial untuk orang yang hampir membunuh ayahku, eonni dan Taehyung.”

Jungkook kembali tak sadarkan diri. Melihat itu, Daena pun bangkit dan melayangkan tangannya menuju wajah Yoonjung. Namun tangannya tertahan di udara oleh seseorang. Min Yoongi.

Pria itu lantas menghempas tangan Daena, menatapnya tajam. “Singkirkan tanganmu dari anakku.”

Daena mendesis tak suka. “Kalau begitu bawa anakmu pergi sebelum aku menamparnya seperti dia menampar anakku.”

“Aku juga mau pergi. Tidak usah buang-buang tenaga untuk menyuruhku, Nyonya,” ujar Yoonjung santai sembari menarik lengan Yoongi untuk mengikutinya.

Sepeninggal mereka, Daena mengomel-ngomel sendiri sebelum menelepon dokter. Sementara Sehun mendadak bangkit, lalu mengajak Sena dan Jimin untuk mengikutinya.

“Nanti malam datanglah bersama ke vila. Hanya berdua, ada yang ingin kubicarakan pada kalian.”

Hanya itu dan Sehun pun kembali ke ruangan Jungkook. Jimin dan Sena saling pandang, mencoba mencari tahu kenapa Sehun menyuruh mereka datang ke vila keluarga Oh di Seoul hanya berdua. Mungkin jika orangnya adalah Sena dan Taehyung, masih masuk akal. Tapi Jimin?

Gwaenchanha, tidak ada yang akan terjadi. Kupastikan itu,” ujar Jimin yakin sambil menepuk pelan bahu Sena. Dia tahu Sena mulai memikirkan kemungkinan terburuk, karena dia juga sempat memikirkan itu. Tapi karena dia percaya jika memikirkannya justru akan membuat kemungkinan buruk itu terjadi, maka dia pun berusaha mengabaikannya dan meyakinkan Sena bahwa semua akan baik-baik saja.

tbc 

Advertisements

5 Comments

  1. Finally update juga.. Tiap hari aku ngecek. 😁
    Cerita makin panas, kira2 apa rencana sehun ya?
    Tapi gara2 saking semangat baca, tiba2 udah abis…

    Liked by 1 person

  2. Ini yoonjung real anak yoongi, berani bighit sama keluarga ohseh wkwk
    Btw yoonjung tau drmana park jihyun mati gara2 jungkook, bukannya yg tau cuma tae yups, ato aku yg lupa sama ceritanya :”) serah dah, yg penting aku seneng, ini update tepat waktu :*

    Liked by 1 person

  3. aaaahh telat lagi bacanyaa haha. Ceritanya makin pengen ditunggu kelanjutannya haha, kenapa sehun nyuruh mereka berdua ke villa? Duuh jadi menduga duga sendiri haha. Ditunggu next chapter nyaa :))))

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s