Single Parent [Chapter 38]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki), Rap Monster aka Kim Namjoon (BTS), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31-35 Chapter 36 Chapter 37

***

aku rekomendasikan film Girl, Interrupted bagi kamu yang suka film bermuatan psikologi

***

Jimin menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Lenguhan menggema di ruangan tersebut, diikuti desisan dan helaan napas. Pipinya masih terasa berdenyut. Sakit. Pukulan Taehyung tidak main-main. Ia rasa beberapa tulang wajahnya retak.

Dulu mereka memang sering sekali berkelahi. Sampai-sampai baru akan berhenti setelah salah satu dari mereka berdarah atau menangis. Dulu apa yang mereka ributkan tidak jauh-jauh dari merusak mainan, atau ada salah satu yang tidak sengaja mendorong yang lain sampai jatuh, malah terkadang hanya karena masalah memperebutkan lolipop. Namanya juga anak kecil, laki-laki, berkelahi karena hal-hal remeh itu wajar.

Tapi sekarang, mereka sudah cukup dewasa untuk tidak berkelahi karena hal-hal remeh. Mungkin memang masih sering. Ada suatu peristiwa saat mereka kelas 3 SMP, Jimin mencium Hong Seungjoo. Sebenarnya, Jimin tidak benar-benar menciumnya, Jimin hanya melakukan napas buatan karena Seungjoo, yang notabene teman sekelasnya waktu itu, tenggelam hingga tak sadarkan diri saat keduanya latihan untuk mengikuti olimpiade olahraga cabang renang. Niat Jimin hanya untuk menyelamatkannya, tapi Taehyung keburu dibakar cemburu dan berakhirlah mereka tak saling sapa sampai hari kelulusan tiba.

Namun setelahnya hubungan mereka justru semakin erat. Keduanya seolah anak kembar yang tak akan bisa terpisahkan, kecuali oleh waktu. Bahkan saat kasus Yoonjung pun, mereka kembali lagi lengket seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Akan tetapi, karena sekarang fokus permasalahan mereka ada pada Sena, Jimin tidak yakin apakah dia dan Taehyung bisa kembali seperti sediakala.

Taehyung adalah tipe yang sangat protektif, terlebih pada orang dicintainya. Bahkan sampai saat ini Taehyung belum bisa memaafkan Jungkook perkara kematian Hong Seungjoo. Lalu bagaimana dengan nasibnya yang menjadi pelaku atas hilangnya kegadisan Sena?

“Eungh … pusing….”

Ia meraih bantal dan memeluknya. Mencoba tidur. Akan tetapi momen epic itu digagalkan oleh sebuah suara. Ia pun segera meraih ponselnya sambil menyumpah.

Yoonjung

Jimin menyesal telah menyumpah. Bagaimana kalau tiba-tiba dia tertimpa karma? Pesan masuk dari pacar sendiri bukanlah sesuatu yang pantas diberi sumpah serapah. Ia tersenyum sembari membukanya.

Hei, kau di mana?

Ini sudah hampir bel. Cepat!!

Kau sakit?

Kenapa tidak masuk sekolah?

Garis bibirnya tampak semakin panjang. Ia pun memosisikan tubuhnya tengkurap dengan kedua tangan memegang ponsel, mengetik balasan.

Uh, hari ini aku tidak masuk. Tolong izinkan.

Tidak sampai 5 menit, pesan dari Yoonjung pun datang.

Wae? Jadi kau benar sakit? Aku akan ke tempatmu sepulang sekolah.

Jimin reflek menggeleng. Kemudian dia sadar kalau Yoonjung tidak akan bisa melihatnya.

Aku tidak sakit. Jangan kesini. Nanti aku lembur.

Jimin menghela napas lega setelah membaca balasan dari kekasihnya.

Arasseo.  Jangan lupa makan siang.

Hm. Aku akan mengingatnya, sayang. Belajar yang rajin, uh?

Karena tak ada balasan dari Yoonjung, Jimin pun meletakkan benda itu di dekatnya. Erangan kembali terdengar saat dia merasakan perutnya yang mengaum. Ah … Jimin lapar. Kemarin malam dia hanya makan sepotong sandwich dan pagi ini dia belum memasok perutnya. Bisa saja dia langsung berlarian ke dapur untuk memasak sesuatu, sayangnya tidak ada bahan yang bisa dia gunakan bahkan sebungkus ramen pun.

Di tengah kegundahan akan rasa laparnya itulah, terdengar seseorang menekan bel apartemennya. Ia yakin itu pasti Taehyung karena siapa lagi yang akan mengunjungi orang sepertinya di jam-jam sekolah seperti ini? Dugaan itu semakin diperkuat dengan bagaimana orang diluar sana menekan bel secara tak sabaran. Buru-buru dia melompat turun dari ranjang sebelum Taehyung menghancurkan pintunya sebagaimana kawannya itu menghancurkan wajahnya.

“Kau sengaja membiarkanku lumutan di sini?” ketus Taehyung yang kemudian mendorong bahu Jimin ke dinding untuk memberinya akses masuk. Jimin sendiri hanya meringis, kemudian ia menutup pintu dan mengekor Taehyung dalam diam.

Taehyung menghempaskan bungkusan berlabel restoran cepat saji di atas meja sebelum menghempaskan diri di sofa.

“Makan itu,” katanya sesaat setelah Jimin duduk di sofa lain.

Jimin mengambil bungkusan itu dengan rasa penasaran tinggi. Dan setelah dibuka, tiba-tiba saja suara perutnya menggila.

“Itu kupotong dengan pisau. Tidak usah banyak protes, makan saja. Sudah baik aku memberimu sesuatu untuk dimakan.”

Bolehkah Jimin menangis haru sekarang? Taehyung baru saja berhasil menyentuh sisi terapuh dari dirinya. Jimin kira dia akan puasa seharian ini, tapi Taehyung, meski dengan cara yang cukup tidak sopan, memberinya setengah potong dari King Burger. Ia berkedip-kedip cepat saat dirasa matanya mulai berkaca-kaca.

Ditutupnya kembali bungkus makanan itu, lalu menaruhnya di atas meja. “Kurasa, aku tidak pantas mendapatkan itu.”

Taehyung memutar bola matanya. Jengah. “Berhenti mendramatisir. Kau pikir aku begini karena aku perhatian padamu? Aku hanya tidak suka menghukum orang yang sedang kelaparan. Aish, berhenti membuat banyak alasan. Makan tidak? Huh?”

Meski terlihat menggemaskan di mata Jimin, tetap saja Jimin bersikukuh tidak menerimanya.

“Aish, kau ini menyusahkan sekali ternyata.” Tiba-tiba saja Taehyung mengambil bungkusan itu, memunculkan sedikit bagian dari potongan burger tersebut, lalu menempelkannya ke bibir Jimin yang sengaja mengatup rapat.

“Buka mulutmu!”

Jimin menggeleng ngotot. Taehyung yang tak sabaran langsung memegangi dagu Jimin dan menariknya paksa supaya mulutnya membuka.

Yaa ppalihae!!

Jimin ngotot menolak, sama halnya seperti Taehyung yang ngotot memaksa.

“Apa susahnya sih membuka mulut?! Aku tidak menaruh racun di sini!”

Jimin terus menggeleng. Tahu-tahu air matanya lolos.

Wae uro?! Namja tidak menangis, arro?!

Rahang Jimin mulai bergetar. Dia ingin terisak tapi tidak ingin kalah dalam kompetisi “kalau buka mulut kau kalah, Park Jimin”.

Yaa! Buka mulutmu, cepat! Tanganku sudah pegal ‘tau!!”

Taehyung pun sama. Meski sejak tadi terus berteriak, matanya juga sudah mulai berkaca-kaca karena melihat Jimin menangis. Dia tak tahu kenapa tapi dadanya sesak sekali melihat Jimin seperti itu.

Jimin menggeleng lemah sebelum menyedot masuk kembali ingus yang lumer dari lubang hidungnya. Dan Taehyung, akhirnya melepaskan tangannya dari rahang Jimin, memindahnya ke bahu Jimin, meremas-remasnya pelan.

“Makan, Park Jimin, makan. Tolong buka mulutmu dan makanlah ini. Uljima … Uljima aish!! Orang yang sudah menghancurkan kakakku tidak berhak menangis!”

Jimin menepis tangan Taehyung yang terus saja menempelkan burger ke bibirnya. “Orang yang melindungi pembunuh adikku juga tidak punya hak untuk menangis.”

Setetes air mata mengalir turun di sepanjang pipi Taehyung. “Wae? Apa salah melindungi adikku sendiri? Lagipula bukan aku pelakunya, aku tidak bersalah!”

“Lantas apa aku salah melindungi diriku sendiri? Aku memang menghancurkan kakakmu tapi bukan aku yang menginginkannya!”

“Jadi kakakkulah yang menginginkannya?”

Ani, bukan—”

Taehyung tersenyum sinis. Ia menaruh burger itu di atas meja kemudian menarik dan menghempaskan Jimin ke lantai. Ia berdiri di depan Jimin yang tengah merintih kesakitan akibat tumbukan keras antara punggungnya dengan lantai.

“Sudah cukup berbasa-basinya, Park Jimin. Mari kita selesaikan ini dengan cara yang semestinya.”

Sena sedang tidur pulas saat Yoongi berdiri di sebelah tempat tidurnya. Pria itu tak bisa menutupi rasa sedihnya mengingat apa yang baru saja terjadi pada gadis muda itu. Dengan hati-hati, dia duduk di tepi ranjang, memperhatikan dengan seksama bagaimana damainya si gadis terbuai dalam mimpi.

Ia mengulurkan tangannya, menyingkirkan rambut yang berniat menutupi mata si gadis. Kemudian mengusap pipi putih Sena dengan sentuhan jemarinya.

“Dunia ini bukan tempat untuk malaikat sepertimu,” gumamnya sembari menggambar garis lurus khayalan di sepanjang wajah bagian kiri Sena. “Kau seharusnya tinggal di surga, di tempat yang tidak ada seorang pun berani menyakitimu.”

Tangan kekar itu perlahan turun menuju tangan lemah yang tergolek. Mengelusnya samar, sebelum merekatkan jari-jarinya.

“Harusnya aku tidak mengabaikan mimpi itu. Harusnya … ya, harusnya…. Maaf, Sena.”

Yoongi pun melirik arlojinya. Sudah waktunya. Dia harus segera pergi karena ada pertemuan penting yang harus dihadirinya. Tak bisa membuang waktu lebih banyak, ia pun mengecup dahi Sena, lantas beranjak.

Namun belum saja mengambil satu langkah pergi, tiba-tiba ia merasakan genggaman seseorang di tangannya. Segera dia menoleh dan mendapati Sena yang menatapnya sayu.

Kajima, Ahjussi.”

Yoongi terpaku sejenak. Lalu dia kembali duduk, balas menggenggam tangan Sena, sementara tangannya yang lain memegang kepala bagian kiri gadisnya. “Aku ada pertemuan penting setelah ini, Sayang.”

“Tapi aku ingin bersamamu, Ahjussi.”

Yoongi tersenyum sambil mengangguk. “Aku juga. Tapi tidak sekarang, hm? Aku janji, setelah menyelesaikan pertemuan itu aku akan langsung kemari. Lebih baik tidur lagi saja.”

“Kalau begitu, bolehkah aku memelukmu?”

Yoongi mengangguk dan membantu Sena duduk. Tangan kirinya menarik tangan kanan Sena, sementara tangan kanannya menarik pinggang Sena. Ia menaruh tangan kanan Sena di bahunya, kemudian memeluk erat pinggang Sena, lantas memberinya kecupan ringan di pipi.

“Tidurlah selagi menungguku. Aku tidak akan pergi lama.”

Sena yang sepertinya belum puas dengan pelukan itu, kembali memeluk Yoongi. Sikap manja si gadis entah kenapa membuat Yoongi tersenyum. Dia mengacak gemas rambut Sena, dan membiarkan mereka tetap dalam posisi seperti itu untuk beberapa menit ke depan.

Terlambat? Bukan masalah.

Jimin dan Taehyung tampak bergeletakan di lantai usai perkelahian sengit mereka. Jimin tidak lagi menjadi pihak pasif. Ia juga menumpahkan kekecewaannya melalui tinjuan mengingat bahwa Taehyung menutupi fakta kematian Jihyun darinya. Sekarang mereka impas, keduanya saling menyakiti satu sama lain, sama-sama bersalah.

“Apa kau memberitahu Yoonjung?” tanya Jimin tiba-tiba, memecah keheningan di antara mereka.

“Apa?”

“Soal adikku.”

Taehyung terdiam selama beberapa sekon, sebelum helaan napas terdengar darinya. “Hm.”

Wae?”

“Pacarmu cerewet sekali.”

Mwo?” Jimin mengerutkan dahi tak mengerti.

“Dia mencoba mengorek informasi tentangmu dariku.”

“Dan kau memberitahu semuanya?”

Taehyung menggeleng. “Aku hanya memberitahunya tentang Jihyun saja. Percayalah, aku tidak menceritakan tentang ibumu.”

Setidaknya jawaban itu membuat Jimin lega. Yoonjung tidak boleh tahu. Ia tidak mau mendapat tatapan kasihan dari kekasihnya sendiri. Meski ibunya adalah bibi dari Yoonjung, dia tetap tidak ingin Yoonjung tahu.

“Jadi ayahku yang melakukannya?”

Jimin menoleh. Sedikit dibuat bingung sebentar sebelum ia membuang muka lagi pada langit-langit apartemennya. “Uh. Kurasa begitu. Aku tidak ingat apa pun selain meminum sesuatu dan tahu-tahu sudah bersama kakakmu.”

Taehyung menyeringai. “Sampai kapan orang itu akan terus seperti ini? Apa tujuannya melakukan semua ini? Aish.”

Taehyung tiba-tiba bangkit. “Hei, makan itu dan datanglah ke tempatku. Jaga kakakku untuk sementara, aku harus pergi.”

Eodi?

“Rumah sakit.”

Yaa! Jangan bilang—”

“Aku tidak bisa terus melihat kalian menderita seperti ini. Harus ada orang yang berani memperingatkannya.”

Yaa! Taehyung! Tae!!”

Sia-sia, Taehyung sudah keluar dari tempatnya. Jimin menghela napas. Dia tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan Taehyung, tapi dia berharap tidak ada tragedi lagi setelah ini.

tbc

Advertisements

2 Comments

  1. (nohh kenapa jimin keliatan tinggi XD)
    Aku seneng tiap liat notif blog ini wkwk. Alurnya gak keduga bgt, dari chap sebelumnya itu, aku ikutan nyesek gara2 sena digituin, dan liat yoyong sekarang aku makin sedih :”)

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s