Single Parent [Chapter 39]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki), Rap Monster aka Kim Namjoon (BTS), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31-35 Chapter 36 Chapter 37 Chapter 38

***

part ini ngga ada Sena-Yoongi atau Jimin-Yoonjung moment T^T ini part khusus pemain pendukung

***

Abeoji.”

Sehun yang sedang serius dengan laptopnya, mau tak mau menoleh pada asal suara. Hanya sekilas, itu pun tanpa ekspresi. “Wae?”

“Beritahu aku, apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu?”

Sehun masih terlihat tenang mengetik sesuatu di laptopnya. “Kau menggangguku kerja. Enyahlah.”

Taehyung tersenyum miring. “Abeoji, kau tahu pasti apa maksud pertanyaanku.”

Kali ini Sehun tak memberikan respon apa pun. Taehyung mendengus tak percaya. Sementara Daena dan Jungkook yang sejak tadi memperhatikan, sudah tak bisa menutupi rasa penasaran mereka lagi.

“Ada apa, Taehyung?” tanya ibunya.

Taehyung menatap lurus pada ayahnya. “Aku hanya ingin tahu, apa sebenarnya yang ada di pikiran ayahku ini yang baru saja merenggut masa depan putrinya sendiri. Kenapa dia tega menghancurkan masa depan anaknya sendiri dengan membiarkannya diperkosa? Apa salah Sena? Dan kenapa harus memperalat Jimin? Aku tidak mengerti. Apa dengan melakukan semua itu dia bahagia? Seorang ayah yang kuharapkan bisa menjadi panutanku tak kusangka ternyata adalah orang yang sekejam ini.”

Atmosfer di ruangan tersebut mendadak berubah. Tak ada seorang pun dari Daena atau pun Jungkook yang berani angkat bicara. Keduanya terlalu shock mendengar pernyataan Taehyung. Terlebih Daena, yang seolah-olah baru saja ditampar oleh tangan tak kasat mata.

Daena mungkin adalah seorang ibu yang terkesan kasar dan tidak peduli pada anak perempuannya, tapi jauh di lubuk hatinya dia tidak pernah sekalipun mengharapkan Sena dirusak seperti yang terjadi padanya dulu.

“Apa maksudmu melakukan itu, Abeoji? Kalau kau membenci Min Yoongi, bukan berarti harus dengan menghancurkan anakmu sendiri!”

Sehun tiba-tiba menutup laptopnya hingga terdengar bunyi “TAK” yang menggema. Kemudian ia melipat kedua lengannya di dada, menatap Taehyung datar.

“Aku tidak suka orang lain ikut campur urusanku.”

“Orang lain? Hah! Pelakunya adalah ayahku sendiri, korbannya adalah kakak dan temanku, jadi aku bukanlah orang lain di sini. Aku punya hak untuk ikut campur.”

“Hm.” Sehun mengangguk-angguk santai. “Jadi, apa yang kau inginkan dariku? Mengembalikan keperawanan Sena? Bahkan meskipun kau merekatkan guci yang telah pecah dengan lem terbaik, tetap saja akan kelihatan cacatnya. Aku bukan Tuhan yang bisa mengeluarkan sperma Jimin dari rahim Sena.”

Taehyung benar-benar marah usai mendengar kalimat terakhir dari mulut Sehun. Ia menarik kerah kemeja Sehun dan bersiap melayangkan tinju. Mungkin dia akan mendapatkan dosa besar karena memukul orangtua andai saja Daena tidak datang dan memisahkan mereka.

“Keluar, Taehyung.”

“Tapi—”

“Keluar,” ulang Daena dengan sedikit penekanan. “Aku mengerti maksudmu. Keluarlah, biarkan orangtua bicara.”

Meskipun Taehyung tidak rela melepaskan Sehun, ia tetap menuruti perintah ibunya dan langsung bergegas keluar, meninggalkan ruangan itu dengan pintu dibanting keras.

Sepeninggal Taehyung, Daena pun menoleh pada Sehun. “Kita harus bicara, Sehun.”

“Katakan padaku apa tujuanmu?”

“Kau tidak perlu tahu.”

Daena menyeringai. “Kau ingin balas dendam pada Min Yoongi karena masa lalumu? Lalu apa manfaat yang akan kau dapat, hm? Siyeon sudah mati, Sehun. Dia sudah mati. Bahkan kalaupun kau berhasil membuat Yoongi benar-benar menderita, Siyeon tidak akan pernah kembali padamu. Yang ada kau justru merugikan banyak orang.”

Sehun diam. Memandang apa pun yang ada di dinding kamar mandi itu, menghindari tatapan tajam Daena padanya.

“Siyeon mencampakkanmu bukanlah kesalahan Min Yoongi. Kaulah orang yang bersalah di sini sejak awal, Sehun.”

“Hah. Jaga bicaramu. Tahu apa kau ini.”

“Kau pikir aku tidak tahu apapun?” balas Daena berani. “Semua orang tahu betapa brengseknya dirimu, Oh Sehun. Tiga puluh delapan orang perempuan bunuh diri karenamu. Kau menghamili mereka semua dan mengancam akan membuat keluarga mereka menderita jika mereka tidak aborsi. Kau pikir aborsi itu seperti berkumur? Bahkan semua perempuan itu masih di bawah umur.”

Sekali lagi Daena berhasil membungkam mulut Sehun. Tidak ada gunanya mengelak karena semua yang dikatakan Daena adalah fakta.

“Kau juga menyuruhku aborsi dulu,” sambung Daena dengan seulas senyum miris di wajahnya. “Shireo, aku tidak mau aborsi. Aku juga tidak ingin bunuh diri. Karena jika aku melakukannya, itu sama saja artinya dengan aku baru saja membebaskan seorang kriminal.”

“Kalau memang aku kriminal, kenapa kau tetap bertahan sampai detik ini, hm? Kau bisa saja menusukku diam-diam saat aku tidur. Kau juga bisa merampas semua hartaku dan mencampakkanku begitu saja. Kau punya banyak kesempatan untuk membalaskan semua dendammu.”

Daena menggeleng. “Aku percaya jika suatu hari nanti kau akan sadar dan berubah, Sehun. Akan ada saat dimana waktu memberitahumu jika yang kau lakukan selama ini salah.”

Wanita itu pun beranjak dari duduknya di atas kloset dan mendekat selangkah demi selangkah pada Sehun. Setelah mereka terpisah jarak yang sangat dekat, Daena pun berhenti. Ia menangkup wajah Sehun, memutarnya supaya menatapnya.

“Sebagai istrimu, aku ingin kau berubah, Sehun. Kau bukan lagi anak-anak yang harus mendapatkan segalanya yang kau inginkan. Kau sudah empat puluh tahun. Sudah sepantasnya kau merelakan apa yang bukan menjadi milikmu. Dan satu hal lagi. Aku sendiri sadar aku bukanlah ibu yang baik bagi Sena. Sama sepertimu, aku juga sudah menghancurkannya, menghancurkan psikisnya. Kita menyalahkannya yang tidak berdosa atas semua yang telah terjadi. Padahal kita sendiri tahu itu jika dia ada bukan karena keinginannya sendiri. Kitalah yang bersalah di sini, Sehun. Kita, bukan Sena.”

Daena menjeda kalimatnya. Dirinya cukup lega Sehun tidak berkomentar apa pun apalagi mendorongnya sampai jatuh. Bahkan meski dengan wajah tanpa ekspresi, Daena yakin jika Sehun mendengarkan.

“Aku tahu kau sangat menyayanginya, Sehun.” Daena membuka dua kancing teratas kemeja Sehun, mengeluarkan liontin yang tersembunyi di baliknya. Tanpa perlu membuat ijin, Daena lantas membuka liontin tersebut. Senyumnya mengembang mendapati dua foto kecil di sana. “Meskipun aku bukan salah satu diantara keduanya, tapi mengetahuinya membuatku tersentuh. Sekejam apa pun dirimu, kau tetap menyimpan foto Sena bersama dengan foto ibumu. Aku tak perlu mendengar penjelasanmu dulu kenapa kau menyimpan foto bayi Sena di dalam liontin ini. Foto mendiang ibumu di sini menjelaskan segalanya.”

Ya, Sehun sangat menyayangi ibunya. Demi apa pun dia tidak pernah coba-coba berlaku kasar pada wanita yang melahirkannya itu. Masa remajanya mirip seperti Jungkook. Dia memang brengsek, tapi dia tetaplah seorang anak yang membutuhkan kasih sayang ibunya.

Dan Daena tidak salah jika Sehun juga sangat menyayangi Sena. Tak tahu mengapa, Sehun sangat ingin melindungi Sena sesaat setelah anak gadisnya itu lahir. Kondisinya yang lemah sehingga harus berada di bawah perawatan dokter selama beberapa minggu, sempat membuat Sehun takut akan kemungkinan terburuk. Bahkan dia menangis diam-diam sembari memanjatkan harapan supaya Sena baik-baik saja. Dan tak ada seorang pun yang tahu jika dia juga menangis bahagia setelah Sena dinyatakan sehat.

Mungkin di mata Sena, Sehun itu adalah ayah yang mengerikan. Seseorang yang pernah menamparnya karena pulang diantar lelaki. Tapi Sena tidak pernah tahu jika Sehun melakukannya untuk kebaikannya, supaya ia tidak lagi mempercayai pria asing karena Sehun tahu betapa kejamnya dunia diluar sana. Ia tak bisa membayangkan Sena berakhir sama seperti Daena atau wanita lain karena pria brengsek sejenis dirinya.

Tapi kejadian malam kemarin berbeda. Dia memang sudah kehilangan akal sehat karena terbutakan kebenciannya terhadap Min Yoongi. Karena demi apa pun dia tidak ingin melihat Min Yoongi bahagia lagi dengan orang-orang di sekitarnya.

Cukup dengan Siyeon, Sena jangan.

Sentuhan lembut di pipinya pun menyadarkannya.

“Kau menangis, Sehun.”

Sehun lantas membuang muka. Menjauhkan tangan Daena, menyeka sendiri air mata di pipinya. Daena tersenyum melihatnya.

“Akhirnya kau menunjukkan sisimu yang sebenarnya, Sehun.”

“Setelah ini ayo kita datangi Sena dan Jimin. Kita meminta maaf pada mereka,” lanjut Daena.

Sehun tak merespon. Hanya menatapnya tanpa ekspresi dalam kurun waktu yang cukup lama sebelum akhirnya buka suara.

“Boleh peluk?”

tbc

Advertisements

3 Comments

  1. Masa remaja sehun sama kaya jungkook, ,,masa nyuruh 38 perempuan yg ngandung anaknya suruh aborsi, ,terus bunuh diri, gila 38 ,,pemain wanita anak sama ayah sama aja kelakuannya, ,sehun kasian jg, kasian lg sena, ,,moga sehun cepet sadar, ternyata jg dia sayang ke sena

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s