Single Parent [Chapter 40]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki), Rap Monster aka Kim Namjoon (BTS), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31-35 Chapter 36 Chapter 37 Chapter 38

Chapter 39

***

lagi ngga sehat T^T

***

Bayangan tentang Jimin yang begitu kejam dalam mimpinya semalam terus menghantuinya. Terlebih didukung dengan absennya Jimin, Sena dan Taehyung hari ini. Dia semakin takut jika mimpinya menjadi kenyataan.

Tapi, bukankah di pesan tadi Jimin baik-baik saja? Maksudnya, kekasihnya itu masih pergi kerja bahkan lembur. Kemungkinan, alasan ketiga temannya tidak masuk hari ini berbeda. Ya, setidaknya hal itu bisa membuat Yoonjung lebih tenang. Kesimpulannya, mimpi tadi malam, hanyalah mimpi belaka.

“Min Yoonjung. Min Yoonjung.”

“A-ah, ya, Seonsaengnim?”

Kim Seokjin, wali kelasnya yang kedapatan jadwal mengajar hari ini, menghela napas. Ia pun menumpukan ujung penggaris kayu yang dipegangnya di lantai. “Kau sudah lima kali melamun di kelasku, Yoonjung.”

Yoonjung secara otomatis memperlihatkan cengirannya. “Maaf, Ssaem. Aku hanya kurang tidur semalam.”

Sekali lagi Kim Seokjin menghela napas. Begitu bel istirahat berbunyi, ia pun menaruh penggaris kayu di atas meja, lalu membereskan mejanya. “Min Yoonjung, ikut aku ke kantor setelah ini. Baiklah, kelasku hari ini selesai. Silahkan istirahat. Siang.”

“Siang, Ssaem.”

Berbeda dari teman-temannya yang mulai bersiap menuju kantin, Yoonjung harus pasrah mengekor Kim Seokjin ke ruang guru untuk menerima interogasi.

Saatnya membuat naskah drama.

Rasanya jantung Taehyung ingin melompat keluar dari tempatnya. Demi apa seharian ini dia sudah dikagetkan oleh tiga hal berturut-turut. Pertama, saat di vila keluarganya, dia melihat kakaknya menangis di ranjang dengan tanpa memakai baju apa pun –kecuali selimut. Kedua, saat Yoongi tiba-tiba muncul di depan pintu apartemennya tanpa ada pemberitahuan apa pun. Dan ketiga, ayah dan ibunya berada di dalam lift menuju lantai 3.

Tolong berikan rantai supaya jantung Taehyung tetap berada pada tempatnya.

“Kenapa hanya diam di sana, Taehyung?” tanya ibunya karena dia yang begitu lelet untuk sekadar memerintah kakinya melangkah ke dalam lift. Di sebelahnya, Sehun juga mulai tidak sabaran dengan dirinya.

Taehyung pun menggaruk kepala belakangnya, canggung. Kemudian melangkah masuk. “Ayah dan ibu akan ke apartemen Sena?”

Sehun, entah bisikan malaikat mana, mendahului Daena menekan tombol ‘menutup’ lift. Tampak Daena yang terpukau, sebelum seulas senyum merekah di wajahnya dan menjawab pertanyaan Taehyung.

“Hm. Kami ingin mengunjungi kalian.”

W-wae?” Taehyung menolehkan kepalanya pada ibunya yang berdiri di tengah, ekspresinya benar-benar tak bisa menutupi kebingungannya.

“Apa maksudmu kenapa? Tentu saja melihat apa kalian hidup dengan baik. Memangnya orangtua tidak boleh mengunjungi anaknya sendiri?”

Taehyung dibuat bungkam. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Apakah ayah dan ibunya ini sedang merencanakan sesuatu? Mereka bahkan tidak lagi memberi ia dan kakaknya uang saku selama beberapa bulan terakhir ini, bahkan untuk sekadar menanyakan kabar via ponsel saja tidak. Taehyung jadi takut.

Denting lift pun terdengar. Sehun langsung melangkah keluar diikuti oleh Taehyung dan Daena. Begitu Sehun berhenti, Taehyung lekas mendahuluinya untuk mengetik sandi apartemen. Setelah terdengar bunyi unlock, giliran Taehyung yang memimpin.

“Sepatu siapa ini, Taehyung?”

Taehyung mengarahkan pandangannya menuju sesuatu yang ditunjuk Daena. Kedua mata hazel-nya pun membelalak heboh.

Oh tidak, kenapa harus sekarang?

“Ah itu—”

“Taehyung, kau sudah pu—ow … sepertinya ada tamu di sini.”

Wajah Taehyung memucat. Ah dia tidak mau tahu. Tolong jangan libatkan anak kecil pada perdebatan orang dewasa.

Ekspresi Sehun tampak tidak mengenakkan saat Yoongi mendekati mereka. Hal yang membuatnya tidak suka adalah tempat dimana Yoongi muncul. Orang bermarga Min itu muncul dari satu-satunya kamar di sana, dengan wajah bangun tidur dan hanya memakai kaos serta celana pendek milik Taehyung. Tidak salah ‘kan bila Sehun menduga, Yoongi baru saja ‘tidur’ bersama Sena?

Yoongi dengan santainya menggaruk kepalanya hingga rambutnya berantakan sambil menoel Taehyung, mengisyaratkan Taehyung untuk masuk kamar.

“Kenapa kau ada di sini?” tanya Daena tajam, dengan ekspresi yang terang-terangan menunjukkan bahwa ia tidak suka.

“Menurutmu kenapa aku di sini?” tanyanya balik sembari memutar badannya. “Masuklah. Anakmu sedang tidur. Jangan ganggu atau aku akan mengusir kalian dari sini.”

Yoongi membuat sepasang suami istri itu geram. Bagaimana tidak? Yoongi itu gila atau apa sih? Bagaimana bisa dia yang jelas-jelas bukan siapa-siapa justru mengusir mereka yang secara hukum adalah orangtua pemilik apartemen ini? Tapi pada akhirnya mereka juga masuk seperti yang Yoongi suruh. Duduk di sofa layaknya tamu sebenarnya.

Yoongi datang tak lama kemudian sambil membawa dua kaleng soda. Demi apa, hidangan itu sungguh merendahkan orang yang menerima.

Mwo? Tidak ada yang bisa kuhidangkan di sini, jangan salahkan aku. Anak-anak kalian terlalu sibuk sekolah dan kerja paruh waktu. Hanya ini yang mereka punya di kulkas,” seru Yoongi tanpa perlu menggunakan filter macam-macam. Dia sendiri juga memegang satu kaleng soda.

Daena mendengus. Beda lagi dengan Sehun yang tanpa protes langsung mengambil kaleng soda bagiannya, dan meminumnya rakus seolah dia memang kehausan. Yoongi jadi tak tahan memperlihatkan seringaiannya.

“Aku kemari bukan untuk berdebat denganmu, Min Yoongi,” ujar Sehun setelah ia mengelap sekitar bibirnya dengan punggung tangan. “Aku ke sini untuk bertemu Sena.”

Arra. Sekarang anakmu sedang tidur. Dia kesulitan tidur karena ulahmu, dan kau tega memaksanya bangun sekarang demi dirimu? Di sini dia adalah tanggung jawabku, jadi jangan ganggu dia tidur.”

Yoongi sungguh terlihat santai untuk seseorang yang baru saja menghadapi realita bahwa kekasihnya baru saja dilecehkan oleh ayahnya sendiri. Sebenarnya dia bisa saja melompat sekarang dan menghabisi Sehun sampai mati. Tapi dia memilih untuk tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia terlalu pintar berakting, sama seperti anaknya.

“Aku tidak mengerti. Ayah macam apa kau ini yang menyengaja putrinya diperkosa? Kau bahkan memperalat keponakanku yang tidak bersalah. Jadi maksudmu kau ingin Sena menikah dengan Jimin? Memaksa mereka dengan cara seperti ini? Menurutmu aku ini apa? Aku bukan lagi seorang Min Yoongi yang bisa kau ancam seperti dulu, Oh Sehun.”

Kedua pria dewasa itu saling bertukar tatapan tajam. Berkelahi memang mengerikan, tapi diam justru lima kali jauh lebih mengerikan. Tidak ada yang tahu apa yang mereka pikirkan. Yang ada malah membuat  orang di sekitarnya takut, dan Daena-lah orang itu. Ia berdehem, berharap dengan begitu suasana akan lebih dingin.

“Kami kemari untuk meminta maaf pada Sena.”

“Hanya Sena?” sahut Yoongi cepat, seakan mengingatkan Daena kalau orang yang seharusnya mereka mintai maaf tidak hanya Sena.

“Ya … maksudku, Jimin juga … Taehyung, dan mungkin … kau.”

Yoongi tersenyum kecut. “Masih kurang, Nyonya. Bagaimana dengan orangtuaku? Park Chanyeol? Park Jihyun?”

Daena mendadak kesal. Dan kekesalannya itu ada pada Sehun. “Sudah kukatakan sebelumnya ‘kan? Yang kau lakukan ini justru menyusahkan banyak orang. Ini sungguh keterlaluan, Sehun.”

Yoongi menyesap sodanya dengan nikmat. Hmm entahlah, dia merasa senang saja Sehun diomeli oleh Daena. Lebih tepatnya dia suka melihat Sehun mendapat apa yang seharusnya dia dapat.

“Itu urusanku. Kau tidak perlu memikirkannya,” ujar Sehun pada Daena. Daena sendiri mendesah lelah. Ia memijat pelipisnya yang mendadak terasa berat.

“Kau benar-benar harus menyelesaikan semuanya, Sehun.”

Tiba-tiba saja terdengar suara pintu dibuka. Seluruh atensi langsung tersedot pada asal suara. Lebih tepatnya pada Sena yang kini susah payah menyeret kakinya terburu-buru ke tempat Yoongi dengan ekspresi khawatir. Sementara di belakangnya Taehyung seperti seorang perawat yang mendapati pasiennya bersikeras jalan kaki sendiri mencari dokter.

Ahjussi, gwaenchanha-yo?” tanya gadis itu tepat setelah dia duduk di samping Yoongi. Tidak peduli dengan eksistensi orangtuanya, tanpa ragu dia menangkup wajah Yoongi dengan kedua tangannya.

Yoongi sendiri dibuat terpaku dengan kemunculan dan pertanyaan Sena yang tiba-tiba.

“Hei, ayo kembali ke kamar.” Di satu sisi, Taehyung berusaha membujuk Sena untuk kembali ke kamar—tidak ikut campur pembicaraan orangtua. Tapi kasihannya, dia justru ditepis.

A-ahjussi hanya menemaniku tidur,” kata Sena sambil menatap kedua orangtuanya. “Kami tidak melakukan apa pun, sungguh. Ahjussi tidak melakukan kesalahan apa pun, jadi tolong jangan lakukan apa pun padanya. A-akulah yang bersalah di sini, maafkan aku!”

Semuanya diam.

Tunggu, kenapa harus Sena yang meminta maaf di sini?

Taehyung ingin protes. Yoongi ingin protes. Bahkan Sehun dan Daena pun ingin protes.

Tapi apa? Tak ada satu pun dari mereka yang melakukannya.

Suasana yang seperti ini malah membuat Sena benar-benar terlihat seperti tersangka sesungguhnya. Padahal dia adalah korban. Bahkan, karena merasa jika dialah yang bersalah, saat membungkuk meminta maaf, tubuhnya tampak bergetar menahan tangis.

“Akulah yang memintanya menemaniku. Taehyung-ie pergi kerja. Dia meminta Jimin untuk menemaniku tapi aku tidak mau bertemu Jimin. Ini sungguh bukan salahnya, ini salahku.”

Masih tak ada yang mau bicara. Sena menyeka wajahnya yang sudah basah oleh air mata.

“Tolong hukum saja aku.”

“Sena…”

“Tidak apa-apa, Ahjussi. Ini memang salahku.”

Daena langsung membuang muka. “Kenapa kau seperti ini….”

Sehun diri menghembuskan napas berat. “Kau mengorbankan dirimu demi seorang pria?”

Sena menggeleng. “Ini memang salahku.”

Taehyung menghela napas. Dia pun duduk di lengan sofa dengan satu tangan merangkul bahu kakaknya.

“Kami kemari bukan untuk menyalahkan siapa-siapa, Sena.” Daena pun angkat bicara. Ia menatap putrinya lekat, tergambar jelas sekali rasa bersalah di matanya. “Justru kami datang untuk meminta maaf padamu.”

Sena perlahan mengangkat wajahnya, menatap sang ibu bingung. “N-ne?”

Tiba-tiba Sehun berlutut di lantai. Membuat Sena membelalak dengan sikap ayahnya itu.

A-appa….”

“Jangan memanggilku dengan sebutan itu, Sena. Aku tidak pantas mendengarnya darimu. Ayah yang sebenarnya bukanlah orang yang tega merusak putrinya sendiri.”

“A-apa maksud—”

“Akulah orang yang membuat Jimin melakukan itu padamu. Jimin tidak bersalah. Jadi jangan salahkan Jimin, jangan salahkan dirimu sendiri, karena akulah yang bersalah di sini. Aku tidak ingin kau jatuh ke tangan Yoongi seperti yang terjadi pada Siyeon. Kupikir dengan membuatmu hamil karena Jimin, aku bisa membuat ia tidak menginginkanmu lagi. Tapi … semuanya tidak berjalan sesuai dengan rencana. Maaf.”

Tangis Sena pun meledak. Tidak ada yang tahu kenapa Sena mendadak seperti itu, karena yang pasti tangisnya itu menular pada yang lain. Entah dia menangisi nasibnya yang malang ataukah menangis terharu karena permintaan maaf kedua orangtuanya. Sekali lagi tidak ada yang tahu. Yoongi mendekapnya erat, memintanya untuk berhenti menangis.

Memang benar apa kata orang bijak. Kebaikan akan sanggup menghentikan kejahatan. Dan malaikat tanpa sayap bernama Oh Sena, berhasil membuat orang-orang yang menyakitinya berbalik mencintainya.

Sehun menangis paling lama hari itu selain Sena.

tbc

Advertisements

3 Comments

  1. Rasanya lega denger sehun minta maaf, ,walaupun ke yoongi masih ada rasa dendam, ,moga aja maafin appa sehun, sebenarnya sehun sayang sama sena
    Memang benar apa kata orang bijak. Kebaikan akan sanggup menghentikan kejahatan. Suka kata² ini

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s