Single Parent [Chapter 41]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki), Rap Monster aka Kim Namjoon (BTS), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31-35 Chapter 36-40

***

lagi suka lagu Heart Shaker

***

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tidak terasa, esok sudah pergantian tahun. Seoul sedang diselimuti oleh kristal-kristal salju yang menumpuk hingga menutupi tanah, rumput, bahkan jalan raya. Hampir di setiap mata memandang, kota metropolitan Korea Selatan tersebut didominasi oleh warna putih.

Sena tiba-tiba merasakan punggungnya menghangat saat sedang melamun di teras. Reflek ia menoleh, dan tersenyum saat mendapati siapa pelakunya.

“Kau mengagetkanku, Ahjussi.”

“Aku memanggilmu berkali-kali, Sayang. Sedang melamun, hm?”

Ahjussi sendiri sudah selesai?”

Yoongi mengangguk. “Maaf membuatmu menunggu lama. Hoseok paling tidak bisa menjelaskan sesuatu tanpa banyak bicara.”

Sena terkekeh. “Kalau Hoseok ahjussi tahu, dia akan sangat kesal, Ahjussi.”

“Aku tidak peduli. Ngomong-ngomong, kau baik-baik saja?”

Mendapati sorot mata Yoongi yang berubah sendu, Sena membalasnya dengan senyuman. “Meskipun tidak tega, ayah tetap harus menerima konsekuensi dari perbuatannya.”

“Kenapa kau cantik sekali seperti malaikat, hm?”

“Memang Ahjussi pernah bertemu malaikat cantik sebelumnya?”

Yoongi menggeleng. “Ini pertama kalinya.”

Sena hanya mengulas senyum tipis sebelum membuang muka ke depan. “Hujan saljunya sudah tidak selebat tadi.”

Yoongi membetulkan posisi pelukannya dengan mendekap kedua tangan Sena –yang terlipat di perut- juga. “Ah dingin … little Sena tidak boleh kedinginan.”

Kini bergantian tatapan Sena yang menyendu. “Ahjussi….”

“Hm?”

“Kenapa kau tetap menyukaiku, meski kau tahu kondisiku seperti ini?”

“Aku sudah tidak menyukaimu. Aku mencintaimu. Apakah itu belum cukup menjawab pertanyaanmu barusan?”

“Tapi aku—”

“Kalau kau hamil karena pria lain memang kenapa? Aku tidak masalah, Sena. Karena bukan dirimu sendiri yang menginginkannya. Justru aku akan membencimu kalau kau memilih untuk mengakhiri hidupnya atau hidupmu sendiri.”

Sena menunduk. Memperhatikan kedua tangan Yoongi yang memeluk perut dan kedua tangannya. Memang, perutnya masih belum terlihat membesar. Tapi, berdasarkan diagnosis dokter, di dalam perutnya terdapat sesuatu yang tumbuh bernama janin. Dan usia janin itu masih 2 minggu.

Sena langsung mendongak saat Yoongi memutar tubuhnya. Hidung Yoongi tampak memerah, kulitnya memucat karena efek kedinginan. Tapi, kedua tangan Yoongi yang menangkup pipinya terasa hangat. Ia tidak ingin tangan ini pergi begitu cepat.

“Berhenti memenuhi pikiranmu dengan hal-hal yang negatif, Sena. Saat ini kau memiliki nyawa lain yang harus kau jaga dengan baik. Masa depannya nanti ada di tanganmu.”

Yoongi mengelus surai hitam Sena dengan penuh rasa sayang. “Aku tidak akan membiarkanmu susah sendiri, Sena. Setelah Yoonjung berangkat ke Kanada, ayo menikah dan membangun hidup baru di Hawai. Kita bisa mengajak Taehyung ikut serta, kalau kau mau.”

Ahjussi baru saja melamarku?”

Pria itu mengangguk. “Hm. Ini lamaran yang pertama.”

“Lamaran yang sesungguhnya harus dilakukan dengan cincin dan bunga, Sayangku,” lanjut Yoongi sambil mencium gemas pipi Sena yang kebingungan dengan pernyataan pertama.

“Tapi Yoonjung….”

Yoongi mengulas senyum menenangkan. “Aku akan berusaha meyakinkan anak itu.”

Yoonjung merotasikan bola matanya jengah. Datang lagi, datang lagi.

“Yoonjung—”

Mwo?” seru Yoonjung tanpa membiarkan lawan bicara melanjutkan kalimatnya. “Apa kau tidak punya telinga, hm? Kalau aku bilang, jangan datang lagi, ya jangan datang lagi! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, Park Jimin!”

Jimin, seseorang yang dua minggu terakhir ini sengaja dijauhi oleh Yoonjung, tampak menyendu dengan penampilan yang lebih menghawatirkan daripada sebelumnya. Jimin nekat berdiri di bawah hujan salju dengan hanya memakai kaos tipis yang dilapisi cardigan biru –yang sama tipisnya dan celana jeans selutut selama dua jam demi menunggu Yoonjung selesai menghadiri kursus bahasa Inggris.

“Tolong dengar penjelasanku.”

Yoonjung sebenarnya tahu Jimin sudah kedinginan parah dari wajahnya yang tampak begitu pucat dari hari kemarin, namun, Yoonjung memilih tak peduli. Mereka sudah bukan lagi sepasang kekasih. Mereka telah mengambil jalan putus –meski hanya Yoonjung yang menginginkannya, setelah Sena didiagnosis hamil.

“Tidak ada yang perlu kau jelaskan lagi, Park Jimin. Semuanya sudah jelas. Dan tolong jangan lakukan ini lagi. Aku tidak ingin bertemu denganmu. Bahkan dengan alasan saudara sepupu pun, aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”

Jimin menangkap lengan Yoonjung lebih cepat dari Yoonjung yang berniat hengkang dari sana.

“Lepas!”

“Tidak, sampai kau mendengarku, Yoonjung.”

Yoonjung menatap Jimin nyalang. “Kau ingin aku mendengar bahwa kaulah penyebab Sena hamil? Apa menurutmu dengan aku mendengarmu maka semuanya akan kembali seperti sediakala? Aku tidak peduli mau kau tidak sengaja melakukannya, diperalat oleh orang lain, atau apa pun itu. Karena kenyataannya dia hamil karenamu! Kau tahu? Kau tidak hanya menghancurkan Sena. Kau juga menghancurkan ayahku dan aku. Menghilanglah saja kau, Park Jimin!”

Dalam sekali hentak, tangan Yoonjung pun akhirnya bebas. Dia langsung mengambil langkah seribu, meninggalkan Park Jimin seorang diri di sana dengan kesedihannya sendiri.

Yoonjung tidak mau tahu,

jika Jimin tidak bisa tidur nyenyak setiap malam karenanya.

Yoonjung tidak mau tahu,

jika Jimin mulai ketagihan mengonsumsi obat tidur supaya dia bisa tidur.

Yoonjung tidak mau tahu,

jika Jimin menggores tangannya sendiri setiap mengingat wajah kecewa Yoonjung.

Dan Yoonjung juga tidak mau tahu,

jika Jimin jatuh pingsan di sana karena hipotermia.

“Oh? OH?! Suster!! Suster!! Jimin sudah bangun!!”

Jimin meringis saat merasakan sesuatu tertanam di dalam pergelangan kirinya. Dari sekian goresan yang ia buat di sana, terdapat sebuah jarum yang terhubung langsung dengan infus.

“Sudah sadar, Jimin-ssi?” tanya seorang suster wanita yang datang bersama Taehyung. Ia langsung mengecek kondisi Jimin dan mencatatnya dalam buku yang ia bawa.

“Kondisimu sudah jauh lebih baik dari beberapa jam lalu, Jimin-ssi. Kau merasa lapar? Selagi menunggu dokter datang, makanlah dulu. Kalau ada apa-apa panggil saja aku.” Kalimat terakhir khusus ditujukan pada Taehyung. Usai memberi senyum manisnya, suster wanita itu pun beranjak.

Taehyung mendudukkan dirinya di sebelah ranjang Jimin. “Hei, kau ini hampir saja mati, ‘tau? Sudah tahu sekarang musim dingin kenapa hanya pakai baju setipis itu? Bersyukurlah karena kau punya teman sebaik diriku, Jimin-ssi.”

“Kau yang membawaku kemari?”

“Tentu saja. Memangnya ada orang lain di sini selain aku?”

Jimin mengedarkan pandangan, dan ya, tidak ada orang lain lagi yang menungguinya selain Taehyung.

“Sebenarnya aku berniat menghabiskan makananmu kalau kau masih belum sadar. Tapi lupakan sajalah. Kau bangun saja aku sudah syukur. Lihat, ada nugget juga. Kau harus makan supaya kau terlihat lebih manusiawi dari saat ini, Jimin-a.”

Jimin memperhatikan Taehyung yang memang jauh lebih berselera daripada dirinya. Bahkan ia bisa melihat dengan jelas liur di ujung bibir Taehyung.

“Kau saja yang makan.”

Wae? wae?” Taehyung langsung mendelik. “Hei, ini makanan untukmu.”

“Aku tidak selera.” Jimin pun membalikkan posisi tubuhnya, membelakangi Taehyung.

“Hei.”

Jimin memilih menutup kembali matanya. Ia kecewa karena bukan Yoonjung yang dilihatnya saat ia membuka mata. Bukan berarti dia tidak suka melihat Taehyung. Hanya saja, dia lebih menginginkan Yoonjung. Jadi ini artinya Yoonjung sudah benar-benar tidak peduli padanya lagi? Tidak menginginkannya lagi?

Tiba-tiba ranjang itu bergerak. Jimin merasakan sesuatu yang hangat memeluknya dari belakang. Mau tak mau dia menoleh dan jantungnya nyaris saja melompat karena ia hampir berciuman dengan Taehyung. Kesal, ia pun mendorong wajah Taehyung menjauh.

“Bikin kaget saja, sialan!”

“Wooo pasien yang terkena hipotermia dan tidur hampir empat jam, sudah bisa mengumpat setelah lima menit bangun.”

“Kau itu mengagetkanku! Turun sana!”

“Psst. Dilarang ribut, sayangku. Ini bukan ruangan pribadimu.” Taehyung lagi-lagi memeluk Jimin dari belakang, kini ditambah dengan kecupan sayang di kepala belakang Jimin.

Yaa!

Tak peduli, Taehyung pun membalik tubuh Jimin supaya berhadapan dengannya.

“Kau tahu betapa khawatirnya aku mendengarmu masuk rumah sakit?” Taehyung menyisir rambut Jimin dari depan ke belakang dengan sayang. Tidak menghiraukan Jimin yang memberinya ancaman mati lewat tatapan mata.

“Aku takut jika kemungkinan buruk akan terjadi padamu. Hei, aku ini sangat menghawatirkanmu, ‘tau? Akhir-akhir ini tingkahmu menakutiku. Dan ini,” Taehyung mengangkat tangan kiri Jimin yang penuh dengan bekas goresan pisau. “Apa ini? Kau sedang belajar memotong daging atau bagaimana, hm? Kau tidak memikirkan bagaimana perasaan ayahmu kalau tahu kau berniat mencabut nyawamu sendiri? Ayahmu hanya punya kau, Jimin. Bagaimana bisa kau melakukan ini?”

Jimin menarik paksa tangannya. “Bukan urusanmu, Tae. Kau tidak punya hak atas nyawaku.”

Taehyung menyeringai. “Jadi maksudmu nyawamu tidak berharga? Hei, kau tidak memikirkanku? Bukan hanya kau saja yang kesepian, aku juga, aku! Aku tidak pernah menjadi tokoh utama dalam kehidupan ini. Aku selalu berada di antara dua orang, hanya sebagai bayangan yang kadang dilirik kadang tidak. Aku hanya sebagai penonton dan terkadang pemain figuran. Kau pikir aku yang begini tidak kesepian?”

Jimin hanya diam. Taehyung mengambil napas dalam.

“Kau adalah salah satu tokoh utama dalam kehidupan ini, Jimin-a. Aku ada karena kau ada. Aku ini bayanganmu, penontonmu, figuran yang akan membantumu. Kalau kau tidak ada, untuk apa aku ada? Bunuh diri bukan cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah, Jimin-a. Kau masih punya aku. Untuk apa kita berteman sejak kecil, berkelahi sampai babak belur kalau akhirnya kau memilih meninggalkanku. Apa aku ini bahkan penting untukmu?”

“Kau tidak berada di posisiku, Tae.”

“Kau juga tidak berada di posisiku. Kita berada di posisi yang berbeda. Bukankah dengan adanya perbedaan itu, kita harus semakin memahami satu sama lain? Bahkan meskipun kutub selatan tahu bahwa ia berbeda dengan kutub utara, mereka tetap saling tarik menarik. Jangan jadikan itu sebagai alasan.”

Obrolan itu pun dimenangkan oleh Taehyung.

“Katakan padaku, cara apa lagi yang kau lakukan selain ini? Jangan bilang kau juga mengonsumsi obat tidur.”

Tatapan Jimin yang sayu menjelaskan segalanya. Taehyung menghela napas.

“Kau bodoh, Park Jimin.”

“Yoonjung….”

Taehyung mengernyit. “Ada apa dengan Yoonjung?”

“… aku merindukannya….”

“Jadi kau kesulitan tidur karenanya? Makanya kau mengonsumsi obat tidur?”

Jimin mengangguk pelan dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Arah pandangannya turun pada tangannya yang kini mencengkram kerah coat Taehyung. “I need her … please … I need her….”

Taehyung sebenarnya tidak ingin menyinggung tentang Yoonjung. Tapi, melihat kondisi Jimin yang benar-benar parah, ia tidak peduli petir akan menyambarnya karena sudah ingkar janji.

“Sebenarnya, dialah yang membawamu kemari, Jimin­-a.”

tbc

Advertisements

3 Comments

  1. Sena ngandung anak jimin,,yoongi ahjusi baik sekali, dia menerima sena apa adanya, kasian lihat hubungan jimin sama yoojung, ,aku jg pasti kaya yoojung jika jadi dia, kasian jimin juga, ,ahh kasian, ,apa kabar sama sehun yang udah terlanjur hancurin sena sama jimin, ,

    Like

  2. anjir telat baca lagi, lagi. Efek makin sok sibuk wkwk, tapi ceritanya emang bagus, keren kok hahaha. Jadi nunggu chapter selanjutnya, meskipun agak telat bacanya wkwk. Semangat!

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s