Single Parent [Chapter 43]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Jin & Kim Seokjin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jeon Jungkook BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki), Rap Monster aka Kim Namjoon (BTS), Oh Sehun (EXO), Park Chanyeol (EXO) other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31-35 Chapter 36-40

Chapter 41 Chapter 42

***

lagi nyoba-nyoba bisnis Oriflame nih, do’a kan sukses wkwkwk

***

Taehyung diam-diam meminta dokter kejiwaan untuk memeriksa kondisi Jimin. Hasilnya cukup parah, Jimin divonis depresi. Jimin bahkan mengatakan sendiri kalau dia sudah lima kali berniat bunuh diri.

Ia menatap kawannya khawatir. Di dalam tidurnya saja, Jimin tetap terlihat memiliki banyak sekali masalah. Dia paham kenapa Jimin terus berkeinginan bunuh diri. Kalau dia berada di posisi Jimin, dia yakin dia juga pasti akan melakukan hal yang serupa.

Tapi bukankah itu sudah sangat keterlaluan? Dokter menyarankan supaya Jimin mengikuti beberapa terapi kejiwaan. Namun Taehyung memilih menolak karena dia melakukannya secara diam-diam, hanya supaya dia tahu ada apa dengan Jimin sampai terlihat seputus asa itu.

Niatnya memang baik, tapi karena kecerobohannya, dia harus mempertanggungjawabkan itu sendiri.

Jimin banyak melamun. Meskipun ada Taehyung di sampingnya, anak Park itu selalu menghabiskan waktunya dengan melamun. Terkadang saat Taehyung meninggalkannya sebentar untuk mencari makan, Taehyung akan mendapati Jimin yang sedang menangis begitu ia kembali. Taehyung terus memancing Jimin bicara, khususnya membicarakan apa yang sedang ada di pikirannya. Namun karena Jimin sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri sejak kecil, bukan gayanya untuk membebani orang lain dengan masalahnya. Jimin tumbuh menjadi sosok yang benar-benar mandiri.

Taehyung menumpukan kedua sikunya di ranjang yang ditempati Jimin. Mata hazel kecokelatannya masih betah menatap wajah yang sedang terlelap itu. Saat tangannya ingin menyingkirkan rambut yang menutupi salah satu mata Jimin, ponselnya bergetar. Segera diambilnya benda itu untuk melihat siapa yang menghubunginya.

Yoonjung

Taehyung memandang Jimin ragu, lantas ia bangkit dan beranjak keluar dari ruangan. Dipilihnya kursi tunggu di depan ruangan Jimin untuk mengangkat panggilan tersebut.

“Hm?”

“…kau dimana sekarang?”

“Rumah sakit. Menunggui Jimin.”

“Oh.”

Diam sejenak. Taehyung membungkuk pada seorang perawat pria –yang sudah cukup dikenalnya, yang akan masuk ke ruangan Jimin untuk memeriksa infus.

“Ada apa menelepon?”

Terdengar helaan napas dari Yoonjung. “Aku hanya ingin memberitahumu … lusa aku akan pergi ke Kanada.”

Taehyung terhenyak. Namun hanya sebentar karena bersamaan dengan keluarnya perawat pria itu dari ruangan Jimin. Ia membungkuk, mengucapkan terima kasih tanpa suara.

“Bukannya masih akhir Januari? Kenapa terburu-buru?”

“…tidak ada yang harus dilakukan lagi di Korea.”

“Begitu?” Taehyung menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. “Jadi bukan karena Jimin?”

Diam di seberang sana membuat Taehyung yakin kalau ucapannya benar. Ia menghela napas. “Bisakah kita bertemu sekarang? Di taman rumah sakit, ada yang ingin kubicarakan.”

Setelah mendapat persetujuan dari Yoonjung, Taehyung pun memutuskan sambungan. Ia kembali ke ruangan Jimin untuk melihat situasi. Saat yakin jika Jimin benar-benar lelap, ia pun segera pergi menuju taman rumah sakit.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Yoonjung beberapa menit setelah dia dan Taehyung hanya diselimuti oleh dinginnya winter. Napas dan segelas kopi kertas di tangan mereka tampak mengepul. Agak mengganggu pemandangan namun tidak ada satu pun yang protes karena sudah terbiasa.

Taehyung menunduk, memperhatikan gelas kopinya. “Kau tahu ‘kan, kondisi Jimin sangat parah.”

“Kurasa setelah beberapa hari perawatan, dia akan sembuh seperti sediakala.”

Taehyung menyeringai. “Kedengaran jahat.”

Yoonjung sedikit tertohok. Namun dia berhasil mengatur ekspresinya supaya tetap datar dan memilih untuk tidak mengatakan apa pun.

“Dia divonis depresi.”

Napas Yoonjung sempat tertahan beberapa detik. “Bukannya dia hanya terkena hipotermia?”

“Hm, secara fisik, dia memang dalam kondisi hipotermia. Tapi psikisnya juga sedang dalam kondisi yang tidak baik. Kau tahu? Dia mengonsumsi obat-obatan yang tidak seharusnya dia konsumsi selama ini. Obat tidur, obat anti depresan. Bahkan obat-obatan itulah penyebab sebenarnya kenapa Jimin terserang hipotermia. Dia tidak pernah memikirkan apa efek samping dari obat yang dia konsumsi itu.”

“Kenapa dia mengonsumsi obat-obatan itu?”

Taehyung langsung menoleh. “Menurutmu?”

Bola mata Yoonjung tampak bergerak-gerak kecil saat mencoba membaca pikiran Taehyung. “… aku?”

Taehyung mengangguk, kemudian membuang muka ke depan. “Dia kesulitan tidur setiap malam karenamu. Maaf sebelumnya, tapi aku sudah memberitahu Jimin bahwa kaulah yang membawa dia ke rumah sakit.”

Yoonjung melotot. “Kau sudah janji—”

“Aku tahu. Aku ingat kalau aku berjanji bahkan sampai bersumpah akan tersambar petir kalau aku melanggar janjiku. Tapi, kalau kau berada di posisiku, kau juga tidak akan sanggup membohonginya. Dia membutuhkanmu. Dia bahkan sampai berkeinginan bunuh diri karena sudah mengecewakanmu. Memberinya sedikit harapan tidaklah salah. Dia hanya ingin mendengar harapan untuk menolongnya dari rasa kesepiannya itu. Dan kau tahu, harapan yang kumaksud itu adalah kau.”

Taehyung menjeda kalimatnya untuk menghela napas. “Mungkin dengan mendengar bahwa kau akan datang, dia akan sedikit lebih baik. Tapi kurasa, itu tidak cukup baik daripada kau benar-benar datang padanya, dan menunjukkan kalau kau masih peduli padanya.”

Yoonjung merasakan pandangannya mulai berembun. Cepat dia membuang pandangannya ke depan lalu mendongak, berharap dengan begitu tidak ada yang namanya air mata hari ini.

Karena tidak mendengar respon dari Yoonjung, Taehyung pun menoleh untuk memastikan. Sayangnya dia langsung menyesali keputusannya itu.

Kenapa dia harus menjadi saksi dari dua orang yang tersiksa karena diri mereka sendiri?

Ia menggunakan ibu jarinya untuk menyeka cairan yang mengalir di pipi Yoonjung. Kemudian membawa kepala Yoonjung untuk bersandar di dadanya. Yoonjung sendiri tampak membuang sisa kopinya begitu saja demi menguras semua air matanya di dada Taehyung.

Bersama dengan rangkulan hangat, Taehyung membiarkan Yoonjung menangis di balik coat cokelatnya.

Taehyung mengelus lembut kepala Miya, si kucing hamil liar, setelah ia membalut tubuh kucing itu dengan syalnya. Senyumnya mengembang mendapati Miya yang memakan makanan kucing yang dibawanya dengan lahap.

“Kau sedang apa?” tanya Yoonjung yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Taehyung. Wajahnya masih tampak sembab, tapi dia sudah berhenti menangis.

Taehyung memberi tepukan di kepala Miya sebelum kembali duduk di sebelah Yoonjung. “Seperti yang kau lihat. Memberi makan kucing hamil yang kelaparan.”

Wae?

Taehyung menoleh dengan senyumnya. “Aku teringat Yeonie.”

“Siapa itu?”

“Kucingku dulu. Aku lupa kelas berapa, saat itu aku masih sekolah dasar. Aku sedang bermain di rumah Jimin saat mendengar suara Yeonie. Aku mencari suara itu dan saat kutemukan, dia nyaris saja mati beku. Mungkin kalau aku terlambat sepuluh menit saja, dia pasti akan benar-benar mati beku di sana. Tapi syukurlah, setelah ibu Jimin mengurusnya, Yeonie akhirnya baik-baik saja.”

“Bukankah kucingmu bernama Geumdong? Jimin pernah menceritakannya padaku.”

“Geumdong itu anaknya Yeonie,” jawab Taehyung dengan senyumnya. “Hanya dia yang tidak dibuang eomma. Ah, atau bisa kubilang, nuna tidak membiarkan Geumdong dibuang?”

Wae? Kenapa dibuang?”

“Jungkook alergi bulu kucing. Alerginya semakin parah saat Yeonie melahirkan. Jadi eomma membuang Yeonie dan anak-anaknya, terkecuali Geumdong.”

Yoonjung hanya manggut-manggut. Kemudian kembali memperhatikan kucing hamil yang masih asik makan itu.

“Tidak hanya Yeonie.”

Yoonjung kembali dibuat menoleh.

“Aku juga teringat kakakku.”

Wae?” tanya Yoonjung setelah cukup lama terdiam. Awalnya dia menunggu Taehyung melanjutkan kalimatnya, tapi Taehyung tak kunjung melakukannya sehingga dia pun bertanya.

“Menurutmu, kenapa banyak kucing betina yang berkeliaran di jalanan daripada kucing jantan?”

Pertanyaan itu sempat membuat Yoonjung kebingungan. Pasalnya, barusan Taehyung menyinggung tentang Sena, tapi kenapa sekarang kembali lagi menyinggung kucing?

“Kurasa … karena kucing betina akan menyusahkan saat melahirkan?”

“Ternyata semua pikiran orang seperti itu ya.” Taehyung menyeringai sebelum mengangkat Miya dan menaruhnya di pahanya untuk dielus. “Stereotip gender rupanya tidak hanya berlaku untuk manusia saja.”

Yoonjung mengerutkan dahi. “Maksudmu?”

“Seperti katamu barusan. Kucing betina akan sangat menyusahkan saat melahirkan, sehingga dengan alasan itulah orang-orang akan langsung membuang kucing betina dan lebih memilih memelihara kucing jantan. Menurutmu, apakah itu masuk akal?”

“Ya, kebanyakan orang seperti itu. Kurasa, itu masuk akal.”

Taehyung menyeringai. “Bagaimana jika kucing betina kita ibaratkan wanita dan kucing jantan kita ibaratkan pria? Kasusnya sama. Karena akan sangat menyusahkan saat melahirkan nanti, makanya setiap orangtua memutuskan membuang anak perempuan ke jalanan dan lebih memilih membesarkan anak laki-laki. Bagaimana menurutmu?”

“Kau tidak bisa menyamakan kucing dengan manusia, Tae. Tentu saja itu diskriminasi pada perempuan.”

“Sama. Bagi kucing betina, membuang mereka ke jalanan karena akan menyusahkan juga merupakan sebuah diskriminasi. Andaikata mereka dikaruniai akal seperti kita, mungkin mereka juga akan membentuk sebuah perkumpulan dan melakukan demo besar-besaran pada orang-orang yang mendiskriminasi mereka. Manusia patut bersyukur karena kucing tidak berakal.” Taehyung mencium sayang puncak kepala Miya yang sedang mendengkur karena merasa hangat di pelukannya. Tidak cukup sekali, bahkan sampai berkali-kali. Ia jadi merindukan Yeonie karenanya.

“Hidup Sena seperti itu. Aku sering tidak mengerti, kenapa diantara aku, dia dan Jungkook, harus dia yang menerima banyak kesulitan? Bukankah orangtua seharusnya lebih memperhatikan anak perempuan?” Taehyung menoleh pada Yoonjung sekilas.

“Meskipun dia lahir lebih awal dari kami, dia kelihatan lebih lemah dari kami yang lebih muda. Maksudku, perempuan itu memang terlahir lebih lemah dari pria, bukan? Kenapa orangtua lebih memilih melindungi pria –yang notabene sejak awal sudah lebih kuat daripada wanita? Eomma selalu membicarakan tentang kemandirian padanya, tapi tidak pernah mengatakan hal yang serupa padaku maupun Jungkook. Aku tidak mengerti. Bahkan aku masih tidak mengerti kenapa orangtua Seungjoo selalu menyayangkan Seungjoo terlahir sebagai perempuan.”

Yoonjung dibuat terdiam. Entah kenapa dia merasa tersindir. Mengingat pembicaraan dengan ayahnya semalam, kini ia merasa buruk pada Sena.

Ia membenci Sena karena merebut Jiminnya, bukan?

Ia juga membenci Sena karena menurutnya Sena hanya akan membuat imej Yoongi jelek, bukan?

Jadi … itu artinya dia juga turut andil mendiskriminasi kaumnya sendiri demi melindungi lawan jenis, bukan?

“Aku bersyukur bisa mengenal ayahmu, Yoonjung.”

Yoonjung langsung menoleh.

Taehyung tersenyum sebelum melanjutkan kalimatnya. “Kupikir ayahmu akan sama buruknya seperti ayahku atau orang-orang yang suka mengucilkan gadis hamil diluar nikah, tapi aku bersyukur ayahmu bukan salah satu diantara mereka.”

“…terima kasih….”

tbc

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s