Single Parent [Chapter 45]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki),  Oh Sehun (EXO), other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31-35 Chapter 36-40

Chapter 41 Chapter 42 Chapter 43 Chapter 44

***

I need something called ‘Friend’

***

Yoonjung mendesah lega setelah panggilannya terangkat dan terdengar suara di seberang sana. “Appa, kau dimana?”

–“Maaf Yoonjung. Hari ini sepertinya ayah akan lembur. Sementara pergilah ke rumah nenekmu, tidur di sana malam ini.”

Yoonjung menghela napas, kali ini karena kecewa. “Ada yang ingin kubicarakan padamu. Tapi kalau memang lembur ya sudah. Aku akan tidur sendiri saja malam ini.”

–“Yakin berani tidur sendirian? Jangan, pergilah ke rumah nenekmu. Untuk malam ini saja. Besok akan ayah jemput paginya.”

Yoonjung menggeleng, sambil menatap tangannya yang menggurat sampul buku hariannya dengan ujung kuku. “Ada banyak barang yang belum ku-packing, kalau dikerjakan besok akan melelahkan lusanya.”

“Ah, baiklah kalau begitu. Pokoknya jangan lupa matikan kompor sebelum tidur, kunci dulu semua pintu, tutup semua jendela dan pastikan ponselmu tidak dalam keadaan mati, arasseo? Hubungi ayah kalau terjadi sesuatu.”

“Hm, akan kuingat dengan baik. Ayah juga, jangan banyak minum kopi, setiap dua puluh menit sekali jangan lupa tinggalkan meja kerja sebentar, kalau sudah benar-benar mengantuk langsung tidur. Besok aku akan memasak sarapan spesial untukmu, jadi jangan sarapan diluar, Ayah mengerti?”

Terdengar kekehan Yoongi di seberang sana yang membuat Yoonjung makin menyalahkan dirinya sendiri.

“Mengerti, Sayang. Jangan tidur malam-malam, ya? Ayah tutup dulu, Princess. Bye~”

Yoonjung membuat suara kecupan sebelum mengakhiri panggilan. Ia menghela panjang, menaruh ponselnya tepat di bawah lampu meja belajar, lantas menjatuhkan dahinya di atas buku harian.

Appa pasti overworking karenaku … aish! Yoonjung bodoh! Kau sendiri yang mengenalkannya pada Sena, dan kau jugalah yang berniat memisahkannya dari Sena. Persetan dengan Jimin, Yoonjung. Kau bahkan tidak mungkin bersamanya … tidak mungkin … tidak akan pernah mungkin! Persetan dengan Jimin. Ayahmu jauh lebih penting dari apa pun…. hiks….”

Perlahan sesegukan terdengar semakin keras dengan wajah sepenuhnya tenggelam dalam sampul buku hariannya. Ia tidak khawatir buku hariannya akan basah karena toh sampulnya anti air. Dia juga tidak perlu khawatir Yoongi akan menanyainya macam-macam karena tak ada siapa-siapa di sini.

Dia sendirian, kesepian, menyedihkan.

Biasanya di saat seperti ini dia akan langsung pergi ke apartemen Jimin, memaksa untuk menginap karena takut mimpi buruk. Tapi saat ini, mana mungkin dia akan seperti itu.

Jimin sedang di rumah sakit, dan insiden baru-baru ini membuatnya ingin Jimin enyah secepat mungkin.

Sulit untuk mengakui. Yoonjung … merindukan Jiminnya.

Taehyung itu memang sangat setia kawan, tapi di sisi lain juga seorang brengsek. Yoonjung tidak tahu, jika pertemuan tadi siang telah direkam secara eksklusif oleh Taehyung. Atas dasar apa dia melakukan itu kalau bukan untuk kawannya, Park Jimin. Dan kini ekspresinya menyendu melihat bagaimana Jimin terus mengulangi rekaman itu. Bahkan Jimin merengek tidak mau saat dia ingin mengambil ponselnya karena sudah kehabisan baterai.

Dan apa yang dikhawatirkannya sejak tadi pun terjadi. Ponselnya mati total.

“Hei kemarikan.” Tidak sesuai dengan apa yang diucapkannya, dia bangkit untuk mengambil ponselnya sendiri. Buru-buru menyambungkannya pada charger sebelum akhirnya bernapas lega karena ponselnya menyala beberapa menit kemudian setelah memunculkan gambar baterai sedang diisi.

“Kenapa tidak membangunkanku saja tadi….” Suara lemah Jimin spontan memaksa Taehyung untuk menoleh. Lelaki tinggi tampan itu menghela napas. Dia kembali duduk di kursinya, menopang dagu sambil menatap Jimin yang masih membelakanginya.

“Itu tadi pertama kalinya kau tidur tanpa obat, bagaimana mungkin aku menghancurkan tidur berhargamu itu? Kau seharusnya bersyukur karena bisa terus mendengar suaranya selama lima jam dari rekamanku.”

“Tapi aku ingin bertemu dengannya….” Suaranya makin lemah, bahkan tubuhnya meringkuk, menggigil kedinginan seperti biasa.

Taehyung menghela napas. Kemudian dia bangkit, mengambil selimut tambahan yang sengaja disiapkan rumah sakit, lantas menambah tumpukkan selimut Jimin dengan itu. “Kau dengar semua pembicaraanku dengannya ‘kan? Kondisimu ini benar-benar darurat, Park Jimin. Kau tidak cukup baik untuk bertemu dengannya. Yang kau perlukan sekarang adalah istirahat, terapi dan minum obat. Urusan Yoonjung itu nanti.”

Taehyung kembali duduk di kursinya. “Kenapa kau ini lemah sekali, hm? Bukannya dulu kau sendiri yang bilang supaya aku tidak berlarut-larut memikirkan Seungjoo? Kau lupa itu? Hah, itulah kenapa nenek moyang mengatakan untuk tidak mempercayai apa yang diucapkan seseorang daripada apa yang dilakukan seseorang. Mulutmu terlalu berbisa, Park Jimin. Ah sudahlah, makan dulu. Kalau kau tidak makan, aku akan memacari Yoonjung.”

Ancaman itu cukup ampuh untuk membuat seseorang yang ‘tidak sudi’ makan akhirnya makan juga. Meskipun tidak habis seperempatnya, Taehyung bisa bernapas lega karena dokter tidak akan menegurnya lagi akibat membiarkan Jimin tidur dengan perut kosong.

“Aku tidak akan berterima kasih padamu.”

Taehyung seketika menoleh. Mengerutkan dahi. “Apa maksudmu?”

“Terkecuali jika kau mempertemukanku dengan Yoonjung,” lanjut Jimin dengan mata setajam elangnya, meski terlihat begitu kontras dengan wajahnya yang pucat.

Taehyung sama sekali tidak terlihat keberatan atau semacamnya. Dia dengan entengnya mengangguk, seakan-akan keinginan Jimin itu hanya lelucon basi belaka. “Oke. Lagi pula, aku tidak membutuhkan rasa terima kasihmu. Aku tahu cepat atau lambat kau akan memintaku untuk mempertemukanmu dengannya. Tapi satu yang harus kau ingat, Jimin-a, besok adalah hari terakhirnya di Korea. Dan kau harus tahu, aku tidak mungkin mengajakmu kabur dari rumah sakit kalau kondisimu masih tidak ada perkembangan. Dokter Ha bisa-bisa menggantungku di kamar mayat kalau aku berani melakukan itu.”

Jimin merotasikan bola matanya jengah. Tapi kemudian dia merasa pusing dan segera memijat pelan keningnya. “Aku sungguh ingin bertemu dengannya, Tae. Tolong … sekali ini saja.”

“Tapi—”

“Apa aku harus berlutut dan mencium kakimu dulu? Aku janji untuk kali ini saja. Setidaknya biarkan aku mengucapkan selamat tinggal padanya.”

Cara Jimin mengucapkannya dengan cukup putus asa membuat Taehyung menelan ludah paksa. Oh! Jangan bilang kalau dia harus melakukan hal gila lagi. Tidakkah cukup dengan dia melanggar janji dan merekam pembicaraan rahasianya bersama Yoonjung? Dan haruskah sekarang ditambah dengan membawa kabur pasien hipotermia dari rumah sakit di saat suhu mencapai 0 derajat Celsius?

Mungkin kalau dia ingin digantung oleh Dokter Ha di kamar mayat, dia pasti akan melakukannya.

Sayangnya Taehyung lebih setuju jika dia ditendang dari bumi daripada harus berkumpul bersama raga-raga kosong yang telah diawetkan.

Hiy, membayangkannya saja tak mau.

“Tae….”

“Ah entahlah! Lihat saja nanti. Tergantung mood-ku.”

Siapa bilang Yoongi lembur? Kenyataannya pria itu menginap di apartemen Sena. Semalaman penuh mereka hanya sibuk berinteraksi berdua. Melepas hormon-hormon oksitosin seakan keduanya adalah pasangan kekasih yang sudah lama tidak saling bertemu. Yoongi sempurna kembali menjadi seorang remaja. Tingkahnya enerjik sekali seolah-olah kepalanya baru saja terbentur sehingga menyebabkan ingatan akan usianya yang sebenarnya menghilang.

Sena sendiri tidak protes. Justru dia terhibur dengan hal-hal konyol yang dilakukan Yoongi sampai-sampai melupakan fakta kalau dia sedang hamil.

Pagi pun datang dengan cepat, saatnya Yoongi untuk pulang. Ia tak bisa menahan senyumnya saat usil menggoda Sena yang sedang membantunya merapikan pakaian yang ia pakai. Sebenarnya Yoongi bisa melakukannya sendiri, tapi tentu dia tidak bisa menolak pelayanan yang dilakukan gadisnya.

Setelah Sena selesai, Yoongi dengan cepat merangkul pinggangnya dan menyudutkannya ke dinding. Tangannya yang semula melingkari pinggang Sena berpindah bertumpu pada dinding, sementara tangan satunya lagi tetap menggantung bebas, memegang jas hitamnya.

Ia menyeringai saat jarak wajah mereka tidak sampai seukuran jari kelingking Jimin. Seringaiannya makin melebar melihat rona kemerahan di kedua tulang pipi Sena.

A-ahjussi … sempit….”

Yoongi tergelak keras. Perlahan-lahan tawanya berubah menjadi senyuman lembut. Tangannya yang bertumpu pada dinding, kini mulai mengelus lembut rambut hitam Sena.

“Menurutmu bagaimana kalau aku menjadi pria agresif? Tiba-tiba memojokkanmu seperti ini, menciummu penuh gairah, menurutmu bagaimana?”

“A-aku tidak suka,” jawab Sena lugas sambil menunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang makin merah.

Wae?” Yoongi bertanya heran. “Bukankah wanita menyukai tipe yang seperti ini?”

“Tapi aku tidak.” Sena menggeleng, tegas. “Kau justru menakutiku.”

“Aku tidak memukulmu, menggigit juga tidak. Hanya sedikit lebih kasar.”

Diluar dugaan, Sena langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan menggeleng cepat-cepat. Yoongi mengernyit bingung. Dia cukup dibuat terkejut. Dan makin terkejut lagi saat tak sengaja melihat bekas luka di bahu Sena saat baju tidur gadis itu melorot, sedikit mengekspos bahunya.

“Tolong jangan, Ahjussi. Aku takut….”

“Ssst jangan menangis. Maaf, tidak akan kulakukan. Tapi Sena, aku mau kau jujur padaku. Luka apa ini?”

Sena berjengit saat Yoongi menyentuh bekas lukanya. Cepat-cepat ia menutupinya, lantas menggeleng dengan menggigit kuat bibir bagian bawah. “I-ini hanya luka … saat kerja.”

Yoongi tidak percaya begitu saja. Sikap Sena jauh dari ciri-ciri orang jujur. Pelan ia menaruh kedua tangannya di bahu Sena, mencengkramnya lembut seraya menurunkan wajahnya selevel wajah Sena.

“Sayang, tidak apa-apa, jujur saja padaku. Aku tahu pasti bukan karena itu.”

“A-aku takut kau marah.”

Yoongi menggeleng pasti. “Tidak akan. Aku tidak akan marah, janji.”

Sena tampak ragu sebentar. Namun tidak lama kemudian dia membuka satu persatu kancing bajunya. Yoongi sempat dibuat shock karena tidak mengira Sena akan melakukan itu. Tapi setelahnya dia mengerti. Bekas luka itu tidak hanya satu, tapi banyak. Hampir di setiap sudut badan Sena, termasuk di bagian dada. Dan bentuknya pun beragam, mulai dari luka yang mengering sampai memar kebiruan.

Tidak perlu dijelaskan lagi, sebagai orang dewasa, Yoongi sudah tahu apa penyebabnya.

Tanpa banyak bicara dia merebut baju Sena dan memakaikannya lagi di tubuh Sena. mengancinginya dari bawah sampai atas, kemudian memeluknya erat. Ia marah, namun janji itu membuatnya harus menahan diri.

“Aku akan berusaha lebih keras lagi, Sena. Akan kupastikan itu adalah pertama dan terakhir kalinya, tidak akan kubiarkan orang lain melakukan hal yang serupa lagi padamu.”

Sena membalas pelukan Yoongi lebih erat. Dia tidak menangis meski haru. Dia juga sudah berjanji tidak akan menangisi apa pun yang sudah terjadi. Cukup, dia ingin bahagia….

bersama Yoongi.

tbc

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s