Fanfiction

Single Parent [Chapter 47]

ohnajla || family, romance, friendship, drama || G || Chaptered

Cast: Suga aka Min Yoongi (BTS), Min Yoonjung (OC), Oh Sena (OC), Park Jimin (BTS), Kim Taehyung aka V BTS, Jung Hoseok aka J-Hope (BTS), Kim Do Yeon (Weki Meki),  Oh Sehun (EXO), other cameo

Chapter 1-5  Chapter 6-10

Chapter 11-15 Chapter 16-20

Chapter 21-25 Chapter 26-30

Chapter 31-35 Chapter 36-40

Chapter 41-45 Chapter 46

***

Di work, ceritanya udah end

***

“Bukannya kau sedang dirawat di rumah sakit?” Pertanyaan pertama dari Yoongi untuk Jimin pun terlontar. Sembari menunggu pesanan datang, pria dewasa itu menatap Jimin tajam, menginterogasi.

Jimin –yang sejak tadi terus mencengkram erat hot pack-hot pack di tangannya mengangguk pelan. Bagian bibir dan dagunya tenggelam dalam syal merah milik Taehyung.

“Lalu kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Yoongi lagi.

“Aku mengajaknya, ah tidak, maksudku, dia memaksa ikut. Jadi mau tak mau aku mengajaknya kemari.”

Tatapan tajam Yoongi beralih pada Taehyung. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa anak ini dengan seenaknya mengajak pasien yang masih belum sepenuhnya sembuh keluar dari rumah sakit. Apalagi pasien hipotermia, yang dibawa kabur dari rumah sakit saat cuaca sedang ngeri-ngerinya.

Ah tapi, rasa penasarannya hanya bertahan sebentar. Dia kemudian teringat fakta bahwa Taehyung memang anak yang spesial, hal yang seperti ini mungkin adalah sesuatu yang wajar untuknya.

Tanpa berniat bicara lagi, Yoongi pun melepas coat-nya lantas memberikannya pada Jimin. Berbicara melalui isyarat, menyuruh Jimin segera memakai coat itu.

“Ah Hyung, dua hari lalu kau bermalam di apartemen nuna?”

Yoongi mengangguk. “Mungkin nanti aku akan bermalam lagi di sana.”

Taehyung tersenyum. “Kau memang keren sekali, Hyung. Definisi sesungguhnya dari ‘jantan’.”

Yoongi mendengus geli. “Aku bukan hewan, ngomong-ngomong.”

Taehyung langsung memberengut. Dia ingin protes kalau Yoongi menyalahpahami ucapannya tapi sudah keduluan dengan kedatangan ahjumma pemilik kedai. Seketika hilang sudah kesalnya berkat aroma sundae dan hidangan lain-lain yang dibawa oleh si ahjumma. Obrolan di meja itu otomatis berakhir, tergantikan dengan suara denting alat-alat makan yang menyemaraki suasana.

Kini mereka bertiga berada di dalam mobil. Yoongi menyetir, Taehyung di sampingnya, dan Jimin di belakang, tidur. Mungkin karena sudah bertemu Yoonjung, “obatnya”, sehingga Jimin yang biasanya harus meminum obat dengan efek obat tidur, sekarang bisa tertidur dengan begitu mudahnya bahkan sampai mendengkur.

Setidaknya meskipun harus menanggung konsekuensi digantung di kamar mayat, Taehyung tidak akan pernah menyesali keputusannya hari ini.

Rumus paten kehidupan Oh Taehyung. Jimin bahagia = dia bahagia.

“Aku berencana menikahi kakakmu dalam waktu dekat.”

Taehyung lekas memalingkan wajahnya dari pemandangan indah jalanan demi melihat wajah Yoongi. “Serius? Wah! Jadi sebentar lagi aku akan punya kakak ipar? Daebak! Kapan, kapan? Apakah besok? Atau lusa? Atau minggu depan?”

Yoongi merotasikan bola matanya jengah. “Tidak secepat itu juga maksudku.”

“Lantas kapan? Jangan bilang waktu dekat yang kau maksud itu setelah nuna melahirkan? Kau bercanda, Hyung?

“Menggelar pesta pernikahan itu tidak segampang menggelar pesta ulang tahun. Ada banyak proses yang harus dilakukan. Aku harus melamarnya dulu, bertunangan dulu, baru menikah. Dan tidak hanya rencana pesta saja yang harus dipersiapkan, tapi juga harus menyiapkan rumah yang akan ditinggali, keperluan-keperluan rumah tangga, bahkan kepentingan pendidikannya juga. Tidak semudah itu. Mungkin aku baru bisa menikahinya akhir Maret, itu jika semuanya berjalan sesuai rencana. Banyak yang harus diurus sebelum memutuskan menetap di Hawai.”

“Hawai?! Jadi kau berencana membawa Sena ke Hawai setelah menikah? Ah Hyung … bukankah itu keterlaluan? Sama siapa aku nantinya? Ayah dipenjara, Jungkook dan eomma di Busan, hanya aku yang di Seoul. Aku tidak mau tinggal sendirian di Seoul.”

“Aku ini belum selesai bicara,” seru Yoongi dengan suara normal namun penuh penekanan. Dia hanya tidak mau mengganggu tidur berharga Jimin. “Aku juga memikirkan itu. Kalau kau ingin ikut ke Hawai, silahkan. Kalau tidak ya sudah. Lagi pula kau tidak tinggal sendirian di Seoul. Apa kau tidak menganggap anak yang sedang tidur di belakang itu? Dia juga sendirian di Seoul. Kalian bisa tinggal bersama sementara sampai lulus SMA, setelahnya kau bisa ikut tinggal di Hawai.”

Taehyung pun menoleh ke belakang sekilas. Ia menghela napas. Iya juga, kenapa dia melupakan sahabatnya?

“Baiklah, aku akan tetap tinggal di Seoul saja. Tapi! Setiap hari libur aku boleh ya ke Hawai?”

“Urusan itu bisa dipikirkan nanti. Yang pasti sekarang, aku tidak mau ikut campur dengan urusanmu bersama pihak rumah sakit. Kau tahu? Membawa pasien kabur dari rumah sakit itu tindakan yang fatal. Kau harus mempertanggungjawabkan sendiri tindakanmu, mengerti?”

Taehyung mengangguk yakin. “Aku bisa pastikan kondisinya justru akan jauh lebih baik daripada saat di rumah sakit. Taruhan, Jimin akan keluar dari rumah sakit dua hari lagi.”

Mau Jimin keluar besok atau nanti malam, Yoongi tak peduli. Karena yang dia pedulikan hanya satu, Sena.

Setelah mengantar Taehyung dan Jimin ke rumah sakit, Yoongi langsung mengemudikan mobilnya menuju apartemen Hwa Yang Yeon Hwa. Seusai memarkir mobil di basement, dia langsung meloncat turun dari mobilnya dan berlarian menuju lift. Wajahnya sangat berbinar. Dia berkali-kali melirik arlojinya tak sabaran.

Tepat saat pintu lift membuka, dia langsung mengambil langkah seribu menuju unit yang ditinggali kekasihnya. Malas menunggu lagi sepertinya, ia mengetik sendiri sandi unit itu dan segera mendesak masuk. Terbayang wajah gembira Sena saat mendengar kabar baik darinya, langkahnya makin tak sabaran ketika berjalan masuk.

“Sena, aku—YAA!!

Ia reflek menjatuhkan kantung plastik berisi buah-buahan –yang dibelinya dalam perjalanan demi berjalan cepat menuju gadisnya. Direbutnya segera panci panas yang sedang Sena bawa, menggantikan tugas gadis itu menaruhnya di atas konter. Ia menghela napas setelah panci panas itu akhirnya berhasil mendarat di atas konter. Kemudian ia menoleh pada Sena, melotot.

“Aku kan sudah bilang, jangan melakukan hal yang berbahaya. Apalagi di dapur. Bagaimana kalau terjadi apa-apa padamu? Kau tidak memikirkan konsekuensinya?”

Sena berkedip-kedip tidak paham. “Tapi aku hanya membuat ramyeon.”

Ramyeon?” Yoongi langsung menengok isi panci yang tadi tidak sempat diliriknya. Setelah mengetahui bahwa itu benar berisi ramyeon, dia justru malah semakin kesal.

“Wanita hamil tidak boleh makan ramyeon.”

Sena memberengut. “Kalau aku tidak boleh makan ramyeon, tidak boleh memasak, lalu bagaimana saat aku lapar? Taehyung sedang tidak ada di sini. Kau juga melarangku pesan makanan di luar karena tidak sehat. Semuanya tidak boleh. Terus aku harus bagaimana kalau lapar?”

Rasa kesal Yoongi perlahan meluruh. Apa iya dia terlalu mengekang gadisnya? Padahal tujuannya baik. Dia hanya ingin Sena dan nyawa di perut gadis itu baik-baik saja. Tapi dia malah membuat Sena tersiksa.

“Baiklah, maaf. Tapi aku serius, Sena. Demi kebaikanmu, tolong jangan makan makanan tidak sehat seperti ramyeon. Kalau kau lapar kau bisa meneleponku. Aku akan datang memasakkan banyak sekali makanan untukmu.”

“Benar aku boleh menghubungimu setiap lapar?”

Yoongi mengangguk. “Tentu saja. Hukumnya bukan lagi boleh, tapi wajib. Kau wajib menghubungiku setiap kau membutuhkan sesuatu. Arasseo?”

Sena juga ikut menganggukkan kepalanya. Tapi kemudian dia menunjuk panci ramyeon-nya. “Lalu ramyeon-nya bagaimana?”

“Urusan itu serahkan padaku. Sekarang si cantik ini harus duduk dulu, tunggu Oppa memasak, okay?”

Sena tersenyum geli mendengar panggilan Yoongi untuknya. Ia manggut-manggut patuh, lantas berjalan memutari meja konter untuk menduduki salah satu kursinya. Yoongi sendiri mulai memasang apron di tubuhnya, kemudian beranjak mengambil kantung belanjanya yang sebagian isinya bercecer di lantai, setelahnya ia mulai menyiapkan makanan untuk Sena.

“Sebagai hidangan pembuka. Kau harus makan ini.”

Ia menaruh sebutir apel dan susu tepat di hadapan Sena. Setelah mendapat anggukan patuh dari gadisnya, ia mengusap puncak kepala gadis itu sebelum kemudian beranjak menuju pantry.

Sambil mengunyah apel merah, Sena tak hentinya memperhatikan Yoongi. Pria itu terkadang hanya berdiri membelakanginya dalam waktu lama, sesekali berjalan ke kulkas mencari bahan, terkadang juga memotongi bahan-bahan di meja konter, menghadapnya.

Satu hal yang Sena suka. Dalam keadaan apa pun, Yoongi selalu serius. Pria itu benar-benar gambaran figur pria dewasa yang sesungguhnya. Bahkan meski hanya punggungnya yang nampak di retina Sena, kentara sekali aura maskulin yang menguar darinya. Sena sempat tidak menyangka bahwa dalam hidupnya dia akan bertemu dengan pria seperti Yoongi. Penyayang, bertanggung jawab, dewasa, kebapakan, berwibawa, berkharisma, dan yang paling penting adalah mau menerima dirinya apa adanya.

Ia tersenyum di sela-sela mengunyah apelnya.

Akhirnya, setelah melalui banyak sekali penderitaan, kebahagiaan itu datang juga.

Entah kebahagiaan itu hanya berlangsung singkat atau selamanya, ia sangat-sangat bersyukur.

Detik ini, dengan mendengar deru napas Yoongi di dekatnya saja, adalah suatu kebahagiaan yang tak terkira.

Ya, setidaknya begitulah yang ia pikirkan sebelum Yoongi memberinya suatu pernyataan yang sangat mengejutkan.

“Yoonjung merestui kita.”

Senyumnya semakin lebar. Tanpa sadar membuat matanya berkeringat.

Ya, hanya berkeringat. Karena apa?

Tangisnya hanya untuk nanti, saat mereka sudah saling bertukar cincin, bersumpah pada Tuhan untuk selalu bersama sebagai pasangan seumur hidup.

Uljima.”

“Aku tidak menangis.”

“Lalu apa ini cairan hangat yang mengalir dari pelupuk matamu?”

Ahjussi….”

“Hm.”

“Aku mencintaimu.”

Perkiraan Taehyung benar. Jimin sudah boleh keluar dari rumah sakit dua hari setelah hari itu. Kondisinya memulih dengan cepat, sungguh diluar perkiraan dokter Ha. Meski dia harus tetap datang ke rumah sakit setiap seminggu sekali untuk terapi kejiwaan, namun secara garis besar, Jimin sudah sehat.

“Rupanya sebesar itu ya pengaruh Yoonjung. She can cure anything. You must be glad to have her.

Jimin pelan mengulas senyum. “Aku lupa mengatakan sesuatu padamu.”

Taehyung menoleh. “Apa itu?”

Gomawo. Kau sudah mengabulkan permintaanku untuk bertemu dengannya.”

Taehyung nyengir. “Hanya itu? Tidak ada traktiran dalam bentuk apa pun? Ah lupakan. Kau sembuh dengan cepat saja aku sudah sangat bersyukur. Setidaknya, aku tidak akan menyesali keputusanku dua hari lalu. Ngomong-ngomong, apa yang kau bicarakan dengannya? Kau mengajaknya pacaran lagi?”

Jimin menggeleng. “Aku tidak bicara banyak dengannya. Hanya mengucapkan selamat tinggal, seperti yang kuminta padamu.”

I bet, you kiss her, right? Good bye kiss?

You better don’t know anything,” jawab Jimin acuh sambil menggendikkan bahu. Kepalanya disandarkan pada kursi taksi yang mereka tumpangi. Mata kecilnya tak hentinya menonton gedung-gedung besar yang tengah mereka lalui. “Kuharap dia sudah membacanya.”

“Hm?” Kedua alis tebal Taehyung terangkat tinggi. “Membaca apa? Kau memberinya buku?”

Nah. Hanya sesuatu yang tak bisa kuungkapkan dengan ucapan. Bahkan kata-kata yang telah kutulis itu pun masih belum cukup untuk mengungkapkan semuanya. Setidaknya, dia tahu. Itu sudah cukup untukku.”

tbc

Advertisements

1 thought on “Single Parent [Chapter 47]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s