Swag Couple Series [#42 Jimin (1)]

ohnajla || romance, schoollife, family || Teen || chaptered

Min Yoonji (OC), Park Jimin BTS , Jeon Jungkook BTS, Kim Taehyung BTS, other cameo

Swag Couple Series [#40 The End?]

#41 Yoonji (1)

Park Jimin dan Min Yoonji kini bukan lagi sepasang kekasih. Namun mereka tak bisa benar-benar saling melupakan satu sama lain karena suatu hal. Takdir seperti sengaja membuat mereka untuk kembali bersatu. Akankah mereka kembali sebagai sepasang kekasih seperti semula atau justru semakin menjauh?

**

Appa akhirnya bangun juga dari tidur panjangnya. Untungnya, dia masih mengingatku, mengingat ibuku, bahkan mengingat namanya sendiri. Aku bahagia akhirnya ayahku kembali.

Ah tidak sepenuhnya bahagia juga.

Jihyun.

Aku tidak tahu dia ada di mana sekarang. Ponselnya selalu dalam keadaan tidak aktif setiap kucoba hubungi. Bahkan saat aku datang ke sekolahnya, tak kutemukan batang hidungnya di mana pun, teman sekelasnya pun bilang jika dia sering bolos sekolah.

Ah anak itu. Dia memang selalu menyusahkan tapi baru kali ini dia menjadi sangat-sangat menyusahkan.

Aku yang harusnya hanya memikirkan ujian, terpaksa harus membagi pikiran untuk mengkhawatirkan anak itu juga. Aish, tidak bisakah dia mencontoh sifat Yoonji?

Yoonji….

Ah Yoonji, kenapa sekarang rasanya berbeda bahkan saat hanya menyebut namanya? Seperti inikah rasanya putus?

Jika aku bilang aku kehilangannya, itu tidak benar karena setiap hari kami masih sering bertemu di sekolah. Kami bahkan berada di satu kelompok yang sama jadi tidak ada alasan bagiku untuk merasa kehilangan. Dia masih ada di sana, di lingkar pandangku, sebagai Yoonji yang kukenal.

Mungkin lebih tepatnya, aku rindu hubungan kami. Memang benar kami masih sering bertemu, tapi hubungan kami tidak seindah dulu lagi. Aku tidak lagi bisa bebas bermanja-manja padanya, mau berkeluh kesah juga tak bisa, bahkan mau menyapa pun canggungnya bukan main.

Saat aku telah sampai di kelas, bangkunya masih kosong. Kira-kira kapan dia akan datang?

“Sedang melihat apa?”

Kkamjjagiya!

Reflek tanganku pun memukul dadanya. “Kau mengagetkanku, ma!

Ma? Wah sekarang kau makin berani ternyata.” Jeon Jungkook yang menyebalkan itu tahu-tahu mengunci kepalaku dengan bisepnya yang sangat-sangat terlatih. Kemudian menyeretku masuk seperti menyeret guling.

“Lepaskan aku. Akh! Lepaskan!”

Dia baru melepaskanku setelah kucubit perutnya.

“Kau merindukan mantanmu, hm?” Ia menarik kursinya kemudian duduk. Aku pun begitu. Duduk bersebelahan dengannya, karena kami adalah teman sebangku.

“Tidak.”

“Makanya datangi dia dan ajak dia balikan.”

Aku melotot, pada si badan otot ini. “Aku bilang tidak.”

“Hm, aku tahu, aku dengar.”

Kedua bola mataku berotasi jengah. Kapan aku bisa menang setidaknya sekali saja dari makhluk berotot ini?

“Pokoknya jangan menangis kalau dia sudah direbut orang lain.”

Aku hanya membalasnya dengan pelototan. Separuh hatiku tidak tega jika Yoonji bersama orang lain. Tapi separuh hatiku bilang aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Aku sendiri yang meminta putus hubungan dengan Yoonji. Jadi aku tidak punya hak sedih ataupun marah ‘kan saat Yoonji menemukan pria yang lebih baik dariku?

“Daripada kau mengoceh ke mana-mana, lebih baik ajari aku. Kau sudah berjanji untuk mengajariku materi yang diujikan hari ini.” Aku pun menyerahkan buku diktat IPA-ku ke hadapannya, sambil diam-diam curi pandang ke bangku Yoonji. Kenapa dia belum datang juga?

Setelahnya aku pun larut dalam penjelasan Jungkook. Ia lumayan bisa diandalkan, setidaknya untuk mengajari orang bodoh sepertiku. Di saat aku sedang mencoba menyelesaikan satu contoh soal tentang hereditas, tiba-tiba saja Jungkook menyikutku. Hal itu membuat tanganku yang sedang memegang pulpen jadi mencoret buku diktat berhargaku. Ketika aku akan memarahinya, dia justru menunjuk sesuatu dengan dagunya.

Yoonji ada di sana. Tidak sendirian, tapi bersama orang lain.

“Taehyung?”

“Kubilang juga apa. Dia itu punya banyak penggemar. Kalau kau tidak cepat, dia akan diambil orang lain.”

Aku sama sekali tidak berminat untuk membalas ucapan Jungkook. Netraku terfokus penuh pada mereka berdua. Pertama kalinya selain Jungkook, aku melihat Yoonji begitu dekat dengan laki-laki. Mereka asyik mengobrol, layaknya aku dan Jungkook yang sedang me-review materi. Sosok Taehyung pun terlihat berbeda dari biasanya. Aku tidak tahu kalau dia bisa juga banyak bicara dan bercanda seperti yang dilakukannya pada Yoonji sekarang.

I can’t help but jealous.

Bel tanda ujian akan dimulai pun berbunyi. Taehyung segera beranjak dari tempatnya, mengatakan sesuatu pada Yoonji sebelum pergi. Dan Yoonji sendiri entah menjawab apa, kemudian menoleh padaku.

Di saat pandangan kami saling bertemu, saat itu jugalah aku menyadari sesuatu.

Hati ini tetap menginginkan orang yang sama.

Ada sedikit rasa kecewa saat ia memutuskan pandangan kami dengan begitu cepat. Kupikir ini juga bodoh. Apa yang sebenarnya kuharapkan? Hah.

“Semua tas dan ponsel harap ditaruh di belakang kelas. Hanya boleh membawa pensil, penghapus dan kartu ujian selama ujian berlangsung.”

Aku pun segera memasukkan semua barangku yang ada di meja ke dalam tas. Jungkook menawarkan diri untuk sekalian menaruh tasku, tapi aku menolak. Tepat sebelum diriku bangkit untuk menaruh tas di belakang kelas, Yoonji yang melewati bangkuku, tahu-tahu menyelipkan sesuatu di saku almamaterku. Ia tidak mengucapkan apa pun. Kulihat dia hanya menaruh tasnya lalu kembali lagi ke bangkunya. Aku pun juga segera menaruh tasku di belakang, dan kembali ke bangku untuk melihat benda apa yang diberikannya padaku.

Secarik kertas?

Kulihat punggungnya sekali lagi. Dia tampak menoleh ke samping, seolah melihat orang di sampingnya, padahal aku tahu ia sedang mencoba melirikku dari ekor matanya.

Apakah ini kertas berisi kunci jawaban? pikirku. Tapi cepat-cepat kutampik pemikiran itu karena kutahu Yoonji bukan tipe gadis yang suka bertindak curang. Sebelum pengawas tiba di bangkuku, cepat-cepat kubuka dan kubaca isi kertas itu.

Nanti sepulang sekolah temui aku di rooftop. Ada yang ingin kubicarakan.

Segera kulipat kembali kertas itu dan menyelipkannya dalam saku.

Hari itu, daripada memikirkan soal ujian, aku justru memikirkan tentang apa yang ingin dibicarakan Yoonji nanti.

Mungkinkah dia ingin hubungan kami kembali seperti dulu?

Ehey Park Jimin, jangan mimpi.

“Jangan senyum-senyum memikirkan Yoonji, soalnya tidak akan selesai kalau kau hanya memikirkannya.”

Shh, Jeon Jungkook selalu merusak suasana.

^_^TBC^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s